Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Byur!
Air dingin dari gayung plastik usang itu mengguyur wajah Raka yang penuh debu dan kotoran.
Ia sedang berada di kamar mandi umum sebuah pom bensin yang sepi di pinggiran kota.
Sisa uang receh di sakunya habis untuk membayar biaya mandi dan sebotol air mineral.
Raka menatap pantulan dirinya di cermin retak di atas wastafel yang berkerak kuning.
Wajahnya masih terlihat tirus dan memar akibat pukulan preman semalam.
"Setidaknya aku tidak bau sampah lagi sekarang," gumam Raka sambil mengusap air di dagunya.
Krucuk!
Perutnya kembali berbunyi protes karena belum diisi makanan sama sekali sejak kemarin siang.
Raka mengabaikan rasa perih di perutnya lalu menunduk menatap wastafel.
Di sana tergeletak tiga batang ginseng dan lima gumpalan jamur hitam yang baru saja ia bilas perlahan.
Akar ginseng itu bentuknya sangat aneh karena menyerupai miniatur manusia yang sedang duduk.
Jamur hitamnya juga kini terlihat lebih bersih menampilkan guratan putih halus di permukaannya.
"Semoga saja barang rongsokan dari dunia sebelah ini benar-benar laku dijual," ucap Raka penuh harap.
Ia mengemas herbal itu ke dalam kantong plastik hitam dengan sangat hati-hati.
Raka keluar dari toilet dan berjalan kaki menyusuri trotoar menuju kawasan Glodok.
Ia tahu kawasan itu adalah pusat perbelanjaan obat herbal terbesar di kota ini.
Matahari pagi mulai memanaskan aspal jalanan saat Raka akhirnya tiba di area pasar.
Aroma berbagai macam rempah dan obat tradisional langsung menyengat hidungnya.
Jalanan sudah ramai oleh aktivitas bongkar muat barang dan tawar-menawar para pedagang.
Raka mencari tempat kosong yang strategis dan menemukan sudut trotoar di depan sebuah toko besar.
Ia mengambil sebuah kardus bekas air mineral dari tempat sampah terdekat lalu merobeknya.
Kardus itu ia gelar di atas trotoar sebagai alas jualannya yang sangat sederhana.
Raka kemudian meletakkan tiga batang ginseng dan lima jamur hitam itu di atas kardus.
Ia duduk bersila di belakang kardus tersebut layaknya pedagang kaki lima pada umumnya.
Sudah satu jam berlalu, tapi tidak ada satu pun orang yang sudi mampir ke lapak kardusnya.
Beberapa pejalan kaki hanya menatapnya dengan tatapan jijik lalu mempercepat langkah mereka.
Pakaian Raka yang berupa kaos oblong robek dan celana jeans dekil memang membuatnya terlihat seperti gembel.
Brak!
Sebuah sapu lidi dilemparkan tepat di sebelah lapak Raka hingga debunya berterbangan mengenai ginsengnya.
"Woi, gembel! Ngapain lu nongkrong di depan toko gue?"
Raka mendongak dan melihat seorang pria paruh baya berperut buncit keluar dari toko besar di belakangnya.
Pria itu memakai kemeja sutra mencolok dan menatap Raka dengan raut wajah sangat arogan.
"Maaf, Ko, saya cuma mau numpang jualan sebentar," jawab Raka sopan sambil menahan emosinya.
Pria buncit itu tertawa meremehkan hingga perutnya berguncang.
"Jualan? Lu kira ini pasar loak tempat lu jualan barang bekas?"
Pria itu menunjuk ke arah kardus Raka dengan ujung sepatu pantofelnya yang mengkilap.
"Akar beringin dari mana yang lu cabut itu? Terus itu batu hitam lu pungut dari kali mana?"
"Ini ginseng liar dan jamur, Ko, bukan akar beringin," balas Raka mencoba membela dagangannya.
"Ginseng kepala lu pitak! Gue udah jualan herbal puluhan tahun di sini."
Pria buncit itu meludah ke tanah tepat di sebelah kardus Raka.
"Ginseng asli itu warnanya cerah dan uratnya rapi, bukan dekil dan bengkok-bengkok kayak gitu."
"Tapi ini ginseng dari hutan pedalaman, Ko, makanya bentuknya beda," bantah Raka lagi.
"Alah, ngeles aja lu kayak bajaj! Minggir sana, bikin jelek pemandangan toko gue aja!" usir pria itu sambil mengibaskan tangannya.
Beberapa pedagang lain di sekitar mereka mulai memperhatikan perdebatan itu dan ikut tertawa.
"Udah, Ko, panggil satpam aja biar diusir itu si gembel gila!" seru seorang pedagang dari seberang jalan.
"Iya tuh, masa akar pohon busuk mau dijual di pasar herbal elite begini," sahut pedagang lainnya.
Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa malu dan marah yang memuncak di dadanya.
Ia mulai ragu apakah keputusannya membawa barang ini ke pasar modern adalah hal yang benar.
Mungkin pria di dunia kuno itu benar bahwa ini hanyalah ginseng biasa yang tidak ada nilainya.
Tepat saat Raka berniat mengemasi kardusnya untuk pindah tempat, sebuah suara mesin mobil halus terdengar.
Brummm.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti pelan tepat di pinggir jalan depan lapak Raka.
Semua pedagang yang tadi menertawakan Raka mendadak diam melihat mobil mewah bernilai miliaran itu.
Pria buncit pemilik toko langsung merapikan kerahnya dan tersenyum lebar bersiap menyambut pelanggan kaya.
Pintu belakang mobil itu terbuka dan keluarlah seorang wanita muda yang penampilannya sangat memukau.
Wanita itu mengenakan setelan blazer dan celana bahan berwarna putih bersih yang menjadikannya pusat perhatian.
Kacamata hitam berdesain elegan menutupi sebagian wajah cantiknya yang berhidung mancung.
Tuk. Tuk. Tuk.
Suara sepatu hak tingginya beradu dengan trotoar pasar memecah kesunyian yang tiba-tiba melanda tempat itu.
Aroma parfum mawar yang sangat mewah seketika mengalahkan bau rempah dan debu jalanan.
Pria buncit itu buru-buru maju menghampiri wanita tersebut dengan sikap membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Nona Sasa! Ada yang bisa saya bantu cari di toko saya hari ini?" sapa pria buncit itu ramah.
Wanita bernama Sasa itu sama sekali tidak menoleh ke arah pria buncit tersebut.
Langkahnya justru berhenti tepat di depan kardus usang milik Raka.