NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Familiar Choice Of Size

Weekend.

Sesuai dengan agenda yang sudah dijadwalkan, hari ini Billby akan mengikuti kelas memasak. Sebenarnya, Billby tidak terlalu menyukai aktivitas dapur seperti masak-memasak. Namun, ini adalah salah satu alasan cerdik agar ia bisa lebih sering keluar rumah. Karena jika tidak ada urusan mendesak yang jelas, Billby tidak akan pernah diizinkan menapakkan kaki di luar gerbang.

"Gak usah... main di rumah aja, semua fasilitas udah ada," begitulah jawaban mutlak omnya setiap kali Billby meminta izin untuk sekadar main keluar. Bahkan hanya untuk bersepeda keliling kompleks perumahan saja dilarang keras.

Billby harus mengakui, rumahnya memang menyediakan segalanya. Mulai dari kolam renang berukuran luas, taman bermain pribadi, sungai buatan, kolam terapi ikan, seluruh alat olahraga modern, hingga kebun binatang mini pun tersedia di area rumahnya. Memang tidak banyak jenis hewan yang ada di sana, mungkin hanya berkisar sekitar sepuluh macam saja.

Hewan dengan jumlah paling banyak adalah kucing. Itu adalah binatang yang paling Billby sukai, bahkan ia sampai memelihara lebih dari tiga puluh ekor kucing di rumah. Selain itu, ada juga burung hantu, burung beo, monyet, zebra, kuda, unta, landak, dan beberapa jenis satwa lainnya. Walaupun Jack tidak mengizinkan Billby keluar rumah, fasilitas hiburan yang disediakan oleh omnya itu memang bukan main-main.

Sayangnya, sebanyak apa pun fasilitas yang Jack sediakan, ada satu hal penting yang mungkin tidak pernah disadari oleh pria itu. Selengkap apa pun fasilitas di dalam rumah, semuanya tetap akan terasa tidak berguna jika ia tidak memiliki seorang teman pun untuk berbagi. Tetap saja hari-harinya akan terasa sepi dan membosankan.

***

Pukul 08.30 WIB.

"Udah siap belum, Bil?" tanya Jack saat melangkah memasuki kamar Billby.

Di dalam kamar, terlihat Billby sedang berdiri tegak menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. "Om... memangnya aku ini kelihatan kecil banget, ya? Aku sependek itu?"

"Gak kecil kok. Cuman agak mirip kurcaci aja," balas Jack, sengaja memancing emosi keponakannya.

Mata Billby seketika melotot tajam. "Om—"

"Udah... gak usah ngamuk. Jadi pergi gak nih?" sela Jack cepat sebelum singa betina di depannya mengaum.

Wajah Billby tampak menekuk kesal. Namun, ia memilih untuk tidak membalas lagi dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.

Jack segera keluar dari kamar yang kemudian disusul oleh Billby di belakangnya. Mereka berdua berpisah di area tangga depan rumah karena Jack harus pergi ke gedung parkiran terlebih dahulu untuk mengambil mobil.

"Hari ini kamu mau bikin apa di sana?" tanya Jack saat Billby sudah duduk manis di dalam mobil yang mulai melaju.

Billby berdecak jengkel. "Mau bikin masalah."

Jack menaikkan sebelah alisnya geli. "Oh ya, lupa... kemarin kan udah nanya. Kamu mau bikin kue tart, kan?"

"Hmm."

"Selesai jam berapa kira-kira?" tanya Jack lagi memastikan jadwal.

"Gak terlalu lama... karena kue tart bukan jenis kue yang adonannya harus didiamkan dulu sampai mengembang. Paling lama ya sekitar dua jam lah," balas Billby seraya mengambil cermin kecil yang ia simpan di laci dashboard untuk memastikan penampilannya tetap rapi.

Dih, padahal cuma mau bikin kue di studio, ngapain juga dandan rapi-rapi begitu? Dasar anak gadis zaman sekarang, batin Jack keheranan.

"Ya udah. Kalau kamu udah selesai nanti, Om sekalian mau cukur rambut," ujar Jack memberi tahu agendanya sendiri.

"Kenapa gak pas aku lagi bikin kue aja Om pergi cukurnya? Kan lebih efisien waktu," saran Billby memberikan solusi.

Namun, Jack langsung menolak mentah-mentah ide tersebut. "Gak bisa. Ntar kalau kamu malah keliaran ke mana-mana gimana?"

"Gak bakal, ih! Om mah suudzon mulu bawaannya. Lagian aku masak kan dua jam. Om pergi cukur rambut kan gak bakal selama itu. Kalau Om ninggalin aku lebih dari dua jam, baru wajar kalau Om mikir yang macam-macam," balas Billby kesal karena tingkat kepercayaan omnya berada di angka minus.

Jack tampak sama sekali tidak tergugah. "Nggak. Om bakal tetap tungguin kamu di sini sampai selesai."

"Terserah," balas Billby ketus lalu memalingkan wajah ke jendela.

***

Setelah mengantar Billby masuk ke dalam cooking studio tempatnya belajar memasak, Jack memilih untuk menunggu di dalam mobil saja.

Ia menghela napas panjang saat memori sarapan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Saat Papih dan Mamihnya kembali mengungkit masalah pernikahan dengan nada menuntut. Ternyata kali ini kedua orang tuanya benar-benar serius, bukan sekadar dorongan bercanda seperti sebelum-sebelumnya.

Dijodohkan? Jelas Jack sangat tidak menyukainya. Ia bukan tidak memiliki keinginan untuk menikah, melainkan karena ia sedang menunggu seseorang.

Jack membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya. Ia menatap sebuah kontak, berniat untuk mencoba menghubungi gadis itu. Sempat beberapa kali jemarinya mengetikkan beberapa patah kata di kolom pesan, namun sedetik kemudian ia menghapusnya lagi dengan frustrasi.

Jack ini tipe cowok gengsian. Ia menyukai Ceylon—gadis yang selama ini ia tunggu—sejak zaman SMA. Mereka selalu berada di kelas yang sama dari kelas satu SMA hingga lulus bangku kuliah. Setelah lulus, Jack langsung mengajar sebagai guru di sekolah milik papanya, sedangkan Ceylon memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Kalau dihitung-hitung, mungkin Jack sudah menyukai gadis itu selama lebih dari 10 tahun. Namun, sampai detik ini ia belum juga memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Gila, bukan?

Sebenarnya Ceylon sudah menyelesaikan pendidikannya sejak lama. Namun, pada tahun kedua Ceylon berada di luar negeri, orang tuanya memutuskan untuk ikut pindah ke sana karena tidak bisa hidup jauh dari putri semata wayang mereka. Dan saat ini, tampaknya keluarga Ceylon sudah terlanjur nyaman tinggal di sana karena pekerjaan orang tuanya pun sudah sangat stabil.

Tanpa terasa, waktu dua jam telah berlalu begitu saja, mungkin karena Jack terlalu larut dibayangi oleh pikirannya sendiri. Pintu mobil mendadak terbuka dari luar. Billby masuk ke dalam dengan membawa sebuah kotak transparan yang berisi kue tart.

"Udah selesai?" Jack menatap Billby dengan heran karena ia merasa keponakannya itu baru saja turun dari mobil beberapa menit yang lalu. Eh, tahu-tahu sekarang sudah masuk lagi.

"Belum," balas Billby datar. Lagian sudah jelas-jelas ia sedang memegang kotak kue di tangannya, kalau bukan hasil buatannya lalu apa lagi? Beli? Ini kan studio memasak, bukan toko roti komersial.

Jack menatap wajah Billby lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu. "Kamu lagi ada masalah? Kayaknya sensi banget dari kemarin."

Billby dalam hati membenarkan ucapan omnya. Kalau ditanya kenapa mood-nya berantakan, Billby sendiri pun tidak tahu apa penyebab pastinya. "Suasana hatiku emang lagi buruk dari kemarin, gak tahu kenapa," balas Billby seadanya.

Jack mengangguk paham lalu mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan kota. "Kalau kamu lagi mau jalan-jalan atau ke mana gitu, bilang aja... nanti Om cari waktu luang."

Billby hanya mengangguk singkat sebagai respons.

"Itu... beneran bikinan kamu tadi?" tanya Jack melirik kotak kue di pangkuan Billby.

Billby menatap kue tersebut. "Iya... yang bikin kuenya aku, tapi yang ngehias chef-nya. Hmm, ternyata keliatannya susah banget pas proses menghias tadi," ucap Billby sambil membayangkan kerumitan pembuatan krim kue tadi.

"Gak apa-apa... nanti pas sesi kedua kamu pasti bisa. Kalaupun gak bisa juga gak apa-apa, kan banyak hal lain yang bisa kamu lakuin," balas Jack, kali ini berbicara dalam mode dewasa yang bijak.

Setelah memakan waktu belasan menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat cukur rambut bernama Kece Barbershop. Tepat di sebelah barbershop tersebut, berdiri sebuah kafe baru bernama JR'b Cafe.

Setelah turun dari mobil, mata Billby langsung tertuju pada kafe tersebut. "Aku mau beli boba ya, Om," pinta Billby sambil menunjuk kafe yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, dihiasi dengan stiker vinyl abstrak berbentuk ilustrasi minuman seperti boba dan kopi.

Jack menatap kafe tersebut sejenak. Tempat itu tampaknya masih sangat baru. Karena setiap kali potong rambut, Jack selalu pergi ke barbershop ini, dan terakhir kali ia datang ke sini, kafe tersebut belum ada.

Jack mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepada keponakannya. "Habis beli langsung ke barbershop, ya. Langsung. Inget kata Om... lang-sung. Awas aja kalau berani macam-macam di luar," peringat Jack dengan penuh penekanan.

Billby yang sedang malas berdebat hanya mengiyakan saja. Ia mengambil uang tersebut lalu mengantonginya di saku baju. Billby sebenarnya tidak berniat menggunakannya untuk membayar nanti. Hari gini mana ada yang masih bayar pakai uang tunai? Tapi karena itu uang cuma-cuma, ya terima saja.

"Om, beli," ujar Billby sesaat setelah melangkah masuk ke dalam kafe dan berdiri tegak di depan meja kasir.

"Beli apa, Dek?" balas si Abang Boba ramah sambil mengulas senyuman manis.

Billby menatap wajah penjual boba di depannya dengan dahi yang mendadak mengernyit dalam. Wajahnya terasa... sangat familiar di ingatannya. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat karena sedang tidak ingin berpikir keras. "Brown sugar boba milk-nya satu ya, Om."

Laki-laki penjual boba itu mengangguk paham sambil tersenyum hangat. Dan tanpa Billby sadari, sepasang mata pria itu diam-diam sedang mengamati wajah Billby yang tertutup masker. Matanya cantik banget. Tapi... mirip siapa, ya? batin pria itu menerka-nerka. "Oke... brown sugar boba milk-nya satu. Ukurannya mau yang apa, Dek?"

"Mmmmmmmmm..." Billby menggumam sangat lama. "Yang kecil aja deh, Om... Eh, yang gede aja deh. Eh tapi, kebanyakan gak ya? Kalau yang kecil takut kurang. Kalau ukuran sedangnya ada gak?" oceh Billby panjang lebar tanpa jeda.

Ocehan polos itu tanpa sadar langsung membuat si Om Boba tersentak masuk ke dalam mesin waktu flashback.

Pikiran pria itu mendadak terlempar pada sosok seorang gadis yang dulu pernah sangat dekat dan mengisi hatinya. Setiap kali mereka membeli makanan atau minuman di kedai, gadis itu selalu saja menggumam panjang, lalu menghabiskan waktu yang teramat lama hanya untuk memilih menu atau ukuran pesanan. Persis seperti yang sedang dilakukan oleh Billby di depannya saat ini

Perasaan pria itu seketika berubah menjadi campur aduk tak karuan. Namun, ia tetap berusaha bersikap profesional dan menyembunyikan riak emosinya. Ia tersenyum ramah. "Di sini gak ada ukuran sedangnya, Dek."

Billby langsung cemberut di balik masker medisnya. "Ya udah deh, yang kecil aja... Eh, yang besar! Yang besar aja, Om, yang besar."

"Oke... brown sugar boba milk ukuran besar satu, ya. Ada tambahan lagi?"

Setelah menunggu selama beberapa saat, si Abang Boba tadi menyodorkan sebuah kantong plastik berisi minuman pesanannya. "Jadi dua puluh delapan ribu ya, Dek. Mau bayar tunai atau—"

"QRIS," potong Billby cepat, bahkan sebelum si penjual sempat menuntaskan kalimatnya.

"Baik... silakan di-scan kodenya di sebelah sini," ujar pria itu ramah sambil menunjuk kode QRIS tokonya menggunakan empat jari dengan sopan.

Billby segera mengeluarkan ponselnya, melakukan pembayaran digital tersebut, lalu melangkah pergi ke luar kafe tanpa menyimpan rasa curiga sedikit pun.

1
@Biru791
pliss deh up yg banyak gemesa deh
Dini
sama sama
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.

good story
@Biru791
dobel up dong tur
chill: okeh deh.. besok ya.. makasih banget sudah ngikutin terus
total 1 replies
@Biru791
thour ayoo upp di tunggu
chill: aku up setiap hari jam 15📝⌛
total 1 replies
@Biru791
semangatt upp
chill: makasih 😍😍 seneng banget ada yang komen🩷🩷
total 1 replies
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!