Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: ANAK SILUMAN
Jeritan anak siluman bersisik hijau itu membelah keramaian Pasar Kota Luoshui. Bau daging terbakar tipis menguar saat jemari mungil bocah itu mencengkeram jeruji besi kandang yang membara oleh mantra suci. Mata kecilnya menatap Lian Yue penuh keputusasaan, mengenali aura keagungan Ular Putih yang begitu murni di balik tudung jubahnya.
Deg!
Getaran hebat meledak dari dalam dada Lian Yue. Tanda bulan sabit di lengan atasnya berdenyut panas, menyebarkan gelombang empati dan rasa sakit yang langsung merambat ke dada Shen Rui.
Di sekeliling panggung lelang, tiga prajurit pemburu berpakaian besi dengan lambang Paviliun Tianjian mendadak menghentikan transaksi mereka. Salah seorang pemburu berkumis melintang menoleh tajam, matanya menyempit memperhatikan ketegangan pada sosok bergaun putih berselimut jubah serigala di tengah kerumunan.
"Ada yang aneh dengan energi di dekat sana," gumam sang pemburu berkumis seraya menarik gagang pedangnya. "Buka tudungmu, Pengembara!"
"Jangan bergerak," bisik Shen Rui sangat pelan. Tangannya yang menggenggam jemari Lian Yue kian mempererat cengkeraman, berusaha mengalirkan qi perunggunya untuk menutupi pendar sisik perak Lian Yue yang hampir meletup.
Namun, algojo lelang di atas panggung justru mengangkat cambuk bermata besi dan mengayunkannya keras ke arah punggung bocah siluman itu. Crat!
"Diam kau, makhluk tak berguna!" bentak sang algojo murka karena teriakan bocah itu memicu kekacauan.
Jeritan kesakitan anak siluman itu menjadi batas akhir bagi pertahanan batin Lian Yue.
"Hentikan!"
Lian Yue menyentakkan tangannya, melepaskan pegangan Shen Rui. Udara di sekitar panggung lelang mendadak membeku saat Lian Yue mengibaskan lengan gaunnya. Gelombang qi perak murni meledak dahsyat, menghempaskan sang algojo dan tiga penjaga panggung hingga menghantam dinding bangunan di belakang mereka. Kandang-kandang besi bergetar hebat, mantra penyegel di atasnya retak berkeping-keping.
Tudung jubah serigala Lian Yue terlepas, membiarkan rambut hitam panjangnya berkibar bebas dan memperlihatkan mata peraknya yang berkilat terang di bawah terpaan matahari siang.
Kerumunan warga kota menjerit histeris, berhamburan melarikan diri saat menyadari kehadiran siluman tingkat tinggi di tengah kota.
"Siluman! Ada siluman ular di dalam kota!" teriakan para pemburu bersahut-sahutan. Lonceng peringatan di menara pengawas Kota Luoshui berdentang nyaring, memanggil puluhan prajurit guard bersenjata lengkap.
Shen Rui memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat. Pilihan di depannya sangat jelas: membantu rekan-rekan pemburunya untuk membasmi Lian Yue dan menjaga hukum kota, atau membela perempuan yang jiwanya terikat padanya sejak seribu tahun lalu.
Tanpa keraguan sedikit pun, Shen Rui melompat ke atas panggung kayu.
Cring!
Pedang Zhaoyang terhunus penuh. Namun, alih-alih mengarahkan mata bilah perunggu itu ke leher Lian Yue, Shen Rui menebaskan pedangnya melingkar, memotong rantai besi tebal yang mengunci kandang bocah siluman tersebut. Gemerincing besi patah bergema keras saat pintu kandang terbuka lebar.
Lian Yue berlutut, langsung merengkuh tubuh gemetar anak siluman bersisik hijau itu ke dalam pelukannya. "Kau aman sekarang..." bisiknya lembut, menyapu darah di dahi sang bocah.
"Shen Rui!" jerit pemburu berkumis melintang dengan mata terbelalak penuh ketidakpercayaan. "Kau murid utama Paviliun Tianjian! Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau melindungi siluman itu dan menghancurkan lelang kota?!"
Shen Rui berdiri tegap di depan Lian Yue dan sang anak siluman, menjulang bagaikan benteng baja yang tak tergoyahkan. Bilah Pedang Zhaoyang memancarkan kilatan perunggu yang dingin di tangannya.
"Mengurung dan menyiksa makhluk tak berdaya demi kepingan emas bukanlah ajaran keadilan yang kupelajari dari Paviliun Tianjian," jawab Shen Rui dengan suara rendah yang menggetarkan panggung. "Hari ini, tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menyentuh mereka."
"Pengkhianat!" bentak sang pemburu murka. "Serang mereka berdua! Tangkap Shen Rui dan bawa kepala siluman ular itu!"
Puluhan pemburu dan prajurit pelindung kota melompat menerjang panggung dengan pedang terhunus. Shen Rui mengayunkan pedangnya, menghempaskan gelombang qi perunggu yang merobohkan barisan musuh tanpa menumpahkan darah mereka, sementara Lian Yue menggendong erat bocah siluman itu di punggungnya, bersiap menerobos keluar dari Kota Luoshui yang kini terbakar oleh kebencian.