Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Musibah di Kolam Renang
Napas Galang memburu hebat saat bus malam yang ditumpanginya akhirnya berhenti di pinggir jalan raya Madiun.
Tanpa menunggu kendaraan itu benar-benar berhenti sempurna, Galang melompat turun. Kakinya terasa gemetar oleh rasa lelah yang luar biasa setelah berlari menembus hutan di Ngrambe, namun rasa cemas yang mencengkeram dadanya jauh lebih membakar.
Kata-kata Pak Sapta alias Mbah Mangu di Desa Kedung Lembah terus bergema bagaikan dentang lonceng kematian di dalam kepalanya.
Langit Madiun masih diselimuti warna jingga keperakan saat fajar menyingsing. Galang berlari kesetanan menyusuri trotoar menuju rumah.
Dari kejauhan, bangunan warung yang megah itu sudah mulai menunjukkan aktivitas. Asap tebal dari dapur belakang membumbung tinggi ke udara, membawa aroma gurih kluwek dan bumbu pekat yang menyengat indera penciumannya.
Galang mendobrak pintu pagar samping yang tidak terkunci, merangsek masuk ke area halaman belakang rumah.
Halaman belakang keluarga Broto baru saja selesai direnovasi dua minggu lalu atas perintah Pak Sapta. Di sana, di atas lahan bekas kebun mangga peninggalan almarhum ayahnya, kini terbangun sebuah kolam renang pribadi berubin keramik biru muda—sebuah simbol kemewahan baru yang dibeli dari tumpukan uang pesugihan.
Air kolam itu tampak tenang, berkilau disiram pendar cahaya matahari pagi yang tipis. Namun, bagi mata batin Galang, permukaan air itu memancarkan aura kehitaman yang pekat, menyerupai lelehan oli cair yang tenang namun mematikan.
Di pinggir kolam, berdiri dua buah kursi malas dari kayu jati mewah. Sepi. Tidak ada siapa pun di sana.
"Mia?! Rian?! Gilang?!" jerit Galang, suaranya parau memecah keheningan pagi di halaman belakang.
Hening. Tak ada sahutan dari dalam rumah.
Galang melangkah terburu-buru menuju pintu dapur belakang. Namun, baru tiga langkah ia beranjak, pendengarannya menangkap kepakan air yang sangat halus dari arah kolam renang.
Puk ... puk ... puk.
Galang memutar tubuhnya seketika. Matanya menyapu permukaan air kolam yang bening.
Di sudut kolam yang dangkal—tempat airnya hanya setinggi lutut orang dewasa atau sekitar empat puluh sentimeter—terapung sebuah gaun tidur berwarna merah muda.
Gaun itu dikenali Galang dengan sangat jelas. Itu adalah gaun tidur kesayangan Mia, adik ketiganya yang baru berusia 12 tahun.
Jantung Galang rasanya berhenti berdetak seketika. Darahnya serasa membeku di dalam pembuluh.
Di bawah permukaan air yang hanya setinggi empat puluh sentimeter itu, tubuh Mia terbaring telungkup. Wajah anak kecil itu menghadap lurus ke dasar keramik kolam. Kedua tangannya terentang kaku ke samping, sementara rambut panjangnya terurai melebar bagaikan gurita hitam di dalam air.
"MIAAA!"
Galang melompat tanpa berpikir panjang ke dalam kolam renang. Air dingin menyergap kakinya. Karena kedalaman air di area itu sangat dangkal, air kolam bahkan tidak sampai menyentuh lutut Galang. Secara logika dan medis, sangat tidak masuk akal seorang anak manusia bisa tenggelam di dalam air yang sedangkal itu.
Galang berlutut di dalam air, merogoh dasar kolam dan mencengkeram kedua bahu kecil Mia untuk mengangkatnya ke atas permukaan.
Namun, saat Galang menarik tubuh adiknya, beban tubuh Mia terasa luar biasa berat—seolah-olah raga kecil itu telah menyatu dan dipaku rapat ke dalam keramik dasar kolam!
"Arghhh!" Galang mengerahkan seluruh tenaga di lengannya, menarik punggung Mia dengan histeris.
Melalui beningnya air kolam yang bergolak, mata Galang membelalak melihat pemandangan horor yang tak terbayangkan.
Di dasar keramik kolam yang dangkal itu, tidak ada ubin biru polos. Di bawah permukaan air, tampak belasan lengan hitam berbulu lebat dengan kuku-kuku panjang yang tajam merangsek keluar dari balik celah keramik.
Tangan-tangan ghaib itu mencengkeram erat kedua pergelangan kaki, leher, dan gaun tidur Mia, menarik tubuh anak kecil itu dengan daya tekan mahadahsyat menuju dasar air.
Di balik telapak tangan-tangan ghaib itu, paras wajah Mia membeku di dalam air. Matanya membelalak lebar menatap Galang dari balik kedalaman, dan dari mulut kecilnya yang terbuka kaku, merembes keluar gelembung-gelembung udara terakhir bersama lelehan lendir hitam berbau tanah basah.
"LEPASKAN ADIKKU!" jerit Galang histeris di dalam air.
Galang merogoh saku jaketnya, menggapai pisau lipat kecil yang dibawanya. Tanpa ragu, ia menyabetkan mata pisau itu ke arah lengan-lengan ghaib hitam yang mencengkeram kaki Maya.
SRET!
Suara lengkingan kaku tanpa wujud bergema di dalam air saat mata pisau Galang mengenai lengan hitam tersebut. Cairan kental kehitaman menyembur keluar, mencemari air kolam yang bening menjadi keruh dan berbau amis darah menyengat. Cengkeraman ghaib di kaki Mia mendadak terlepas seketika.
Galang merangkul tubuh Mia yang kaku, mengangkatnya secara paksa keluar dari permukaan air!
BYURRR!
Galang membaringkan tubuh Mia yang basah kuyup di atas lantai semen pinggir kolam. Anak kecil itu tak lagi bernapas. Kulit pipinya yang biasa kemerahan kini berubah menjadi pucat pasi kebiruan, dan jiwanya yang polos telah dicabut sepenuhnya dari raga.
Di leher Mia yang kecil dan halus, melingkar ruam kehitaman yang baru—berbentuk jejak cengkeraman lima jari raksasa yang membekas membiru, persis seperti ruam akar yang pernah dialami Pertiwi.
Galang berlutut di atas lantai yang basah, menekankan kedua tangannya ke dada Mia, mencoba melakukan resusitasi dengan air mata yang menyembur deras membasahi wajahnya.
"Mia ... bangun Mia! Ini Mas Galang, Mia! Bangun!" teriak Galang dengan suara yang pecah dan hati yang hancur. "Napas, Mia! Jangan tinggalkan Mas Galang!"
Air keruh berwarna kehitaman merembes keluar dari mulut kecil Mia setiap kali Galang menekan dadanya, namun tak ada denyut nadi yang kembali.
Di dalam saku celana Galang, potongan kain linen tua yang tersisa kini terbelah untuk ketiga kalinya. Sebuah garis merah tebal berbau amis darah otomatis tergores tajam di atas nama Mia Broto.
Derap langkah kaki yang teratur mendadak berdetuk halus di atas keramik basah pinggir kolam.
Galang memutar kepalanya dengan tatapan penuh dendam dan duka yang membakar.
Pak Sapta berdiri tegap di tepi kolam, memegang tongkat berkepala naganya. Pria itu mengenakan kemeja batik sutra berwarna gelap yang kering dan rapi.
Di sampingnya, Bu Retno berdiri mematung. Wanita itu memegang selembar handuk kering di tangannya, namun matanya yang redup dan kosong menatap jasad putri ketiganya tanpa emosi. Tak ada sirat keterkejutan di sana. Selain dingin dan kehampaan.
"Musibah yang sungguh tragis," ucap Pak Sapta dengan suaranya yang mengalun dingin, memamerkan raut prihatin yang teramat kaku. "Anak sekecil ini ... terpeleset dan tenggelam di kolam renang yang dangkal. Sungguh kecelakaan yang tidak terduga, bukan, Bu Retno?"
Bu Retno mengangguk lambat, bibirnya yang dipoles lipstik merah tersenyum kaku bagaikan boneka kayu.
"Iya, Pak. Mia kurang hati-hati. Padahal airnya tidak dalam."
"PEMBUNUH!" jerit Galang, berdiri menerjang Pak Sapta dengan pisau lipat yang masih menggenggam di tangannya. "KALIAN YANG MENENGGELAMKAN MIA KE DASAR KOLAM!"
Namun sebelum mata pisau Galang sanggup menyentuh dada Pak Sapta, dua pengawal berbadan tegap yang bersembunyi di balik pilar rumah merangsek maju.
Mereka mencengkeram kedua lengan Galang dari belakang, memelintir pergelangan tangannya hingga pisau lipat itu jatuh berdenting di atas keramik kolam.
Pak Sapta melangkah santai mendekati Galang, membungkuk sedikit untuk menatap mata anak angkat itu dari balik kacamata emasnya.
"Saksi mata di rumah ini hanya melihat seorang anak kecil yang tenggelam karena kecelakaan, Galang," bisik Pak Sapta dengan nada suara yang teramat kejam. "Sains dan polisi akan mencatatnya sebagai musibah murni. Tidak ada yang akan percaya pada dongeng pisaumu atau tangan-tangan hitam di dalam air sana."
Pak Sapta menyentuh bahu Bu Retno pelan.
"Panggil ambulans, Bu. Buat laporan ke warga. Dan pastikan ... pembangunan cabang di Ngawi tetap berjalan sesuai jadwal besik. Fondasi kita sekarang sudah benar-benar kokoh."
Bu Retno berbalik kaku, melangkah masuk ke dalam rumah untuk menelpon tanpa menoleh sedikit pun pada jasad anak ketiganya yang terbaring basah di lantai.
Galang berlutut di tanah, ditahan oleh dua pengawal tegap Pak Sapta. Ia menatap jasad Mia yang dingin di pinggir kolam, lalu menatap bayangan Pak Sapta yang berjalan menjauh
"BIADABBB!!!" pekik Galang.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya