Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Perlindungan Di Tengah Badai
Suasana di area luar gedung stasiun TV nasional sore itu sudah berubah menjadi lautan manusia yang riuh dan tidak terkendali. Puluhan wartawan dari berbagai portal berita hiburan, kamera siaran langsung infotainment, hingga para pemburu berita media sosial berkumpul mengepung pintu keluar VIP. Mereka menantikan sosok Aura yang dalam hitungan jam mendadak menjadi trending topik perbincangan paling panas di seluruh penjuru negeri.
Di dalam lobi utama yang berAC dingin, Aura berdiri mematung dengan wajah yang amat pucat pasi. Jemari tangannya meremas kuat tali tas yang melingkar di bahunya. Bagai mimpi buruk yang datang menghantam tanpa peringatan, karir yang ia bangun dari nol dengan kejujuran, keringat, dan dedikasi, kini hancur seketika akibat sebaran foto-foto fitnah yang mencapnya sebagai wanita, murahan, dan perusak hubungan orang.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah bernada berat membelah kerumunan wartawan di luar gedung.
Sebuah mobil Alphard hitam mengkilap milik Reno Adhyastha berhenti tepat di depan pintu kaca lobi VIP. Sebelum para wartawan sempat mendekat, lima pria tegap berjas hitam tim pengawal pribadi pilihan Adhyastha Group membentuk barikade rapat. Mereka mendorong mundur serbuan wartawan yang histeris mencoba mengarahkan kamera dan mikrofon.
Pintu Alphard terbuka. Sosok Reno Adhyastha melangkah keluar dengan postur tegap, mengenakan jas formal bernuansa gelap. Raut wajahnya yang tampan terlihat amat dingin, memancarkan aura dominasi yang mengerikan dan membekukan siapa pun yang memandangnya. Pria itu sama sekali tidak mempedulikan kilatan lampu flash yang menyilaukan atau cecaran pertanyaan tajam yang saling bersahutan dari para pemburu berita.
Langkah lebar dan tenang milik Reno menerobos pintu kaca lobi utama, langsung menghampiri Aura yang berdiri gemetar di dekat tiang pualam.
Tanpa mengucap satu kata pun di hadapan kamera yang menatap mereka, Reno merengkuh jemari dingin Aura ke dalam genggaman tangannya yang hangat dan kokoh.
"Reno..." bisik Aura dengan suara bergetar. Manik mata jernihnya yang berkaca-kaca menatap sosok suami yang mendadak hadir di sampingnya.
"Tenanglah. Saya ada di sini," balas Reno rendah, nada suaranya melunak penuh kehangatan protektif yang hanya diperuntukkan bagi Aura. "Tidak ada satu pun dari mereka yang boleh menyentuh atau menyakitimu."
Dengan gestur yang sangat tenang, anggun, dan sarat wibawa berkelas, Reno memutar tubuhnya, membimbing Aura melangkah keluar lobi di bawah perlindungan rapat para pengawalnya. Pria itu sama sekali tidak melayani satupun pertanyaan wartawan. Ia melangkah dengan kepala tegak, hanya memberikan satu tatapan mata yang amat dingin dan membekukan ke arah kerumunan sebelum membimbing Aura masuk ke dalam kabin Alphard yang terbuka.
Pintu mobil mewah itu ditutup rapat dengan suara mantap, mengunci seluruh kebisingan dan kilatan lampu kamera di luar sana.
Di dalam kabin Alphard yang kedap suara dan beraroma kayu cendana, hening mendadak menyelimuti atmosfer. Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan kota.
Aura duduk bersandar di kursi kulit yang empuk, memalingkan wajahnya ke luar jendela kaca yang gelap. Ia menundukkan kepala, berusaha keras menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Namun, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, mengalir perlahan membasahi pipi mulusnya yang pucat.
Melihat bulir air mata yang jatuh di wajah istrinya, dada Reno mendadak berdesir nyeri yang teramat sangat. Pria dingin yang biasa tak bergeming menghadapi krisis bisnis bernilai triliunan rupiah itu kini merasakan gejolak cemas dan takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: ia tidak rela melihat wanita lembut di sampingnya ini terluka secara emosional.
Reno mengulurkan tangannya yang tegap, menyentuh pelan jemari Aura yang sedang meremas kain gamis pink pastelnya di atas pangkuan.
"Aura, lihat saya," panggil Reno lembut. Nada suaranya melunak sepenuhnya sebuah kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia bisnisnya.
Aura menoleh pelan, menatap manik mata kelam Reno dengan mata yang masih basah oleh linangan air mata.
"Semuanya akan baik-baik saja," tutur Reno mantap, menatap lurus ke dalam mata Aura dengan sorot kepastian yang amat menenangkan. "Jangan dengarkan kata-kata kejam mereka di luar sana. Saya tahu siapa kamu, dan saya tidak akan pernah membiarkan fitnah busuk ini merusak hidup atau karirmu. Percaya pada saya, saya yang akan membereskan semuanya sampai tuntas."
Mendengar bisikan penuh keyakinan dan rasa aman dari Reno, rasa sesak yang menghimpit dada Aura perlahan terangkat. Genggaman tangan tegap Reno yang hangat seolah menjadi benteng kokoh yang menyalurkan kekuatan besar di tengah badai fitnah yang menghantamnya.
Aura mengangguk pelan seraya mengusap air matanya. "Terima kasih, Reno..."
Tiba-tiba, telepon genggam milik Reno yang tergeletak di konsol tengah berdering nyaring. Nama "Nenek" tertera di layar digital.
Reno menggeser ikon hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ya, Nenek?"
"Reno! Bawa Aura pulang ke rumah Menteng sekarang juga!" suara Nenek Ratna terdengar sangat cemas, tegang, dan tegas di ujung telepon. "Nenek sudah melihat berita-berita busuk itu di televisi! Bawa istrimu ke sini segera, Nenek ingin bicara!"
"Baik, Nek. Kami sedang di perjalanan menuju ke sana," jawab Reno patuh sebelum mematikan sambungan.
Reno memandangi Aura sejenak. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah Nenek, pria itu menekan tombol panggilan cepat ke asisten pribadinya untuk meredam kebiadaban narasi media sosial tanpa harus gegabah membuka rahasia pernikahan mereka di tempat umum.
"Aslan," panggil Reno tegas begitu panggilan terhubung.
"Saya di sini, Tuan Reno! Tim hukum sudah bersiap!" sahut Pak Aslan cepat di ujung telepon.
"Saya dan Aura harus ke kediaman Menteng sekarang karena Nenek memanggil," perintah Reno dengan nada dingin dan penuh wibawa. "Tapi saya tidak mau berita fitnah ini makin liar di media sosial! Gunakan akun media sosial resmi pribadi saya detik ini juga! Unggah *statement* klarifikasi resmi!"
"Baik, Tuan! Apa poin utama yang harus dimasukkan?"
"Tulis dengan tegas bahwa seluruh pemberitaan, foto-foto curian, dan tuduhan yang beredar mengenai Aura adalah HOAX, FITNAH, DAN KEBOHONGAN PUBLIK YANG DISENGAJA! Tegaskan bahwa pihak kita sedang memproses tindakan hukum tegas terhadap seluruh akun gosip serta oknum di balik penyebaran foto tersebut!" pangkas Reno.
"Siap, Tuan Reno! Klarifikasi sementara akan langsung mengudara di seluruh platform dalam hitungan menit!"
Pernyataan resmi yang diunggah di akun media sosial pribadi Reno Adhyastha sebuah akun terverifikasi yang selama bertahun-tahun tidak pernah mengunggah hal-hal bernuansa personal sontak mengguncang jagat maya.
Tulisan singkat namun dingin bernada ancaman hukum dari seorang CEO Adhyastha Group itu berhasil menahan laju amukan *netizen*. Beberapa portal berita mulai berhati-hati, dan akun-akun gosip yang tadi pagi paling vokal menyebarkan fitnah mulai panik ketakutan.
Tak lama kemudian, Alphard hitam yang membawa Reno dan Aura melaju memasuki gerbang besi tempa kediaman megah Adhyastha di kawasan Menteng.
Reno membimbing Aura melangkah masuk menyusuri lorong utama menuju ruang keluarga. Di sana, Nenek Ratna sudah duduk di sofa ukir dengan raut wajah sepuh yang dipenuhi duka dan keprihatinan mendalam sewaktu menatap kedatangan cucu dan cucu menantunya. Di atas meja, layar televisi besar masih menayangkan cuplikan berita skandal yang belum meredup sepenuhnya.
"Aura, kemari Nak..." panggil Nenek Ratna lembut, mengulurkan kedua tangannya sewaktu melihat kedatangan mereka.
Aura melangkah mendekat dan langsung berlutut dengan santun di hadapan sang Nenek. Nenek Ratna merengkuh kedua pundak Aura, menariknya dalam pelukan hangat seorang ibu dan mengusap hijab pink-nya penuh kasih sayang.
"Nenek tahu kamu wanita baik, jujur, dan bermartabat, Aura," bisik Nenek Ratna dengan suara bergetar. "Nenek tidak sedikit pun percaya dengan tulisan-tulisan kejam dan jahat yang dibuat orang-orang di luar sana."
Air mata Aura kembali menetes pelan di pangkuan Nenek Ratna. Kepercayaan penuh dan kehangatan dari sang Nenek menjadi obat penyembuh yang sangat berharga bagi hatinya yang terluka.
Nenek Ratna kemudian menepuk pelan pundak Aura, sebelum memalingkan pandangannya yang tajam dan amat serius ke arah Reno yang berdiri tegap di samping sofa.
"Reno..." panggil Nenek Ratna dengan nada suara yang penuh penekanan dan bobot kebijaksanaan. "Lihat bagaimana istrimu dijadikan umpan fitnah dan dihancurkan nama baiknya oleh orang-orang jahat di luar sana."
Reno menundukkan kepala sedikit, rahang tegasnya mengeras rapat. "Saya sudah memerintahkan Aslan merilis klarifikasi sementara di media sosial dan menyiapkan tim hukum untuk memenjarakan penyebar foto itu, Nenek."
Nenek Ratna menggelengkan kepalanya pelan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat. "Klarifikasi tulisan di media sosial atau ancaman hukum saja tidak akan pernah cukup untuk membersihkan luka dan memulihkan nama baik istrimu, Reno!"
Nenek Ratna mengusap lembut jemari Aura, lalu kembali menatap manik mata cucunya dengan pandangan menusuk. "Inilah dampaknya jika sebuah pernikahan yang sah disembunyikan dari mata publik! Kalian berniat baik ingin menjaga privasi dan ketenangan Nenek, tapi justru membiarkan Aura berjalan di luar sana tanpa perlindungan status yang jelas di mata dunia!"
Reno tersentak. Setiap kata dari Nenek Ratna meresap dalam ke dalam kesadarannya, menghantam logikanya yang selama ini terlalu kaku berpijak pada alasan perjanjian bisnis.
"Dunia luar itu kejam, Reno," lanjut Nenek Ratna dengan suara yang makin bergetar menahan emosi. "Ketika publik tidak tahu bahwa Aura adalah istri sahmu yang terikat janji suci di hadapan Tuhan dan hukum, orang-orang licik seperti Clara dengan sangat mudah memutarbalikkan fakta! Mereka dengan leluasa melempar batu fitnah, mencap istrimu sebagai wanita murahan, pelakor, dan perusak hubungan orang, hanya karena kamu tidak memberikan panggung perlindungan status yang menjadi hak Aura!"
Reno mematung di tempatnya. Penyesalan yang amat mendalam mendadak menyeruak memenuhi relung dadanya.
Pernyataan Nenek Ratna sepenuhnya benar. Keputusannya sejak awal untuk menyembunyikan status pernikahan demi menjaga stabilitas saham dan privasi, kini justru menjadi celah paling beracun yang dimanfaatkan oleh Clara untuk menguliti kehormatan Aura sebagai wanita berhijab yang taat.
"Pernikahan itu sakral, Reno. Bukan sesuatu yang harus disembunyikan seolah-olah kamu malu memilikinya," tegas Nenek Ratna lagi dengan raut wajah penuh penekanan mutlak. "Seorang suami yang sejati harus berdiri paling depan, membentengi istrinya dengan kehormatan status yang sah! Buka mata dunia, Reno! Umumkan pernikahan kalian ke publik secara resmi, bersihkan nama baik istrimu sebelum luka dan cemoohan itu makin merusak jiwanya!"
Mendengar wejangan mendalam dari sang Nenek dan melihat wajah lembut Aura yang masih dibasahi air mata, seluruh pertahanan kaku di dalam diri Reno hancur berkeping-keping. Rasa khawatir kalau Aura terluka dan tersakiti kini meluap menjadi sebuah tekad baru yang tak tergoyahkan: Reno tidak peduli lagi dengan kejutan publik atau dampak saham, ia siap mempertaruhkan segalanya demi berdiri di samping Aura dan melindunginya sebagai Istri Sah!