NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah gorden tebal di kamar utama rumah mewah Sulthan. Suasana di dalam kamar sangat tenang, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan dan suara langkah kaki pria itu yang berjalan santai di atas karpet tebal.

Sulthan berdiri tepat di hadapan lemari pakaian raksasanya yang terbuat dari kayu jati berwarna hitam legam dengan pintu kaca cermin. Pria itu tampak sangat maskulin dan memikat. Tubuhnya yang tinggi 185 cm terlihat sempurna, otot-otot di bahu, lengan, dan perutnya yang sixpack tercetak jelas karena ia tidak mengenakan atasan sama sekali.

Hanya celana pendek olahraga berwarna hitam ketat yang melilit pinggang dan pahanya, menonjolkan bentuk burungnya yang besar dan tebal.

Tangannya yang panjang dan jari-jarinya bergerak lincah menyusuri barisan gantungan baju yang rapi. Ratusan kemeja, jas, dan setelan mahal tergantung berjejer rapi, warnanya dominan hitam, putih, biru tua, dan abu-abu, sesuai dengan seleranya yang suka kesan formal, elegan, dan berwibawa.

"Hari ini pakai yang mana ya..." gumamnya, matanya meneliti satu per satu.

Ia tidak ingin terlihat terlalu mencolok, tapi juga tidak ingin terlihat biasa saja. Untuk rapat penting siang nanti, ia butuh penampilan yang memancarkan kekuatan dan kepercayaan diri.

Akhirnya, tangannya berhenti pada sebuah gantungan.

Ia menarik sebuah kemeja dalam berwarna putih bersih. Bahannya halus, dingin, dan terlihat sangat nyaman. Itu akan menjadi lapisan dalamnya. Kemudian, di sebelahnya ada kemeja luar berwarna biru dongker atau navy blue dengan potongan yang sangat pas di badan. Warnanya memberikan kesan dewasa, tenang, namun sangat berkelas.

"Aku pilih ini saja," bisiknya.

Sulthan mulai memakaianya satu per satu dengan gerakan yang luwes dan terbiasa. Pertama kemeja putih, dikancingkan rapi sampai ke leher. Lalu disusul dengan kemeja biru dongkernya. Ia membenarkan posisi bahu dan lengan bajunya agar terlihat sempurna.

Selanjutnya, tangannya meraih sebuah kotak kecil di atas meja untuk mengambil dasi. Warna dasinya senada dengan setelannya, biru tua dengan motif polkadot abu-abu yang kecil-kecil dan rapi. Motif itu memberikan sentuhan sedikit playful namun tetap terlihat sopan dan profesional.

Dengan cekatan, Sulthan mengikat dasi itu di lehernya. Tidak terlalu longgar, tidak terlalu ketat. Pas dan enak dipandang. Terakhir, ia mengenakan celana panjang bahan hitam yang disetrika licin licin, membuat penampilannya kini sudah lengkap 100% sebagai seorang pemimpin perusahaan.

Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat setelan mahal itu terlihat seperti baju buatan tailor khusus, sangat pas dan menawan.

Namun, satu hal lagi yang tidak boleh ketinggalan. Identitas seorang pria sejati selain penampilannya adalah aromanya.

Sulthan berjalan menuju meja riasnya yang berjejer berbagai botol parfum kelas atas dengan harga selangit. Ia mengambil satu botol dengan desain minimalis dan elegan.

Pssshhh... Pssshhh...

Dua semprotan cukup. Disemprotkan ke area leher, di balik telinga, dan sedikit di pergelangan tangannya.

Aroma wanginya langsung menyebar memenuhi ruangan. Wangi yang khas, segar, maskulin, woody, dan sangat tahan lama. Aroma yang membuat siapa saja yang berada di dekatnya akan merasa nyaman namun juga merasa takut karena aura wibawanya yang begitu kuat.

Sulthan menatap pantulan dirinya di cermin besar lempeng. Matanya menatap tajam.

"Oke, siap," ucapnya singkat pada bayangannya sendiri.

Setelah penampilannya sempurna dan wangi semerbak memenuhi ruangan, Sulthan mengambil kunci mobil dan dompetnya, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah tegap. Di lobi bawah, mobil mewah berwarna hitam legam sudah menunggu di depan pintu utama.

Pak Didik, supir pribadinya yang sudah bekerja bertahun-tahun, segera keluar dan membukakan pintu belakang dengan sopan.

"Selamat pagi, Tuan Sulthan. Cuaca cerah hari ini," sapa Pak Didik ramah.

"Pagi, Pak Didik. Kita berangkat," jawab Sulthan singkat sambil masuk dan duduk bersandar nyaman di jok kulit yang empuk.

Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah yang luas itu, membelah jalanan kota Surabaya yang mulai ramai. Sepanjang perjalanan, Sulthan hanya diam menikmati pemandangan luar, sesekali memejamkan mata untuk memusatkan pikiran sebelum menghadapi tumpukan pekerjaan di kantor.

Tak butuh waktu lama, mobil sudah berhenti tepat di depan gedung pencakar langit Aditama Gold Group.

Sulthan turun dari mobil, dan seketika semua perhatian karyawan yang lewat tertuju padanya. Aura dingin dan wibawanya begitu kuat. Dia berjalan masuk melewati lobi dengan penuh gaya, menyapa sedikit dengan anggukan kepala, lalu langsung menuju lift eksekutif khusus yang membawanya langsung ke lantai paling atas, ruangan kerjanya yang privat dan mewah.

Ting!

Pintu lift terbuka. Sulthan melangkah masuk ke ruangannya yang luas bernuansa hitam dan emas.

Tanpa membuang waktu, dia langsung berjalan ke meja kerjanya yang besar. Dia meletakkan tas kerjanya, lalu duduk di kursi kebesarannya. Jarinya menekan tombol power pada komputer kerjanya yang canggih.

Layar menyala, dan Sulthan mulai bekerja. Jari-jarinya yang panjang bergerak lincah di atas keyboard, mengetik dengan cepat dan fokus.

Tak... tak... tak...

Dia sedang menyusun draf konsep dan poin-poin penting untuk rapat ekspansi pembukaan cabang baru di Mojokerto. Angka-angka, data pasar, dan strategi pemasaran dituangkannya dengan rapi ke dalam dokumen digital itu. Wajahnya tampak sangat serius, alisnya sedikit berkerut menandakan dia sedang berpikir keras.

Beberapa menit berlalu, pintu ruangan terbuka. Seperti biasa, Juniarta dengan setelan rapi, membawa buku catatan dan tablet di tangannya.

"Selamat pagi, Bos," sapa Juniarta lantang namun sopan, sambil berdiri tegap di hadapan meja kerja.

Sulthan tidak langsung mengangkat wajahnya, dia masih menyelesaikan kalimat terakhir yang sedang diketiknya. Setelah selesai, dia baru mendongak menatap asistennya itu dengan tatapan tajam khasnya.

"Pagi, Jun. Sudah siap semua?" tanya Sulthan singkat.

Juniarta mengangguk mantap, lalu duduk di kursi tamu yang ada di hadapan meja kerja bosnya. Dia membuka buku catatannya dan mulai membahas pekerjaan dengan serius. Suasana di ruangan itu pun berubah menjadi sangat profesional, penuh dengan diskusi strategi dan rencana bisnis.

"Siap seratus persen, Bos. Tim survei sudah saya berangkatkan tadi pagi buta ke lokasi yang kita incar di Mojokerto. Mereka akan cek kondisi tanah, lingkungan sekitar, dan juga potensi pasar di sana," lapor Juniarta jelas.

Sulthan menyandarkan punggungnya, tangan kanannya mendukung dagu, mendengarkan dengan seksama.

"Bagus. Hasil laporannya kapan masuk?" tanya Sulthan.

"Maksimal besok sore sudah ada di meja Bos, lengkap dengan foto dan rekomendasi arsitek," jawab Juniarta sigap. "Tapi ada satu hal yang perlu kita pertimbangkan matang-matang, Bos."

Sulthan mengangkat alisnya. "Apa itu?"

"Soal nama dan branding. Kalau kita pakai nama besar 'Aditama Gold' memang sudah pasti kuat dan orang percaya. Tapi kalau di daerah, kadang masyarakat lebih suka yang terdengar lebih akrab atau ada sentuhan lokal. Atau mungkin kita buka sub-brand khusus cabang di luar kota?" usul Juniarta memberikan masukan.

Sulthan terdiam sejenak, berpikir mendalam. "Hmm... ide menarik. Tapi saya lebih condong tetap pakai nama besar. Kita masuk bukan untuk main-main, tapi untuk mendominasi pasar. Biarkan orang tahu kalau Aditama Gold hadir membawa standar kualitas tinggi ke sana."

"Mengerti, Bos. Jadi konsepnya tetap megah dan mewah ya?"

"Tentu. Gedungnya harus representatif. Jangan sampai kalah gengsi sama toko emas lokal di sana. Kita bangun yang tiga lantai. Lantai satu untuk ritel, lantai dua untuk showroom perhiasan eksklusif dan custom order, lantai tiga untuk kantor administrasi dan gudang aman," jelas Sulthan dengan pandangan jauh ke depan.

"Wah, mantap itu konsepnya. Langsung bikin orang terkagum-kagum," komentar Juniarta sambil mencatat cepat semua instruksi bosnya. "Nanti desain interiornya saya suruh tim buat yang nuansa emas dan hitam seperti di sini ya, Biar ciri khas kita tetap kelihatan."

"Betul. Konsistensi itu penting, Jun. Orang harus tahu, di mana pun ada tulisan Aditama Gold, di situ ada kualitas dan kepercayaan," tegas Sulthan.

Mereka berdua pun larut dalam diskusi panjang lebar. Mulai dari perhitungan modal awal, target penjualan di tahun pertama, hingga perekrutan karyawan baru khusus untuk cabang Mojokerto nanti.

Tak lama, mereka beralih membahas detail mengenai sistem keamanan gudang emas yang nantinya akan dibangun di cabang baru, teknologi apa yang akan dipakai, dan bagaimana strategi pengiriman logistik yang aman.

"Jadi untuk sistem pengawasan, kita pasang CCTV beresolusi tinggi dengan face recognition di setiap sudut, Bos. Dan untuk brankasnya, kita impor langsung dari Jerman yang standar bank sentral," jelas Juniarta penuh semangat.

Sulthan mengangguk setuju. "Bagus. Keamanan adalah nomor satu."

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka perlahan. Putri melangkah masuk dengan anggun, membawa map cokelat tebal di tangannya. Wajahnya cantik dan rapi, penampilannya selalu sempurna dan profesional.

"Permisi, Pak Sulthan. Maaf mengganggu pembicaraannya," sapa Putri sopan, berdiri dengan sikap tegap di samping meja.

Sulthan dan Juniarta serentak menoleh.

"Masuk, Putri. Ada apa?" tanya Sulthan.

"Ini laporan keuangan dan stok emas mentah yang masuk hari ini, Pak. Data terbaru dari gudang utama," jawab Putri sambil menyerahkan map itu ke atas meja kerja Sulthan. "Saya pikir ini penting untuk Bapak lihat sebelum rapat besar nanti."

Sulthan segera mengambil laporan itu dan membukanya. Matanya menyapu baris demi baris angka dengan cepat dan teliti.

"Bagus. Jadi stok emas batangan kita masih aman di angka 2 ton lebih ya?" tanya Sulthan memastikan.

"Betul, Pak. Dan ada pengiriman baru dari tambang hari ini sore, jadi jumlahnya akan bertambah lagi," jawab Putri jelas dan tegas. "Untuk pembayaran utang ke supplier juga sudah lunas semua, tidak ada tunggakan. Arus kas kita sangat sehat bulan ini."

Juniarta yang duduk di samping ikut mendengarkan dan tersenyum. "Wah, mantap itu. Jadi modal buat buka cabang baru di Mojokerto nggak bakal ngaruh banget ke operasional harian ya, Bos?"

"Sama sekali tidak," potong Putri dengan yakin. "Anggaran untuk ekspansi sudah disisihkan khusus dari profit sharing tahun lalu. Jadi aman seratus persen."

Sulthan menutup kembali map itu dengan wajah puas. Dia menatap Putri dengan tatapan menghargai.

"Kerja bagus, Putri. Laporanmu selalu rapi dan akurat. Kamu bikin pekerjaan saya jadi jauh lebih mudah," puji Sulthan tulus.

"Terima kasih, Pak. Itu memang tugas saya," jawab Putri singkat dengan senyum tipis, tidak berlebihan. "Kalau begitu saya izin keluar dulu, masih ada email yang harus dibalas."

"Silakan."

Putri berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan anggun. Setelah Putri sepenuhnya keluar, kedua pria itu kembali fokus pada pembahasan mereka tentang masa depan perusahaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!