NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bab 19: Amarah yang Meledak

Suasana di ruang tengah semakin panas dan menyesakkan.

Wajah Gilang sudah memerah padam, urat lehernya menonjol menahan amarah yang meluap melebihi batas kesabarannya.

Mendengar kenyataan yang terasa seperti tamparan keras di wajahnya, rasa dikhianati, malu, dan sakit hati bercampur menjadi satu, membuat logikanya seolah mati seketika.

Dia tidak lagi melihat Arga sebagai ayahnya sendiri, melainkan sebagai pria yang telah merebut apa yang pernah menjadi miliknya.

“Kau benar-benar tidak tahu malu, Ayah! Sejak kapan kita menjadi keluarga yang hina seperti ini? Menikahi wanita yang pernah menjadi kekasihku sendiri! Apa yang ada di pikiranmu?

Apa kau sudah lupa siapa dirimu? Kau bukan hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga mempermalukan nama baik keluarga Wijaya dan aku sebagai anakmu!” teriak Gilang dengan suara parau, penuh muatan kekesalan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

Dengan gerakan cepat dan kasar, Gilang mengepalkan tangannya sekuat tenaga, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, siap melayangkan pukulan ke arah wajah Arga.

Melihat tinju yang melayang mendekat, Arga siap menangkisnya dengan posisi tubuh yang kuat.

Tetapi, sebelum benturan itu terjadi, Diana yang berdiri di tengah-tengah mereka bertindak secara spontan.

Tanpa berpikir panjang demi melindungi suaminya, dia langsung melangkah ke depan dan menempatkan tubuhnya sebagai perisai.

“TIDAK!” teriak Diana sekuat tenaga.

Namun gerakannya terlalu cepat dan tak terduga. Tinju yang seharusnya mengenai wajah Arga, malah melayang tepat mengenai pipi kanan Diana.

BUKK!

Suara benturan itu terdengar jelas di ruangan yang hening sesaat.

"Awwss... Mas..!" Diana meringis kesakitan

Dia terhuyung mundur beberapa langkah, lalu tubuhnya terasa lemas dan seketika ambruk terjatuh ke lantai.

Rasa perih yang menyengat langsung menjalar dari pipinya hingga ke pelipis, dan ujung bibirnya terasa panas serta sedikit basah.

Saat dia menyentuhnya dengan jari, terasa ada cairan hangat yang keluar — bibirnya sedikit sobek dan mengeluarkan darah. Dia meringis menahan sakit, matanya terasa berkunang-kunang.

“Diana!!!”

Arga langsung berlutut dan memeluk tubuh istrinya yang hampir terkulai.

Matanya memerah menahan amarah yang siap meledak melebihi ledakan gunung berapi.

Dia memeriksa wajah Diana dengan tangan gemetar, melihat darah yang menetes dari sudut bibirnya dan pipinya yang mulai memerah membengkak.

Gilang yang masih berdiri dengan tangan terangkat, seketika terpaku kaku di tempatnya.

Matanya terbelalak tak percaya, napasnya terhenti sesaat.

Dia baru sadar bahwa pukulannya bukan mengenai ayahnya, melainkan mengenai wanita yang dulu sangat dia cintai.

Rasa marah yang tadi membara seketika sirna, digantikan oleh rasa kaget, panik, dan penyesalan yang mendalam.

“Diana… Demi Tuhan… Maafkan aku, aku tidak bermaksud…” gumam Gilang terbata-bata, suaranya bergetar.

Dia segera melangkah cepat mendekat, tangannya ingin memegang wajah Diana untuk melihat lukanya lebih dekat.

“Biarkan aku lihat, apakah sakit? Maafkan aku, aku tidak tahu kau akan melompat ke depan seperti itu…”

Namun begitu tangan Gilang hampir menyentuh pipinya,

Diana secara refleks menoleh dan mundur sedikit menjauh, matanya menatap Gilang dengan pandangan yang bercampur rasa sakit dan ketakutan.

"Jangan mendekat" Ujar Diana dengan perasaan takut.

Gerakan itu seolah menjadi batas yang jelas, membuat Gilang menghentikan tangannya di udara dengan perasaan semakin hancur.

Melihat reaksi itu, Arga sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya.

Dia perlahan menurunkan Diana ke lantai dengan hati-hati, lalu berdiri dengan tubuh yang terlihat lebih besar dan mengintimidasi.

Dalam sekejap, dia sudah mencengkeram kerah baju Gilang dengan kedua tangannya, lalu mengangkat tubuh pemuda itu sedikit dari lantai seolah mengangkat benda ringan saja.

“Kau berani melukai istriku?! Anak tidak tahu diri!” bentak Arga dengan suara menggelegar yang membuat jendela kaca seolah bergetar.

Tanpa memberi Gilang kesempatan untuk menjawab,

Arga langsung melayangkan pukulan keras ke arah wajah putranya itu.

Satu pukulan, diikuti pukulan berikutnya yang membabi buta, melampiaskan segala rasa marah dan sakit hati melihat istrinya terluka.

Gilang yang masih dalam keadaan panik dan merasa bersalah hanya bisa berusaha menangkis sebisa mungkin, namun kekuatan Arga yang jauh lebih besar membuatnya terdesak.

Mereka berdua terjatuh ke lantai, berguling-guling sambil saling memukul dan mendorong, menciptakan keributan yang luar biasa.

“Mas… Jangan! Berhenti!” teriak Diana mencoba bangkit dan melerai, namun rasa sakit di pipinya membuat gerakannya terasa lambat dan lemah. Suaranya pun terdengar lemah dan tidak berdaya.

Di sudut ruangan, Nyonya Amara sudah berdiri dengan wajah yang sangat muram dan marah.

Dia sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan memalukan itu — dua pria dewasa, ayah dan anak, berkelahi bagaikan hewan buas hanya karena satu wanita.

Nyonya Amara memegang tongkat kayunya dengan sangat erat, urat tangannya menonjol karena menahan amarah yang sudah memuncak.

“CUKUP!!!” teriak Nyonya Amara dengan suara lantang yang memecah keributan.

Tanpa menunggu lagi, dia mengayunkan tongkat kayunya dengan sekuat tenaga.

Ujung tongkat itu melayang cepat dan tepat mengenai punggung Arga, lalu bergeser ke lengan Gilang.

Kedua pria itu meringis kesakitan, secara refleks melepaskan cengkeraman satu sama lain dan mundur terhuyung karena rasa perih yang menjalar.

"Ibu... Apa yang ibu lakukan?" Arga mencoba menghindari pukulan ibunya

Gilang juga sama, dia menghindar sekuat tenaga.

"Ampun Nek, aw.. aw...aw.. , hentikan Nek!"

“Dasar dua orang bodoh!? Apakah ini wibawa keluarga Wijaya yang selama ini kami jaga? Berkelahi seperti orang tidak beradab, membuat keributan, dan bahkan melukai wanita yang tidak bersalah!” bentak Nyonya Amara,

matanya memancarkan tatapan yang sangat mengerikan, jauh lebih menakutkan daripada tatapan Arga sekalipun.

Dia berteriak dengan suara lantang memanggil orang di luar. “Pak Heru! Pak Broto! Masuk ke sini sekarang juga!”

Tak lama kemudian, dua orang satpam yang bertugas di rumah besar itu segera berlari masuk dengan napas terengah-engah.

Mereka berdiri tegak dengan kepala tertunduk, merasa cemas melihat suasana yang kacau balau.

“Bawa mereka keluar! Seret Arga dan Gilang ke halaman belakang, kunci mereka di luar sampai mereka sadar diri dan bisa berbicara dengan akal sehat!” perintah Nyonya Amara dengan nada tegas dan tidak bisa dibantah.

Kedua satpam itu saling berpandangan, ragu sejenak.

Berani menyentuh Tuan Arga dan Tuan Muda Gilang? Itu hal yang tidak biasa.

Namun, saat mereka menoleh dan melihat tatapan tajam Nyonya Amara, ketakutan yang lebih besar menyelimuti hati mereka.

Semua orang tahu, di keluarga Wijaya, Nyonya Amara adalah pemegang tahta tertinggi, dan kekuasaannya jauh lebih mendalam serta mengerikan daripada Arga sendiri.

“Tuan… Nyonya…” gumam Pak Heru ragu.

“Lakukan sekarang juga! Jangan berani membantah perintahku!” bentak Nyonya Amara lagi.

Mereka pun segera melangkah mendekat, berusaha menahan kedua pria yang masih terlihat marah itu.

Arga berusaha melepaskan diri sambil mengancam, “Berani-beraninya kalian menyentuhku? Jika kalian tidak mundur sekarang juga, aku akan memecat kalian berdua!”

Namun ancaman itu tidak lagi berpengaruh ketika Nyonya Amara menatap mereka dengan tatapan maut.

Gilang pun memberontak.

Tetapi kekuatan kedua satpam itu juga tidak main-main.

Perlahan namun pasti, Arga dan Gilang diseret keluar dari ruang tengah, terus menuju pintu utama dan dikeluarkan ke halaman luar.

“Kunci semua pintu dan jendela! Jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah sampai aku memberi izin!” perintah Nyonya Amara lagi kepada satpam yang lain.

Setelah keributan itu sedikit mereda, Nyonya Amara memutar badannya perlahan dan berjalan menghampiri Diana yang masih duduk terkulai di lantai, memegang pipinya yang membengkak.

Melihat wanita tua itu mendekat, jantung Diana berdegup kencang.

Dia terpaku, melihat betapa tegas dan kerasnya sikap Nyonya Amara tadi, dan tanpa sadar dia mundur sedikit menjauh, matanya terlihat penuh ketakutan.

Kenapa aku merasa seperti melihat harimau. Batin Diana takut

Nyonya Amara menghentikan langkahnya, lalu menghela napas panjang yang terasa berat.

Dia tidak melanjutkan untuk mendekat, melainkan berbalik arah dan kembali duduk di kursi besarnya.

Dia mengambil cangkir teh yang isinya sudah dingin.

Dengan nada suara yang lebih tenang namun tetap tegas, Nyonya Amara berteriak ke arah dapur. “Bi Mari! Cepat ke sini! Bawa kotak obat dan air hangat! Lihat apa yang terjadi pada menantuku ini!”

Suara itu terdengar jelas, membuat Diana yang masih tertegun melongo perlahan mengangkat wajahnya, tidak percaya mendengar Nyonya Amara menyebutnya sebagai menantunya.

1
Arum Dyah
gk akan ada rencana ganti panggilan kah kak?? 🤣🤣🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!