NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Perempuan Desa di Rumah Besar

"Pegang tasmu baik-baik, Kar. Jangan sampai ada yang tahu kau datang ke Surabaya karena kabur."

Jari-jariku langsung mencengkeram tali tas kanvas lusuh di pangkuan. Hanya tas itu yang kubawa dari Desa Sukorejo. Dua potong baju, mukena tipis, KTP, uang seratus delapan puluh ribu rupiah, dan selembar foto almarhumah Ibu berdesakan di dalamnya.

Bus antarkota mengerem kasar. Bahuku membentur jendela, tetapi aku tidak berani mengeluh. Setiap kali ada motor melaju di belakang bus, dadaku berdebar karena takut pengendaranya adalah orang suruhan Bapak.

Semalam, seharusnya aku duduk manis menunggu lelaki yang akan menikahiku sebagai ganti utang Sukir. Sebaliknya, aku memanjat tembok belakang rumah dan berlari tanpa sandal sampai ke jalan raya.

Bu Tumi menyentuh lenganku. "Dengar. Di rumah keluarga Adiwijaya, jangan menonjol. Jangan sampai ketahuan. Kerja yang rajin, bicara seperlunya."

Aku mengangguk cepat. Dalam benakku, nasihat itu hanya berarti satu hal: jangan sampai mereka tahu aku anak perempuan pemabuk yang melarikan diri dari kawin paksa.

Aku belum tahu bahwa ada hal lain dalam diriku yang jauh lebih sulit disembunyikan.

***

Gerbang rumah di Graha Famili itu lebih tinggi daripada dinding balai desa. Satpam membuka pagar setelah Bu Tumi menyebut nama Bu Retno. Sebuah halaman luas terbentang di hadapanku, dengan pohon kamboja tertata rapi dan tiga mobil mengilap di bawah kanopi.

Aku menunduk melihat bajuku sendiri. Blus bermotif bunga kecil itu sudah pudar karena terlalu sering dicuci. Bagian depannya terasa sempit. Aku menarik ujung kainnya berkali-kali, seolah tarikan kecil itu bisa membuat tubuhku tidak terlalu tampak.

"Jangan ditarik terus," bisik Bu Tumi. "Nanti malah dilihat orang."

Wajahku memanas. Aku memeluk tas kanvas di depan dada dan mengikuti langkahnya masuk.

Lantai marmer di ruang depan memantulkan bayanganku seperti air. Aku takut sandal murahku meninggalkan noda. Ketika seorang pekerja rumah tangga menunjukkan arah dapur, aku berjalan di tepi karpet, berusaha mengecilkan langkah.

Dapur rumah itu hampir seluas rumahku di desa. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan meja panjang. Tangannya cekatan memotong bawang merah.

"Ini Sekar, Bu Nah," kata Bu Tumi. "Yang pernah saya ceritakan."

Bu Nah menyapu pandangannya dari wajahku ke tas yang kupeluk. Tatapannya tidak jahat, tetapi aku tetap menahan napas.

"Katanya bisa masak?"

"Bisa sedikit, Bu."

"Sedikit itu seberapa? Coba bikin sayur lodeh, ayam bumbu rujak, sama sambal terasi. Bahan ada di kulkas."

Aku segera mencuci tangan. Pisau di rumah itu jauh lebih tajam daripada pisau berkarat milik kami. Dalam beberapa menit, talenan dipenuhi irisan bawang, cabai, dan lengkuas. Tanganku berhenti gemetar ketika aroma bumbu yang ditumis mulai memenuhi dapur. Memasak adalah satu-satunya pekerjaan yang membuatku lupa bahwa aku sedang berada di rumah orang kaya.

Bu Nah mencicipi kuah lodeh, lalu mengambil satu sendok lagi.

"Gulanya pas," katanya. "Ayamnya juga meresap."

Pujian sesederhana itu membuat tenggorokanku mengencang. Di rumah, masakan seenak apa pun tidak pernah mencegah piring terbang ketika Bapak pulang dalam keadaan mabuk.

Suara langkah terdengar dari pintu samping. Seorang perempuan berkebaya modern masuk dengan punggung tegak. Wajahnya halus, rambutnya tersanggul rapi. Aku langsung tahu dialah Bu Retno.

"Sekar Ayu Lestari?"

"Iya, Bu."

"Bu Tumi bilang kau butuh pekerjaan."

"Iya, Bu. Saya bisa masak, mencuci, membersihkan rumah. Saya juga biasa menjaga bayi."

Bu Retno memandang tanganku yang masih basah, lalu blus bunga yang menegang di dadaku. Aku spontan merapatkan kedua lengan.

"Rumah ini punya aturan," ujarnya. "Jangan mengambil barang yang bukan milikmu. Jangan membawa orang luar masuk. Jangan membuat urusan pribadi mengganggu pekerjaan. Bisa?"

"Bisa, Bu. Insyaallah."

"Gajinya dua juta delapan ratus, makan dan kamar ditanggung. Kalau kau cocok menjaga Arka, nanti ada tambahan."

Dua juta delapan ratus.

Jumlah itu hampir membuatku lupa cara bernapas. Dengan uang sebanyak itu, aku bisa menyimpan sedikit demi sedikit, menyewa kamar sendiri, lalu hidup tanpa meminta apa pun kepada Bapak.

"Terima kasih, Bu." Aku membungkuk terlalu dalam. "Saya akan bekerja sungguh-sungguh."

"Buktikan lewat kerja. Bukan lewat janji."

Bu Retno pergi setelah mengatakan agar Bu Nah menunjukkan kamarku. Aku baru sempat mengembuskan napas ketika suara langkah lain terdengar dari arah tangga utama.

Seorang lelaki turun sambil menatap layar ponsel. Kemeja putihnya digulung sampai siku, jam berwarna gelap melingkari pergelangan tangannya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tetapi seluruh ruangan seperti merapat mengelilinginya.

Aku mundur satu langkah agar tidak menghalangi jalan.

Pada saat yang sama, dia mengangkat kepala.

Pandangan kami bertemu.

Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin hanya satu detik. Namun satu detik itu cukup untuk membuatku lupa menunduk.

Matanya turun sebentar ke blus bungaku yang sempit, lalu kembali ke wajahku. Rahangnya menegang. Ada gerakan kecil di tenggorokannya sebelum dia memalingkan muka.

"Nara, makan siangmu sudah saya siapkan," kata Bu Nah.

Jadi dia Den Nara, putra keluarga ini.

"Bawa ke mobil saja, Bu Nah. Saya terlambat."

Suaranya rendah dan datar. Dia melewatiku tanpa sapaan. Namun langkahnya, yang semula teratur, sempat salah setengah ketukan ketika bahunya sejajar dengan bahuku.

Aroma cologne yang bersih tertinggal. Aku berdiri kaku, memeluk tas kanvas semakin erat.

"Jangan bengong," bisik Bu Tumi. "Itu Den Nara. Orangnya dingin, tapi tidak suka cari masalah."

Aku mengangguk, meski jantungku belum kembali tenang.

***

Menjelang sore, Bu Tumi berpamitan. Aku mengantarnya sampai dekat gerbang.

"Kalau ada apa-apa, kirim pesan," katanya. "Tapi jangan pulang ke desa sebelum keadaan aman."

Aku menahan ujung jilbabnya seperti anak kecil. "Bu, kalau Bapak mencari saya?"

"Dia tidak tahu kau di sini." Bu Tumi menepuk tanganku. "Jaga dirimu. Ini kesempatanmu."

Aku melepaskannya pelan-pelan. Saat punggungnya menghilang di balik pagar, rumah besar itu mendadak terasa dua kali lebih luas dan sepuluh kali lebih sunyi.

Bu Nah memberiku kamar kecil di bagian belakang. Ada ranjang tunggal, lemari plastik, dan jendela yang menghadap tempat jemuran. Bagi keluarga Adiwijaya, kamar itu mungkin tidak berarti apa-apa. Bagiku, pintu yang bisa kukunci dari dalam sudah terasa seperti kemewahan.

Saat makan malam untuk pekerja rumah tangga dibagikan, aku mengambil nasi setengah centong. Bu Nah mengerutkan kening.

"Kau makan sedikit sekali. Tadi di bus belum makan, kan?"

"Saya memang tidak kuat makan banyak, Bu."

Itu kebohongan pertama yang kuucapkan di rumah ini.

Perutku sakit karena lapar. Aroma ayam bumbu rujak buatanku sendiri membuat air liur memenuhi mulut. Namun aku tetap hanya mengambil satu potong kecil tahu.

Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan masuk untuk mengambil air dingin. Bajunya mahal, kukunya mengilap. Bu Nah menyapanya sebagai Mbak Ratih.

Tatapan Ratih berhenti padaku.

"Pembantu baru?"

"Iya, Mbak," jawabku.

"Dari desa mana?"

"Desa Sukorejo."

Matanya turun ke piringku, lalu ke blus bunga yang sudah kututupi celemek. Bibirnya melengkung tipis.

"Pantas."

Dia tidak menjelaskan apa yang pantas. Dia hanya mengambil botol air dan pergi, meninggalkan wangi parfum serta rasa kecil yang menusuk di dadaku.

Aku menghabiskan nasi tanpa menambah. Tidak apa-apa. Aku datang untuk bekerja, bukan untuk dihormati.

Setidaknya itulah yang kukatakan kepada diriku sendiri.

***

Lewat pukul sebelas malam, lampu di bagian utama rumah mulai padam. Semua pekerjaan sebenarnya sudah selesai, tetapi aku kembali ke belakang membawa ember pakaian yang belum sempat dicuci.

Aku tidak mau ada satu pun orang menyesal telah mempekerjakanku. Lebih dari itu, aku tidak mau tubuhku terlalu santai. Lapar membuatku lemas, tetapi lemas lebih aman daripada kenyang.

Air keran terasa dingin di jari. Aku mengucek kemeja, menjemurnya satu per satu, lalu menyeka keringat di leher dengan punggung tangan. Blus bungaku lembap dan menempel. Udara malam Surabaya masih menyimpan panas.

Sebuah mobil masuk dari gerbang samping.

Aku menoleh sekilas, lalu kembali menjepit pakaian di tali. Mungkin sopir keluarga. Mungkin Pak Suryo atau Mas Bagas yang tadi disebut sedang di luar.

Pintu mobil tertutup.

Langkah sepatu mendekat, kemudian berhenti.

Saat itulah aku mencium sesuatu yang manis.

Bukan dari bunga kamboja. Bukan pula dari deterjen.

Aroma itu keluar dari kulitku sendiri, tipis tetapi jelas. Campuran bunga yang hangat dan susu yang baru mendidih. Aroma yang selama bertahun-tahun kupaksa tenggelam dengan lapar, pakaian longgar, dan air dingin.

Panas merambat dari perut ke tengkukku. Aku terlalu lelah. Terlalu lama menahan lapar. Tubuhku mulai mengkhianatiku.

Jangan sampai ketahuan.

Nasihat Bu Tumi kembali berdentang di kepalaku.

Aku berbalik.

Den Nara berdiri beberapa langkah dariku, masih mengenakan kemeja putih yang sama, kini tanpa jas. Cahaya bulan jatuh di satu sisi wajahnya. Tatapannya menahan tubuhku di tempat.

Hidungnya bergerak nyaris tak terlihat, seolah sedang memastikan aroma yang dibawa angin. Alisnya menyatu. Rahangnya kembali mengeras seperti siang tadi.

Aku menunduk, tetapi tidak ada tempat untuk bersembunyi. Di belakangku hanya ada kain-kain basah. Di hadapanku berdiri lelaki yang tampaknya sudah mencium sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun.

Tak satu pun dari kami berbicara.

Jari-jariku mencengkeram kain basah sampai buku-bukunya memutih.

Angin menggerakkan ujung pakaian di tali jemuran, dan aroma manis itu semakin jelas di antara kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!