NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara

Bab 10: Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara

Waktu berlalu di Surabaya bukan dalam hitungan hari, melainkan dalam bentuk tumpukan kertas gambar, tenggat waktu tugas, dan aroma kopi saset yang kini akrab di hidung Anya. Dua semester terlampaui dengan kecepatan yang luar biasa. Kota Pahlawan yang awalnya terasa asing, membakar, dan bising, perlahan-lahan mulai terasa akrab. Anya tidak lagi tersesat saat naik bus kota, dan telinganya sudah terbiasa dengan seruan “Cuk!” atau “Rek!” yang kasual di koridor kampus.

Sore itu, akhir tahun pertama kuliahnya ditutup dengan langit jingga yang bersih di atas atap gedung fakultas seni. Anya berdiri di balkon, memandangi beberapa mahasiswa yang berlarian menuju gerbang luar. Rambut panjangnya yang dulu selalu ditata rapi di salon Jakarta, kini dipotong pendek sebahu dengan gaya shaggy yang praktis. Kemeja flanel kebesaran milik Ririn melingkar di tubuhnya yang tampak sedikit lebih tegap. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis manja yang selalu takut kepanasan.

"Anya! Malah melamun di sini. Ayo cepat, anak-anak sudah menunggu di warung penyetan depan!" Ririn muncul dari balik pintu kaca, membawa tas kanvas penuh tabung gambar.

Anya menoleh, memberikan senyum tipisnya yang sekarang terasa lebih tenang dan dewasa. "Iya, Rin. Sebentar, aku merapikan cat poster ini dulu."

"Kamu ini ya, IPK sudah keluar dan dapat empat koma nol masih saja rajin. Liburan semester ini kamu beneran enggak mau pulang ke Jakarta?" tanya Ririn santai sambil bersandar di pembatas balkon.

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Anya yang sedang memasukkan kuas ke dalam dompet kainnya terhenti sejenak. Kata Jakarta selalu berhasil memberikan sengatan kecil di ulu hatinya, meskipun tidak sehebat dulu.

"Enggak, Rin. Aku sudah ambil proyek freelance bikin ilustrasi buku anak dari penerbit lokal di sini. Lumayan buat tambah-tambah uang jajan," jawab Anya tanpa mengalihkan pandangan.

Ririn menghela napas panjang. Sebagai sahabat terdekat Anya selama setahun ini, Ririn tahu ada sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur oleh Anya. Ririn pernah beberapa kali melihat Anya menatap ponsel barunya dengan pandangan kosong yang teramat dalam, terutama di malam-malam setelah ujian selesai. Namun, Ririn tidak pernah memaksa Anya untuk bercerita. Dia menghargai privasi sahabatnya yang sangat tertutup itu.

"Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan lupa makan. Kamu itu makin kurus sejak tinggal sendiri," omel Ririn keibuan.

Anya hanya tertawa kecil. "Iya, cerewet. Ayo turun."

Malam harinya, setelah makan malam yang riuh bersama teman-teman sekelasnya, Anya kembali ke apartemen studionya yang sepi. Suasana sunyi langsung menyergap begitu pintu kayu itu tertutup rapat. Anya meletakkan tasnya di atas meja kerja, lalu berjalan menuju laptopnya yang masih menyala.

Dia membuka folder surel pribadinya. Di folder kotak masuk utama, semuanya bersih dari nama-nama keluarganya karena dia telah memblokir semua alamat surel lama mereka. Namun, malam ini, Anya entah mengapa tergerak untuk membuka folder Spam.

Di sana, berderet belasan surel dari alamat yang sangat dia kenali: Joana Bramantyo.

Anya bersandar pada sandaran kursi lipatnya. Jemarinya ragu-ragu di atas bantalan sentuh. Surel terakhir dikirim tiga hari lalu dengan judul: Anya, tolong baca ini. Papa sakit.

Anya memejamkan mata erat-erat. Dadanya berdenyut perih. Rasa bersalah sempat merayap, mencoba meruntuhkan dinding pertahanan yang dia bangun selama tiga ratus enam puluh lima hari ini. Namun, bayangan malam perjamuan itu, bentakan kejam Papanya, dan wajah dingin Edgard yang membelakanginya kembali berputar dengan jelas.

Mereka yang membuangnya. Mereka yang menganggap perasaannya sebagai sampah egois yang merusak bisnis keluarga. Papa mengirimnya ke sini agar rumah di Jakarta tenang, agar pernikahan Joana dan Edgard bisa berjalan tanpa gangguan dari "gadis kekanak-kanakan" sepertinya.

"Kalian sudah mendapatkan ketenangan itu," bisik Anya pada layar laptop yang dingin. "Jadi, jangan minta aku kembali untuk merusaknya."

Tanpa membuka satu pun surel tersebut, Anya menggerakkan kursornya. Dia memilih semua surel dari Joana di folder spam, lalu mengklik tombol Delete Forever. Dalam satu kedipan mata, semua pesan itu musnah tak berbekas. Anya mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang kembali mencoba bertahta di dadanya.

Sementara itu, seribu kilometer dari Surabaya, kota Jakarta sedang diguyur hujan malam yang pekat. Di dalam ruang kerja utama kediaman Bramantyo, suasana terasa begitu sunyi dan menekan. Papa duduk di kursi rodanya dekat jendela, wajahnya tampak jauh lebih tua dan pucat setelah serangan stroke ringan beberapa bulan lalu.

Pintu ruang kerja diketuk pelan. Edgard Baskoro berjalan masuk dengan langkahnya yang tegap dan berwibawa. Malam ini dia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi. Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya tampak lebih dalam dan lelah.

"Bagaimana keadaan Papa, Om?" tanya Edgard sopan, berdiri di samping kursi roda Bramantyo.

Papa menghela napas berat, menatap keluar jendela yang basah oleh air hujan. "Seperti yang kamu lihat, Edgard. Perusahaan bisa kita kendalikan dengan baik setelah merger kemarin. Tapi... rumah ini terasa sangat kosong."

Edgard diam, menunggu Papa melanjutkan kalimatnya.

"Joana bilang, dia sudah mencoba mengirim ratusan email ke Anya. Tapi tidak pernah ada balasan. Nomor teleponnya juga tidak pernah aktif," suara Papa terdengar bergetar, ada nada penyesalan yang sangat dalam di sana. "Papa terlalu keras padanya dulu. Papa pikir, mengirimnya ke Surabaya akan membuatnya sadar dan pulang untuk meminta maaf. Tapi anak itu... dia beneran memutus kontak dengan kita semua. Dia benar-benar membuang keluarganya sendiri."

Edgard menundukkan kepalanya sedikit. Mendengar nama Anya disebut, sebuah debaran aneh yang asing kembali merayap di dadanya. Sudah satu tahun berlalu sejak gadis itu menamparnya di ruang kerja dan berjanji untuk menghapusnya dari hidup seutuhnya. Dan selama satu tahun ini, Edgard menyadari satu hal yang mengusik ketenangannya: Anya benar-benar melakukannya.

Tidak ada lagi pesan singkat konyol di pagi hari. Tidak ada lagi aroma manis stroberi yang tertinggal di sofa ruang tamunya. Tidak ada lagi gadis berisik yang memotong pembicaraan bisnisnya demi menawarkan tiket festival seni. Hidup Edgard kembali menjadi sangat teratur, sangat logis, dan sangat... sepi.

"Edgard," panggil Papa, memecah lamunan pria itu. "Mengenai perjodohanmu dengan Joana... Papa rasa kita harus membicarakannya lagi. Joana... dia juga merasa sangat bersalah pada adiknya. Hubungan kalian berdua belakangan ini juga tampak..." Papa tidak melanjutkan, namun dia tahu Edgard mengerti maksudnya. Selama setahun ini, hubungan Edgard dan Joana tidak pernah beranjak dari status rekan bisnis yang formal. Tidak ada cinta di sana.

Edgard menatap Papanya Anya dengan pandangan yang tak terbaca. "Saya mengerti, Om. Fokus kita saat ini adalah kesehatan Om dan kelangsungan perusahaan. Soal hal lain... biarlah waktu yang menjawab."

Setelah berpamitan, Edgard berjalan keluar dari rumah mewah tersebut. Dia masuk ke dalam mobil sedannya, namun tidak langsung menyalakan mesin. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok, menatap kemudi dengan pandangan kosong.

Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya. Dia membuka aplikasi kontak, lalu menggulir ke bawah hingga menemukan nama yang sudah satu tahun ini tidak pernah dia sentuh: Anya. Edgard ibu jari pria itu menggantung di atas tombol panggil selama beberapa detik.

Dia tahu nomor itu sudah mati. Dia tahu gadis itu sudah menggantinya. Namun, ada bagian dari ego Edgard yang menolak untuk percaya bahwa seorang Anya yang begitu terobsesi padanya bisa melupakannya begitu saja dalam waktu satu tahun.

Edgard meletakkan kembali ponselnya dengan helaan napas pendek. Dia menyalakan mesin mobil dan melaju menembus hujan Jakarta. Di dalam hatinya yang sedingin es, sebuah retakan kecil mulai muncul. Sebuah penyesalan yang terlambat mulai tumbuh, berbisik bahwa bersikap biasa saja dan membiarkan gadis itu pergi malam itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dia buat dalam hidupnya.

Visual Anya setahun terahir

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!