**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Jurang
Keira baru menyadari langkah mereka terlalu selaras setelah melihat bayangan di pintu kaca.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Setiap kali memejamkan mata, muncul kembali tangan Reynard yang mengangkat tasnya, suara tenang yang berkata akan selalu berdiri di belakangnya, dan bayangan dua orang yang tampak seperti pasangan tanpa perlu berusaha.
Keira duduk, menyalakan lampu, lalu menatap kalender di dinding.
Tiga tahun.
Angka itu tidak besar jika hanya ditulis. Namun Reynard baru memulai kuliah ketika Keira sudah mendekati akhir semester tujuh. Ia memikirkan magang, sertifikasi, dan pekerjaan. Reynard masih akan menjalani ospek, mata kuliah dasar, dan dunia pertemanan baru.
Lebih rumit lagi, ia adalah adik kandung Vanessa.
Keira membayangkan harus menjelaskan kepada sahabatnya bahwa titipan yang dipercayakan justru ia pandang sebagai lelaki. Perutnya langsung mengeras.
Ia mengambil ponsel. Pesan Reynard sudah menunggu.
Rey: Besok kelas jam delapan. Sarapan jam enam tiga puluh?
Keira mengetik iya, lalu menghapusnya.
Kei: Aku berangkat lebih pagi. Nggak usah buat sarapan.
Balasan datang cepat.
Rey: Aku bisa bangun lebih pagi.
Kei: Nggak perlu. Aku beli di kampus.
Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Rey: Oke. Hati-hati.
Kata yang patuh itu seharusnya membuatnya lega. Yang datang justru rasa kosong.
***
Pagi berikutnya, Keira keluar sebelum pukul enam. Ketika pintu lift hampir menutup, unit 8A terbuka. Reynard berdiri membawa kotak sarapan yang masih mengepulkan uap.
"Ci Kei."
Keira menahan pintu lift. "Aku sudah bilang nggak perlu."
"Sudah terlanjur dibuat."
"Simpan buat makan siang."
Reynard melihat tas besar di bahunya. "Aku antar ke kampus?"
"Nggak usah. Aku pesan kendaraan."
"Tapi hujan."
"Rey, aku bisa sendiri."
Nada Keira lebih tajam dari yang dibutuhkan. Tangan Reynard yang memegang kotak turun perlahan.
"Iya," katanya. "Maaf."
Pintu lift tertutup di antara mereka. Bayangan terakhir yang dilihat Keira adalah Reynard berdiri dengan dua porsi sarapan dan rambut yang belum rapi, jelas bangun lebih awal hanya untuknya.
Keira menekan tombol lantai dasar berkali-kali, seolah lift bisa bergerak lebih cepat daripada rasa sesal.
Hari berikutnya ia pulang lebih malam. Hari setelah itu, ia makan di luar. Setiap ajakan menonton serial dijawab dengan alasan tugas. Pesan Reynard dibalas singkat, cukup sopan untuk tidak disebut marah, cukup dingin untuk membangun jarak.
Di kampus, Jonathan mengajaknya makan siang bersama kelompok belajar. Keira menerima karena itu memberinya alasan untuk tidak pulang cepat. Jonathan bercerita tentang rencana magang dan meminta pendapat tentang portofolionya. Percakapan berjalan mudah, tanpa debar, tanpa kebutuhan untuk menimbang setiap tatapan.
"Kamu kelihatan capek," katanya. "Ada masalah di apartemen?"
"Nggak. Cuma kurang tidur."
Jonathan mendorong kopi ke arahnya. Kopi itu memakai dua gula, sama seperti pesanan sebelumnya. Keira berterima kasih, tetapi rasa manisnya salah. Reynard selalu menambahkan sedikit susu karena tahu lambungnya mudah perih ketika belum makan.
"Besok mau belajar bareng lagi?"
Keira hendak menjawab iya. Ponselnya bergetar lebih dulu.
Rey: Aku taruh makan malam di kulkas. Pulang hati-hati.
Tidak ada pertanyaan ia bersama siapa. Tidak ada kecemburuan. Jarak yang diminta Keira benar-benar diberikan, dan ternyata ia membencinya.
"Besok lihat jadwal dulu," jawabnya kepada Jonathan.
Dalam perjalanan pulang, ia membeli sekotak kue untuk Reynard sebagai permintaan maaf. Namun saat sampai di depan 8A, keberaniannya hilang. Kotak itu akhirnya digantung pada gagang pintu dengan catatan pendek: buat sarapan.
Lima menit kemudian, pesan masuk.
Rey: Makasih, Ci.
Hanya itu. Tidak ada stiker, tidak ada godaan. Keira menatap dua kata tersebut sampai matanya panas.
Reynard menangkap perubahan itu tanpa perlu dijelaskan.
Ia berhenti masuk ke unit 8B tanpa urusan. Makanan diletakkan di depan pintu. Jadwal bersama yang biasanya penuh pesan kecil berubah menjadi daftar praktis: lauk di kulkas, paket sudah diambil, tanaman sudah disiram.
Tidak ada lagi lelucon.
***
Pada hari keempat, Keira pulang dan menemukan mangkuk buah tertutup di lantai. Mangga dipotong kotak kecil, tanpa bagian berserat yang tidak disukainya. Di bawah wadah ada catatan.
Jangan lupa makan. Aku nggak masuk. Tenang saja.
Dua kata terakhir membuat tenggorokan Keira sakit.
Ia mengetuk unit 8A. Tidak ada jawaban. Dari balik pintu terdengar suara keyboard, berarti Reynard ada di dalam dan sengaja memberi ruang seperti yang diminta.
Keira hampir mengetuk lagi. Tangannya sudah terangkat, tetapi ia menurunkannya.
Jarak adalah pilihannya sendiri.
Pintu tiba-tiba terbuka. Reynard berdiri di sana, rupanya mendengar langkahnya.
"Ada perlu?"
Keira mengangkat wadah buah. "Mau kembalikan ini."
"Taruh saja di luar."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Tugasmu banyak?"
"Lumayan."
Percakapan mereka terdengar seperti dua tetangga yang belum akrab. Keira ingin mengatakan bahwa ia merindukan suara ribut di dapur dan cara Reynard merebut laptopnya ketika begadang. Sebaliknya, ia menyerahkan wadah.
Jari mereka bersentuhan. Reynard langsung menarik tangan, menghormati jarak bahkan dalam sentuhan sekecil itu.
"Selamat malam, Ci Kei."
Pintu tertutup perlahan. Keira masih berdiri di luar dengan telapak tangan yang terasa dingin.
Malam itu apartemen terasa terlalu besar. Keira menyalakan televisi hanya agar ada suara. Ia mencoba mengerjakan terjemahan, tetapi kursi di sebelah meja kosong. Saat hendak membuat kopi, ia menemukan gula habis dan otomatis menoleh ke pintu, terbiasa Reynard menyimpan persediaan.
Ia makan mangga sendirian.
Manisnya terasa hambar.
Pukul sepuluh, terdengar langkah di lorong. Keira mengintip melalui lubang pintu. Reynard keluar membawa kantong sampah. Wajahnya lelah, bahunya sedikit turun. Ia sempat menatap pintu 8B, lalu segera pergi tanpa mengetuk.
Keira membuka pintu setelah lift menutup. Lorong sudah kosong.
Untuk pertama kalinya sejak Reynard datang, tidak ada cahaya dari bawah pintu 8A. Cowok itu rupanya sengaja bekerja di kamar agar Keira tidak merasa diawasi.
Keira berdiri di antara dua pintu, memegang wadah buah yang sudah kosong.
Dia tiga tahun lebih muda.
Dia adik Vanessa.
Dua alasan itu masih berdiri seperti jurang. Namun ketika Keira melihat jarak yang berhasil ia ciptakan, dada yang seharusnya lega justru terasa berlubang.
Rupanya menjauh bukan hanya melukai Reynard.
Keira menempelkan telapak tangan ke pintu 8A, merasakan dinginnya kayu tanpa berani mengetuk.
Di balik pintu terdengar kursi bergeser, lalu langkah berhenti tepat di sisi lain. Reynard mungkin juga berdiri di sana. Mereka hanya dipisahkan satu lembar pintu dan keputusan Keira sendiri, tetapi tak satu pun mengangkat tangan untuk membuka.
Jarak itu melukai dirinya juga.
Dan kesadaran tersebut jauh lebih menakutkan daripada semua alasan yang sejak tadi dipakainya untuk bertahan di depan pintu itu.