Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Terlupa
Yao Tian melihat dirinya sebagai manusia. Ia bukan dewa, bukan murid Kaisar Langit, hanya seorang pemuda yang mencintai putri kerajaan bernama Lin Xiurong. Mereka bertemu di taman, bertengkar soal busur, menyelinap keluar istana, dan membuat janji yang terlalu besar untuk dua manusia muda.
Ia melihat Lin Xiurong tertawa. Tawa itu begitu berbeda dari senyum dingin Lord Devil. Ia melihat dirinya mencintai tawa itu sampai lupa bahwa istana selalu punya mata yang iri.
Lalu mimpi berubah menjadi racun. Surat palsu. Bukti yang dimanipulasi. Suara seorang pria yang berbisik bahwa Lin Xiurong mengkhianatinya demi takhta.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Tiga alam tidak pernah benar-benar adil. Surga punya aturan, Alam Bawah punya hukum, dan manusia hanya punya harapan yang sering pecah sebelum sempat tumbuh.
Yao Tian melihat dirinya percaya pada fitnah. Ia melihat amarahnya sendiri, kebodohannya sendiri, dan wajah Lin Xiurong yang hancur ketika ia menuduhnya. Ia ingin berteriak pada dirinya di masa lalu agar berhenti, tetapi ingatan tidak bisa diubah. Ia hanya bisa menonton pedang itu bergerak.
Lin Xiurong mati di pelukannya. Bukan dengan kutukan, bukan dengan dendam, tetapi dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab: mengapa kau tidak percaya padaku?
Yao Tian jatuh berlutut di dalam ingatan. Rasa sakitnya begitu besar sampai ia merasa tubuh dewanya retak dari dalam.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Di tempat seperti Alam Bawah, kebenaran jarang datang dalam bentuk terang. Ia lebih sering muncul sebagai bau darah, bekas luka, atau keheningan yang terlalu lama dipertahankan.
Di balik hujan, Yao Tian melihat sosok lain berdiri di atap istana. Pria itu mengenakan jubah gelap dengan mata seperti bara. Ia tersenyum puas saat Lin Xiurong mati. Nama itu muncul dari pecahan ingatan yang sangat tua: Mo Yan.
Mo Yan bukan sekadar manusia. Aura di tubuhnya bercampur antara langit dan neraka, seolah ia pernah menjadi dewa lalu memilih jatuh. Dialah yang menyusun surat palsu, memutar saksi, dan menanam keraguan di hati Yao Tian.
Ketika ingatan berakhir, Yao Tian kembali ke aula. Lin Xiurong masih berdiri dengan pedang di dadanya. Kali ini, ia mengingat namanya.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Lin Xiurong selalu percaya bahwa kelembutan adalah kemewahan. Namun setiap kali nama Yao Tian menyentuh pikirannya, keyakinan itu runtuh sedikit demi sedikit.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada tatapan ragu Yao Tian, tidak percaya pada belas kasihan Lin Xiurong, dan terutama tidak percaya pada cerita lama yang menyebut cinta mampu menyelamatkan seseorang. Dalam pengalamannya, cinta lebih sering menjadi tangan yang membuka pintu untuk pisau. Karena itu, ia berjanji dalam hati akan menjadi pisau yang lebih cepat.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, tetapi mungkin membutuhkan seseorang yang berani melihat kesepiannya tanpa memanfaatkannya. Harapan itu kecil, hampir bodoh, dan di Alam Bawah hal kecil sering mati lebih dulu. Namun ia tetap menjaganya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai merah.
Dan di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Benang merah yang pernah salah diikat tidak langsung putus hanya karena pemiliknya mati. Ia bersembunyi, kusut, terbakar, lalu muncul lagi pada saat paling tidak tepat. Jika Lin Xiurong dan Yao Tian benar-benar ditakdirkan bertemu, maka pertemuan itu tidak akan datang sebagai hadiah. Ia akan datang sebagai ujian yang meminta darah.
Bagi Lin Xiurong, malam itu bukan sekadar bagian dari pemerintahan atau perang. Malam itu adalah pengingat bahwa makhluk yang sudah mati berkali-kali tetap bisa dibuat takut oleh satu nama. Ia dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang dewa tanpa gemetar. Namun ketika masa lalu berjalan mendekat dengan wajah Yao Tian, seluruh kekuatan itu terasa seperti perhiasan yang tidak sanggup menutup luka.
Sementara bagi Yao Tian, Alam Bawah tidak lagi sesederhana laporan yang ia terima di langit. Ia menemukan kekejaman, benar, tetapi juga menemukan aturan, kesetiaan, rasa takut, dan jenis kasih sayang yang tidak mau disebut kasih sayang. Semakin lama ia tinggal, semakin sulit membedakan apakah ia sedang mendekati musuh atau justru mendekati bagian dari dirinya yang sengaja dikubur.