NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Ruangan berubah sunyi. Tak seorang pun berani menyela.

Mida mengusap air matanya. "Aku datang ke sini bukan untuk mencari anak pengganti. Aku datang untuk memperjuangkan keadilan bagi anakku." Ia menatap seluruh keluarga yang hadir. "Kalau kalian benar-benar menyayangi Harapan doakan dia. Kalau kalian benar-benar menyesali semuanya... jangan pernah memintaku melupakan apa yang terjadi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Mida berbalik menuju pintu.

Dewi segera menyambutnya di luar dan memeluknya erat.

Fandi hanya terdiam. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang mampu menghibur seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Dan Mida juga tahu, bagi seorang ibu, kasih sayang kepada seorang anak bukanlah sesuatu yang dapat diganti oleh kehadiran anak lain. Yang ia perjuangkan sejak awal tetap sama: agar kematian Harapan diproses secara adil dan kebenaran tentang apa yang terjadi benar-benar terungkap.

***

Beberapa hari setelah persidangan kembali berlangsung, tekanan terhadap orang-orang yang berada di sekitar Mida semakin terasa. Bukan hanya Mida dan Fandi yang mendapat intimidasi. Kini, keluarga Dewi pun mulai merasakannya.

Suatu pagi, suami Dewi pulang lebih cepat dari pabrik tahu milik mereka. Wajahnya kusut. Ia melempar map berisi beberapa dokumen ke atas meja. Dewi terkejut. "Ada apa, Bang?"

"Lihat sendiri."

Dewi membuka map itu. Wajahnya langsung pucat. "Izin usaha kita...?"

Suaminya mengangguk pelan. "Dinyatakan dicabut sementara. Katanya ada persoalan administrasi yang harus diselesaikan. Tapi selama ini tidak pernah ada masalah. Itulah yang membuatku curiga." Ia mengusap wajahnya dengan kesal. "Sejak Mida tinggal di sini, semuanya berubah."

Ruangan mendadak sunyi. Mida yang berada di dapur mendengar percakapan itu. Perlahan ia keluar. "Bang..."

Suami Dewi menoleh. Tatapannya dipenuhi amarah dan kelelahan. "Aku tidak sanggup lagi. Kita punya usaha. Kita punya keluarga. Kalau usaha ini berhenti, bagaimana kami menghidupi anak-anak?"

Dewi mencoba menenangkan. "Bang, jangan menyalahkan Mida."

"Lalu siapa?" Roy, Suaminya meninggikan suara. "Kalau bukan karena perkara ini, usaha kita tidak akan ikut terganggu."

Dewi memegang lengan suaminya. "Bang..."

"Cukup!" Suasana menjadi hening.

Mida menundukkan kepala. Air matanya menetes tanpa suara. Beberapa saat kemudian ia mengangkat wajah. "Tak apa, Kak."

Dewi langsung menoleh. "Mi..."

Mida tersenyum tipis meski matanya sembap. "Aku akan kembali ke gubukku."

"Jangan."

"Aku tidak ingin kalian ikut menderita karena aku."

Dewi memeluk Mida. "Tidak. Kamu tetap di sini."

Namun Mida menggeleng. "Kakak sudah terlalu baik kepadaku. Sudah cukup." Ia memandang wajah kakaknya yang mulai dipenuhi air mata. "Aku tidak sanggup melihat keluarga Kakak kehilangan mata pencaharian." Mida kemudian menoleh kepada keponakannya yang sedang bermain di sudut rumah. "Nanti... siapa yang akan memikirkan Nurul kalau usaha ini berhenti?"

Dewi semakin menangis. "Mi..."

Mida menggenggam tangan kakaknya. "Kakak masih punya Nurul yang harus diperjuangkan." Kalimat berikutnya keluar dengan suara yang nyaris berbisik. "Sedangkan Harapanku..." Ia memejamkan mata. "...sudah tiada."

Tangis Dewi pecah. "Jangan bilang begitu."

Mida memeluk kakaknya erat. "Aku sudah kehilangan anakku. Aku tidak ingin Kakak kehilangan masa depan anak Kakak karena menolongku."

Dewi terus menggeleng. "Rumah ini tetap terbuka untukmu."

Mida tersenyum dengan penuh keikhlasan. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku akan pergi. Bukan karena Kakak tidak menerimaku. Tetapi karena aku terlalu menyayangi kalian."

Sementara di sudut rumah, Nurul memandang Mida dengan mata berkaca-kaca. "Bi... nanti datang lagi, ya?"

Mida berjongkok dan memeluk keponakannya. "InsyaAllah." Meski hatinya kembali diliputi kesedihan, Mida memilih memikul beban itu seorang diri. Baginya, kehilangan tempat tinggal sementara masih lebih ringan daripada melihat keluarga Kak Dewi ikut kehilangan mata pencaharian karena telah membuka pintu rumah untuknya.

Suaminya duduk dengan wajah kusut.

"Kamu puas sekarang?" tanya Dewi pelan.

"Aku hanya memikirkan keluarga kita." Suaminya menghela napas. "Dewi, coba pikir. Usaha kita sedang terancam. Kalau pabrik tahu ini tutup, kita makan apa? Nurul sekolah pakai apa?"

Dewi mengangguk. "Aku paham. Tapi bukan berarti kita meninggalkan Mida."

Suaminya mengusap wajahnya dengan kesal. "Lalu harus bagaimana?"

Dewi menatap suaminya dalam-dalam. "Bang... Kamu tidak lupa, kan... siapa yang pertama kali membantu usaha kita?"

Suaminya terdiam.

Dewi melanjutkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Orang tuanya Mida. Kakek dan neneknya Harapan. Mereka yang meminjami kita modal waktu kita tidak punya apa-apa."

Suaminya menunduk.

"Mereka bahkan berkali-kali bilang, 'Kalau memang belum mampu mengembalikan, tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting usaha kalian jalan.'" Air mata Dewi mulai jatuh. "Itu bukan cuma sekali. Ingat tidak? Usaha kita pernah gagal. Kemudian mereka membantu lagi. Gagal lagi. Mereka tetap membantu. Entah sudah berapa kali."

Suaminya menggenggam kedua tangannya sendiri.

Dewi melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar. "Dan bukan cuma soal uang. Bang... Waktu aku bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak..." Suaminya perlahan mengangkat wajah. "...siapa yang setiap minggu datang menghiburku? Siapa yang bilang supaya aku jangan putus asa? Ibunya Mida." Dewi menangis. "Beliau yang menemaniku berobat. Beliau yang mengajakku tetap berharap. Beliau yang terus mendoakan aku saat mereka ke Mekah. Kalau hari ini kita bisa memanggil Nurul sebagai anak kita, aku tidak akan pernah lupa bahwa keluarga Mida pernah menguatkan kita saat kita hampir menyerah."

Ruangan menjadi sunyi. Suaminya tidak mampu menyela.

Dewi mengusap air matanya. "Aku tahu kamu takut. Aku juga takut. Aku tahu kamu sedang memikirkan masa depan Nurul. Aku pun memikirkan hal yang sama. Tapi jangan sampai rasa takut membuat kita lupa kepada orang-orang yang pernah menolong kita."

Suaminya menarik napas panjang. Tatapannya mulai melembut.

Dewi menggenggam tangan suaminya. "Bang... Kalau hari ini Mida sendirian... bukankah dulu keluarganya juga tidak pernah meninggalkan kita saat kita susah?"

Air mata mulai menggenang di mata suaminya. "Aku... Aku hanya takut kehilangan semuanya."

Dewi mengangguk pelan. "Aku mengerti. Karena itu, kita hadapi bersama. Kalau memang usaha kita bermasalah, kita cari jalan keluarnya. Kalau memang ada yang harus diperjuangkan, kita perjuangkan. Tapi jangan sampai kita mengusir orang yang sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya."

Suaminya memejamkan mata beberapa saat. Ia teringat wajah kedua orang tua Mida yang dulu sering datang membawa beras, meminjamkan modal, dan memberi semangat ketika usaha mereka hampir bangkrut. Ia juga teringat kebahagiaan Dewi saat akhirnya mengandung Nurul setelah sekian lama berikhtiar. Dengan suara lirih, ia berkata, "...Maaf. Aku terlalu dikuasai rasa takut."

Dewi menggenggam tangannya lebih erat. "Kita semua sedang takut. Tapi jangan sampai rasa takut mengalahkan rasa terima kasih." Malam itu, untuk pertama kalinya sejak usaha mereka terganggu, suami Dewi terdiam lama. Ia mulai menyadari bahwa di balik kekhawatirannya terhadap keluarga sendiri, ada budi baik yang tidak seharusnya dilupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!