Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan Semu di Kota Dingin
Matahari sore di Kota Malang selalu punya cara tersendiri untuk memeluk siapa saja yang berjalan di bawah langitnya. Angin tipis yang berembus dari celah-celah pohon besar di sepanjang Jalan Veteran membawa hawa sejuk, memaksa beberapa mahasiswa yang baru keluar dari gerbang kampus merapatkan jaket mereka. Di salah satu sudut koridor terbuka fakultas, Fatiah Azahra Zain yang lebih akrab dipanggil Zaza berdiri dengan tenang, membetulkan letak ujung jilbab pashmina merah mudanya yang sedikit bergeser ditiup angin.
Bagi Zaza, Malang bukan sekadar kota tempatnya menuntut ilmu. Kota ini adalah saksi bagaimana ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat menjaga batasan. Sejak kecil, telinganya sudah akrab dengan nasihat sang ayah tentang menjaga kehormatan diri. "Jaga hatimu hanya untuk yang berhak, Nak. Jangan biarkan ikatan yang belum halal mengotori niatmu menuntut ilmu," begitu pesan abinya yang selalu terngiang. Di keluarganya, pacaran adalah hal yang tabu, sebuah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Zaza tumbuh menjadi gadis yang ramah, namun memiliki benteng yang kokoh dalam hal perasaan.
Namun sore itu, sebuah kebetulan di koridor kampus seolah menguji keteguhan benteng tersebut.
Sebuah skateboard meluncur agak lepas kendali di atas tegel koridor yang agak licin, berbelok tajam menjauhi jalurnya akibat roda yang tersangkut kerikil kecil. Zaza yang sedang berjalan sambil memeluk beberapa buku rujukan tebal tersentak ketika benda kayu itu berhenti tepat beberapa sentimeter di depan ujung sepatunya.
"Eh, sori, sori! Enggak apa-apa, kan?"
Sebuah suara berat terdengar setengah panik. Zaza mendongak. Seorang pemuda dengan gaya khas anak muda masa kini kaos putih dilapisi kemeja flanel longgar yang tidak dikancingkan, serta rambut hitam yang sedikit berantakan bergaya ala K-Pop look... terengah-engah mengambil skateboardnya. Langkahnya terhenti tepat di hadapan Zaza. Netra mereka sempat bertemu selama dua detik. Ada sepasang mata elang yang tajam namun menyiratkan keterkejutan di sana.
Zaza segera menundukkan pandangannya, merapatkan buku-buku di dekapan dadanya sebagai pembatas naluriah. "Iya, tidak apa-apa," jawabnya lirih, hampir berupa bisikan, lalu bergeser satu langkah ke kanan untuk melanjutkan jalan.
Pemuda itu, Ahmad Rayyan Dafril, terpaku di tempatnya berdiri. Ia terbiasa melihat gadis-gadis kampus yang akan tersenyum lebar atau setidaknya mencoba mencari perhatian saat berpapasan dengannya. Status Rayyan sebagai anak dari salah satu pengusaha properti terbesar di Malang, ditambah mobil sport yang kerap terparkir di slot eksekutif kampus, membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun, gadis di depannya ini berbeda. Begitu tenang, dingin, dan seolah menganggap keberadaan Rayyan tak lebih dari sekadar angin lalu.
"Tunggu," panggil Rayyan refleks.
Zaza menghentikan langkah tanpa berbalik, hanya sedikit memiringkan posisinya. "Ada yang tertinggal?"
"Enggak, maksudnya... gue cuma mau mastiin lo benar-benar gak kesenggol tadi. Nama gue Rayyan," ucap Rayyan, mengulurkan tangan kanan dengan kikuk. Sebuah kebiasaan pergaulan kelas atas yang selalu ia lakukan saat berkenalan dengan orang baru.
Zaza menatap sekilas tangan yang terulur itu, lalu menyatukan kedua telapak tangannya sendiri di depan dada sembari mengangguk hormat. "Saya Zaza. Permisi, saya harus segera ke halte sebelum angkutan kota terlalu penuh."
Tanpa menunggu balasan, Zaza melangkah cepat meninggalkan koridor. Meninggalkan Rayyan yang perlahan menurunkan tangannya kembali ke samping badan, menatap punggung berbalut gamis longgar itu hingga menghilang di balik tikungan taman. Ada rasa asing yang tiba-tiba berdenyut di dada Rayyan, sebuah rasa penasaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
🌜... ____ ... 🌜
Malam harinya, di sebuah rumah megah bergaya minimalis modern di kawasan perumahan elite Ijen, atmosfer meja makan terasa begitu formal. Rayyan duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruangan.
"Rayyan," suara mamanya memecah keheningan, terdengar anggun namun penuh penekanan. "Mama dengar dari tantemu, kemarin kamu terlihat jalan bareng anak gadisnya Pak Haris di kafe bawah?"
Rayyan menghela napas pendek, meletakkan sendoknya. "Cuma ketemu gak sengaja, Ma. Lagian dia cuma nanya soal tugas kuliah."
"Baguslah kalau begitu," sahut sang papa tanpa mengalihkan pandangan dari gawai di tangannya. "Papa tidak pernah melarang kamu berteman atau dekat dengan perempuan manapun di kampus. Kamu sudah dewasa. Tapi ingat satu hal, Dafril Group punya nama besar di kota ini. Jangan pernah membawa perempuan dari kalangan bawah atau keluarga sederhana ke rumah ini. Level sosial itu penting untuk masa depanmu, Rayyan. Cari yang setara."
Rayyan hanya diam, menatap sisa makanannya dengan hambar. Kalimat itu sudah ratusan kali ia dengar sejak menginjak bangku SMA. Di dunianya, hubungan antarmanusia dinilai dari angka, aset, dan status sosial. Kebebasan yang diberikan orang tuanya untuk mendekati siapa saja sebenarnya adalah kebebasan yang semu, karena tetap terkurung oleh ego kelas atas.
Entah mengapa, di tengah petuah sang papa yang berdengung di telinganya, bayangan sepasang mata teduh milik gadis pembawa buku di koridor kampus sore tadi justru melintas di benaknya. Gadis yang bahkan tidak sudi menyentuh tangannya saat berkenalan.
Sementara itu, beberapa kilometer dari kawasan Ijen, di sebuah rumah sederhana namun asri di daerah Dinoyo, Zaza baru saja menyelesaikan tadarusnya selepas magrib. Kamarnya yang kecil terasa hangat. Ia menutup mushaf Al-Qur'an dengan hati-hati, lalu mencium sampulnya sebelum menyimpannya kembali ke atas meja belajar.
"Zaza, ini ada camilan dari umi, nduk," panggil ibunya dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Zaza tersenyum lembut, melangkah mendekat. "Iya, Umi. Sini Zaza bawa masuk."
Sang umi mengusap kepala Zaza yang masih tertutup mukena dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana kuliahmu tadi? Lancar? Ingat ya, Nak, di luar sana pergaulan kota besar sangat bebas. Pintar-pintar menjaga diri dan hati. Jangan biarkan pacaran atau kedekatan yang tidak syar'i merusak berkah belajarmu."
"Insyaallah, Umi. Zaza selalu ingat pesan Abi dan Umi," jawab Zaza mantap.
Namun, begitu sang umi kembali ke dapur, Zaza duduk di tepi tempat tidurnya dengan pandangan menerawang ke arah jendela yang menampilkan rintik gerimis tipis khas Kota Malang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, bayangan wajah seorang pemuda asing—pemuda dengan skateboard dan mata elang yang menatapnya penuh rasa bersalah hadir tanpa diundang dalam benaknya.
Zaza buru-buru beristigfar, memejamkan mata erat-erat untuk mengusir bayangan itu. Ia tahu, rasa penasaran adalah celah pertama yang disukai setan untuk meruntuhkan prinsip. Di kota dingin ini, sebuah persimpangan tak terlihat baru saja terbentuk di antara dua dunia yang sama sekali berbeda.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe