NovelToon NovelToon
Terjebak Menjadi Villain Favorit

Terjebak Menjadi Villain Favorit

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.

Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.

Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Adrian menahan senyum yang semakin melebar. Untuk pertama kalinya, ia melihat ekspresi kepanikan yang tulus di wajah Evelyne. Dan entah mengapa... pemandangan itu justru terasa begitu menarik baginya.

"Sudah," ucapnya singkat sambil berbalik badan. "Kau boleh pergi sekarang."

[Aruna mengerutkan kening bingung. Pria aneh.] Tanpa menunggu lama, ia segera melangkah keluar dari ruangan itu.

Begitu pintu tertutup rapat, Adrian menatap pintu kayu itu dengan pandangan yang penuh minat.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, ia merasa memiliki keinginan kuat untuk mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang. Dan orang itu... adalah Lady Evelyne Ashcroft.

***

Sejak melangkahkan kaki keluar dari gerbang akademi kerajaan dan kembali menempuh perjalanan pulang, Aruna tak dapat menenangkan pikirannya. Sesuatu yang samar namun tak dapat diabaikan seakan terus menggelayuti benaknya.

Bukan sekadar karena Putra Mahkota tiba-tiba memanggilnya secara pribadi dan menyisakan kata-kata yang membingungkan. Melainkan mengapa pria itu menanyakan hal yang seharusnya tak perlu dipertanyakan?

"Mengapa ia menanyakan apakah aku keberatan jika ia semakin dekat dengan Isabelle?" gumamnya pelan, kerut samar terbentuk di keningnya.

"Bukankah hal itu sudah ditakdirkan sejak awal cerita berjalan? Mereka adalah dua tokoh utama yang kelak bersanding di puncak kemuliaan. Segala hal itu sudah tertulis begitu jelas."

Aruna menggeleng kuat, berusaha membuang segala pemikiran yang tak menentu itu. "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya."

Kereta yang membawanya pun akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di halaman kediaman keluarga Ashcroft yang megah. Aruna turun perlahan dan melangkah menyusuri lorong menuju kamarnya, namun langkah kakinya terhenti ketika seorang pelayan menghampirinya dengan hormat.

"Nona Evelyne, Duke Harold baru saja tiba tak lama yang lalu."

Aruna seketika mematung di tempat. Matanya membelalak tak percaya.

"Di mana ia sekarang?"

"Di ruang tamu, sedang berbincang bersama Ayah Anda, Duke Arthur."

Wajah Aruna seketika berubah pucat. Hatinya berdegup kencang tak menentu. [Mengapa ia datang lagi? Bukankah setelah rencananya merampas harta keluarga kami melalui tipuan tambang emas gagal, ia seharusnya mulai menjauh dan bersembunyi di balik bayangannya sendiri?]

Tanpa membuang waktu lebih lama, Aruna segera mempercepat langkahnya menuju ruang tamu.

Di dalam ruangan yang sejuk itu, Duke Harold tengah duduk dengan tenang di atas kursi berlapis beludru, seakan tak pernah bersalah sedikit pun. Wajahnya masih dihiasi senyum yang begitu ramah dan menawan, senyum yang selama ini ia gunakan untuk menyembunyikan kebusukan hatinya.

"Aku datang semata-mata ingin memastikan keadaanmu, Arthur," ucapnya lembut seakan penuh perhatian.

Duke Arthur membalas senyum itu dengan ragu, keraguannya tak sepenuhnya disembunyikan.

"Terima kasih atas perhatianmu, Harold."

Namun suasana di antara mereka terasa jauh lebih dingin dan kaku dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Arthur tak lagi memandang sahabat lamanya itu dengan pandangan yang sama.

Harold meletakkan cangkir teh porselen ke atas meja perlahan, suaranya terdengar santai namun tak lepas dari penyelidikan.

"Ngomong-ngomong, aku mendengar kabar bahwa kau menolak tawaran kerja sama pengelolaan tambang yang kuberikan?"

"Itu benar," jawab Arthur singkat.

"Sayang sekali sekali," Harold menghela napas panjang seakan sungguh-sungguh merasa rugi demi sahabatnya. "Itu adalah peluang yang tak akan datang dua kali."

Arthur hanya diam seribu bahasa. Di dalam benaknya, perkataan putrinya kembali bergema dengan begitu jelas dan tajam. [Jangan pernah percaya pada senyumnya, Ayah. Di balik senyum itu tersembunyi niat jahat yang tak kalah tajam dari mata pedang.]

Arthur menatap sosok sahabat lamanya itu dengan pandangan yang kini penuh kewaspadaan. Ia seakan menembus topeng indah yang dikenakan pria itu.

"Aku hanya merasa perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan keluarga," jawab Arthur akhirnya dengan tenang.

Harold tetap tersenyum, namun senyum itu tak lagi menyentuh matanya yang gelap.

"Tentu saja. Sikap yang bijaksana."

Saat itulah pintu ruang tamu terbuka perlahan. Aruna melangkah masuk dengan tenang.

"Selamat siang, Ayah. Selamat siang, Duke Harold."

Senyum yang sedari tadi tak pernah lepas dari bibir Harold seketika memudar. Tatapannya yang menatap gadis itu berubah tajam dan penuh selidik.

Ia masih tak mampu melupakan kejadian beberapa hari yang lalu saat rencananya yang telah disusun rapi berantakan begitu saja hanya karena perkataan gadis muda di hadapannya ini. Setiap langkah yang ia siapkan dengan cermat selalu gagal tepat di saat Evelyne membuka mulutnya.

Pertanyaan pun mulai muncul di benaknya, 'Sejak kapan gadis yang selama ini dikenal polos dan tak tahu apa-apa itu tiba-tiba menjadi begitu cerdas dan tajam pandangannya? Apa yang sebenarnya diketahuinya?'

"Nona Evelyne..." panggilnya pelan.

Aruna tersenyum sopan, tak menunjukkan sedikit pun rasa takut.

"Duke Harold."

Tatapan mereka bersilang sejenak. Hati Harold seakan terasa tidak tenang.

Aruna pun melangkah mendekat dan duduk di samping ayahnya, menatap tamu yang tak diundang hatinya itu dengan tenang.

"Apa yang sedang Ayah dan Duke Harold bicarakan?"

Arthur menjawab dengan nada yang berusaha tetap santai.

"Hanya sekadar urusan bisnis, Nak."

"Ayah tak sedang membicarakan kembali soal tambang itu, bukan?" tanyanya lurus-lurus menatap wajah pria yang duduk di hadapannya.

Arthur hampir tak kuasa menahan senyum melihat ketegasan putrinya.

"Tidak. Semua urusan itu sudah selesai."

"Syukurlah kalau begitu," Aruna menghela napas lega, seakan beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.

Namun reaksi sederhana itu justru semakin memperkuat dugaan yang bersarang di hati Harold. Tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu sedetik pun. Semakin yakinlah ia bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarga Ashcroft. Sesuatu yang tak diketahui orang lain.

Tak lama kemudian, Harold berdiri perlahan.

"Kalau begitu, izinkan aku berpamitan. Sudah cukup lama aku mengganggu ketenangan keluarga kalian."

Setelah membungkuk memberi salam, ia pun melangkah meninggalkan kediaman itu dengan hati yang dipenuhi pertanyaan serta tekad yang mulai mengeras.

1
Wahyuningsih
mampir q thor
haruuu
udahh kebongkar kocakk🤭
Fahreziy
👣👣👣
lin sya
sebastian penulis novel, atau pembaca novel yg nyasar kyk aruna, klo aruna bsa ubah alur ceritanya, otomatis dia bisa gk ya ttp selamat dan kluarganya ttp baik2 aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!