NovelToon NovelToon
Di Balik Lavender Marriage

Di Balik Lavender Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Terlarang
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.

‎Tetapi setelah menikah, ‎Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.

Apa yang membuat Edelia bertahan? ‎Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diskusi Kontrak

Lia sudah berada di sebuah suite room dengan pemandangan kota yang indah —atau semrawut menurut Lia— bersama Ren. Setelah acara lamaran yang mendadak di pesta dansa tadi, kini dirinya terjebak berdua di kamar mewah dengan seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya —kecuali namanya saja.

Lia masih berdiri, tak jauh dari pintu kamar hotel. Dirinya tidak merasa khawatir Tuan Muda di hadapannya ini akan melakukan hal yang tidak-tidak. Dia hanya merasa tak nyaman berada dalam satu kamar bersama pria asing.

"Terimakasih sudah menerima lamaran saya," kata Ren dingin.

"Bagaimana saya bisa menolak, jika ratusan pasang mata menatap saya?" tanya Lia. Ren menaikkan kedua alisnya lalu menoleh menatap Lia.

"Jadi... sekarang hanya kita berdua," kata Ren sambil berjalan mendekat ke arah Lia. Lia reflek mundur beberapa langkah.

"Apakah Anda bersedia menikah dengan saya?" tanya Ren, dengan nada dan tatapan dingin.

Lia menatap kedua mata Ren. Ada kehampaan di dalamnya.

"Tidak," jawab Lia, singkat. Ren tersenyum kecut.

"Sayangnya dunia sudah tahu kalau Anda menerima lamaran saya," kata Ren lalu berjalan menjauhi Lia. Lia menatap punggung Ren.

"Ya. Sayangnya," kata Lia, pasrah. Ren membalikkan badannya, menatap Lia yang menatap kosong ke arahnya.

"Mau sampai kapan Anda berdiri disana?" tanya Ren.

"Sampai urusan Anda selesai," jawab Lia cepat.

"Kita tidak bisa bicara saling berjauhan," kata Ren sambil duduk di sofa ruang tamu suite room.

Lia berjalan perlahan menuju sofa tempat Ren duduk. Lia duduk di deretan sofa paling ujung, cukup jauh dari Ren. Ren menatap Lia, lalu duduk mencondongkan tubuhnya agar sedikit lebih dekat dengan Lia. Lia menatap Ren, waspada.

"Nona Edelia," panggil Ren. Lia diam.

"Saya tahu Anda tak ingin menikah dengan saya," lanjut Ren. Lia mengerutkan alisnya, bingung.

"Justru karena itu saya memilih Anda untuk menikah dengan saya," kata Ren, membuat alis Lia semakin mengerut.

"Di ballroom sana, ada banyak wanita yang dengan senang hati akan menerima lamaran Anda tanpa syarat. Kenapa harus memilih saya —yang Anda sendiri tahu— tidak berminat menikah dengan Anda?" tanya Lia heran.

"Karena..." Ren ragu-ragu. Lia menunggu.

"Karena kita akan menulis sebuah kontrak," lanjut Ren kemudian.

"Kontrak?" tanya Lia tak percaya. Ren mengangguk.

"Kalau saya memilih salah satu wanita yang ada disana, yang dengan senang hati menikah dengan saya, saya akan sulit mengajukan kontrak," jelas Ren. Alis Lia masih mengerut, bingung.

"Mari kita buat kesepakatan yang saling menguntungkan dalam pernikahan yang sama-sama tak kita inginkan ini," kata Ren sambil mengeluarkan ponselnya lalu mengusap-usap layarnya sebentar dan menyodorkannya pada Lia.

"Tuliskan hal-hal yang Anda ingin saya lakukan untuk Anda," kata Ren. Lia menatap ponsel yang disodorkan padanya lalu menerimanya.

Lia terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya jari jemarinya menari di atas layar ponsel Ren. Ren menatap Lia, berharap apa yang Lia tuliskan bukan sesuatu yang mustahil untuk dia lakukan.

Lia diam sambil menatap lama layar ponsel Ren sebelum akhirnya menyodorkan kembali ponsel itu pada Ren. Ren menerima ponselnya kembali dan membaca apa yang sudah Lia tulis. Ren menaikkan kedua alisnya sedikit.

"Hanya ini?" tanya Ren pada Lia. Lia mengangguk.

"Tidak boleh ada kontak fisik kecuali dalam keadaan darurat dan dibutuhkan. Itu saja?" baca Ren lalu memastikannya sekali lagi pada Lia. Lia mengangguk lagi.

Ren menatap wanita di depannya dengan penuh rasa penasaran. Wanita lain selalu memandang Ren sebagai mangsa yang menggiurkan —tuan muda, kaya raya, pewaris tunggal. Tapi, wanita di hadapannya sama sekali tak tergiur oleh semua itu.

"Anda sudah punya kekasih?" tanya Ren pada Lia sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

"Hah?!"

Ren menatap Lia yang terkejut dengan pertanyaannya.

"Saya rasa belum," kata Ren sambil kembali mengetik di ponselnya.

Lia terdiam. Posisinya sebagai anak pertama dan seorang wanita sekaligus membuatnya tidak bisa sembarang memilih pasangan. Meskipun tak sedikit pria yang mendekatinya, Lia tetap memiliki standar tersendiri —tidak harus kaya, paling tidak dari keluarga berada dan memiliki pekerjaan, tidak harus tampan, paling tidak enak dipandang.

"Kalau begitu, itu akan lebih memudahkan kita," kata Ren sambil menyodorkan ponselnya. Lia menerima ponsel Ren dan membaca apa yang dia tulis di bawah kalimatnya.

"Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing?" tanya Lia, bingung.

"Anda bebas melakukan apapun. Begitu pula dengan saya. Misalnya, saya tidak akan mencampuri kehidupan percintaan Anda, jika Anda memiliki kekasih," kata Ren sambil mengalihkan pandangannya dari Lia.

"Hah?! Tunggu. Anda sudah punya kekasih? Kenapa tidak menikah saja dengannya?" tanya Lia heran. Ren menoleh, menatap Lia.

"Seharusnya, Nona Muda seperti Anda sudah paham mengapa saya tidak bisa memilih orang yang saya cintai untuk hidup bersama," kata Ren, dingin.

Lagi-lagi, Lia terdiam. Ya. Keluarga Lia yang tak sekaya keluarga Ren saja tidak akan membiarkan Lia sembarang memilih pasangan, apalagi Keluarga Damaris yang sudah sangat terkenal di seantero negeri.

"Sudah. Saya rasa cukup. Jika ada yang perlu ditambahkan kita bisa menambahkannya nanti," kata Ren sambil mengambil ponselnya yang masih berada di genggaman Lia yang longgar. Lia tersadar dari lamunannya saat ujung jari Ren sedikit menyenggol jarinya.

"Bisa Anda kirimkan ke saya?" tanya Lia sambil sibuk mengusap layar ponselnya. Ren menoleh. Lia menatapnya.

"Akan mencurigakan jika pasangan suami isteri tidak memiliki nomor telepon satu sama lain," kata Lia.

Ren menghela napas panjang, lalu memberikan ponselnya pada Lia. Lia segera mengirim catatan kecil tadi ke nomor ponselnya lewat aplikasi chat.

"Terimakasih," kata Lia sambil mengembalikan ponsel Ren.

Ren menerima ponselnya dan menatap layarnya. Ada sebuah nomor baru di obrolan aplikasi chatnya.

"Bolehkah saya keluar dari sini?" tanya Lia, sedikit tidak sabar.

"Tolong tunggu di depan pintu. Kita akan ke ballroom bersama-sama," kata Ren datar, masih sambil menatap ponselnya. Lia menghela napas dan keluar dari kamar mewah itu.

Ren menatap lama nomor telepon Lia di layar ponselnya kemudian menyematkan nama disana.

"Lavendra. Nama yang indah," gumam Ren lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya dan berjalan keluar.

Diluar kamar, Lia juga sedang sibuk memberi nama pada nomor telepon Ren.

"Hmmm... Tuan Muda Ren. Terlalu formal. Ren Damaris. Kek rekan bisnis aja. Calon suami. Iyuh! No! Nggak-nggak. Hmmm... Tuan Muda Es Batu. Oke. Lebih baik," gumam Lia.

"Cekrek," pintu kamar terbuka, menampakkan Ren dengan wajah dinginnya.

Lia dengan sedikit terkejut memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang dibawanya.

"Mari," ajak Ren sambil menawarkan lengannya.

"Ini dibutuhkan. Kita harus berperan di depan umum," kata Ren. Nadanya tetap dingin.

"Bener juga. Akan sangat mencurigakan kalau Anda —yang tiba-tiba melamar saya— tidak terlihat jatuh cinta pada saya," celetuk Lia, asal.

Ren menatap Lia yang sudah memasang senyum bahagia. Ren merasa tidak salah memilih partner kali ini. Namun, ada sesuatu yang berat dalam hati Ren.

'Cepat atau lambat, dia akan tahu kebenarannya,'

***

1
Nanaiko
dari awal aku slalu membayangkan visualisasi Tuan Ren ini adalah Byon woo soek pemeran utama pria di drakor Perfect Crown🤭
Purnamanisa: untuk visualisasi, author serahkan pada imajinasi reader yang budiman 😁😁
total 1 replies
Vivi Zenidar
Good Lia
Vivi Zenidar
semoga Ren sadar.. dia jatuh cinta je Lia
Vivi Zenidar
cerita menarik.... semoga akan banyak yg membaca
Purnamanisa: terimakasih kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
sabar.. tunggu kelanjutannya besok sore.. sabar..
Nanaiko
Kek lagu Bang Iwan yee Bund😅
Purnamanisa: ide 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
zaa ampuun🙈🙈
Nanaiko
tuh kan.. kalau baca cuma 2 episode itu kurang😅
Purnamanisa: update tiap hari kak 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
nah lho..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!