Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Target Kedua: Sang Jenderal
Hujan badai yang mengguyur perbukitan Sentul malam ini terasa seperti pisau es yang menusuk langsung ke tulang.
Namun bagiku, cuaca buruk ini adalah sekutu terbaik yang bisa kuminta. Suara gemuruh guntur menelan habis bunyi langkah sepatuku di atas lumpur, dan tirai air yang lebat mengaburkan sensor termal dari belasan kamera keamanan yang dipasang di setiap sudut kompleks peristirahatan ini.
Dua ratus meter di bawah posisiku, terhampar vila mewah milik Jenderal Bintang Tiga, Sudiro. Sebuah benteng militer yang menyamar sebagai rumah singgah akhir pekan. Dinding beton berlapis batu alam setinggi empat meter mengelilingi properti tersebut, dihiasi kawat berduri yang dialiri listrik tegangan tinggi.
Ini bukan kawasan pelabuhan tempat aku membakar truk logistiknya tempo hari. Ini adalah sarang utama sang predator.
Aku berbaring tengkurap di atas lereng bukit, membiarkan hujan menderas menghantam punggung jaket gelapku. Setiap kali aku menarik napas, rasa sakit yang luar biasa tajam merobek dada dan bahu kiriku. Jahitan nilon yang dibuat Elara semalam terasa menegang, seolah menahan dagingku agar tidak terurai. Aku telah menelan tiga butir pil pereda nyeri dosis tinggi sebelum berangkat, namun tubuh manusia memiliki batasan yang tidak bisa dibohongi oleh bahan kimia selamanya.
Pikiranku sejenak melayang pada Elara yang kutinggalkan tertidur di ruko Kota Tua. Ia pasti sudah terbangun sekarang. Ia pasti sedang melihat papan gabusku, menganalisis rencanaku dengan otak detektifnya yang brilian. Waktuku tidak banyak. Jika aku berhenti dan menunggu lukaku sembuh, Jenderal Sudiro akan kembali memegang kendali dan memburuku bersama Darmawan Salim. Malam ini, aku harus memotong lengan bersenjata Vanguard Group itu hingga putus.
Melalui lensa teropong pandangan malam (night-vision), aku mengamati rotasi para penjaga di bawah sana. Mereka bukan tentara reguler berseragam negara. Mereka adalah sisa-sisa kontraktor militer swasta bayaran Sudiro. Berjalan berpasangan, menyandang senapan serbu laras pendek, dan mempertahankan disiplin komunikasi yang ketat.
Aku menurunkan teropongku, menyentuh topeng porselen yang menutupi wajahku. Garis retakan memanjang di pipi kirinya—retakan yang kurekatkan dengan lem epoksi setelah Elara melemparnya di gudang Marunda—terasa menonjol di bawah sarung tanganku. Bekas luka pada topeng ini adalah pengingat bahwa aku tidak lagi bermain-main dengan ilusi.
Aku mulai merayap menuruni lereng yang licin, menyatu dengan bayangan dan akar pohon basah.
Butuh waktu dua puluh menit yang menyiksa sebelum aku mencapai dasar dinding perimeter luar. Sudiro tidak meninggalkan ruang kosong pada jangkauan kameranya. Oleh karena itu, aku tidak mencoba menghindar dari lensa mereka; aku membuat lensa itu buta dari dalam.
Aku menempelkan sebuah pemancar gelombang elektromagnetik kecil di kotak persimpangan kabel yang menempel pada dinding beton. Dengan satu ketukan pada layar ponsel di sakuku, pemancar itu menembakkan gangguan statis ke dalam sistem sirkuit tertutup mereka. Layar di ruang kontrol penjaga tidak akan mati—hal itu hanya akan memicu alarm. Sebaliknya, layar mereka akan mengulang rekaman video kosong dari sepuluh detik terakhir secara terus-menerus.
Aku memiliki waktu tepat enam puluh detik sebelum teknisi di dalam sana menyadari bahwa rintik hujan di layar monitor mereka bergerak dengan pola yang diulang-ulang.
Aku melemparkan tali pengait (grappling hook) berbahan serat karbon ke atas dinding, memastikan ujungnya melilit aman pada pangkal pilar tanpa menyentuh kawat listrik. Mengabaikan otot bahu kiriku yang menjerit perih, aku menarik tubuhku naik ke atas dinding dengan kekuatan dominan lengan kananku. Aku melompat melewati kawat berduri, dan mendarat di atas rumput halaman dalam dengan sebuah gulungan untuk meredam benturan.
Rasa hangat menjalar di perban rusukku. Sial. Beberapa jahitannya pasti ada yang robek.
Dua orang penjaga sedang berjalan ke arahku dari sisi barat kolam renang yang bercahaya kebiruan. Aku melesat dan menempelkan punggungku ke balik bayangan patung perunggu bergaya Romawi. Mereka melintas hanya dua meter dari posisiku. Bau tembakau cengkeh murahan dan pelumas senjata tercium sangat jelas di udara.
Aku membiarkan mereka berlalu. Membunuh pion penjaga hanya akan membuang waktu dan tenaga. Aku bergerak menyusuri dinding luar vila, langsung menuju pintu kaca buram yang menghubungkan teras belakang dengan ruang bawah tanah.
Profil psikologis dari seorang mantan komandan pasukan khusus sangat mudah ditebak. Saat mereka merasa kekuasaannya terancam dan pasukannya berkurang, mereka akan kembali pada insting bertahan hidup dasar: mencari ruang tertutup yang tebal, tanpa jendela, dengan satu titik masuk yang mudah dipertahankan. Bungker komando.
Kunci pemindai sidik jari di pintu kaca itu bukanlah masalah besar. Sebuah semprotan nitrogen cair dari tabung kecil yang kubawa membuat sirkuit di dalam panelnya membeku seketika. Satu pukulan presisi menggunakan pangkal gagang pisau taktisku menghancurkannya menjadi serpihan es dan plastik. Pintu bergeser terbuka dengan mudah.
Aku melangkah masuk ke dalam kegelapan lorong bawah tanah yang hawanya terasa jauh lebih sejuk. Bau cerutu Kuba yang mahal menguar, menjadi jejak remah roti yang menuntunku langsung menuju target utamaku.
Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja tahan ledakan. Pintunya sedikit terbuka. Cahaya lampu kuning temaram menyelinap keluar dari celahnya.
Aku menyelinap mendekat, menahan napasku, dan mengintip ke dalam.
Ruangan itu luas, dindingnya dilapisi panel akustik kedap suara dan beberapa layar monitor yang menampilkan titik-titik lokasi di Jakarta. Di tengah ruangan, duduklah Jenderal Sudiro. Pria berusia enam puluhan dengan postur tubuh yang masih setegap pohon jati. Rambutnya dipotong cepak ala militer, wajahnya keras dipenuhi garis-garis ketegasan. Ia mengenakan kemeja katun hitam berlengan pendek, menenggak segelas wiski tanpa es. Sebuah pistol semi-otomatis FN Five-seveN tergeletak di atas meja kayu oak tepat di dekat tangan kanannya.
Ia tidak terlihat seperti pria yang sedang ketakutan menunggu maut. Ia terlihat seperti seekor singa tua yang sedang murka karena wilayah buruannya diganggu.
"Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus kau janjikan pada mereka," suara bariton Sudiro menggelegar saat ia berbicara melalui telepon satelit terenkripsi. "Bakar kawasan Kota Tua jika perlu. Temukan di mana bajingan bertopeng itu bersembunyi. Darmawan terlalu pengecut untuk mengambil tindakan keras sekarang karena dia takut putrinya bernyanyi pada polisi, tapi aku tidak peduli pada drama keluarganya. Jika ada polisi yang ikut campur, jadikan mereka korban tewas tak disengaja."
Ia meletakkan telepon satelit itu dengan kasar hingga gelas kristalnya berguncang.
Sudiro tidak akan pernah berhenti. Ia adalah tipe pria yang dididik untuk percaya bahwa segala rintangan bisa dihancurkan dengan peluru dan kekerasan. Bagi seorang jagal berdarah dingin sepertinya, mati dalam pertempuran adalah hal yang paling didambakan, karena itu akan mengamankan gelar pahlawannya.
Hukuman bagi seorang jagal bukanlah peluru di dada. Hukuman terberatnya adalah dilucuti senjatanya, dipaksa melihat kekuasaannya menguap, dan mati perlahan sebagai seorang pengecut tanpa kehormatan.
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Aku sengaja membiarkan sol sepatuku bergesekan dengan lantai marmer.
Sebuah suara sreek pelan yang cukup untuk membangunkan insting membunuh sang Jenderal.
Pergerakan Sudiro luar biasa cepat untuk pria seusianya. Dalam sepersekian detik, tangannya telah menyambar gagang pistol FN di atas meja. Ia memutar kursi dan tubuhnya ke arah pintu, moncong senjata terangkat stabil tanpa getaran, siap memuntahkan peluru kaliber 5.7mm yang dirancang untuk menembus rompi anti-peluru.
Namun, ia tidak segera menekan pelatuk.
Matanya melebar sesaat saat melihat siluet hitam dengan topeng porselen yang retak berdiri diam di ambang pintu bungkernya. Penjagaannya di luar sana bernilai ratusan juta rupiah per bulan. Ada belasan prajurit bayaran yang berpatroli di tengah badai. Tapi monster yang ia perintahkan untuk diburu kini berada di dalam ruang persembunyiannya sendiri, menatapnya dalam diam.
"Kau..." geram Sudiro, otot rahangnya menonjol keras. Ia mengunci bidikannya tepat ke tengah dahiku. "Kau benar-benar punya nyali untuk berjalan masuk ke dalam kandangku sendirian."
"Kandangmu tidak pernah tertutup rapat, Jenderal," suaraku mengalun berat di balik topeng. "Anjing-anjingmu di luar sana terlalu sibuk berjaga dari ancaman luar. Mereka lupa mengendus apa yang sudah membusuk di dalam."
Sudiro tertawa dingin, sebuah tawa yang sarat akan pengalaman mematikan. "Kau pikir aku sama lemahnya dengan Setiawan? Kau pikir aku akan berlutut dan memohon nyawaku dari seorang bocah yang bersembunyi di balik topeng mainan?"
Jari telunjuknya menegang di atas pelatuk.
"Mati kau, Bajingan."
Klak.
Suara mekanis pelatuk yang ditarik memecah keheningan ruangan. Tapi tidak ada ledakan mesiu. Tidak ada proyektil panas yang melesat keluar untuk merobek tengkorakku.
Mata Sudiro membulat, menatap senjatanya sendiri. Ia menarik pelatuknya lagi dengan panik. Klak. Klak. Klak.
Pistol mutakhir buatan Belgia itu macet total.
Aku melangkah perlahan mendekatinya. "Senjata yang sangat bagus. Sangat mematikan. Tapi firing pin-nya rentan macet jika seseorang dengan sengaja menyuntikkan lem resin cair ke dalam mekanisme slide-nya saat senjata itu ditinggalkan di gudang persenjataan utama kalian sore tadi."
Napas Sudiro tertahan. Keterkejutannya mengubah postur tegapnya menjadi kekakuan sesaat. Aku telah meretas gudangnya bahkan sebelum aku tiba di depan gerbang vilanya.
Namun, ia adalah seorang prajurit. Ia tidak menyerah hanya karena pistolnya macet. Ia membuang senjata tak berguna itu ke lantai, mencabut sebuah pisau komando berbilah hitam pekat dari sarung di ikat pinggang belakangnya, dan menerjang ke arahku dengan raungan yang menggetarkan dinding bungker.
Kecepatannya mengerikan. Jauh melebihi kalkulasiku. Aku mencoba menghindar dengan memutar pinggulku ke kanan, namun rasa nyeri yang menusuk tajam di tulang rusukku menahan gerakanku selama satu detik yang sangat krusial.
Ujung pisau itu merobek lengan jaketku, menyayat dangkal daging lengan atasku.
Aku mendesis menahan sakit. Sebelum ia sempat menarik pisaunya untuk ayunan kedua, aku melangkah maju menerobos jarak aman serangannya (inside the guard). Tangan kiriku menangkis keras lengan pisaunya, menahan beban tebasannya, sementara siku kananku melesat menghantam telak ke sisi pelipisnya.
Brak!
Sudiro terhuyung ke samping. Namun alih-alih tumbang, ia membalas dengan sebuah tendangan lutut yang menghantam keras perut bagian kananku. Tepat di atas jahitanku.
Duniaku memutih. Rasa sakit yang meledak di dadaku membuat udara di paru-paruku terkuras habis. Tubuhku terlipat ke depan, pandanganku mengabur sesaat. Jika aku jatuh berlutut sekarang, ia akan menancapkan pisaunya ke leherku.
Mengandalkan murni adrenalin dan amarah yang telah membara selama sepuluh tahun, aku menjatuhkan tubuhku ke bawah tepat saat ia mengayunkan pisaunya dari atas. Aku menyapu kaki kirinya yang menjadi tumpuan keseimbangan dengan tulang keringku sekuat tenaga.
Sudiro kehilangan keseimbangan. Tubuh besarnya terpelanting ke udara dan menghantam lantai marmer dengan suara tulang yang beradu dengan batu. Pisau komandonya terlepas dan terlempar ke bawah meja.
Aku tidak memberinya kesempatan sedetik pun untuk memulihkan diri. Mengabaikan darah panas yang kini terasa mengalir membasahi perban di rusukku akibat jahitan yang robek total, aku menerjang menindih punggungnya. Aku menarik lengan kanannya ke belakang dengan teknik kuncian patah tulang (kimura lock), menekan lutut kananku tepat ke tulang belakang lehernya.
Ia meronta seperti banteng yang terluka, otot-otot lehernya menegang mencoba melawan kuncianku.
"Lepaskan aku, keparat! Aku akan mematahkan lehermu dengan tangan kosongku!" raung Sudiro, wajahnya tertekan keras ke lantai yang dingin.
"Kau tidak akan pernah membunuh siapa pun lagi," napasku tersengal dari balik topeng. Aku menekan lengannya sedikit lebih tinggi hingga terdengar bunyi gemeletuk tulang rawan dari bahunya. "Kehormatanmu, medali-medalimu... itu semua hanyalah barang rongsokan yang dibeli dengan darah orang tuaku."
Dengan tangan kiri yang gemetar, aku menarik sebuah alat suntik logam kecil dari sabukku. Tanpa ragu, aku menusukkan jarumnya menembus kerah kemejanya, langsung masuk ke dalam otot leher di pangkal bahunya, lalu menekan pangkal suntikannya hingga tandas.
Rontaan Sudiro seketika melemah. Cairan yang kumasukkan bukanlah racun arsenik atau neurotoksin mematikan seperti yang kugunakan pada Handoko. Itu adalah campuran relaksan otot sintetis dosis tinggi yang biasa digunakan di ruang bedah saraf. Dalam lima detik, otot-otot rangka di seluruh tubuhnya berubah layaknya jeli yang meleleh.
Ia masih sadar. Matanya masih terbuka dan bergerak liar. Ia masih bisa merasakan amarah yang membakar jiwanya, namun ia tidak bisa lagi menggerakkan satu pun jari tangannya.
Kelumpuhan motorik absolut. Sebuah mimpi buruk terburuk bagi seorang jenderal yang memuja kekuatan fisik.
Aku melepaskan kuncianku dan berdiri dengan susah payah. Darah menetes dari ujung sikuku ke lantai marmer. Aku membalikkan tubuh lumpuh Sudiro menggunakan ujung sepatuku, membiarkannya telentang menatap langit-langit bungkernya sendiri.
"Bunuh... aku..." desis Sudiro dengan sangat susah payah. Pita suaranya mulai terkena efek pelumpuhan obat itu, membuat suaranya terdengar seperti bisikan orang sekarat. "Beri... aku... kematian... prajurit."
Aku berjalan terhuyung menuju meja kerjanya. Menggeser layar monitor besarnya agar menghadap ke arah jenderal yang terkapar di lantai itu.
"Kau bukan prajurit, Sudiro," balasku pelan, suaraku dipenuhi kejijikan yang mendalam. "Kau adalah pengkhianat seragammu sendiri. Dan pengkhianat tidak mati dengan peluru kehormatan di medan perang. Mereka mati diludahi oleh sejarah."
Aku mencolokkan sebuah flashdisk hitam—salinan data yang kusiapkan sebelum apartemenku hancur—ke dalam port komputer utamanya. Jari-jariku yang bernoda darah mulai mengetikkan barisan kode eksekusi dengan cepat.
"Sepuluh tahun lalu, kau menyediakan bahan peledak C4 dan mengirim orang-orangmu untuk memastikan mobil orang tuaku meledak di dasar jurang," suaraku menjadi dingin, membekukan sisa-sisa rasa sakitku. "Sebagai bayarannya, Darmawan Salim mendanai perusahaan militer swastamu. Kau menjual rahasia negara, menyelundupkan senjata api kelas berat melewati perbatasan pelabuhan, dan menggunakan prajuritmu sebagai anjing pembunuh untuk menyingkirkan saingan bisnis Vanguard."
Aku menekan tombol Enter.
Di layar monitor raksasa itu, bermunculan puluhan jendela terminal. Jutaan dolar dari rekening-rekening lepas pantai yang masih tersisa dari retasan pertamaku—uang bayaran untuk pasukannya yang berjaga di luar vila ini—sedang dikosongkan menuju puluhan yayasan amal dan organisasi bantuan hukum.
"Aku tidak hanya menghancurkan logistikmu di pelabuhan malam itu, Sudiro," ucapku, berjalan mendekatinya agar ia bisa mendengarku dengan jelas. "Malam ini, aku memindahkan seluruh sisa dana operasionalmu hingga ke sen terakhir. Prajuritmu di luar sana bekerja untuk dolar. Dan sekarang, kau tidak bisa membayar tagihan mereka. Menit ini juga, belasan anjing penjaga di depan vilamu tidak memiliki alasan apa pun untuk melindungimu dari hukum."
Mata Sudiro terbelalak ngeri. Bukan karena ia kehilangan hartanya, melainkan karena ia tahu secara pasti nasib seorang komandan yang bangkrut di dunia tentara bayaran.
"Tapi kemiskinan belum cukup untuk membayar darah keluargaku," lanjutku tanpa ampun.
Jendela transfer bank di layar tertutup, digantikan oleh barisan dokumen PDF yang memiliki stempel digital resmi dari Markas Besar Polisi Militer dan Badan Intelijen Strategis.
"Kau terlalu rapi, Jenderal. Kau mendokumentasikan setiap penjualan senjata ilegalmu, setiap aliran dana suap dari Darmawan, di dalam server rumah ini karena kau tidak percaya pada sistem penyimpanan eksternal." Aku berjongkok di samping wajahnya yang lumpuh, menatap matanya dari balik rongga topengku. "Lima menit yang lalu, semua bukti makarmu, bukti transaksi senjata ke pemberontak asing, dan dokumen pemalsuan laporan militer telah kukirim langsung ke kotak masuk Panglima Tentara Nasional."
Sudiro mengeluarkan suara erangan yang sangat menyedihkan dari tenggorokannya. Otot-otot wajahnya berkedut panik mencoba berekspresi. Ia sedang dihancurkan. Fondasi kehidupan, kehormatan, pangkat bintang tiganya, dan seluruh warisannya sedang dilumatkan menjadi debu di depan matanya.
"Mereka tidak akan mengingatmu sebagai jenderal pahlawan yang gagah berani," bisikku tajam ke telinganya. "Mereka akan mengingatmu sebagai koruptor pengkhianat yang menjual senjatanya demi tumpukan uang Vanguard. Bintang di bahumu akan dilucuti di depan publik. Kau akan diseret ke pengadilan militer, membusuk di sel isolasi tingkat tinggi, dan namamu akan dihapus dari buku sejarah negara ini."
Aku merogoh saku dalam jaketku, mengeluarkan selembar kartu berserat karbon. Wajah badut yang menyeringai sinis dengan satu tetes air mata berwarna merah darah.
Aku meletakkan kartu itu tepat di atas dada bidang sang jenderal yang kini tak berdaya. Ia hanya bisa menatap kartu itu dengan napas yang bergetar.
"Kau bisa mendengar suara itu?"
Dari luar dinding bungker yang kedap suara, samar-samar mulai terdengar raungan sirine yang berlapis-lapis. Bukan sirine ambulans atau mobil patroli polisi biasa. Itu adalah suara berat dari kendaraan taktis baja milik Polisi Militer yang sedang bergerak mengepung kompleks peristirahatan ini.
Mereka tidak datang ke sini untuk melindunginya dari pembunuh bertopeng; mereka datang untuk meringkus seorang pengkhianat tingkat tinggi. Pasukan bayarannya di luar sana, yang menyadari bahwa mereka tak akan dibayar dan sedang dikepung tentara, pasti sudah melarikan diri atau menyerah tanpa melepaskan satu pun tembakan.
Aku menekan telapak tanganku ke perutku yang berlumuran darah, bangkit berdiri dengan susah payah, dan melangkah tertatih kembali ke arah pintu kaca tempat aku menyusup masuk.
Sebelum aku menghilang ke dalam pekatnya hujan badai Sentul, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Menatap Jenderal Sudiro yang terbaring kaku, meneteskan air mata keputusasaan pertamanya, menunggu kehancuran mutlak yang datang menjemputnya dengan seragam hijau militer.
"Pangkatmu tidak bisa melindungimu dari dosa."