Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Diding dingin yang mulai retak
Pagi harinya, matahari baru saja naik separuh langit, menyinari debu-debu jalanan yang beterbangan diterpa angin. Di Bengkel Pasir, suasana sudah riuh rendah sejak pagi. Suara ketukan besi, deru mesin, dan teriakan para mekanik terdengar bersahutan, menciptakan simfoni khas dunia oli dan baja.
Kirana sedang duduk santai di bangku panjang di depan bengkel, satu kakinya menekuk ke atas, satu tangan memegang sebotol teh manis yang sudah tinggal separuh. Penampilannya sama seperti hari-hari biasanya, khas montir kaos oblong di padukan dengan celana jeans overall panjang yang ada sobekan kecil di lutut, dan wajah cantik yang terlihat sedikit berantakan namun bersinar alami.
"Kak Kirana! Ada tamu lagi nih! Dan kali ini ... wah, parah sih!" teriak salah satu anak bengkel, pemuda kurus bernama Dimas, sambil berlari mendekat dengan mata terbelalak kaget.
Kirana mengangkat kepalanya malas, menatap Dimas dengan tatapan bingung. "Apa sih? Ada truk gandeng masuk parit lagi? Atau ada orang mau ganti oli pakai minyak goreng lagi? Cerita aja jangan dramatis gitu."
Dimas menggeleng cepat, lalu menunjuk ke arah jalan masuk bengkel, jalan tanah yang penuh lubang dan becek kalau hujan.
"Bukan Kak! Lihat deh ... itu lho, orang yang kemarin sore ngintip-ngintip di balik tumpukan ban. Dia datang lagi! Tapi ... tapi lihat penampilannya!"
Kirana memiringkan kepalanya, mengikuti arah jari telunjuk Dimas. Dan saat itu juga, botol teh manis di tangannya hampir tergelincir jatuh ke tanah.
Di jalan berdebu itu, berjalan perlahan namun penuh wibawa sesosok pria yang sangat kontras dengan sekitarnya.
Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Arjuna Adhitama.
Pagi ini dia tidak pakai jas formal tebal seperti kemarin. Tapi tetap saja ... penampilannya bikin isi dompet para montir itu ikut menjerit. Dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dongker bermerek mahal yang kancingnya rapi sampai leher, celana bahan hitam yang licin berkilau, dan sepatu kulit berwarna cokelat mengkilap yang harganya mungkin sama dengan pendapatan satu bengkel ini selama setahun. Rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya bersih dan tampan mempesona, berjalan di atas tanah berpasir itu seolah sedang berjalan di atas karpet merah istana.
Semua orang di bengkel berhenti bekerja. Palu terangkat berhenti di udara. Obeng terjatuh ke lantai. Semua mata tertuju pada sosok itu yang berjalan tenang namun jelas sekali terlihat dia menahan rasa jijik dan risih luar biasa karena debu yang menempel di sepatu mahalnya.
Arjuna berhenti tepat di depan Kirana. Dia berdiri tegak, dada dibusungkan, menatap lurus ke manik mata cokelat gadis itu dengan senyum kemenangan tipis namun arogan.
"Selamat pagi, Kepala Montir," sapanya dingin namun jelas, suaranya berat dan berwibawa.
Kirana masih diam terpaku, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. Dia mengedipkan mata dua kali, lalu menatap Arjuna dari ujung rambut yang rapi sampai ujung sepatu yang bersih bersinar.
"Eh ... Tuan Dingin? Kau ... kau ngapain ke sini lagi? Mobilmu rusak lagi? Baru dua hari kemarin diperbaiki lho, barang mahal kok rapuh banget sih," celetuk Kirana polos, langsung kembali ke gaya bicaranya yang santai dan nyelekit.
Arjuna mengeratkan rahangnya sedikit. Dia sudah menduga bakal disambut kalimat menyebalkan, tapi dia bertekad kuat. Dia menegakkan badannya lebih tegak lagi.
"Ingat kata-kataku kemarin? Kau bilang aku harus jadi asistenmu. Dan aku Arjuna Adhitama. Aku tidak pernah mengucapkan sesuatu tanpa membuktikannya. Mulai hari ini ... aku bekerja di sini. Sebagai asistenmu."
Keheningan menyelimuti bengkel itu selama tiga detik.
Lalu ...
"HAH?! Hahaha ... HAHHAHAHA!"
Kirana tertawa terbahak-bahak sampai ia harus memegang perutnya, kepalanya terlempar ke belakang, tawanya renyahnya menggema ke seisi bengkel. Dimas dan mekanik lain di belakang juga menahan tawa sambil berbisik-bisik, bingung apakah mereka sedang membuat drama lelucon atau ini kenyataan.
"Kau? Asisten aku?" Kirana berusaha berhenti tertawa, menyeka air mata tawanya di ujung mata. Dia menunjuk dada Arjuna dengan jari telunjuknya. "Dengan baju seharga rumah kontrakan ini? Dengan sepatu yang nggak boleh kena debu? Dan dengan muka sok tahu itu? Hahaha ... jangan bikin aku ketawa pagi-pagi nanti perutku bisa sakit, Tuan."
Arjuna tidak bergeming. Dia sudah siap dengan segala ejekan. Dia malah melangkah selangkah lebih dekat, menatap tajam ke arah Kirana.
"Aku serius. Dan aku sudah tandatangani perjanjian kerja sama dengan pemilik tempat ini, Pak Suryo. Dia sudah setuju. Jadi sekarang ... kau tidak bisa menolak. Kau aturanku. Kau bosku, dan aku bawahanmu. Puas?"
Kirana terdiam. Dia menoleh ke belakang, mencari sosok Pak Suryo, pemilik bengkel yang terkenal pelit dan mata duitan. Benar saja, Pak Suryo sedang bersembunyi di balik pintu kantor kecil sambil tersenyum lebar mengacungkan jempol, seolah bilang. "Terima kasih Kirana, ini pelanggan istimewa yang pernah ada!"
Kirana memutar bola matanya malas, lalu kembali menatap Arjuna yang masih berdiri gagah seperti patung hidup di tengah debu.
"Dasar tua kikir ..." gerutunya pelan. Lalu dia kembali menatap Arjuna dengan senyum jahil yang berkilat di matanya.
"Oke deh. Kalau kau memang nekat mau jadi asisten aku ... ya sudah. Tapi ingat ya, di sini nggak ada istilah 'Tuan Muda' atau apa pun. Di sini semua sama. Kalau disuruh, harus dikerjakan. Kalau dilarang, jangan dilawan. Setuju?"
Arjuna mengangguk mantap. "Setuju. Apa saja asal aku bisa buktikan kalau aku tidak kalah hebat darimu."
"Oke. Baiklah! Kalau begitu aku akan kasih kamu tugas pertama, apa kau siap?" Kirana berjalan mengelilingi Arjuna sambil bergumam pelan, lalu berhenti dan menunjuk tumpukan ban bekas yang tinggi di sudut halaman.
"Angkat semua ban itu, pindahkan ke belakang gudang, susun rapi, bersihkan debunya, lalu susun lagi berdasarkan ukurannya. Selesaikan dalam satu jam. Kalau berantakan atau ada yang kotor lagi ... kau nggak boleh istirahat sampai selesai. Ayo, kerja!" perintah Kirana santai, lalu duduk kembali di bangkunya sambil mengambil koran bekas untuk dibaca-baca.
Arjuna menatap tumpukan ban itu. Ban-ban truk besar, berat, kotor, dan berbau karet tua. Dia menatap bajunya yang rapi dan mahal. Sesaat dia ingin marah, ingin membatalkan semuanya, ingin menghancurkan tempat ini. Tapi dia melihat Kirana yang santai seolah tidak peduli, dan api tantangan di hatinya menyala makin besar.
Tunggu saja, Kirana. Aku akan buktikan aku bisa melakukan apa saja yang kau lakukan. Dan nanti kau yang akan kaget, batin Arjuna.
Dengan napas panjang, Arjuna mendekati tumpukan ban itu. Dia merentangkan lengan lebarnya, memegang pinggiran ban pertama. Begitu tangannya menyentuh karet yang berdebu dan berminyak itu ... dia langsung menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik. Wajahnya berubah jijik luar biasa.
"Kotor ..." gumamnya ngeri.
"Kau bilang mau kerja? Ayo dong, jangan manja. Ban itu nggak gigit kok, paling bikin tangan hitam aja," seru Kirana dari kejauhan tanpa menoleh, koran bekasnya masih menutupi wajah.
Arjuna mengertakkan gigi. Dia kembali memegang ban itu, kali ini lebih kuat. Dia mengangkatnya dengan tenaga penuh. Ban itu berat sekali, membuat otot lengannya menegang jelas di balik kemeja ketatnya. Dia berjalan pelan, kakinya melangkah hati-hati agar sepatunya tidak kena tanah becek, napasnya mulai terengah.
Para mekanik lain berhenti bekerja, menonton tontonan langka itu dengan mulut ternganga. Tuan Muda kaya raya, pewaris kekayaan negara, sedang mengangkat ban bekas sambil menahan napas dan wajah merah padam menahan beban.
Lima belas menit berlalu. Arjuna sudah berkeringat deras. Kemeja mahalnya mulai basah menempel di punggung. Debu dan noda hitam mulai menempel di lengan dan bahunya yang tadinya bersih. Rambut rapinya mulai berantakan kena angin dan keringat. Wajah tampannya kini bercampur keringat dan sedikit kotoran yang tidak sengaja terhapus oleh tangannya sendiri.
Kirana akhirnya menurunkan korannya. Dia menatap Arjuna yang sedang berjuang mengangkat ban terbesar, tersandung sedikit, hampir jatuh tapi berhasil menyeimbangkan diri. Ada senyum tipis yang berbeda terbit di bibirnya. Bukan senyum mengejek, tapi senyum kagum diam-diam.
"Dasar orang keras kepala. Tapi ... lumayan juga sih, tekadnya gede banget," batin Kirana.
Setelah satu jam penuh perjuangan berat, Arjuna akhirnya meletakkan ban terakhir dengan bantingan pelan. Dia berdiri diam di sana, napasnya tersengal berat, dadanya naik turun hebat. Penampilannya sudah berubah drastis dari yang datang pagi tadi. Kotor, berdebu, kemeja kusut, rambut berantakan, tapi matanya berkilat penuh kemenangan.
Dia berjalan tertatih mendekati Kirana yang masih duduk santai. Dia berdiri tegak di depan gadis itu, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang penuh noda hitam.
"Selesai ..." ucap Arjuna berat dan terengah. "Lihat ... aku selesaikan. Sempurna. Kau tidak bisa bilang aku lemah lagi."
Kirana menatapnya lama. Dari ujung kaki yang sepatunya sudah tidak mengkilap lagi, ke baju yang penuh debu, ke wajah tampan yang kini terlihat lebih nyata dan jantan karena keringat dan perjuangan.
Kirana berdiri perlahan. Dia mengangkat tangan kanannya yang kotor sedikit, lalu perlahan menyentuh pipi Arjuna yang ada noda hitam bekas debu. Jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit hangat Arjuna, membuat napas Tuan Muda itu seketika berhenti sejenak, menatap gadis itu tak berkedip.
"Benar ..." ucap Kirana pelan, suaranya berubah lembut dan dalam, sangat berbeda dari nada mengejeknya yang biasa. "Kau hebat, Tuan Dingin. Aku akui itu. Kau punya tenaga, dan kau punya tekad. Tapi ..."
Kirana menarik tangannya, lalu menyeka noda itu dan menatap jari-jarinya yang kini ikut kotor. Dia kembali tersenyum jahil.
"Masih ada seratus satu tugas lain yang lebih berat dari ini. Angkat ban itu baru pemanasan aja. Jangan senang dulu, nanti pusing. Masih sanggup lanjut?" tanyanya menantang.
Arjuna tersenyum lebar, senyum paling lebar dan tulus yang pernah Kirana lihat selama kenalan mereka. Senyum yang membuat jantung Kirana berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan.
"Seribu tugas pun aku selesaikan, Kirana. Karena aku bukan orang yang mudah menyerah. Dan ingat ... permainan ini baru saja dimulai. Dan aku janji ... kau akan jadi orang yang paling terkejut di akhir nanti."
Kirana tertawa kecil, memutar badannya kembali menuju ke dalam bengkel.
"Yah, kita lihat saja nanti ya, Asisten Baru! Nah, sekarang ayo ke sini! Bantu aku bongkar mesin motor tua itu. Hati-hati jangan sampai salah pasang baut, kalau salah satu saja hilang ... kau yang aku jadikan pengganti bautnya, sumpah!" serunya ceria sambil berjalan masuk.
Arjuna menghela napas panjang, menatap punggung gadis itu yang bergerak lincah di antara tumpukan besi. Dia menatap tangannya yang kotor penuh debu dan oli. Aroma bengkel yang tadinya dia benci, entah kenapa sekarang terasa ... hidup.
Dia tersenyum sendiri, menggelengkan kepalanya pelan.
"Gila ... aku pasti sudah gila. Tapi ... rasanya menyenangkan sekali," gumamnya pelan, lalu berlari mengejar Kirana masuk ke dalam bengkel, siap menerima perintah apa pun yang gadis itu berikan.
Di sudut hati Arjuna Adhitama, dinding dingin yang dia bangun bertahun-tahun itu, mulai retak sedikit demi sedikit. Dan penyebabnya bukan harta, bukan kuasa, melainkan seorang gadis montir tomboy yang nyeleneh, cantik, dan bebas bernama Kirana.
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️