NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemburu dan yang Diburu

.

​BAB 21: Pemburu dan yang Diburu

​WUSH!

​Angin menderu kencang di antara rimbunnya pepohonan, menyebarkan aroma anyir darah ke udara bebas. Yu Chen melesat secepat kilat menggunakan teknik Langkah Bayangan Ilusi. Meskipun belenggu Gelang Penekan Bobot Fisik seberat 5.000 jin masih mengunci erat pergelangan tangan kirinya, gerak kakinya tetap terlihat lincah bagai siluet kabut hitam.

​Di jalur belakangnya...

​ROOOAAARRR!!!!!

​Monster Ular Naga Bertanduk yang telah berevolusi ke ranah atas terus merangsek maju, menghancurkan dan meruntuhkan setiap barisan pohon raksasa yang menghalangi jalannya.

​Lebih jauh di belakang sang ular, Tetua Bai dan para murid Sekte Pedang Awan yang tersisa terus mengejar dengan pedang terbang mereka, memotong hukum udara.

​"Kepung perimeter hutan! Jangan biarkan bajingan cilik pembawa benih itu lolos hidup-hidup!" raung Tetua Bai dengan urat leher menegang.

​Yu Chen mengembuskan napas pendek di sela-sela kecepatan larinya yang berat. "Ramai sekali... Mengapa orang-orang luar selalu suka membuat rombongan besar hanya untuk memburuku?"

​Di dalam kesadaran jiwanya, Roh Menara seketika terkekeh geli. "Bukannya kau sendiri yang sejak awal sengaja memicu umpan untuk membuat kekacauan masal ini, huh?"

​Yu Chen menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keliaran. "Jika volume musuh terlalu banyak dan kekuatannya berada di atasku... maka hukum emas berburu adalah membuat mereka saling menghalangi jalan satu sama lain."

​Sepasang mata jeli pemburunya bergerak aktif dengan kecepatan penuh, membaca setiap detail topografi hutan. Setiap sudut pohon, gundukan batu raksasa, hingga bekas jejak migrasi binatang, semuanya dikalkulasi secara taktis.

​Tap!

​Yu Chen mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah celah tebing batu yang teramat sempit. Tepat di bawah tebing tersebut, mengalir aliran sungai yang sangat deras dan dipenuhi oleh tonjolan bebatuan cadas yang tajam.

​Roh Menara seketika tersentak kaget. "Shen Yu... jangan bilang otak cerdikmu berniat—"

​"Tebakan yang bagus, Kakek. Di koordinat sempit inilah panggung jebakanku berada," potong Yu Chen cepat.

​Dengan gerakan tangan yang teramat cekatan dan terlatih, Yu Chen meraba tas pinggang berburunya. Ia mengeluarkan beberapa kantong kecil berisi serbuk mesiu mentah, gulungan kawat baja tipis, serta puluhan paku besi berduri yang selalu ia bawa sejak hidup melarat di Desa Qinghe.

​"Kau... kau masih menyimpan peralatan berburu fana tingkat rendah seperti itu di saat kaumiliki teknik dewa?" tanya Roh Menara heran.

​Yu Chen menyeringai tipis, jemarinya bergerak kilat memasang perangkap. "Teknik kultivasi tingkat tinggi dari menara memang memberiku modal daya hancur fisik yang hebat. Namun, ketahuilah... kebiasaan remeh dari seorang pemburu liar seperti inilah... yang sudah ratusan kali menyelamatkan nyawaku dari terkaman maut."

​Dalam kurun waktu beberapa kedipan mata fana, Yu Chen berhasil menyelesaikan pemasangan beberapa titik jebakan busur kayu tersembunyi tepat di jalur masuk setapak tebing. Setelah semuanya terkunci, ia melentingkan tubuhnya, bersembunyi di balik sebuah bongkahan batu besar seraya mengunci rapat seluruh sirkulasi pernapasannya.

​Beberapa detik kemudian...

​DUUUUMMM!!!

​Monster Ular Naga Bertanduk tiba lebih dulu di lokasi, menghantam semak belukar. Karena mendadak kehilangan jejak riak aura Yu Chen, monster ular itu mendesis geram, mengendus-endus permukaan tanah dengan liar.

​Namun, tepat pada gerakan maju berikutnya...

​Klik!

​Ujung luar ekor raksasanya secara tidak sengaja menyenggol seutas kawat baja tipis yang menegang di tanah.

​BOOOOMMMM!!!

​Mekanisme pemicu aktif. Puluhan batang kayu runcing berukuran besar yang telah dilapisi paku besi mendadak berayun jatuh dari atas tebing batu dengan kecepatan tinggi.

​Meskipun daya hancur kayu fana itu tidak memiliki kapasitas untuk menembus ketebalan sisik zirah barunya, namun hantaman momentum beratnya yang beruntun seketika membuat keseimbangan tubuh Ular Naga Bertanduk terdistorsi ekstrem, membuatnya terhempas ke samping.

​Tepat pada detik kebersamaan kegaduhan tersebut... Tetua Bai dan pasukan muridnya mendarat dari pedang terbang mereka.

​"Sial! Awas! Ada jebakan area di depan!" teriak salah seorang murid luar dengan wajah pucat.

​Namun semuanya sudah terlambat. Monster Ular Naga Bertanduk yang jiwanya sedang meletupkan amarah akibat matanya yang buta, seketika mengalihkan pandangan emasnya. Ia langsung menganggap kedatangan rombongan Tetua Bai sebagai dalang utama yang memasang jebakan kayu tersebut!

​ROOOAAARRR!!!!!

​Raungan tirani meletus, dan pertempuran berdarah babak kedua pecah seketika di mulut tebing.

​Yu Chen mengintip dari balik celah batu besar, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan pesona sarkas. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tetua Agung. Kalian semua... benar-benar terlalu berisik untuk ukuran pendekar sekte besar."

​Namun, seulas senyuman di wajah samaran Yu Chen perlahan-lahan membeku dan menghilang tanpa bekas.

​Insting keliaran pemburunya mendadak membunyikan alarm tanda bahaya tingkat tinggi. Tepat dari arah udara kosong di belakang punggungnya... terdengar sebaris suara tepukan tangan pelan yang teramat ritmis.

​Tep... Tep... Tep...

​Yu Chen memutar poros tubuhnya secara ekstrem dalam satu gerakan kilat, menghunus pedang tuanya.

​Di atas sebuah batu besar tepat di belakangnya, berdiri tegak sesosok pria paruh baya misterius berkaus jubah ungu tua. Pria itu memutar sebilah tombak hitam pekat di tangan kanannya secara malas, memancarkan riak niat membunuh yang teramat kelam.

​Dialah Pemburu Bayangan Profesional dari dunia luar yang sejak awal berhasil mendobrak pintu dasar Menara Dewa Kuno!

​Pria jubah ungu itu menatap lekat-lekat ke arah Yu Chen, menyunggingkan sebuah senyuman sedingin es kutub. "Pertunjukan taktik mengadu domba yang teramat sangat mengagumkan, Tikus Kecil... Akhirnya, setelah drama pelarian yang panjang... kita berdua bisa bertemu secara empat mata tanpa ada gangguan."

​Pria berjubah ungu tua itu melompat turun secara santai dari atas batu raksasa.

​Bukkk!

​Permukaan lantai batu tebing di bawah pijakan kakinya seketika retak dan amblas sedalam beberapa senti. Tombak hitam pekat di genggaman tangannya terus memancarkan riak hawa dingin tingkat tinggi yang teramat ekstrem, membuat molekul udara di sekeliling radius tempat mereka berdiri seolah-olah membeku secara instan.

​Yu Chen membetulkan kuda-kuda kakinya di bawah beban gelang 5.000 jin, mencengkeram erat gagang pedang besi tuanya. "Jadi... eksistensi bajingan sepertimu yang sejak awal bergerak di kegelapan aula bawah untuk mengejarku?"

​Pria jubah ungu itu menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan arogansi master atas. "Analisis refleksmu tidak buruk. Akhirnya otak fanamu berhasil menyadari koordinat keberadaanku."

​"Perkenalkan, wahai Pewaris Kuno pembawa sial... namaku adalah Han Lie. Sesosok [Tetua Bayangan] resmi dari faksi Sekte Iblis Darah."

​Deg!

​Sepasang manik mata Yu Chen seketika menyipit tajam, dadanya berdesir hebat.

​Sekte Iblis Darah!

​Nama absolut itu baru saja beberapa waktu lalu disebut secara spesifik oleh Roh Menara saat menampilkan proyeksi peperangan purba. Mereka adalah salah satu dari Dua Belas Sekte Raksasa dunia atas yang bertindak sebagai dalang pengkhianat utama yang membantai garis darah Sekte Dewa Kuno puluhan ribu tahun lalu!

​Dan sekarang, takdir justru membawa salah satu pemburu terbaik mereka—yang kebetulan bernama Han Lie—berdiri tepat di hadapannya.

​Han Lie (Sekte Iblis Darah) perlahan mengangkat sebuah artefak kompas kuno berwarna hitam legam di tangan kirinya. Jarum cahaya keemasan di atas permukaan kompas tersebut berputar liar sebelum akhirnya berhenti secara absolut, menunjuk lurus tepat ke arah titik dantian Yu Chen.

​"Teknik Topeng Seribu Wajah yang melekat di permukaan kulit wajahmu itu memang diakui memiliki kualitas penyamaran tingkat tinggi, Bocah," cicit Han Lie sinis. "Namun sayang sekali... zirah palsu itu mutlak tidak akan pernah memiliki kapabilitas untuk menyembunyikan riak fluktuasi warisan energi murni Menara Dewa Kuno dari pelacakan artefak kompas milik sekte besarku!"

​Yu Chen tetap mempertahankan stabilitas mentalnya, sorot matanya sedingin es. "Jika kau sudah mengunci identitas aslinya sejak awal... lalu mengapa kau masih membuang waktu mengoceh dan tidak langsung melepaskan tombakmu untuk mencabut nyawaku?"

​Han Lie meletuskan tawa pelan yang terdengar sangat kelam dan sadis. "Memenggal leher kerempengmu di detik ini... adalah sebuah opsi tugas yang terlalu mudah dan membosankan untuk kulakukan. Di dalam seni pembantaianku... aku jauh lebih suka menikmati pemandangan di mana mangsa utamaku perlahan-lahan didera oleh rasa putus asa yang teramat sangat sebelum ajal menjemputnya!"

​Begitu suku kata terakhirnya selesai diucapkan, Han Lie mengangkat tombak hitamnya tinggi-tinggi ke angkasa.

​BOOOOMMMM!!!

​Aura energi makro yang teramat pekat dari ranah [Foundation Establishment] Tingkat Ketujuh mendadak meletus hebat dari sekujur tubuhnya. Tekanan aura superioritas tersebut menghantam telak, memaksa tubuh fisik Yu Chen terdorong mundur sebanyak tiga langkah lebar ke belakang seraya meninggalkan bekas gesekan kaki yang dalam di tanah tebing.

​Jurang pemisah kekuatan mereka di atas kertas... benar-benar terlalu jauh dan tidak seimbang untuk diukur.

​Roh Menara berteriak panik di dalam kesadaran spiritual Yu Chen: "Shen Yu! Jangan pernah sekali-kali kau bertindak bodoh dengan meluncurkan duel frontal melawannya! Kapasitas kekuatan fisiknya saat ini terlalu tirani untuk ukuranmu! Kerahkan seluruh energimu dan lari sekarang juga!"

​Yu Chen menggelengkan kepalanya perlahan, sudut bibirnya terkunci rapat. "Sudah tidak ada ruang aman untuk memundurkan langkah kaki lagi, Kakek. Jalur pelarianku... telah ditutup total oleh niat tombaknya."

​Wush!

​Detik berikutnya, sosok jubah ungu Han Lie mendadak lenyap dari pandangan mata secara instan.

​Flash!

​Sebuah kilatan ujung mata tombak hitam yang membawa riak pembekuan mendadak termaterialisasi di udara, melesat cepat mengincar tepat di tengah rongga dada Yu Chen!

​CLAAANG!!!!!

​Menggunakan seluruh sisa refleks insting pemburunya, Yu Chen berhasil mengangkat bilah pedang besi tuanya tepat pada waktunya untuk menahan hantaman horizontal tersebut. Namun, meskipun ia berhasil memblokirnya, daya dorong mentah dari energi Foundation Establishment Tingkat 7 itu terlalu masif.

​Tubuh Yu Chen seketika terpental hebat sejauh puluhan meter ke belakang, menghantam keras gundukan tanah tebing.

​"Uhuk!" Seteguk darah segar keluar dari mulut Yu Chen, dadanya berdenyut nyeri.

​Han Lie (Sekte Iblis Darah) menggelengkan kepalanya dengan gurat kekecewaan yang dibuat-buat. "Sungguh teramat sangat mengagumkan. Sepotong manusia ranah fana Body Tempering ternyata memiliki kapasitas untuk menahan satu kali hunusan tombak dasarku tanpa hancur menjadi potongan daging. Tidak heran seluruh sekte besar dunia atas bernafsu mencari eksistensimu."

​Yu Chen menyeka noda darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang penuh keliaran pemburu liar. "Uhuk... Tuan Han Lie... kalimat pujianmu barusan... sama sekali tidak terdengar seperti sebuah sanjungan di telingaku. Itu... lebih terdengar seperti sebuah ancaman maut dari seekor anjing pemburu yang frustrasi."

​Manik mata Han Lie seketika berubah menjadi sangat kelam. "Kau benar-benar memiliki mulut yang teramat lancang, Bocah. Kalau begitu... mari kita akhiri komedi ini sekarang juga di bawah ujung tombakku. Kali ini... kau mutlak tidak akan pernah diizinkan selamat!"

​Tepat pada fraksi milidetik saat Han Lie bersiap meluncurkan tusukan pamungkasnya...

​ROOOAAARRR!!!!!

​Struktur semak pepohonan di sisi tebing mendadak hancur lebur berkeping-keping. Monster Ular Naga Bertanduk yang tubuh merahnya dipenuhi luka goresan pedang Tetua Bai, mendadak menerobos masuk ke area tebing dengan kegilaan yang tak terkontrol. Lebih jauh di belakang ekor sang ular, sosok Tetua Bai (Sekte Pedang Awan) juga melesat terbang mengejar dengan pedang terhunus penuh amarah.

​Han Lie seketika menghentikan serangannya, mendecak geram karena momentumnya terganggu. "Sekumpulan pengganggu dari sekte kelas rendah yang teramat merepotkan!"

​Yu Chen yang terkapar di tanah justru meletuskan tawa lepas yang teramat lebar dan sarat akan karisma sarkasnya. "Hahaha! Tuan Han Lie... beberapa detik yang lalu kau baru saja sesumbar bahwa kau sangat suka menikmati pemandangan di mana mangsamu didera rasa putus asa, bukan?"

​"Kalau begitu... mari kita saksikan bersama di bawah hukum tebing ini... eksistensi siapa sebenarnya... yang saat ini sedang berada di dalam posisi kepungan maut!"

​Tetua Bai seketika menghentikan pergerakan pedang terbangnya di udara saat matanya menangkap siluet pria jubah ungu tersebut. Ekspresi wajah tuanya seketika berubah menjadi sangat dingin dan penuh permusuhan purba. "Han Lie dari Sekte Iblis Darah! Sungguh tebakanku tidak melesat, faksi sesat kalian ternyata diam-diam juga ikut mengirimkan anjing pemburu untuk merampas warisan menara bawah tanah ini!"

​Han Lie meletuskan tawa kecil yang teramat sinis, memutar tombaknya. "Dan ternyata... sekumpulan anjing penjilat dari Sekte Pedang Awan ortodoks juga datang mengetuk pintu dengan keserakahan yang sama menjijikkannya."

​Bzzzttt!

​Niat membunuh dan fluktuasi energi dari dua ahli ranah tinggi beserta satu monster ular Foundation Establishment seketika berbenturan di udara bebas, membuat atmosfer di dalam tebing menjadi sangat pekat, berat, dan mencekam.

​Di tengah-tengah episentrum lingkaran kepungan tiga kekuatan besar tersebut... Yu Chen diam-diam mulai memundurkan posisi langkah kakinya secara konstan setengah langkah demi setengah langkah menuju ke arah kegelapan vegetasi hutan. Sebuah senyuman licik kembali terukir di wajah samarannya.

​"Jika dua ekor naga tirani dan satu monster melata memilih untuk saling bertarung berebut wilayah... maka konklusinya adalah seekor rubah pemburu kecil sepertiku... hanya perlu duduk manis menunggu saat yang tepat untuk merampas seluruh modal keuntungan mereka," analisis Yu Chen cerdik.

​Namun, tepat pada detik ketika tubuh Yu Chen bersiap menghilang melompat masuk menembus rimbunnya semak belukar hutan... sebuah gelombang suara perempuan tua yang teramat dingin, berat, dan sarat akan riwayat zaman mendadak bergema kuat jatuh dari arah langit atas tebing:

​"Di bawah hukum absolut faksimu hari ini... tidak akan ada satu pun eksistensi makhluk fana ataupun binatang melata di tempat ini... yang diizinkan untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tebing ini hidup-hidup!"

​Wush! Wush! Wush!

​Detik berikutnya, dari balik pusaran awan langit yang terbelah, turun tiga sesosok figur manusia misterius berkaus jubah abu-abu pekat secara serentak. Mereka melayang di udara tanpa menggunakan media pedang terbang, dan fluktuasi tekanan aura energi spiritual yang dipancarkan oleh ketiga entitas baru tersebut...

​Mutlak ratusan kali lipat lebih mengerikan, tirani, dan menindas dibandingkan dengan kombinasi total kekuatan milik Han Lie maupun Tetua Bai! Kedatangan aliansi tingkat tinggi yang sesungguhnya... telah resmi mengunci seisi Lembah Berdarah!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!