Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tanpa Ruang
Dua puluh tahun berlalu dalam pengasingan terselubung yang tertata rapi. Di usianya yang kini menginjak 25 tahun, Kirana akhirnya menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas bergengsi di Australia dengan predikat kelulusan terbaik. Masa-masa kuliah yang berat ia lalui dengan satu cita-cita tunggal: pulang ke tanah air dan membawa ijazah itu kepada ayahnya sebagai bukti bahwa ia layak dicintai.
Dengan dua koper besar di tangan dan dada yang bergemuruh oleh rasa rindu serta harapan yang membumbung tinggi, Kirana melangkah menyusuri pelataran rumah masa kecilnya. Halamannya masih tampak sama, rindang dan megah, namun ada atmosfer asing yang menggantung di udara. Kirana menghela napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang, lalu memberanikan diri mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu.
Pintu terbuka pelan. Namun, bukannya pelukan hangat atau tatapan kerinduan yang menyambutnya, Kirana justru dihadapkan pada pemandangan yang seketika menghentikan aliran darahnya.
Di dalam ruang tamu yang diterangi lampu gantung kristal yang mewah, Husein sedang duduk di sofa kulit. Wajah ayahnya yang selama puluhan tahun selalu tampak dingin dan datar kini dihiasi oleh senyuman yang begitu hangat—sebuah senyuman tulus yang belum pernah sekalipun Husein perlihatkan pada Kirana sepanjang hidupnya. Dan senyuman itu ditujukan kepada seorang wanita paruh baya bermakeup tebal yang duduk di sampingnya, serta seorang gadis muda modis berusia sekitar 20 tahun yang sedang tertawa manja.
Kehadiran Kirana di ambang pintu membuat gelak tawa di ruang tamu itu terhenti seketika. Suasana berubah menjadi kaku dan mencekam.
"Ayah..." suara Kirana bergetar menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di dadanya. "Siapa... siapa mereka?"
Husein berdiri perlahan. Raut wajahnya yang tadinya penuh kehangatan berubah menjadi sangat dingin dan berjarak, seolah-olah Kirana adalah seorang tamu tak diundang yang merusak suasana bahagianya.
"Kau sudah pulang," kata Husein datar, tanpa ada nada kerinduan sedikit pun dalam intonasinya. Ia lalu menunjuk wanita di sampingnya. "Kenalkan, ini Ibu Tirimu, Murni. Dan ini adikmu, Nara Malan. Kami sudah menikah tiga tahun yang lalu saat kau masih sibuk dengan kuliahmu. Mulai sekarang, mereka adalah pemilik rumah ini juga."
Kata-kata itu menghantam dada Kirana bagaikan pukulan benda tumpul. Hatinya hancur berkeping-keping. Selama bertahun-tahun ia berjuang sendirian di negeri orang demi mendapatkan sedikit perhatian ayahnya, ternyata sang ayah telah membangun keluarga baru dan membagikan kasih sayang yang selama ini ia idam-idamkan kepada orang asing.
"Pernikahan? Adik tiri?" Kirana menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku? Kenapa Ayah menggantikan posisi Ibu tanpa pernah bicara padaku?!"
"Jaga bicaramu, Kirana! Aku tidak perlu meminta izin darimu untuk mengatur hidupku!" bentak Husein keras, membuat wanita paruh baya itu tersenyum tipis sarat kemenanga di belakang punggung Husein.
Dengan hati yang hancur dan napas tersengal menahan tangis, Kirana menolak menerima kenyataan pahit itu. Ia membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, sebuah sudut yang terasa akrab baginya. Kirana memutar badan dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua, mengarah ke kamarnya—satu-satunya ruangan yang menyimpan memori dan kenangan berharga tentang mendiang ibunya, tempat di mana barang-barang peninggalan sang ibu disimpan.
Namun, begitu Kirana mendorong pintu kamar tersebut, langkahnya terhenti secara mendadak.
Kamar itu telah berubah total. Cat dinding abu-abu lembut kesukaannya telah diganti menjadi warna merah muda cerah. Lemari kayu antik peninggalan ibunya hilang, digantikan oleh meja rias modern yang dipenuhi dengan produk kosmetik mahal dan pakaian-pakaian bermerek milik orang lain. Segala jejak keberadaan ibunya telah dimusnahkan tanpa sisa.
Gadis muda berusia 20 tahun yang tadi duduk di bawah—Nara Malan—berjalan santai menyusul Kirana dan bersandar di ambang pintu dengan senyuman sinis.
"Ini kamarku! Kenapa kalian menyentuh barang-barangku?! Di mana barang-barang ibuku?!" teriak Kirana histeris. Ia menghampiri Nara, matanya menatap tajam penuh ketidakpercayaan. "Siapa yang memberimu izin menguasai kamar ini?!"
Nara hanya melipat kedua tangannya di dada, menatap Kirana dari atas ke bawah dengan tatapan dingin dan penuh rasa superioritas. "Kamar ini milikku sekarang, Kak. Papa yang memberikan kamar ini padaku karena ini kamar terbesar di rumah ini. Lagipula, barang-barang lama yang berdebu itu sudah dibuang ke gudang... atau mungkin sudah dibakar, aku tidak peduli."