Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Menganyam Harapan
Seroja mematung, menatap punggung Broto Kancil yang hilang di ujung jalan setapak. Paman Supri menggunakan birokrasi desa yang kotor untuk mencekik mereka. Menang adu argumen hari ini belum melunasi krisis. Tiga hari. Waktu yang amat sempit untuk membuktikan kepalsuan dokumen itu ke kabupaten, atau mencari uang pelunasan.
Seroja harus memutar otak. Ia melangkah ke pekarangan belakang yang sunyi, menjauh dari ratapan takut Siti dan Nenek Warni. Pikirannya buntu, mencari komoditas panen kilat bernilai belasan ribu rupiah.
Ia memanggil antarmuka sistemnya. Layar transparan biru muda berkedip dua kali.
**LADANGKU, Level 2**
**XP:** 150/300
**Coin:** 350
Seroja membuka Gudang, berniat mencari varietas baru yang bisa dipaksa tumbuh. Tapi sebuah peringatan merah berkedip agresif, menghentikan jarinya.
⚠ **Gudang penuh! Tidak bisa riset baru. (50/50 slot terisi)**
[GUNAKAN ITEM] [HAPUS (kehilangan Coin)]
Hatinya mencelos. Gudang virtualnya penuh oleh sisa benih riset gagal dan botol nutrisi. Ia harus membuang sebagian, dengan risiko kehilangan koin yang berharga. Seroja memejamkan mata, membuka Papan Pesanan. Mungkin ada solusi tukar tambah di sana.
Sebuah notifikasi perayaan meledak di layar, diiringi pendar keemasan.
🎉 **Level 5 | XP 500/1000 | Coin 450**
🔓 **Tanaman Melon Madu, Petak +2 (total 14), Papan Pesanan: Misi Melon Madu**
Mata Seroja melebar. Levelnya melonjak drastis setelah penjualan tomat besar ke Pak Subroto. Ia menggeser pandangannya ke papan misi yang baru terbuka.
📋 **Budidaya Melon Madu | ⏱ 3 hari | 📥 5 kg Melon Madu fisik | 💰 500 XP + 300 Coin**
🎁 **Bonus: Benih Melon Madu Unggul generasi kedua**
Napas Seroja tertahan. Melon madu. Di tahun tujuh puluhan, melon adalah buah eksotis seharga fantastis. Biasanya cuma tersaji di meja hotel mewah atau jamuan pejabat ibu kota. Lima kilogram melon madu, nilainya jauh melebihi lima belas ribu rupiah di pasar gelap tengkulak kota kabupaten.
Tapi, melon menuntut syarat tumbuh yang kejam. Ia rewel. Siang, akarnya rakus minum air di tanah kapur yang panas. Malam, batangnya ringkih menahan angin dingin dari celah bukit Hutan Jati. Kalau gagal memberi suhu yang konstan, bakal buahnya akan rontok dan membusuk sebelum sempat mengeras.
"Mas Danu!" panggil Seroja berbalik, melangkah cepat ke pelataran depan.
Pemuda kekar yang sedang mengasah sabit itu mendongak. "Ada apa, Nduk? Kamu punya rencana?"
"Kita buka bedengan baru sekarang juga, Mas. Membujur dari utara ke selatan," perintah Seroja lugas. "Kita akan menanam buah paling mahal di kecamatan ini."
Danu tak banyak bertanya. Ia percaya penuh pada perhitungan bisnis sepupunya. Ia bangkit, menyambar cangkul, dan berjalan ke lahan kosong di sisi kanan pekarangan.
Doni, si bungsu yang kurus pucat, keluar dari biliknya. "Doni bantu apa, Mbak?" tanyanya antusias. Rasa mindernya perlahan hilang sejak dipuji teliti menghitung lahan tomat.
"Doni cari pelepah pisang kering yang banyak di belakang," ucap Seroja menyejajarkan tinggi badannya. "Kita buat jaring-jaring rajut seukuran kepalan tangan."
Doni mengernyit. "Buat apa, Mbak?"
"Buah yang kita tanam kulitnya sensitif. Kalau menempel langsung ke tanah kapur yang panas, bagian bawahnya bisa gosong dan busuk," jelas Seroja. "Kita perlu alas pelindung dari serat biar udara tetap mengalir. Kamu bisa merajutnya kuat-kuat?"
Mata Doni berbinar. "Doni bisa, Mbak! Nenek Warni sering mengajari Doni menganyam tikar pandan." Ia pun berlari lincah ke kebun belakang, melupakan kelemahan fisiknya.
Seroja bergegas ke Gudang virtualnya. Ia membuang sepuluh slot benih bayam kualitas rendah, lalu menarik Benih Melon Madu ke genggamannya. Sensasi hangat transmutasi mengalir, menyisakan kantong kain berisi biji pipih kekuningan di telapak tangannya.
Siang itu, halaman kapur mereka berubah jadi bengkel pertanian darurat. Danu mengayun cangkul tanpa lelah, mencetak bedengan tanah setinggi betis. Ia menggali parit kecil di sekelilingnya, mengisinya air sumur agar kelembapan tanah tetap stabil di bawah sengatan matahari.
Di serambi, Doni duduk bersila, tekun membelah pelepah pisang kering. Jari-jari kecilnya yang pucat bergerak lincah menyilangkan serat cokelat, membentuk jaring kotak-kotak yang kukuh. Siti dan Nenek Warni ikut membantu di sampingnya, menganyam harapan dalam diam.
Seroja turun ke lahan. Ia menanam biji melon dengan jarak cermat, memastikan setiap bibit punya ruang bernapas yang cukup. Tiga hari adalah waktu mustahil bagi hukum alam normal. Tapi dengan bibit unggul sistem, dipadu nutrisi kompos kotoran sapi siraman Danu, keajaiban pertumbuhan kilat kembali tersaji.
Menjelang senja hari pertama, tunas hijau kekuningan sudah menerobos kerak tanah kapur. Daun-daun lebar berbulu halusnya membentang menyerap sisa cahaya. Seroja dan Danu menancapkan puluhan tongkat bambu di kedua sisi bedengan, membuat terowongan rambat agar batang melon menjauh dari serangga tanah.
Sore hari kedua, kebun kecil itu penuh puluhan bunga kuning cerah. Putiknya membesar cepat di ujung malam, menjelma bakal buah hijau seukuran kepalan bayi. Doni berlarian riang di antara lorong bambu, menyisipkan jaring pelepah pisangnya tepat di bawah bakal buah yang mulai menggantung. Ia melindungi kulit buah mahal itu dari kelembapan tanah yang merusak.
Keluarga itu menatap hasil keringat mereka dengan dada bergemuruh. Mereka tak perlu mengemis belas kasih atau menangisi dokumen palsu Supri. Kedaulatan finansial mereka tumbuh subur di pekarangan sendiri.
Malam merangkak turun menyelimuti Hutan Jati. Suhu udara anjlok drastis. Seroja merapatkan selimut luriknya, tubuhnya menggigil menahan dingin angin gunung yang tak biasa.
Angin menderu kencang menghantam dinding anyaman bambu. Debu kapur beterbangan menyusup lewat celah atap. Seroja membuka mata lebar-lebar. Jantungnya berdetak liar. Ini bukan angin malam biasa. Ini anomali cuaca peralihan musim yang kerap melanda dataran tinggi kapur. Angin puting beliung skala kecil.
Suara bambu berderak patah terdengar nyaring dari arah pekarangan melon.
Seroja melompat dari tikar. "Mas Danu! Bangun!" teriaknya memecah kepanikan malam.
Bagas dan Danu berlarian keluar membawa lampu teplok. Pemandangan di halaman mencabik dada mereka. Angin kencang berembus brutal, menghantam terowongan rambat melon madu. Tiga tiang penyangga bambu utama sudah miring ke tanah, nyaris merobohkan seluruh struktur tanaman yang sedang menyusui buah berharganya.
Jika tiang itu patah, batang melon akan putus. Harapan mereka melunasi utang lintah darat akan hancur malam ini juga.