NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Mengetahui Isi Hati Luna

Tatapan mata Luna yang menajam, seolah mampu menembus langsung ke dalam dasar tengkorak, membuat suasana meja sudut itu mendadak terasa sangat mencekam.

Pemuda berkemeja kotak itu menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mencari pasokan ketenangan yang seolah menghilang dari sekitarnya.

{Pikir cepat, Reno, jangan sampai gadis secerdas Luna membongkar identitas gila ini hanya karena kau gagal menyusun kebohongan yang masuk akal.}

"Ini murni keajaiban arsitektur bangunan tua yang kebetulan memiliki cacat presisi pada desain instalasi pipa airnya, Luna."

Reno memaksakan sebuah senyum tenang yang sebenarnya sangat kontras dengan detak jantungnya yang sedang berpacu luar biasa liar.

Gadis bergaun biru dongker itu menyipitkan kedua matanya, menilai setiap lekuk ekspresi di wajah Reno dengan tingkat ketelitian layaknya seorang detektif.

"Cacat desain macam apa yang bisa membuat semburan air bertekanan tinggi secara otomatis membentuk pola donat sempurna yang melindungi area meja kita?"

Pertanyaan mematikan itu meluncur mulus dari bibirnya, menuntut sebuah penjelasan logis yang sama sekali tidak bisa dihindari.

Reno menggeser posisi duduknya menjadi sedikit lebih tegak, mencoba membangun sebuah benteng pertahanan alibi dari sisa-sisa pengetahuan akademisnya yang dangkal.

"Aku pernah membaca sebuah jurnal ilmiah yang membahas tentang fenomena keberuntungan geometris pada sistem tekanan hidrolik di kafe bergaya klasik seperti ini."

Kalimat bualan tersebut terdengar begitu meyakinkan, meskipun Reno sendiri sama sekali tidak mengerti makna dari deretan kata yang baru saja ia susun.

Luna perlahan menurunkan kedua lengannya yang sedari tadi bersilang di depan dada, menunjukkan perubahan gestur tubuh yang kini menjadi sedikit lebih rileks.

"Keberuntungan geometris?"

Raut wajah gadis itu menunjukkan ekspresi ketertarikan yang sangat aneh, sebuah respons yang sama sekali berada di luar prediksi dan perhitungan logika Reno.

"Jadi, kamu sebenarnya sudah memperhitungkan titik buta penyemprotan air itu sejak awal kita memilih tempat duduk tersembunyi ini?"

Reno buru-buru menganggukkan kepalanya dengan gerakan mantap, mengambil alih panggung kebohongan ini dengan tingkat kepercayaan diri yang baru saja terkumpul.

"Tentu saja, insting bertahan hidupku selalu aktif mengkalkulasi keadaan sekitar untuk melindungi orang-orang penting yang sedang bersamaku."

Ia menambahkan sedikit bumbu heroisme pada nada bicaranya, berharap pesona palsu ini mampu menutupi seluruh kecerobohan peretasannya barusan.

Senyum tipis perlahan mengembang di bibir Luna, menampilkan sebuah lengkungan manis yang sukses membuat kewarasan Reno kembali goyah seketika.

Gadis berprestasi itu diam-diam memang memiliki ketertarikan khusus pada pria misterius yang mampu mengendalikan situasi berbahaya dengan penuh ketenangan.

Sikap tenang Reno yang sama sekali tidak beranjak kabur dari kursi saat insiden air terjadi barusan benar-benar meninggalkan kesan mendalam di kepalanya.

"Kamu ini benar-benar penuh dengan kejutan yang tidak terduga, Reno."

Luna mulai membereskan laptop serta beberapa lembar kertas tugasnya dari atas meja, menyusunnya dengan gerakan anggun yang sangat memanjakan mata.

"Tugasku sudah selesai tepat waktu, sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum manajer kafe menuduh kita bersekongkol merusak properti mahal ini."

Reno hanya bisa tersenyum lebar menyetujui ajakan tersebut, merasa sangat lega karena berhasil lolos dari sesi interogasi yang sempat mengancam nyawanya.

||||

Para pelayan kafe masih sibuk mengepel lantai kayu yang tergenang genangan air, mengabaikan Reno dan Luna yang berjalan santai melewati area kekacauan tersebut.

Reno melangkah beriringan di samping Luna, merasakan sebuah kebanggaan maskulin yang luar biasa mekar dan mendominasi di dalam rongga dadanya.

Ia merasa telah berhasil mengusir saingan terberatnya, menyelesaikan tugas akademik sang pujaan hati, dan mengakhiri malam ini sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

{Luna pasti sudah mulai terpesona dengan aura misteriusku, tidak mungkin dia tersenyum semanis itu kalau tidak ada getaran asmara di hatinya.}

Langkah kaki mereka berdua berhenti sejenak di area trotoar depan kafe, menunggu taksi pesanan daring yang baru saja dipesan oleh Luna.

Suasana jalanan malam kota yang mulai lengang dari lalu lalang kendaraan bermotor memberikan sebuah ruang privasi yang sangat pas bagi mereka berdua.

Reno memiringkan kepalanya sedikit, menatap profil samping wajah Luna yang terlihat begitu sempurna tanpa celah sedikit pun dari sudut pandang ini.

Rasa penasaran yang sangat besar tiba-tiba merayap naik memenuhi isi kepala pemuda itu, terus-menerus mengusik ketenangan batinnya.

Ia sangat ingin tahu secara pasti bagaimana kedudukannya di dalam hati Luna setelah semua rentetan kejadian dramatis yang mereka lewati bersama malam ini.

Tangan kanannya perlahan merogoh saku celana jins secara sembunyi-sembunyi, mencari keberadaan ponsel hitam misterius yang selalu menjadi sumber kekuatan utamanya.

Permukaan logam yang padat itu langsung merespons sentuhan ujung jari Reno dengan sebuah getaran mekanik yang dirancang sangat halus.

Reno menarik keluar perangkat canggih itu, menutupi sebagian layarnya menggunakan sebelah telapak tangan agar tidak memancing perhatian orang-orang di sekeliling.

Teks menyala langsung bergulir di layar, menyapa Reno dengan nada sarkastis yang sudah menjadi ciri khas kecerdasan buatan tersebut.

"Tutup sistem komentarmu sejenak, aku ingin tahu seberapa besar peluang asmaraku untuk bisa menjadi kekasih resminya mulai malam ini."

Reno menggumamkan kalimat perintah itu dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibirnya dijaga ketat agar tidak bergerak terlalu lebar saat memaki gawai tersebut.

Penjelasan tertulis dari Siri-usly menawarkan sebuah solusi mutakhir yang langsung membuat detak jantung Reno kembali berpacu dengan ritme sangat cepat.

"Aktifkan saja fitur itu sekarang tanpa banyak protes, aku sangat yakin malam ini adalah titik balik dari rekor penolakanku yang teramat menyedihkan."

Reno memosisikan bodi ponselnya tepat di depan perut, mengarahkan susunan modul kamera belakangnya lurus ke arah sosok Luna yang berdiri tenang di sampingnya.

Luna masih asyik menatap layar ponselnya sendiri, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh reaksi tubuhnya sedang dipindai oleh teknologi canggih dari masa depan.

Sebuah antarmuka analitis seketika memenuhi layar ponsel Reno, menampilkan jaring-jaring pemindaian virtual yang bergerak menyapu sosok gadis cantik tersebut secara vertikal.

||||

Barisan kode bergulir cepat tanpa henti, membedah setiap respons biologis sekecil apa pun yang terjadi di dalam tubuh gadis berprestasi tersebut.

Reno menahan napasnya dengan penuh harap, membayangkan sebuah angka persentase tinggi yang akan membuktikan bahwa perasaannya selama ini tidak pernah bertepuk sebelah tangan.

Sensor mutakhir pada modul kamera tersebut mendeteksi perubahan suhu tubuh, mikro-ekspresi wajah, hingga tingkat hormon spesifik yang dihasilkan oleh subjek pindaian.

{Ayo, munculkan angka sembilan puluh persen, dan aku akan langsung berlutut di atas trotoar ini untuk menyatakan cintaku sekarang juga tanpa ragu.}

Perangkat hitam itu bergetar pelan di dalam genggaman, memproses ribuan data logis yang diambil dari seluruh gerak-gerik Luna sepanjang interaksi mereka malam ini.

Antarmuka pemindaian yang rumit itu perlahan memudar, digantikan oleh sebuah kotak hasil akhir yang langsung mengambil alih seluruh tampilan layar utama ponsel.

Reno membelalakkan kedua matanya, memusatkan seluruh fokus pandangannya pada rentetan teks diagnostik yang baru saja muncul tanpa perasaan iba sedikit pun.

Jari-jari Reno mulai memproduksi keringat dingin, memegang erat pinggiran logam ponsel hitam itu seolah benda kecil tersebut adalah penentu tunggal jalan nasibnya ke depan.

Angka yang luar biasa kecil itu berkedip perlahan di layar, seolah sengaja mengejek seluruh ekspektasi Reno yang sudah telanjur melambung terlalu tinggi.

Otak pemuda kurus itu seketika buntu, menolak keras untuk memproses fakta matematis yang baru saja menghancurkan seluruh sisa kebanggaan maskulinnya.

{Tiga persen, ini pasti mesin rongsokan yang sedang rusak, bahkan tingkat ketertarikan kucing jalanan terhadap sisa makananku jauh lebih tinggi dari angka menyedihkan ini.}

Reno menelan ludah, mencoba mencari alasan pembenaran logis bahwa teknologi dari masa depan ini mungkin saja mengalami gangguan fungsional pada sistem pembacaan perasaannya.

Namun, sebuah kalimat penjelas tambahan yang mendadak muncul di bawah angka tersebut sukses memberikan pukulan telak yang akhirnya meruntuhkan pertahanan mental Reno.

Lutut Reno mendadak terasa seringan kapas, seluruh persendiannya kehilangan tenaga penahan akibat keterkejutan emosional yang menghantam ulu hatinya dengan sangat telak.

Ia benar-benar hampir menangis tersedu-sedu di tempat, meratapi nasibnya yang ternyata masih saja terjebak di dalam kategori pria menyedihkan di mata sang pujaan hati.

Segala bentuk kebanggaan semu dan ilusi romantis yang ia bangun dengan susah payah sejak tadi kini telah hancur lebur berkeping-keping menjadi debu yang tertiup angin.

Status pahlawan yang terus diagungkannya sendiri di dalam kepala ternyata hanyalah sebuah bentuk rasa iba dari seorang gadis sempurna kepada pria rapuh yang butuh dilindungi.

"Taksi pesananku sepertinya sebentar lagi akan tiba, kamu mau ikut menumpang pulang sekalian atau ada urusan pahlawan rahasia lain yang harus segera diselesaikan?"

Suara lembut Luna tiba-tiba menyela dari samping, memecah keheningan batin Reno yang sedang berkabung atas kematian dini dari harapan asmaranya yang indah.

Reno mengangkat wajahnya yang kini terlihat sangat memelas, menatap Luna dengan sepasang mata yang menyiratkan keputusasaan mendalam tanpa bisa ia sembunyikan lagi.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!