NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Tuan Besar Abraham Zevan tidak langsung bicara. Pria paruh baya berambut putih itu hanya menatap Riyan dengan sepasang mata yang tajam, sedalam sumur tua.

Aura yang dipancarkannya begitu pekat, jenis wibawa yang hanya dimiliki oleh orang yang biasa menentukan nasib ribuan karyawan lewat satu jentikan jari.

Dia memperhatikan kaus oblong abu-abu Riyan, celana jinsnya yang belel, dan sandal jepit yang tampak sangat tidak ramah terhadap karpet beludru merah sutra milik aula tersebut.

Keheningan di dalam aula besar itu mendadak terasa begitu mencekam. Musik piano klasik yang tadinya mengalun lembut entah sejak kapan sudah berhenti.

Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas, bersiap jika sang Tuan Besar akan meledak marah karena merasa dihina oleh kedatangan seorang "gembel proyek" di ruang perjamuan sakral mereka.

Namun, di luar dugaan semua orang, Abraham Zevan justru mengulas senyum tipis. Dia mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja jati kuno secara perlahan.

"Duduklah, Riyan Sadewa," suara Abraham berat, bariton, dan bergema penuh penekanan.

"Penampilan yang sangat menarik. Di zaman sekarang, ketika semua orang kaya baru berlomba-lomba memakai logo brand desainer luar negeri dari ujung kepala sampai kaki demi pengakuan, kamu justru datang ke sarang Keluarga Zevan dengan pakaian kerja seorang kuli bangunan."

"Sungguh sebuah pernyataan mental yang luar biasa kuat."

Riyan yang baru saja melangkah mendekati meja makan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 'Pernyataan mental mbahmu! jerit Riyan dalam hati. Gua emang kagak punya baju lain yang bersih, Pak! Jaket gua aja masih basah di kontrakan!

"Terima kasih, Pak. Tapi jujur, saya emang habis narik sekop tadi siang, jadi gak sempat ganti baju," jawab Riyan apa adanya, mencoba bersikap jujur sesopan mungkin agar mereka tidak menganggapnya sedang flexing gaya miskin.

Abraham Zevan terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan batu gerinda. Di matanya, kejujuran Riyan justru terlihat sebagai bentuk kepercayaan diri tingkat absolut.

Pria tua itu sudah ratusan kali bertemu dengan pengusaha muda yang gemetaran saat menatap matanya, namun pemuda di depannya ini berbicara seolah-olah mereka hanya sedang mengobrol di warung kopi pinggir jalan.

"Sikap yang tenang. Tidak heran kamu bisa melakukan manuver gila dalam waktu kurang dari delapan jam," kata Abraham sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk menuangkan minuman ke gelas Riyan.

"Anakku, Kezia, menceritakan semuanya. Mulai dari caramu memanipulasi pasar mikro di Dago, mengambil alih lahan proyek Tol Trans-Jawa sedetik sebelum kementerian mengetuk palu, hingga langkah terakhirmu satu jam yang lalu: menyuntikkan dana setengah triliun rupiah secara instan ke studio film independen."

Kezia Zevan yang duduk di sebelah kanan ayahnya ikut mengangguk. Matanya yang indah menatap Riyan dengan binar penuh minat intelektual.

"Taktik akuisisi yang sangat bersih, Riyan. Dengan menaruh dana sebesar itu di studio film independen kecil yang tidak terdeteksi oleh radar korporat besar, kamu sedang mencoba membangun panggung propaganda media massamu sendiri tanpa memicu kecurigaan otoritas moneter, kan?"

"Kamu ingin memegang kendali atas narasi publik di Bandung Utara sebelum proyek tol dimulai."

Riyan yang baru saja hendak menyuap sepotong daging sapi panggang mewah ke dalam mulutnya mendadak tersedak. Uhuk! Dia buru-buru meminum air putih di gelas kristalnya sampai tandas.

Propaganda media massa?! Kendali narasi publik?! Kepala Riyan mendadak pening tujuh keliling.

'Gua cuma pengen bikin film alien jengkol ketabrak angkot supaya duit setengah triliun itu menguap jadi sampah! Kenapa di otak bapak dan anak ini, gua malah kelihatan kayak penjahat kelas kakap yang mau mengudeta kota?!

"Nona Kezia, Pak Abraham... sumpah, kalian berdua ini beneran salah paham," Riyan meletakkan garpunya, mencoba menjelaskan dengan raut wajah paling melas yang bisa dia buat.

"Saya invest di studio 'Hancur Lebur Sinema' itu justru karena studionya udah mau bangkrut. Saya nyuruh sutradaranya bikin film paling jelek sedunia yang gak bakal ditonton sama satu orang pun! Saya gak punya niat bikin imperium propaganda apa lah itu!"

Mendengar penjelasan Riyan, Abraham Zevan justru tertegun sejenak, sebelum akhirnya pria tua itu memukul meja jatinya dengan pelan sambil tertawa lebih keras dari sebelumnya.

"Hahaha! Jenius! Benar-benar metode yang sangat radikal!" seru Abraham dengan mata berbinar kagum.

"Kamu sengaja memproduksi film yang 'sengaja dibuat gagal' untuk melakukan tax write-off alias penghapusan pajak secara legal dalam skala besar! Sekaligus membiarkan modal bergerak di bawah tanah tanpa menarik perhatian kompetitor! Kezia, lihat pria ini. Pola pikirnya benar-benar berada di luar buku teks bisnis konvensional mana pun!"

Kezia ikut tersenyum kagum, menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap Riyan dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Riyan merinding.

"Aku mengerti sekarang. Kamu menggunakan kegagalan sebagai tameng pelindung aset. Sungguh strategi yang sangat dalam."

Riyan langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi beludru dengan lemas. Dia menyerah. Benar-benar menyerah.

Menjelaskan kebenaran kepada orang-orang kaya yang otaknya penuh dengan strategi bisnis tingkat tinggi ini sama saja dengan menuangkan air ke atas daun talas. Apa pun yang dia lakukan, sekonyol apa pun itu, akan selalu diterjemahkan sebagai "Strategi Tingkat Dewa".

Di tengah rasa frustrasinya yang mendalam, pandangan Riyan secara tidak sengaja menangkap jam digital transparan di sudut matanya yang kembali berkedip merah: [11 Jam : 15 Menit : 00 Detik].

Di bawah angka waktu itu, tertera informasi saldo terkini yang membuatnya kembali merinding: 3,45 Triliun Rupiah.

[Denting Sistem! Deteksi Interaksi Dinasti Bisnis Utama!]

[Keluarga Zevan mulai menganggap Inang sebagai aset strategis bernilai tinggi. Jika dalam waktu 1 jam ke depan Inang tidak berhasil merugikan diri sendiri di depan mereka, Sistem akan menganggap terjadi 'Aliansi Pasif' yang akan memicu pembekuan saldo dan kematian instan!]

Riyan langsung menegakkan duduknya. Jantungnya kembali berdegup kencang bak disengat listrik.

Mampus! Dia lupa kalau dia masih berada di dalam zona bahaya Sistem. Dia harus segera membuang uang di tempat ini juga, di depan muka Abraham Zevan, agar Sistem tahu bahwa dia tidak sedang menjalin aliansi bisnis yang menguntungkan.

Riyan memandang ke arah meja makan panjang yang dipenuhi makanan mewah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap langsung ke arah sepasang mata Abraham Zevan dengan tatapan berani.

"Pak Abraham," kata Riyan memotong suasana.

"Perjamuan makan malam ini mewah banget. Tapi jujur, saya merasa piring-piring kristal dan meja jati kuno ini agak merusak selera makan kuli saya."

Abraham mengernyitkan dahi.

"Oh? Lalu apa yang kamu inginkan, Riyan?"

"Saya mau beli seisi ruangan perjamuan ini sekarang juga," ucap Riyan lantang, senyum gilanya kembali muncul.

"Meja jatinya, lampu kristalnya, lukisan dindingnya, termasuk seluruh makanan mewah ini. Saya beli semuanya seharga dua ratus miliar rupiah tunai!"

Kezia dan Abraham langsung tersentak. Membeli ruang perjamuan di tengah-tengah acara makan malam? Ini bukan lagi sekadar eksentrik, ini sudah mendekati tindakan intimidasi finansial yang sangat berani.

"Riyan, apa maksudmu?" tanya Kezia dengan nada suara yang mendadak serius.

"Ini adalah ruangan bersejarah Keluarga Zevan. Nilai materinya tidak sampai dua ratus miliar, tapi nilai sejarahnya tidak ternilai."

"Gua gak peduli soal sejarah!" seru Riyan sambil mengeluarkan ponsel retaknya dengan agresif.

"Gua bayar dua ratus miliar sekarang. Tapi setelah gua beli, gua punya syarat mutlak: gua mau panggil temen-temen kuli proyek gua di Dago buat dateng ke sini, dan kita bakal adain lomba geprek lampu kristal seharga miliaran ini pakai palu gada! Sisanya, meja jati ini mau gua jadiin kayu bakar buat masak mi instan di halaman depan! Gimana? Deal?!"

Suasana aula perjamuan dinasti Zevan seketika itu juga berubah menjadi senyap senyap, seolah-olah waktu baru saja dihentikan paksa oleh perkataan gila dari sang kuli proyek.

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!