Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.
—
Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.
Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.
—
5 Tahun setelah Tragedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Perawatan
"Ini mengagumkan, Lady," ucap Nicholas memecah ketegangan sembari menaikkan bingkai kacamatanya menggunakan satu jari, menyembunyikan kilat keterkejutan di balik lensa beningnya karena melihat target mereka masih hidup.
"Sebuah kehormatan mendengarnya dari Anda, Senior," balas Elouis dengan nada flat yang dipaksakan sembari mencoba untuk menyunggingkan senyum ramah formalitas di wajahnya yang kotor.
Sedetik kemudian, lelaki berambut merah menyala—Alecto—perlahan melepas pelukan eratnya. Dengan sepasang mata yang dipenuhi guratan cemas, ia mulai memutar tubuh Elouis, memeriksa bahu, lengan, hingga pakaian sepupunya itu dengan teliti untuk mencari tahu apakah ada luka fatal yang disembunyikan.
"Aku baik-baik saja, Kak," ucap Elouis menenangkan, menahan tangan Alecto agar sepupu protektifnya itu tidak bertindak terlalu jauh di depan umum.
Sadar situasi politik di koridor ini semakin memanas dan memancing perhatian banyak orang, Vincent segera mengambil inisiatif untuk menengahi. "Akan lebih baik jika Anda sekalian melanjutkan perjalanan kalian, dan membiarkan kami melapor terlebih dahulu," sahut Vincent dengan intonasi sopan namun tegas, memberikan barikade verbal untuk melindungi Kaptennya.
Di barisan agak belakang, Eric sedikit melirik ke arah Kael dan Kazel secara bergantian. Sebagai sesama petarung instingtif, Eric merasakan ada sesuatu yang aneh sekaligus berbahaya tengah bergejolak di dalam diri salah satu si kembar. Eric lantas melangkah maju, menundukkan sedikit tubuhnya di dekat telinga Elouis dan berbisik sepelan mungkin hingga nyaris tak terdengar oleh pihak lawan.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Kael. Hawanya berbahaya... sebaiknya kita cepat pergi dari sini," bisik Eric waspada, lalu segera menegakkan tubuhnya kembali untuk mengawasi Kael yang kini terus menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan gejolak emosi. Di sampingnya, Kazel tampak menggenggam erat tangan Kael dengan jemari yang memutih, berusaha menyalurkan ketenangan agar kembarannya tidak kehilangan kendali dan mengacaukan penyamaran mereka.
Menerima laporan darurat dari Eric, Elouis memberikan anggukan pelan yang sarat akan kode perintah. Ia kembali menatap lurus ke arah jajaran anggota elit di hadapannya.
"Kami izin undur diri lebih dulu, Senior... Ada hal penting mengenai misi yang harus kami urus sesegera mungkin di ruang Kepala Sekolah. Maaf karena kami harus kembali dengan keadaan seburuk ini," ucap Elouis formal, lalu memberikan isyarat tangan halus di balik jubahnya pada keempat rekannya untuk berjalan mendahuluinya, memotong jalur interaksi sebelum Kael benar-benar meledak di tempat itu.
Setelah keempat anggotanya melangkah maju melewati barisan para senior elit, Elouis sengaja memposisikan dirinya berjalan tepat di belakang Kael, menutup pandangan orang lain dari arah depan. Begitu jarak mereka sudah beberapa meter terpisah dari jajaran elit, Elouis bergerak secepat kilat. Ia mengangkat satu tangannya, lalu melayangkan pukulan telak berkekuatan presisi ke arah bagian belakang leher kembarannya itu.
TACK!
Suara benturan tumpul yang diredam itu seketika membuat kesadaran Kael runtuh. Tubuhnya langsung melemas dan ambruk ke depan dalam sekejap mata.
"Bawa ke ruang medis, pastikan Edith yang mengobatinya, mengerti? Aku sendiri yang akan melapor pada Kepala Sekolah," bisik Elouis dengan intonasi super cepat dan rendah yang hanya dapat didengar oleh sisa anggota timnya.
Dengan sigap dan tanpa menimbulkan kepanikan yang mencolok, Kazel dan Eric langsung bergerak maju menopang sisi kanan dan kiri tubuh Kael yang sudah pingsan, mengaitkan lengan pemuda itu ke bahu mereka seolah-olah Kael hanya jatuh pingsan karena kelelahan ekstrem akibat perjalanan jauh. Vincent mengikutinya dari belakang untuk memberikan perlindungan visual.
Namun, baru beberapa langkah faksi medis buatan mereka bergerak menjauh, sebuah suara berat kembali menginterupsi dari arah belakang.
"Lady," ucap salah satu senior elit yang rupanya masih berdiri di koridor dan mengawasi gerak-gerik mereka.
Langkah kaki Elouis seketika terhenti mendengar panggilan tersebut. Tanpa berbalik, ia memberikan isyarat tangan kecil yang tegas di balik punggungnya, memerintahkan Eric, Kazel, dan Vincent untuk terus berjalan membawa Kael menjauh tanpa perlu memedulikan situasi di belakang mereka.
Setelah memastikan ketiga anggotanya terus melangkah membawa Kael menjauh, Elouis perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap lurus ke arah senior yang memanggilnya tadi dengan sepasang mata putih keperakannya yang menyorot tenang namun sedingin es, serasi dengan helai rambut peraknya yang kini terikat rapi ke atas.
"Ya, Senior?" balas Elouis dengan nada suara yang teramat datar, menutupi seluruh emosinya di balik topeng ketenangan seorang murid tahun pertama.
"Malam ini, datanglah ke kelas khusus. Hanya anggota timmu," ucap Nicholas dengan nada perintah yang mutlak. Setelah mengatakan hal itu, ia langsung membalikkan tubuh dan berjalan pergi begitu saja tanpa berniat mendengar jawaban dari bibir Elouis.
Sementara itu, Alecto sempat tertahan sejenak. Ia menatap Elouis dengan tatapan yang dipenuhi rasa khawatir yang mendalam, sebelum akhirnya terpaksa berbalik untuk mengekor di belakang langkah kaki Nicholas dan Nolan yang kian menjauh membelah koridor.
Elouis menatap punggung ketiga seniornya dengan pandangan sedingin es. 'Kalian menginginkan apa yang berhasil kami dapatkan, ya?' batin Elouis sinis, menebak dengan akurat ambisi terselubung kelompok elit tersebut. Tanpa membuang waktu lagi, ia membalikkan tubuh dan melangkah mantap menuju ruang Kepala Sekolah untuk melaporkan skenario palsu bahwa ia serta timnya berhasil selamat dari maut.
Setelah selesai melaporkan kejadian "mengerikan" yang telah mereka bumbui dengan alibi matang Vincent, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pihak akademi yang murni percaya langsung memberikan mereka waktu rehat total selama beberapa hari ke depan, kompensasi yang setimpal dengan rentang waktu berbahaya saat mereka berangkat menjalankan misi.
Beberapa jam kemudian, waktu telah beralih. Kini, Elouis berada di dalam ruang medis akademi yang tenang. Penampilannya sudah kembali bersih dan rapi, mengenakan seragam normal siswa akademi setelah mandi dan menanggalkan pakaiannya yang penuh lumpur kering tadi. Ia sengaja datang ke sana untuk berjaga, menggantikan ketiga anggotanya yang lain agar mereka bisa membersihkan diri dan mendapatkan istirahat yang cukup di asrama.
Klek.
Suara pintu yang terbuka membuat Elouis menoleh. Seorang perempuan dengan pakaian putih khas perawat akademi melangkah masuk ke dalam ruangan sembari membawa sebuah nampan.
"El, kau harus makan. Aku membawanya ke sini," ucap perempuan itu sembari berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Kael masih terbaring pingsan.
Elouis menyunggingkan senyum tipis, merasa rileks saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu. "Terima kasih, Edith... Sejauh ini, apa kau mengalami kesulitan di akademi saat aku tidak ada?" tanya Elouis, menatap sahabat sekaligus informan medis tepercayanya itu.
Edith menghela napas panjang, menatap Elouis dengan tatapan mengomeli yang sangat familier. "Aku sungguh tidak apa-apa di sini. Hanya saja... aku selalu mencemaskanmu, dasar bodoh!" balas Edith kesal, langsung meletakkan nampan makanan itu dengan sedikit hentakan di atas meja di samping ranjang Kael.
Ia berkacak pinggang, menatap lurus ke sepasang mata putih keperakan milik Elouis. "Setidaknya kirimkan surat atau sinyal apa pun itu jika kau tertahan di luar... Kau benar-benar membuatku khawatir setengah mati, sungguh," lanjut Edith dengan nada suara yang melunak di akhir kalimat, menyembunyikan rasa bersyukur yang amat besar karena melihat Elouis pulang dalam keadaan utuh.
Elouis mengulurkan tangannya, mengambil sepotong roti dari atas nampan yang dibawa Edith lalu menghela napas pelan, menikmati kehangatan makanan segar yang sudah berhari-hari tidak ia rasakan.
"Setidaknya aku tidak kembali hanya tinggal nama," ucap Elouis datar, lalu mengambil gigitan pertama pada rotinya tanpa melihat ke arah Edith yang langsung mematung mendengar kalimat bernada sarkasme tersebut.
"Kau... benar-benar menjengkelkan...!"
Plak! Tanpa sadar karena saking kesalnya, Edith melayangkan jentikan jari yang cukup keras tepat di dahi mulus Elouis. Tindakan spontan itu seketika membuat Elouis berhenti mengunyah. Ia mematung sesaat, lalu perlahan mendongak, menatap kaget ke arah Edith dengan sepasang mata putih keperakannya yang melebar—tidak menyangka ada orang yang berani memukul dahinya.
"Jangan mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu di depanku, El," omel Edith lagi dengan mata yang berkaca-kaca, melampiaskan seluruh rasa takutnya jika hal buruk benar-benar menimpa sahabat terbaiknya itu.
Melihat gurat kesedihan yang tulus di wajah Edith, pertahanan dingin Elouis runtuh. Ia mengangguk pelan, lalu menunduk untuk melanjutkan kunyahannya. "Baik... Aku mengerti," balasnya pelan, kembali memakan rotinya dengan tenang seolah jentikan dahi tadi tidak pernah terjadi.
Suasana di dalam ruang medis kembali hening selama beberapa saat, hanya menyisakan suara kunyahan pelan Elouis dan langkah kaki Edith yang bergerak mendekati ranjang di sebelah Kael.
"Ngomong-ngomong... apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?" tanya Edith memecah keheningan. Ia mulai sibuk merapikan dan membersihkan seprai ranjang kosong di sebelah tempat Kael terbaring, sembari sesekali melirik cemas ke arah pemuda yang masih tak sadarkan diri itu.
Elouis menelan sisa roti di mulutnya, lalu menatap tubuh kaku Kael dengan pandangan menimbang-nimbang. "Aku tidak tahu pasti. Dia tiba-tiba saja ingin mengeluarkan cakarnya begitu kaki kami baru saja menginjakkan area akademi ini," balas Elouis dengan nada serius, merujuk pada insting haus darah Kael yang mendadak bangkit tak terkendali di koridor tadi.
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍