NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Sinar matahari pagi menembus jendela kamar mewah keluarga Mahendra dengan sangat terang.

Siska terbangun di lantai sudut ruangan dengan sekujur tubuh yang terasa remuk dan pergelangan tangan yang berdenyut nyeri.

Brak.

Pintu utama kamar itu didobrak kasar dari luar oleh sekelompok pria berseragam bank dan beberapa polisi.

"Kosongkan rumah ini sekarang juga karena seluruh aset Keluarga Mahendra telah disita oleh negara!" teriak petugas bank dengan suara lantang.

Siska terperanjat kaget dan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak dinding dingin.

"T-tunggu dulu Pak, apa maksudnya disita? Tuan Bratasena orang paling kaya di kota ini!" bantah Siska dengan suara bergetar panik.

Petugas bank itu mendengus kasar menatap wanita berantakan di depannya dengan tatapan jijik.

"Bratasena sudah bangkrut total semalam dan sekarang sedang sekarat di ruang ICU dengan hutang triliunan rupiah."

"Seret wanita gelandangan ini keluar dari properti sitaan bank sekarang juga!" perintah petugas itu kepada para polisi.

Srek srek.

Dua polisi langsung menarik lengan Siska tanpa mempedulikan teriakan kesakitannya akibat tangannya yang patah.

"Aaaargh! Lepaskan aku, aku pacar Rio Mahendra sang pewaris tunggal!" jerit Siska meronta-ronta menyedihkan.

"Rio Mahendra sudah menjadi gembel cacat yang ditinggalkan oleh semua kerabatnya di rumah sakit umum."

Bruk.

Tubuh Siska dilemparkan dengan kasar ke jalanan aspal berdebu di depan gerbang istana mewah tersebut.

Wanita itu menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang kini berubah menjadi sampah jalanan dalam waktu kurang dari seminggu.

"Gibran... Seandainya saja aku tidak mengkhianatimu di terminal waktu itu," isak Siska memukul-mukul aspal dengan penuh penyesalan.

Namun penyesalannya sudah sangat terlambat karena pria yang ia buang kini telah menjadi raja yang tidak tersentuh.

Di waktu yang sama, Gibran sedang menikmati sarapan mewah di restoran lantai atas Hotel Grand Royal.

Aurel Larasati duduk di seberangnya sambil memegang sebuah tablet elektronik yang menampilkan berita utama hari ini.

"Berita kebangkrutan Mahendra menyebar lebih cepat dari wabah penyakit menular Gibran," ucap Aurel sambil tersenyum sangat manis.

"Saham perusahaan mereka anjlok ke titik nol dan semua toko giok mereka disegel oleh pihak berwajib pagi ini."

Gibran memotong daging steaknya dengan santai lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Nyam nyam.

"Mereka terlalu serakah dan bodoh Nona Aurel, itu adalah resep paling cepat menuju jurang kehancuran," jawab Gibran santai.

Aurel meletakkan tabletnya dan menopang dagunya dengan kedua tangan menatap Gibran penuh kekaguman.

"Sekarang seluruh pasar giok di kota ini benar-benar jatuh ke tangan Aliansi Dirgantara Larasati."

"Ayahku di ibu kota provinsi bahkan meneleponku pagi ini dan memuji kinerja luar biasamu Gibran," lanjut Aurel dengan nada bangga.

Gibran meletakkan pisau garpunya dan menatap lurus ke dalam mata indah wanita di depannya.

"Pujian dari ayah mertua masa depan adalah hal yang bagus, tapi aku lebih suka bukti nyata daripada sekadar kata-kata."

Wajah Aurel mendadak memerah seperti kepiting rebus mendengar panggilan ayah mertua yang keluar dari mulut Gibran.

"J-jaga ucapanmu Gibran, jangan terlalu percaya diri berpikir aku sudah jatuh cinta padamu," sangkal Aurel dengan gugup.

Gibran hanya tertawa pelan melihat Ratu Es itu salah tingkah dan kehabisan kata-kata.

Hahahaha.

"Habiskan sarapanmu Nona Aurel, hari ini kita harus meninjau gedung baru yang akan menjadi markas besar kita," perintah Gibran mengubah topik.

Satu jam kemudian, mobil limosin hitam mereka berhenti di depan sebuah gedung perkantoran sepuluh lantai yang sangat megah.

Gedung ini terletak tepat di jantung kawasan bisnis dan baru saja dibeli secara tunai menggunakan uang Gibran.

Pasukan tentara bayaran bercodet sudah berdiri berbaris rapi menjaga pintu masuk utama gedung tersebut.

"Selamat pagi Bos Gibran, Nona Aurel! Keamanan gedung sudah kami sterilisasi sepenuhnya!" lapor Kapten Codet dengan suara lantang.

Gibran mengangguk puas dan melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang sangat luas dan berlapis lantai marmer putih.

"Gedung ini akan menjadi pusat perdagangan giok terbesar yang menghubungkan kota ini dengan ibu kota provinsi."

"Tugas pertamamu adalah merekrut sepuluh ahli giok muda yang berbakat dan belum terkontaminasi oleh kelicikan para master tua," instruksi Gibran kepada Aurel.

Aurel berjalan di samping Gibran sambil mencatat semua instruksi itu di dalam ponselnya.

"Aku sudah menyaring beberapa kandidat muda dari universitas geologi terbaik pagi ini Gibran."

"Mereka sedang menunggu di ruang pertemuan lantai dua untuk kau uji secara langsung kemampuan matanya," lapor Aurel dengan sangat cekatan.

Gibran tersenyum lebar mendengar kecepatan kerja rekan bisnisnya yang sangat luar biasa ini.

"Kau memang rekan yang sangat bisa diandalkan Nona Aurel, mari kita lihat apakah ada permata tersembunyi di antara mereka."

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai dua dan menampilkan sebuah ruangan luas yang diisi oleh sekitar dua puluh pemuda pemudi berpakaian rapi.

Mereka semua tampak sangat gugup dan saling berbisik saat melihat Gibran dan Aurel melangkah masuk.

"Itu Gibran Dirgantara, dewa giok baru yang mengalahkan Master Seno semalam," bisik seorang pemuda berkacamata tebal.

"Usianya terlihat sepantaran dengan kita tapi auranya sangat menakutkan seperti bos mafia," sahut gadis di sebelahnya dengan tubuh gemetar.

Gibran berjalan ke depan ruangan dan menatap wajah mereka satu per satu dengan pandangan tajam bak elang.

Sistem Mata Sakti Raja Giok miliknya tiba-tiba berdengung pelan memberikan notifikasi yang tidak terduga.

[Pemindaian aura potensial manusia diaktifkan.]

[Mendeteksi satu individu dengan bakat kepekaan energi material tingkat tinggi di barisan belakang.]

Gibran sedikit mengangkat alisnya menyadari bahwa sistemnya ternyata juga bisa menilai bakat alami manusia.

Ia melangkah melewati barisan depan dan langsung menuju ke arah seorang pemuda kurus berpenampilan kusam di sudut ruangan.

Pemuda itu menundukkan kepalanya ketakutan saat bayangan besar Gibran menutupi tubuhnya.

"Siapa namamu dan apa yang kau lihat dari batu pengganjal pintu di ujung sana?" tanya Gibran menunjuk sebuah batu kotor di sudut ruangan.

Pemuda kurus itu gelagapan dan membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

"N-nama saya Bima Tuan, batu itu sekilas terlihat seperti batu kali biasa."

"Tapi jika dilihat dari guratan serat halusnya, saya rasa itu adalah giok biru laut kualitas menengah yang tertutup kerak lumpur," jawab Bima dengan suara pelan namun yakin.

Para kandidat lain langsung tertawa meremehkan jawaban Bima yang terdengar mengada-ada.

Huuuu.

"Dasar orang miskin sok tahu, itu jelas-jelas cuma batu bata semen yang mengeras!" cibir kandidat lain dengan sombong.

Gibran tidak mempedulikan cibiran itu dan langsung memindai batu pengganjal pintu tersebut.

[Kualitas: Giok Biru Laut tingkat menengah. Nilai taksiran dasar: Tiga ratus juta rupiah.]

Senyum puas langsung mengembang di wajah tampan Gibran.

"Kapten Codet, tendang keluar semua anak manja yang menertawakan Bima barusan."

"Mulai hari ini Bima adalah kepala divisi penilaian batu di perusahaanku dengan gaji seratus juta per bulan," perintah Gibran dengan suara mutlak yang menggelegar.

Seluruh ruangan mendadak hening dan rahang para kandidat sombong itu jatuh hingga nyaris menyentuh lantai.

Bima langsung jatuh berlutut sambil menangis sejadi-jadinya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Gibran.

Aurel yang berdiri di depan hanya bisa tersenyum bangga melihat cara Gibran yang selalu unik namun sangat akurat dalam memilih orang.

"Pasukan inti kita sudah mulai terbentuk Gibran, tapi kau harus bersiap untuk hal yang lebih besar."

"Sindikat Giok Hitam dari ibu kota provinsi baru saja mengirimkan surat undangan tantangan lelang untukmu pagi ini," ucap Aurel memberikan sebuah amplop hitam berekap lilin merah.

Gibran mengambil amplop itu dan meremasnya hingga hancur di tangannya tanpa membukanya sama sekali.

Krek.

"Tantangan lelang ya? Sepertinya tikus-tikus ibu kota sudah mulai mencium bau Giok Salju Surgawi milik kita."

"Bersiaplah Nona Aurel, kita akan membakar habis sarang tikus mereka dalam waktu dekat," deklarasi Gibran dengan tawa dingin yang menggema di seluruh ruangan.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!