NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Keesokan paginya, Lukas dan Kirana kembali ke rumah besar keluarga Chandra—kali ini dengan izin resmi pengadilan untuk menelusuri seluruh catatan dan rekaman yang tersimpan di dalamnya, menyusul keterangan yang diberikan Pak Haris semalam. Rumah itu kini tampak sunyi dan dingin, tanpa suara langkah kaki atau obrolan yang dulu sering terdengar. Hanya sisa-sisa kehidupan yang pernah berjalan di sana yang masih terasa di setiap sudutnya.

Tim teknis yang dibawa Kirana mulai memeriksa ruang penyimpanan perangkat keamanan di lantai dasar. Selama ini keluarga Chandra selalu mengklaim bahwa sistem CCTV mereka hanya merekam bagian luar pagar, dan rekamannya otomatis terhapus setiap tiga bulan. Namun berdasarkan dugaan Lukas, pasti ada cadangan tersembunyi—bukan untuk keamanan, melainkan sebagai bukti diri jika sesuatu terjadi pada mereka.

Benar saja. Setelah mencari hampir dua jam di balik lemari arsip di ruang kerja Tuan Chandra, seorang teknisi menemukan sebuah kotak perangkat keras berwarna hitam yang tersembunyi di balik panel dinding palsu. Ukurannya lebih kecil dari perangkat utama, namun memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar.

“Ada data di sini, dan sudah disimpan selama lebih dari sepuluh tahun,” ucap teknisi itu dengan nada kagum sekaligus serius saat menghubungkannya ke laptop. “Berkasnya dikunci dengan sandi ganda, tapi kami bisa membukanya sekarang.”

Lukas dan Kirana berdiri menyaksikan layar laptop dengan napas tertahan. Berkas video mulai dimuat satu per satu, bertanggal saat ia baru berusia tujuh tahun—waktu yang bertepatan dengan hari-hari awal ia tinggal di rumah itu.

Salah satu berkas bertanggal 12 November, tepat sebulan setelah ia diadopsi. Saat video diputar, tampak ruang tamu utama rumah itu pada malam hari. Lampu hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Tuan dan Nyonya Chandra duduk di sofa dengan posisi yang kaku, tangan mereka saling bertaut erat di pangkuan, wajah mereka tampak pucat dan penuh kecemasan.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Seorang pria berbadan tegap dengan wajah tertutup sebagian oleh topi masuk diikuti dua orang pengawal. Pria itu melepas topinya, dan Lukas serta Kirana langsung mengenali garis rahang serta sorot matanya—meski terlihat lebih muda sepuluh tahun lalu, itu adalah Bima Surya Atmaja.

Percakapan mereka terdengar samar namun cukup jelas tertangkap mikrofon tersembunyi.

“Saya harap kalian tidak melupakan kesepakatan kita,” ucap Bima dengan nada dingin dan menekan, berjalan perlahan mendekati meja tamu tanpa duduk. “Anak itu harus tetap di sini, tidak boleh bergaul sembarangan, tidak boleh tahu siapa dirinya, dan tidak boleh bertemu siapa pun yang berhubungan dengan masa lalu keluarganya. Jika dia aman dan tidak tahu apa-apa, maka kalian pun aman.”

Tuan Chandra menelan ludah susah payah, menunduk tak berani menatap mata pria itu.

“Kami sudah melakukan apa yang Anda minta. Kami tidak pernah memberitahu namanya, tidak pernah menunjukkan foto orang tuanya. Tapi… berapa lama ini harus berlangsung? Kami takut suatu hari dia akan bertanya-tanya, atau ada orang lain yang datang mencarinya.”

Bima tersenyum sinis, lalu mengangkat tangan memberi isyarat kepada pengawalnya. Salah satu pengawal membawa tas koper besar berwarna cokelat, lalu meletakkannya di atas meja dan membukanya lebar. Di dalamnya tumpukan uang kertas berwarna merah berjejer rapi, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah—nilai yang setara dengan harga rumah mewah di kawasan itu pada masa itu.

“Ini pembayaran tahap pertama,” ucap Bima santai. “Masih ada dua kali lipat lagi jika kalian berhasil menjaganya sampai dia dewasa tanpa mengetahui kebenaran. Gunakan uang ini untuk memperluas bisnis kalian, tapi ingat—jangan pernah bermimpi lari dari pengawasan saya. Di mana pun kalian bersembunyi, saya akan menemukan kalian.”

Nyonya Chandra tampak gemetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap tumpukan uang itu lalu beralih ke arah lorong tempat kamar Lukas berada.

“Tapi… dia hanya anak kecil. Apa salahnya dia sampai harus dikurung seperti ini?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Senyum Bima seketika lenyap. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap tajam ke arah wanita itu.

“Salahnya dia adalah pewaris dari orang-orang yang berani menghalangi jalan saya. Jangan bersikap lembut, Nyonya Chandra. Kebaikan hati pada anak itu hanya akan membahayakan nyawa kalian berdua. Pilih: ambil uang ini dan tetap hidup tenang, atau tolak dan berakhir sama seperti ayahnya Lukas.”

Video berakhir di situ. Gambar terputus, digantikan layar hitam.

Keheningan menyelimuti ruangan itu cukup lama. Lukas berdiri mematung, merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Jadi sejak awal ia hanyalah objek dalam kesepakatan kotor itu—sebuah barang yang disimpan dengan harga yang sangat mahal. Keluarga Chandra menerima uang itu bukan untuk membesarkannya dengan kasih sayang, melainkan untuk menjadi penjaga yang harus memastikan ia selamanya tidak tahu siapa dirinya.

“Ini bukti yang tak terbantahkan,” ucap Kirana akhirnya, suaranya serius namun penuh kepuasan karena akhirnya mereka memegang fakta nyata. “Bukti bahwa Bima secara langsung mengatur penyembunyian identitasmu, membayar keluarga Chandra untuk menjagamu dalam ketidaktahuan, dan mengancam nyawa mereka jika melanggar janji. Ini adalah awal dari runtuhnya semua kekuasaannya.”

Teknisi itu menyimpan salinan rekaman tersebut ke dalam dua perangkat berbeda—satu disimpan di tempat aman yang hanya diketahui mereka berdua, sementara salinan lainnya diserahkan kepada Pak Surya untuk disiapkan sebagai bukti hukum.

Saat mereka berjalan keluar dari rumah itu, Lukas berhenti sejenak menatap pintu depan yang dulu sering tertutup rapat baginya. Rasa sakit karena dikhianati perlahan berganti menjadi tekad yang membara. Rekaman itu bukan hanya bukti kejahatan orang lain, tapi juga bukti bahwa ia memang berharga—begitu berharga hingga orang sekuat Bima pun harus bersusah payah menyembunyikan keberadaannya.

“Mereka pikir dengan uang itu mereka bisa membeli masa depanku,” bisik Lukas pelan pada Kirana. “Tapi mereka lupa—kebenaran tidak bisa dibeli dengan berapa pun harta di dunia ini.”

Kirana menggenggam tangannya erat, mengangguk mantap.

“Benar. Dan rekaman ini adalah langkah pertama kita untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, serta menghukum orang yang berani menganggap nyawa dan identitas manusia sebagai barang dagangan.”

Mereka berjalan menuju mobil dengan langkah yang lebih ringan dan percaya diri. Untuk pertama kalinya sejak memulai penyelidikan ini, mereka memegang bukti nyata yang tak bisa disangkal, tak bisa dibelokkan, dan tak bisa disembunyikan lagi. Bukti pertama yang akan membawa mereka semakin dekat ke keadilan yang selama ini dinanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!