Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ribuan pasang mata di Alun-Alun Pusat Kota Awan Merah terpaku pada sosok Ye Xuan. Hening menyelimuti tempat itu, hanya menyisakan suara hembusan angin dan kepakan pelan sayap Elang Bersayap Azure.
Sebagian besar orang menatapnya dengan raut wajah mencemooh, menunggu momen di mana pemuda yang dijuluki sampah itu dipermalukan dan kemudian dieksekusi oleh Penatua Lu Zifeng. Di barisan depan, Lin Xue'er menyilangkan tangannya di dada, bibir merahnya menyunggingkan senyum sinis yang tak ditutupi.
"Dantian yang hancur tidak akan pernah bisa menumbuhkan Akar Spiritual. Jangankan Tingkat Tiga, membuat pilar itu menyala saja dia tidak akan—"
Kata-kata ejekan Lin Xue'er terpotong secara brutal di tenggorokannya.
Begitu telapak tangan kiri Ye Xuan menyentuh permukaan dingin Pilar Pengukur Tulang, batu giok setinggi dua meter itu bergetar hebat layaknya tersambar petir. Sebuah dengungan kuno bergema dari dalam pilar.
WUNGGG!
Cahaya di dalam pilar melesat naik dari dasar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Merah (Tingkat Satu).
Jingga (Tingkat Dua).
Kuning (Tingkat Tiga).
Hanya dalam sekejap mata, cahaya itu telah melewati batas minimum seleksi Sekte Pedang Azure. Namun, pergerakannya sama sekali tidak melambat.
Hijau (Tingkat Empat).
Biru (Tingkat Lima).
Nila (Tingkat Enam).
Wajah Lin Zhentian yang tadinya dipenuhi senyum kemenangan seketika membeku. Mata Penatua Lu Zifeng melebar hingga nyaris robek dari kelopaknya. Bakat Tingkat Enam adalah bakat tertinggi yang pernah dicatat dalam sejarah Sekte Pedang Azure, setara dengan bakat sang Patriark sekte saat ini!
Namun, cahaya itu masih terus meroket.
Ungu (Tingkat Tujuh - Jenius Langit).
Perak (Tingkat Delapan - Jenius Peerless).
Emas Pekat! (Tingkat Sembilan - Batas Legenda).
Cahaya emas yang menyilaukan meledak dari pilar giok tersebut, menerangi seluruh penjuru alun-alun hingga membuat orang-orang harus menutup mata mereka. Fluktuasi energi spiritual di udara menjadi sangat padat hingga terasa seperti cairan.
Lin Xue'er melangkah mundur dengan kaki gemetar, wajah cantiknya sepucat kertas. "Tingkat... Sembilan Emas? Tidak mungkin... Ini ilusi! Ini pasti ilusi!"
Namun, pertunjukan belum berakhir. Bagi pilar fana ini, menampung energi manusia Tingkat Sembilan mungkin adalah batas maksimal perancangannya. Tetapi yang sedang diukurnya saat ini bukanlah fondasi manusia, melainkan Qi Naga Primordial dari seorang mantan Kaisar Dewa.
Di dalam pilar giok yang bersinar emas itu, seutas bayangan hitam pekat yang menyerupai naga purba mulai melilit ke atas. Cahaya emas seketika ditelan oleh warna hitam-emas yang memancarkan tirani mutlak.
KRET... KRAAAK!
Garis-garis retakan kasar tiba-tiba menjalar di seluruh permukaan pilar batu giok kuno tersebut.
"P-Pilar Giok-ku retak?! Hentikan! Tarik tanganmu!" teriak Penatua Lu Zifeng, kepanikannya akhirnya pecah. Itu adalah artefak berharga milik sekte!
Namun sudah terlambat. Hukum langit dan bumi di Benua Bawah tidak mengizinkan benda fana menimbang berat sebuah eksistensi dari Alam Primordial.
BOOOOOOM!
Pilar batu giok itu meledak berkeping-keping.
Gelombang kejut yang mengerikan menyapu ke segala arah. Pecahan giok yang bersinar melesat layaknya badai meteor kecil. Penatua Lu Zifeng terpaksa mengerahkan energi Inti Emasnya untuk membentuk perisai demi melindungi dirinya dan Elang Azure-nya. Di sisi lain, Lin Xue'er yang berada terlalu dekat terhempas mundur sejauh belasan langkah, rambutnya acak-acakan dan jubah sutranya robek di beberapa bagian.
Ribuan penduduk Kota Awan Merah yang menonton di pinggiran alun-alun terlempar jatuh, menjerit ketakutan mengira kiamat telah tiba.
Di tengah badai debu giok yang berkilauan di udara, Ye Xuan masih berdiri di posisinya dengan postur sempurna. Tangan kirinya masih terentang di udara, tepat di mana pilar itu sebelumnya berada. Ia menarik tangannya dengan santai, menepis debu dari lengan bajunya, lalu menatap Penatua Lu Zifeng yang sedang menelan ludah dengan susah payah.
"Sepertinya batu mainan sektemu kualitasnya sangat buruk, Penatua Lu," ucap Ye Xuan dengan nada sedatar air, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. "Atau mungkin, standar 'jenius' di Sekte Pedang Azure terlalu rendah untuk mengukur potensiku."
Keheningan absolut mencekik alun-alun. Bahkan detak jantung setiap orang terasa memekakkan telinga.
Menghancurkan Pilar Pengukur Tulang? Sepanjang sejarah ribuan tahun Benua Bawah, hal ini belum pernah terjadi. Bakat macam apa yang bisa membuat artefak spiritual meledak karena kelebihan beban?
"Palsu! Ini pasti palsu!"
Sebuah jeritan melengking memecah kesunyian. Lin Xue'er menunjuk Ye Xuan dengan jari gemetar, matanya merah memancarkan penolakan yang histeris. "Penatua Lu, Anda tidak boleh tertipu! Dia adalah sampah yang meridiannya baru saja dihancurkan oleh ayahku setengah bulan lalu! Pilar itu pasti sudah rusak karena usianya, dan kebetulan hancur saat dia menyentuhnya! Dia pasti menggunakan trik kotor!"
Sebagai jenius Bintang Lima di Sekte Teratai Es, Lin Xue'er selalu membanggakan Akar Spiritual Tingkat Enam miliknya. Menerima kenyataan bahwa mantan tunangan yang selalu ia injak-injak memiliki bakat yang menghancurkan skala ukur adalah sesuatu yang akan menghancurkan kewarasannya.
Mendengar hasutan itu, Lin Zhentian buru-buru menyetujui. "Benar, Penatua Lu! Batu itu pasti cacat! Cepat eksekusi bocah iblis ini karena telah menghina Sekte Teratai Es dan menghancurkan artefak Anda!"
"TUTUP MULUT KALIAN!"
Sebuah bentakan yang ditenagai Qi Inti Emas menggelegar, membungkam ayah dan anak itu seketika. Lin Zhentian terbatuk darah dan mundur selangkah, menatap Lu Zifeng dengan ngeri.
Napas Lu Zifeng memburu. Matanya yang sebelumnya penuh arogansi kini menatap Ye Xuan dengan tatapan yang bercampur antara syok, ketakutan, dan keserakahan yang menyala-nyala.
Rusak? Trik kotor? Omong kosong! Sebagai kultivator Inti Emas, Lu Zifeng sangat peka terhadap fluktuasi energi. Pada detik sebelum pilar itu meledak, ia merasakan sebuah tekanan purba yang membuatnya—seorang tetua sekte—merasa seperti semut yang menatap naga suci. Itu bukan trik. Itu adalah bakat murni yang menentang surga!
Jika Sekte Pedang Azure bisa merekrut monster ini, jangankan Benua Bawah, seluruh Alam Tengah pun akan berlutut di bawah kaki mereka dalam waktu sepuluh tahun!
Sikap Lu Zifeng berubah seratus delapan puluh derajat. Auranya yang menekan ditarik sepenuhnya. Pria paruh baya itu merapikan jubahnya, lalu berjalan mendekati Ye Xuan. Di hadapan ribuan penduduk kota yang tak percaya, seorang Penatua Inti Emas membungkukkan tubuhnya sedikit kepada seorang pemuda dari klan kecil.
"Tuan Muda Ye," suara Lu Zifeng bergetar karena kegembiraan. "Tadi mataku yang buta gagal mengenali Gunung Tai di hadapanku. Bakat yang Anda miliki... belum pernah ada dalam catatan sejarah. Pilar Giok itu hancur karena tak layak menampung nama Anda."
Lu Zifeng mengabaikan Lin Xue'er yang mematung dengan mulut terbuka, dan melanjutkan, "Mewakili Sekte Pedang Azure, aku mengundang Anda untuk bergabung dengan sekte kami! Tidak perlu tes lanjutan. Begitu Anda tiba di sekte, aku berani menjamin bahwa Patriark akan langsung mengangkat Anda sebagai Murid Langsung! Seluruh sumber daya sekte, teknik pedang tingkat surga, pil tingkat emas... semuanya akan menjadi milik Anda!"
Tawaran itu bagaikan bom yang dijatuhkan di kerumunan. Murid Langsung Patriark! Itu adalah posisi yang bahkan lebih tinggi dari sebagian besar penatua sekte luar!
Keluarga Ye, yang sebelumnya pucat pasi mengira akan dibantai, kini menatap Ye Xuan seperti menatap dewa penyelamat.
Namun, alih-alih melompat kegirangan atas tawaran yang bisa membuat pangeran kerajaan berlutut itu, Ye Xuan hanya memandang Lu Zifeng dengan bosan.
"Murid Langsung?" Ye Xuan mendengus pelan, sebuah senyuman meremehkan terukir di bibirnya. "Apakah kau pikir aku menghancurkan pilar rongsokanmu ini untuk mengemis posisi di sektemu?"
Lu Zifeng tertegun, senyumnya membeku. "L-lalu... apa niat Tuan Muda Ye mengikuti seleksi ini?"
Ye Xuan mengangkat Pedang Besi Bintang dari bahunya dan menancapkannya ke ubin alun-alun hingga retak. Sepasang mata dinginnya menyapu Lu Zifeng, lalu beralih menatap Lin Xue'er yang gemetar di kejauhan.
"Aku butuh sekte dengan susunan formasi energi dan api spiritual yang layak untuk mendukung kultivasiku sementara waktu. Sekte Pedang Azure kebetulan adalah yang terdekat," ucap Ye Xuan datar, kata-katanya mengalir dengan keangkuhan absolut. "Aku tidak tertarik menjadi murid siapa pun. Jika Patriark-mu ingin aku menetap di sektenya, dia harus mengosongkan puncak gunung terbaiknya untukku, dan memberiku akses mutlak ke Paviliun Pusaka."
Sebelum Lu Zifeng bisa memproses permintaan gila itu, Ye Xuan menunjuk lurus ke arah Lin Xue'er dengan ujung jarinya.
"Dan sebagai syarat pertamaku ikut denganmu hari ini... potong lidah wanita ini sekarang juga. Aku tidak suka mendengar anjing Keluarga Lin terus menggonggong di hadapanku."
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt