"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32
Acara pertunangan akhirnya usai, dilanjutkan dengan pengumuman bahwa pesta pernikahan Arden dan Nabella akan digelar satu bulan mendatang. Alyssa yang tak sanggup lagi berada di atmosfer penuh kepalsuan itu memutuskan untuk langsung pulang. Namun sebelum pergi, ia melangkah mencari keberadaan Adrian terlebih dahulu.
"Astaga, ke mana dia?" gumam Alyssa pelan sembari menyusuri lorong yang sepi.
Begitu melangkah mendekati area taman belakang, pendengarannya ditangkap oleh tawa manja dan suara kecupan basah. Alyssa menghentikan langkahnya seketika.
"Mas, aku kangen tahu! Kemarin kamu main ninggalin aku gitu aja," rajuk sebuah suara wanita yang sangat dihafalnya. Hanum.
Dari balik pilar, Alyssa mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Dari celah sempit itu, ia menyaksikan kemesraan keduanya. Tatapan hangat, senyum manis, dan elusan lembut Adrian untuk Hanum—sebuah tontonan yang tak pernah sekalipun Adrian perlihatkan padanya selama mereka menikah.
"Maaf ya, Sayang. Nanti malam aku bakal ke apartemen kamu, oke? Tunggu aku," bisik Adrian mesra. Hanum mengangguk puas lalu memeluk pinggang Adrian erat-erat.
Tak kuasa menyaksikan lebih lama, dada Alyssa makin sesak. Ia memilih mundur perlahan dan berjalan menuju area depan, berniat menunggu di dekat gerbang. Namun, baru beberapa langkah dari pintu keluar, sebuah tumpuan tangan tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
Alyssa menoleh dan menemukan Arden berdiri di sana dengan tatapan panik sekaligus penuh penyesalan.
"Alyssa, listen to me... aku bisa jelaskan. Aku—"
"Gak perlu," potong Alyssa cepat. Suaranya terdengar begitu datar, tanpa emosi, bagai telaga beku.
Ia menatap Arden lurus-lurus, lalu menghempaskan genggaman tangan lelaki itu dengan begitu dingin.
"Gak perlu ada yang dijelaskan lagi, Arden. Mulai detik ini, anggap saja semua yang pernah terjadi di antara kita... cuma kebohongan."
"Alyssa, tunggu... Alyssa!" seru Arden, berniat mengejar. Namun dari sudut matanya, ia melihat Maya sudah berdiri mengawasi dengan tatapan tajam. Langkah Arden terhenti kaku, terjebak dalam sangkar yang ia buat sendiri.
Alyssa melangkah pergi begitu saja. Rasa marah, kecewa, dan lelah yang teramat sangat menyatu menghantam dadanya. Ia terus berjalan menyusuri trotoar sampai menemukan taksi yang melintas—sama sekali tak peduli lagi pada Adrian yang masih asyik bermesraan dengan Hanum di dalam sana.
Keesokan harinya, Adrian mengajak Alyssa untuk berpamitan dan kembali ke kediaman Narendra. Walau enggan, Alyssa memaksa dirinya untuk bersikap seolah tak ada apa-apa agar tak memancing curiga. Toh, hubungannya dengan Arden sudah benar-benar usai dan mati.
"Aku pulang dulu ya, Bu," bisik Alyssa saat memeluk sang Ibu dengan erat.
"Iya, Nak... hati-hati di jalan, ya! Pintu rumah Ibu akan selalu terbuka lebar untukmu," balas Tania penuh kehangatan, yang hanya dibalas anggukan tipis oleh Alyssa.
Adrian memperhatikan interaksi itu dari samping. Untuk pertama kalinya, desakan rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya secara perlahan. Terbersit rasa tega yang goyah, mengingat ia berencana akan segera menceraikan wanita di depannya ini demi Hanum.
Di dalam mobil, tak ada percakapan. Hanya deru mesin dan hembusan AC yang mengisi keheningan yang mencekam di antara mereka.
"Alyssa, aku..." Adrian mencoba membuka suara, memecah kecanggungan.
"Kita cerai?" potong Alyssa tenang, seolah sudah bisa membaca dengan tepat arah pikiran suaminya.
Adrian tersentak sejenak, lalu berdehem canggung. "I-iya. Tapi kamu tenang aja, aku bakal kasih harta gono-gini yang layak buat kamu, walau... walau selama ini kita belum punya anak."
Alyssa tersenyum masam. Begitu mudah dan cepatnya Adrian ingin menendangnya keluar dari kehidupan lelaki itu?
Tidak adakah hal baik atau hal berharga dari empat tahun pernikahan kami yang mengusik hatimu, Mas? batin Alyssa perih.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh sepeser pun uang darimu," jawab Alyssa dingin, mengalihkan pandangannya rapat-rapat ke luar jendela, menolak memperlihatkan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sementara itu di kediaman Narendra, suasana rumah masih sangat ramai oleh kepulangan adik-adik Bagas.
"Di mana Adrian?" tanya adik kedua Bagas yang bernama Silvia.
"Masih di rumah mertuanya, mungkin hari ini baru pulang," sahut Maya santai.
"Gak usah pulang juga gak apa-apa sih. Lagian kita kan emang gak butuh menantu mandul," cibir Indah pelan namun tajam, membuat Maya mendelik tak suka ke arahnya.
"Ndah, kok bicaranya gitu, sih? Mungkin emang belum dikasih kepercayaan sama Tuhan. Doakan saja semoga disegerakan," tegur Silvia tegas dengan tatapan mata menajam pada sang adik.
Indah hanya memutar bola matanya malas. Beruntung Anton—suaminya—sedang berada di halaman belakang bersama Bagas, jadi tak mendengar celetukannya.
"Ya aku kan cuma bicara fakta. Soalnya kita dulu gak sampai nunggu bertahun-tahun buat punya anak," cetus Indah tak mau kalah.
Maya menghela napas panjang. Ia memilih bungkam ketimbang meladeni Indah dan menyulut keributan keluarga yang makin melebar.
Bersambung ....
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣