Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUS - Part 3
“Kenapa lo?”
Pertanyaan santai namun sarat akan selidik itu terlontar dari mulut Jamal di suatu pagi yang berbeda, memecah keheningan di dalam mobil saat ia sedang mengantar sang adik berangkat kuliah.
Gea menoleh, menatap kakaknya dengan alis bertaut rapat dan kerutan bingung di dahi. “Kenapa apanya?”
“Kata Ibun, Papa, sama Bang Kian, lo seminggu belakangan ini di kamar terus. kebanyakan diem.
Gak mau makan,” cecar Jamal tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Gea kembali membisu. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. Matanya menatap lurus ke arah deretan ruko dan kendaraan yang berlalu-lalang, tetapi fokusnya kosong. Pikirannya melayang entah ke mana.
“Ge,” panggil Jamal lagi, menyenggol pelan lengan adiknya, “Aster.”
“Aku gak lagi kenapa-napa, Abang,” sahut Gea lirih, memaksakan seulas senyuman tipis di bibirnya. Dia berusaha sekuat tenaga meyakinkan kakaknya bahwa semuanya baik-baik saja.
“Kalo ada apa-apa tuh cerita sama Abang, sama Ibun, sama Papa. Jangan di pendem sendiri,” ucap Jamal lembut.
Kalimat sederhana itu entah bagaimana terdengar seperti sebuah ketukan magis di dada Gea. Kata-kata penuh perhatian dari abangnya langsung memicu air mata yang sejak seminggu lalu ia kunci rapat-rapat untuk mendesak keluar.
Anehnya, saat Jay memutuskannya di kafe hari itu, Gea bahkan tidak meneteskan air mata setitik pun. Benaknya seolah terlalu syok dan mati rasa hingga air matanya enggan keluar. Namun hari ini, di dalam mobil abangnya sendiri, seluruh benteng pertahanan yang ia bangun susah payah luluh lantak tak bersisa. Gea menangis sesenggukan. Tangisnya pecah begitu hebat, terdengar sangat kencang dan pilu hingga napasnya tersengal-sengal di sela isak tangisnya.
Mendengar tangisan pilu sang adik, Jamal tidak panik. Ia dengan sigap memutar kemudi, mengambil rute jalan lain yang lebih sepi dan panjang. Jamal sengaja membiarkan Gea menuntaskan seluruh sesak dan rasa sakit yang selama ini membebani pundaknya tanpa interupsi.
Hingga beberapa belas menit berlalu dan suara tangis itu perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil, Jamal mulai membuka suaranya kembali.
“Feel better?” tanyanya lembut sembari mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Gea dengan penuh kasih sayang.
Gea hanya bergumam, “Hmm,” sebagai jawaban.
“Udah bisa cerita sekarang?” tanya Jamal hati-hati.
Gea menggelengkan kepalanya perlahan, menyeka sisa air mata di pipinya yang basah lalu berkata, “nanti aja ya, Bang,” pinta sembari melirik sang kakak. “Nanti aku ceritain semua sekaligus, bareng sama Bang Kian. Aku udah janji mau cerita ke Bang Kian.”
Jamal mengangguk paham, menghargai keputusan adiknya, berkata, “hari ini balik jam berapa?”
“Jam tiga. Tapi nanti abis kelas aku ada rapat himpunan dulu.”
“Oke. Kabarin aja ya nanti kalau udah mau balik. Biar gue jemput.”
“Makasih ya, Abang.”
“Jangan di pendem sendiri kalo ada masalah. Otak lo yang mini ini nanti ngebul, tau gak,” ledek Jamal, membuat adiknya memukul pangkal lengannya. “Aduh, buset! Udah punya tenaga dia
sekarang buat kdrt. Gua adun Kak Seto lo ya!” ringis Jamal dramatis sembari mengusap lengannya.
“Ish! Udah ah. Nanti sore aku minta jemput Bang Kian aja kalo gitu,” ancam Gea cemberut.
“Bang Kian lagi ada terbang hari ini.”
“Ya udah, kalo gitu aku minta jemput Papa.”
“Alah, bilang aja lo emang sengaja mau bikin gue kena omel Papa.”
“Biar tau rasa!”
Jamal tertawa lepas melihat binar hidup yang perlahan kembali ke bola mata adiknya. Setidaknya, Gea sudah bisa diajak bercanda seperti sedia kala.
Beberapa menit kemudian, Jamal menghentikan mobilnya tepat di depan lobi gedung Fakultas
Teknik. Sebelum membuka pintu, Gea meraih tangan kanan kakaknya untuk menyalimi tangan sang kakak. Sebagai bonus, Jamal mendaratkan sebuah kecupan hangat di puncak kepala Gea.
“Ih, cium-cium! Aku udah gede ya, Abang!” protes Gea refleks memegangi kepalanya, meski dalam hati dia merasa senang dengan kasih sayang abangnya itu.
“Alah, sama gue sok-sokan bilang udah gede, gak mau di cium. Jimat itu, biar otak lo tetep seger
pas kuliah.”
“Dih, ngaco! Udah ah, aku masuk kuliah dulu ya. Abang pulang aja sana, buruan nyuci baju,” ledek Gea balik sambil tertawa renyah, membuka pintu mobil.
“Kuliah yang bener!” teriak Jamal dari balik jendela, melambaikan tangannya menatap langkah kaki adiknya yang kini berjalan menjauhi mobil dengan aura yang jauh lebih ringan daripada beberapa hari lalu.
...****************...