GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Simulasi Palagan Pertama
Matahari pagi hari berikutnya kembali memanaskan pelataran tanah liat kering di kompleks barak pelatihan Barat. Dua ratus calon Tamtama yang kini telah resmi mengenakan tanda pengenal tembaga di dada mereka berdiri dalam formasi barisan yang kaku. Kulit mereka yang legam terbakar matahari tampak mengilap oleh keringat baru yang mulai bercucuran, meski latihan hari ini belum genap berjalan separuh putaran bumbung bambu.
Mada berdiri di barisan paling belakang regunya di dalam kelompok barak hunian nomor empat. Tangan kirinya memegang erat sebuah perisai anyaman bambu berlapis kulit yang terasa berat bagi para pemuda biasa, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah tombak kayu latihan dengan ujung tumpul berlapis kain tebal. Postur tubuh jangkungnya sengaja dibuat agak merosot ke bawah, dengan pandangan mata yang terus menatap lurus ke arah tumit kaki Jaka Wulung di depannya, menampilkan sosok prajurit nomor nol empat puluh tujuh yang patuh dan tidak menonjol.
Di depan barisan, tiga orang bintara instruktur senior bertubuh raksasa melangkah maju sambil membawa beberapa bilah bendera kain berwarna hitam dan merah. Mereka menghentakkan pangkal tombak mereka ke tanah secara bersamaan, menciptakan suara dentuman yang membuat seluruh calon prajurit langsung menegakkan punggung mereka.
"Dengarkan seluruh tikus tanah!" teriak salah seorang instruktur dengan suara parau yang melengking. "Kalian telah melewati ujian senjata perorangan kemarin, namun di medan perang nyata, seorang ksatria yang hebat sekalipun akan mati tercabik-cabik jika dia bertarung sendirian tanpa memedulikan barisan kelompoknya! Hari ini, kita memasuki babak ujian yang jauh lebih rumit: Simulasi Palagan Pertama!"
Instruktur tersebut melambaikan bendera hitam di tangan kanannya, menunjuk ke arah barisan perisai kayu raksasa yang telah ditancapkan berjejer rapat di ujung seberang lapangan, dijaga oleh lima orang prajurit senior yang mengenakan zirah kulit lembu tebal. Dinding perisai itu tampak sangat kokoh, tanpa celah, dan memancarkan tekanan pertahanan yang sangat menakutkan bagi para pemuda baru.
"Tugas kalian sangat sederhana namun membutuhkan otak!" lanjut sang instruktur. "Kami telah membagi kalian menjadi tim-tim kecil yang masing-masing berisikan lima orang. Tugas setiap kelompok adalah melakukan simulasi taktis tempur: bagaimana cara menembus dan menghancurkan barisan pertahanan berlapis dari dinding perisai besar di ujung lapangan sana! Siapa pun kelompok yang berhasil memukul mundur para instruktur penjaga dalam batas waktu lima puluh hitungan napas, mereka dinyatakan lulus! Jika gagal, kalian tahu sendiri akibatnya!"
Proses pengundian acak segera dimulai. Setiap kelompok maju berdasarkan nomor urut yang diambil dari kotak bambu. Di sinilah letak ketidakadilan sistem militer yang mulai terlihat jelas di mata Mada. Kelompok-kelompok yang diisi oleh pemuda-pemuda berotot besar dari kota kebanyakan gagal total karena mereka mencoba menembus pertahanan perisai tersebut dengan cara menerjang lurus ke depan menggunakan kekuatan otot kasar mereka. Akibatnya, tubuh mereka justru digencet, dipukul mundur, dan dijatuhkan dengan sangat mudah oleh dinding perisai kayu para instruktur senior yang sudah berpengalaman dalam menjaga formasi rapat.
Ketika giliran kelompok Mada tiba, bintara pencatat meneriakkan lima nomor urut. Melalui pengundian acak tersebut, kelompok Mada diisi oleh empat orang pemuda desa yang bertubuh kecil, kurus, dan sudah tampak sangat kelelahan serta putus asa setelah melihat kegagalan kelompok-kelompok sebelum mereka. Salah satu dari mereka bahkan memiliki kaki yang sedikit gemetar karena sisa kram dari hukuman seratus ember fajar kemarin.
Saat tim mereka diperintahkan untuk berkumpul di balik barisan semak tiruan di tepi lapangan guna menyusun rencana sebelum peluit dimulai, keempat pemuda desa itu langsung terduduk lesu di atas tanah liat dengan wajah yang pucat pasi. Mereka memandangi dinding perisai raksasa di ujung lapangan dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa putus asa yang mendalam.
"Kita tidak akan pernah bisa menembus dinding perisai itu," bisik salah seorang anggota tim yang bertubuh kurus dengan suara yang hampir menangis karena ketakutan. "Tubuh para instruktur senior itu terlalu besar, dan pertahanan perisai mereka sama sekali tidak memiliki celah untuk dimasuki. Kita pasti akan gagal dan nama kita akan dicoret dari barak pelatihan ini."
Mada yang sejak tadi hanya diam mendengarkan sambil membersihkan debu di ujung tombak kayunya, perlahan menggeser posisi duduk jangkungnya mendekati keempat rekan satu timnya. Ia merendahkan posisi kepalanya, memastikan gerakannya terlihat wajar dan tidak memicu perhatian dari menara pengawas tengah tempat Senopati Kudamerta mungkin sedang mengintai.
Ketika ia berada di tengah lingkaran kecil mereka, Mada mulai berbicara dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan, namun memiliki tekanan intonasi yang begitu padat, mantap, dan penuh dengan keyakinan yang perlahan menenangkan batin para pemuda yang sedang panik tersebut.
"Dengarkan aku dengan saksama jika kalian semua masih ingin memakai seragam merah prajurit Majapahit dan mengirimkan upah ke desa," ucap Mada, membuat keempat pemuda desa itu mendadak mendongak, merasa ditarik oleh kewibawaan tersembunyi yang memancar dari suara pemuda jangkung ini. "Kita tidak akan pernah bisa menang jika kita menerjang lurus seperti kelompok-kelompok bodoh bertubuh besar sebelum kita. Kita harus menggunakan otak kita untuk membuat mereka bergerak keluar dari formasi rapat mereka."
Mada mengambil sebatang ranting kecil yang patah di dekat kakinya, lalu mulai menggambar pola gerakan berupa tiga garis lengkung di atas tanah liat kering di hadapan mereka.
"Para instruktur senior itu adalah petarung yang jemawa," kata Mada sambil menunjuk gambar garis tengah di tanah. "Begitu simulasi dimulai, dua orang dari kalian yang memiliki gerakan paling lincah harus berlari lurus ke depan di jalur tengah. Pukulkan tombak kalian ke perisai mereka dengan keras, buat suara keributan yang besar, lalu segera putar tubuh kalian dan berlarilah mundur dengan cepat seolah-olah kalian ketakutan dan kehilangan nyali."
Keempat pemuda desa itu menyimak dengan mata yang tidak berkedip, terpesona oleh kejelasan taktik yang dijabarkan oleh Mada.
"Sesuai dengan insting dasar seorang prajurit yang merasa berada di atas angin, begitu mereka melihat dua orang dari kita mundur dalam kondisi panik berantakan, mereka pasti akan terpancing untuk melangkah maju ke depan guna mengejar dan menekan kita lebih dalam. Pada detik itulah formasi rapat dari dinding perisai kayu mereka akan renggang dan menciptakan celah kosong yang buta di bagian lambung samping kiri dan kanan. Begitu celah itu muncul, aku dan dua orang sisanya yang sudah bersembunyi di balik semak samping akan langsung melesat masuk dari arah lambung untuk memukul titik mati di belakang perisai mereka. Ingat, jangan ragu sedikit pun. Begitu aku memberi isyarat bergerak, kalian harus langsung mengunci target kalian masing-masing."
Mendengar penjelasan taktis yang begitu rapi, terstruktur, dan sangat masuk akal tersebut, mata keempat pemuda desa itu yang awalnya redup dan penuh keputusasaan kini kembali memancarkan binar harapan yang menyala sangat terang. Rasa cemas yang sempat mengunci urat raga mereka seolah menguap begitu saja dalam sekejap, digantikan oleh rasa percaya diri yang besar setelah mendengarkan komando dari Mada yang terasa seperti perintah langsung dari seorang panglima perang sejati di tengah medan palagan.
Gong!
Suara ketukan gong perunggu penanda simulasi kelompok Mada dimulai berdentang dengan sangat keras membelah udara siang.
Siasat jepitan lambung yang dirancang secara diam-diam oleh Mada berjalan dengan tingkat keberhasilan yang sangat sempurna di lapangan. Begitu peluit ditiup, dua pemuda desa yang bertindak sebagai umpan di bagian tengah segera berlari maju sambil berteriak kasar, memukulkan tombak kayu mereka ke dinding perisai instruktur senior dengan suara prak yang nyaring. Sesuai rencana, setelah hantaman pertama, mereka langsung memutar tubuh mereka dan berlari mundur dengan wajah yang dibuat panik berantakan seolah-olah kehilangan seluruh keberanian mereka.
Lima instruktur senior yang menjaga garis pertahanan langsung terpancing oleh mundurnya umpan tersebut. Sifat jemawa mereka membuat mereka melangkah maju secara bersamaan untuk mengejar, menyebabkan dinding perisai yang awalnya rapat menjadi renggang dan menciptakan celah buta selebar satu depa di bagian lambung samping.
Tepat pada momen yang sangat krusial itu, Mada memberikan isyarat lambaian tangan yang halus kepada dua rekan di sampingnya. Dengan memanfaatkan kecepatan murni dari kepadatan otot kakinya tanpa meledakkan hawa murni emas Khodam Batara Niti Mandala miliknya, Mada melesat keluar dari balik semak lambung kanan dengan gerakan yang sangat cepat namun terlihat natural.
Sebelum instruktur sayap kanan menyadari adanya bahaya yang mengancam dari arah samping, Mada sudah berada di titik buta di belakang perisainya. Dengan satu ayunan gagang tombak kayunya yang sangat terukur dan efisien, Mada menyapu bagian belakang lutut dua prajurit senior penjaga perisai tersebut. Sapuan itu begitu presisi hingga membuat kedua instruktur bertubuh raksasa itu kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan terjungkal jatuh ke atas tanah liat kering dengan suara debuk yang keras.
Di sisi seberang, dua rekan kelompok Mada yang masuk dari lambung kiri berhasil menyelesaikan sisa instruktur senior yang sudah kehilangan formasi pertahanan rapat mereka. Hanya dalam waktu tidak lebih dari dua puluh hitungan napas setelah gong dimulai, tim Mada yang awalnya dianggap paling lemah oleh seluruh penonton justru berhasil memenangkan simulasi taktis kelompok tersebut dengan kemenangan mutlak, tanpa ada satu pun anggota mereka yang menerima cedera sedikit pun.
Sorak-sorai riuh rendah dan tepuk tangan penuh kekaguman langsung pecah dari arah para perwira menengah dan peserta lain di tepi lapangan luar. Namun, Mada tetap mempertahankan sandiwara raganya dengan sangat konsisten. Ia segera menurunkan tombak kayunya, menjatuhkan tubuh jangkungnya berlutut di atas tanah liat sambil mengatur napasnya agar terdengar terengah-engah dengan hebat, membiarkan wajahnya dipenuhi debu seolah-olah kemenangan besar timnya tadi hanyalah sebuah kebetulan yang beruntung dari kerja sama kelompok yang tanpa sengaja berhasil memanfaatkan kelengahan sesaat dari para instruktur senior.
Di tepi lapangan, beberapa perwira menengah mulai berbisik-bisik sambil melihat ke arah papan catatan milik bintara. Mereka mulai heran dan kagum terhadap kemampuan berpikir strategis yang ditunjukkan oleh kelompok nomor nol empat puluh tents tersebut.
(Biarkan mereka mengira ini hanyalah sebuah keberuntungan kelompok desa yang nekat. Yang terpenting adalah rahasia strategi Supit Urang ini tersampaikan dengan aman kepada rekan-rekan reguku, membentuk fondasi kesetiaan awal di antara sesama prajurit bawah tanpa perlu memicu kecurigaan dari pihak luar.)
Mada perlahan bangkit berdiri, membantu memungut perisai bambu rekannya yang terjatuh sambil terus memasang senyum polosnya, menyembunyikan kejeniusan sang harimau muda di balik debu lapangan Trowulan.