Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dad Always Dad
Malam pertunangan kerajaan akhirnya tiba.
Mansion pribadi Noah jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Langkah para pelayan terdengar silih berganti memenuhi koridor sejak pagi. Beberapa membawa rangkaian bunga, dokumen acara, hingga kotak-kotak perhiasan yang terus berdatangan dari istana.
Seluruh mansion terasa hidup dalam kesibukan besar yang nyaris tidak berhenti sejak beberapa hari. Meninggalkan kesunyian yang telah berlangsung cukup lama.
Di sisi lain mansion, Lilly tengah berdiri diam di depan cermin besar.
Gaun pertunangannya telah dirombak sepenuhnya setelah fitting terakhir beberapa hari lalu.
Champagne keemasan dengan lapisan tulle lembut yang membingkai bagian dada, bahu dan lengannya.
Elegan.
Namun tetap terasa lembut.
Lebih sopan.
Dan terasa seperti Lilly.
Rambut panjang Lilly dibiarkan tergerai dengan headpiece perak yang terpasang samar di antara helaian rambutnya.
Riasan di wajahnya tidak dibuat berlebihan.
Hanya cukup untuk menonjolkan mata hazelnya yang tenang malam itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak seluruh persiapan pertunangan dimulai—
Lilly tidak lagi merasa seperti seseorang yang sedang dipaksa menjadi orang lain.
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Madam Elish masuk dengan tatapan tajam yang sulit di tebak.
Seperti biasa.
Pandangannya langsung jatuh pada Lilly yang berdiri di depan cermin.
Untuk sesaat, ia hanya memperhatikan penampilan gadis itu dalam diam.
Gaun champagne keemasan itu kini benar-benar terasa pantas membalut tubuh Lilly.
Anggun.
Tenang.
Dan cukup untuk membuat siapa pun percaya bahwa gadis di hadapan mereka memang ditakdirkan berdiri di sisi Putra Mahkota.
Madam Elish akhirnya melangkah mendekat.
"Mulai malam ini, Lady Lillyane..."
Suara wanita itu terdengar rendah dan tegas.
"Anda bukan lagi murid yang sedang mempelajari etiket kerajaan."
Lilly perlahan mengangkat pandangannya.
Madam Elish menatapnya lurus.
"Mulai malam ini, Anda harus sepenuhnya menjelma menjadi bangsawan."
Madam Elish melangkah mendekat sebelum membenahi beberapa bagian gaun Lilly yang masih terlihat kurang rapi.
Jemarinya merapikan jatuh kain tulle di bahu gadis itu dengan gerakan tenang dan presisi.
"Apapun yang ada di depan setelah ini..."
Suara wanita itu tetap terdengar datar.
"Anda harus menghadapinya dengan pengendalian diri yang baik, Lady."
Madam Elish memperhatikan Lilly beberapa saat sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Para bangsawan di luar sana mungkin sedang tersenyum sembari mengharapkan kejatuhan Anda."
Tatapan wanita itu tetap tajam.
Tanpa ada emosi yang diperlukan.
"Namun Anda harus tetap berdiri bahkan jika kaki Anda patah, Lady."
Keheningan tipis jatuh di antara mereka.
Lilly memandang pantulan dirinya sendiri dalam cermin besar itu cukup lama.
Lalu perlahan—
gadis itu tersenyum.
Elegan.
Dan sempurna seperti yang selama ini diajarkan Madam Elish.
"Seperti yang kau ajarkan, Madam."
Untuk pertama kalinya, Madam Elish terlihat benar-benar puas.
Senyum tipisnya penuh arti.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu terdengar memecah suasana.
"Lady Lillyane."
Suara Ruth terdengar dari balik pintu.
"Pesta pertunangan akan segera dimulai."
Dengan senyum hangat yang masih terpasang sempurna di wajahnya, Lilly perlahan menerima tangan Madam Elish yang terulur padanya.
Wanita itu membimbing Lilly melangkah keluar dari ruang fitting.
Pintu besar perlahan terbuka.
Dan seketika—
suara musik orkestra memenuhi udara.
Riuh percakapan para bangsawan terdengar samar dari aula utama mansion yang kini dipenuhi cahaya chandelier keemasan.
Langkah Lilly perlahan terhenti sesaat di ujung koridor besar itu.
Untuk beberapa detik, gadis itu hanya memandangi dunia megah yang kini terbentang di hadapannya.
Dunia yang sebelumnya terasa begitu jauh darinya.
Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya.
Madam Elish menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Jangan berhenti berjalan, Lady."
Lilly menarik napas perlahan.
Lalu dengan senyum tenang yang masih terjaga sempurna, ia kembali melangkah maju.
Dan malam itu—
Lady Lillyane resmi memasuki dunia para bangsawan.
Aula utama mansion malam itu jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Meski pesta pertunangan itu bersifat private, para bangsawan yang hadir tetap berasal dari keluarga-keluarga paling berpengaruh di kerajaan.
Bangsawan tua lebih banyak ditemui. Karena mereka dianggap tetua dan pemegang arah politik yang jelas.
Satu yang Lilly senangi, tak ada wartawan yang membawa kamera dan alat perekam itu
Musik orkestra mengalun lembut memenuhi ruangan sementara cahaya chandelier besar memantul di antara gelas-gelas kristal dan lantai marmer yang berkilau.
Begitu Lilly memasuki aula, beberapa percakapan perlahan mereda.
Tatapan para bangsawan mulai beralih padanya.
Menilai.
Mengamati.
Dan diam-diam membandingkan.
Namun perhatian terbesar malam itu tetap tertuju pada satu orang.
Noah d'Victoriam.
Pangeran Mahkota Kerajaan Vardoria.
Pria itu berdiri di tengah aula dengan aura tenang yang tetap mendominasi ruangan tanpa perlu banyak bicara.
Wajah yang sama, tak pernah mampu ditebak.
Setelan hitam dengan aksen champagne keemasan di bagian rompinya tampak hampir senada dengan gaun Lilly malam itu. Emblem lambang kerajaan tersemat di dada kirinya.
Seolah tanpa perlu diumumkan sekalipun, seluruh orang di aula itu telah mengetahui siapa yang akan berdiri di sisi Putra Mahkota mulai malam ini.
Acara pertunangan akhirnya dimulai.
Suara pembawa acara menggema tenang di seluruh aula mansion sementara musik orkestra perlahan merendah, memberi ruang pada prosesi resmi keluarga kerajaan malam itu.
Seluruh perhatian kini tertuju pada Noah dan Lilly yang berdiri berdampingan di tengah aula besar.
Mereka tampak serasi.
Seperti pasangan yang benar-benar saling jatuh cinta.
Lampu chandelier memantulkan cahaya lembut pada cincin pertunangan yang berada di atas bantalan beludru hitam.
Semuanya terlihat sempurna.
Elegan.
Dan pantas menjadi pertunangan Putra Mahkota kerajaan.
Namun di balik seluruh kemewahan itu—
tatapan para bangsawan yang hadir terasa jauh lebih dingin dibanding cahaya malam itu.
Mereka diam.
Tetap tersenyum.
Tetap menjaga etika dengan sempurna.
Namun mata mereka terus mengawasi Lilly tanpa jeda.
Menilai setiap gerakan kecilnya.
Cara berdirinya.
Cara bernapasnya.
Cara gadis itu menggenggam tangannya sendiri di balik gaun champagne keemasan itu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Lilly benar-benar memahami satu hal—
di dunia bangsawan, senyum terkadang jauh lebih kejam dibanding hinaan terang-terangan.
Tak lama setelah prosesi pertukaran cincin selesai, suasana aula perlahan kembali dipenuhi musik dan percakapan para bangsawan.
Suara orkestra kembali mengalun lembut memenuhi udara sementara para bangsawan mulai bergerak memenuhi aula dengan gelas-gelas kristal di tangan mereka.
Suara riuh memenuhi aula mansion. Keheningan dan ketenangan yang biasanya telah hilang sepenuhnya
Hanya untuk malam ini.
Pesta pertunangan resmi dimulai.
Noah dan Lilly segera menjadi pusat perhatian malam itu.
Beberapa bangsawan mulai mendekat satu per satu.
Memberikan ucapan selamat.
Pujian.
Dan senyum sopan yang terasa terlalu sempurna.
"Yang Mulia dan Lady Lillyane terlihat sangat serasi malam ini."
Seorang bangsawan tua tersenyum ramah saat mengatakan itu.
Namun Noah tahu,
Ucapan itu hanyalah bagian dari etiket yang telah terlalu lama hidup dalam kepalsuan.
Pria itu hanya membalas dengan senyum tipis yang nyaris sulit diartikan.
Di sisinya, Lilly melakukan hal yang sama.
Senyum tenang yang telah diajarkan Madam Elish tetap terpasang sempurna di wajahnya.
Meski perlahan mulai terasa melelahkan.
Tatapan Lilly perlahan beredar ke seluruh aula besar itu.
Chandelier.
Gaun-gaun mewah.
Perhiasan mahal.
Dan wajah-wajah bangsawan yang terus memperhatikannya diam-diam.
Hingga akhirnya—
tatapannya berhenti pada satu sosok yang berdiri cukup jauh di sudut aula.
Billy Jones.
Pria itu mengenakan pakaian formal sederhana yang tampak begitu berbeda dibanding para bangsawan di sekelilingnya.
Untuk sesaat, Lilly merasa seperti sedang melihat seseorang dari dunia yang sama sekali berbeda.
Dan anehnya—
di tengah seluruh kemewahan malam itu, sosok ayahnya justru terasa paling ia kenali sepenuhnya.
Lilly perlahan meminta izin meninggalkan para bangsawan yang terus mengelilinginya sebelum berjalan menuju sudut aula tempat ayahnya berada.
Semakin dekat langkahnya, semakin jelas kecanggungan pria itu terlihat di tengah pesta malam itu.
Billy Jones berdiri kaku sambil menggenggam gelas kristal berisi wine di tangannya terlalu erat.
Tatapannya sesekali beralih gugup pada para bangsawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Bahkan ketika salah satu bangsawan sempat menyapanya beberapa saat lalu, pria itu terlihat bingung harus membungkuk atau menjabat tangan terlebih dahulu.
Dan itu cukup membuat dada Lilly terasa sesak samar.
"Ayah."
Billy langsung menoleh cepat begitu mendengar suara putrinya.
Wajah pria itu perlahan melunak.
"Lilly..."
Untuk sesaat, Lilly merasa jauh lebih tenang hanya karena melihat ekspresi ayahnya yang familiar di tengah aula besar yang terasa asing itu.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena semakin Lilly memperhatikan—semakin jelas terlihat bahwa ayahnya sama sekali tidak cocok berada di dunia asing ini.
Pakaian formal sederhana yang dikenakannya terasa terlalu biasa dibanding jas-jubah mahal para bangsawan di sekeliling mereka.
Gerak tubuhnya tampak kaku.
Dan pria itu bahkan terlihat berhati-hati hanya untuk berdiri di tempatnya sendiri.
Seolah takut melakukan kesalahan kecil yang bisa membuat dirinya terlihat memalukan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Lilly benar-benar memahami satu hal—
bukan hanya dirinya yang sedang berusaha bertahan di dunia ini.
Billy merapikan anak rambut Lilly yang jatuh di bahu. Membenarkan sarung tangan yang hampir melorot.
Namun gerakannya terhenti.
Menyadari sosok di depannya bukan lagi putri semata wayangnya. Ia adalah calon Putri Mahkota.
"Apakah Ayah baik-baik saja?"
Lilly bertanya pelan sambil memperhatikan wajah pria itu lebih saksama.
Billy segera mengangguk.
"Ayah baik-baik saja."
Namun Lilly tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Pria itu tetap berdiri terlalu kaku.
Bahkan senyum kecil yang ia tunjukkan terlihat dipaksakan demi membuat putrinya tenang.
Lilly menurunkan suaranya sedikit.
"Kalau Ayah merasa tidak nyaman... kita bisa pergi ke tempat yang lebih tenang."
Untuk sesaat, Billy terlihat diam.
Tatapannya perlahan beralih pada aula besar yang dipenuhi para bangsawan itu.
Lalu pria itu menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
"Kau adalah bintang utama malam ini, Lilly."
Tatapan pria itu perlahan jatuh pada gaun champagne keemasan yang membalut tubuh Lilly malam itu.
Headpiece perak di rambut panjangnya.
Dan senyum tenang yang kini jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali ia melihat gadis itu.
Billy menyadari, putrinya bukan lagi anak yang dibesarkannya.
"Ayah senang melihatmu lagi."
Suara pria itu terdengar pelan di tengah riuh aula.
Lilly sedikit terdiam.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka benar-benar berbicara seperti ini.
Billy tersenyum kecil.
"Kau terlihat cantik malam ini."
Tatapan Lilly perlahan melembut.
Namun ayahnya kembali melanjutkan sebelum gadis itu sempat menjawab.
"Dan... lebih sehat."
Satu kalimat sederhana itu justru membuat Lilly membeku sesaat.
Karena di tengah seluruh bangsawan yang malam ini hanya memperhatikan:
- gaunnya,
- statusnya,
- dan kelayakannya menjadi calon Putri Mahkota—ayahnya justru hanya peduli apakah dirinya baik-baik saja atau tidak.
Sebelum percakapan mereka berlanjut, langkah seseorang perlahan mendekat dari sisi aula.
Noah.
Kehadiran pria itu langsung menarik perhatian beberapa bangsawan di sekitar mereka.
Billy tampak sedikit terkejut sebelum buru-buru meluruskan tubuhnya.
"Hormat saya, Yang Mulia—"
Pria itu tampak hendak membungkukkan tubuhnya lebih dalam.
Namun Noah menghentikannya lebih dulu.
"Tidak perlu."
Suara Noah terdengar tenang seperti biasa.
Gerakannya sederhana.
Hanya sedikit mengangkat tangan seolah menahan Billy untuk tidak terlalu formal.
Namun justru itu yang membuat pria paruh baya tersebut tampak semakin canggung sesaat.
Noah mengalihkan tatapannya singkat pada aula besar di sekitar mereka sebelum kembali berkata,
"Acara malam ini sudah cukup melelahkan tanpa perlu formalitas tambahan."
Untuk pertama kalinya sejak datang ke pesta itu, Billy terlihat sedikit lebih santai. Hanya karena mendengar ucapan Noah.
Noah berdiri di sisi Lilly sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya pada Billy Jones.
"Apa kabar Anda malam ini?"
Billy tampak sedikit kaku sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Saya baik, Yang Mulia."
Noah melirik meja panjang penuh hidangan di sisi aula.
"Apakah makanannya sudah dicicipi?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Billy tampak sedikit lebih santai dibanding sebelumnya.
"Oh, sudah."
Pria itu terkekeh kecil pelan.
"Rasanya enak."
Ia berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan dengan kejujuran yang nyaris terlalu polos untuk pesta sebesar itu.
"Hanya saja ada beberapa yang tidak terlalu sesuai dengan selera saya."
"Anda terlalu jujur, Tuan"
Suara Noah terdengar tenang dengan nada samar yang nyaris terdengar seperti candaan halus.
Billy tertawa kecil pelan.
"Terima kasih telah mengundang saya, Yang Mulia."
Noah tersenyum.
Pria itu melirik ke arah Lillyane yang berdiri tegap dengan senyum sempurna di sampingnya.
"Kehadiran Anda sangat penting bagi Lady Lillyane."
Dan untuk pertama kalinya malam itu, pria paruh baya tersebut mulai merasa sedikit lebih nyaman berada di dekat Putra Mahkota.
Noah tidak terasa seperti para bangsawan lain yang terus berbicara dengan lapisan formalitas berlebihan.
Percakapan singkat itu terasa jauh lebih manusiawi dibanding sebagian besar interaksi yang Billy alami sepanjang ia memasuki aula pesta.
Namun tak lama kemudian, tatapan Billy beralih pada salah satu pria yang baru memasuki aula dari sisi lain.
Seorang menteri dari kementerian tempatnya bekerja.
Billy segera meluruskan tubuhnya perlahan.
"Saya rasa saya harus pergi sebentar."
Tatapannya bergantian pada Lilly dan Noah.
"Saya tidak ingin mengganggu malam pertunangan kalian terlalu lama."
Lilly tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun Billy hanya tersenyum kecil menenangkan putrinya sebelum akhirnya mundur perlahan dari sana.
Lilly memandangi ayahnya yang perlahan berjalan menjauh di tengah keramaian aula.
Billy Jones memang bukan bagian dari dunia bangsawan yang terlalu sulit dijangkau ini.
Ia hanyalah pria desa biasa dari Gardenia yang berusaha bertahan di antara orang-orang yang sejak lahir telah terbiasa hidup dalam kemewahan dan etiket bangsawan.
Namun setidaknya—
ayahnya tetap mencoba berbaur sebaik mungkin.
Tetap tersenyum.
Tetap berbicara sopan.
Dan tetap berdiri tegak meski jelas terlihat tidak nyaman berada di sana.
Dan justru itu yang membuat dada Lilly terasa semakin sesak.
Karena ia tahu—
berusaha diterima di dunia seperti ini jauh lebih sulit bagi orang-orang seperti mereka.
Lilly mulai memahami satu hal—bertahan di dunia bangsawan mungkin tidak hanya mengubah dirinya saja.
Tapi juga orang-orang sekitarnya.
*****