Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu yang manis di tengah pengkhianatan
Pagi itu, di langit kota metropolitan, masih berwarna abu-abu keunguan, sisa dari fajar yang semula gelap. Kabut tipis telah menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di kawasan Senayan, sementara itu aroma aspal basah sisa dari guyuran hujan semalam telah menyeruak di udara.
Di sebuah apartemen mewah di kawasan Sudirman, Hanum Sanjaya menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Tidak ada lagi gaun sutra atau pun perhiasan mewah seperti berlian. Hanum kini melepaskan jam tangannya yang seharga satu unit kendaraan roda empat dan menggantinya dengan jam tangan plastik murahan yang harganya terjangkau oleh kalangan menengah. Ia mengenakan kaos katun polos dan celana jeans yang pudar. Sebagai pewaris tunggal bisnis Keluarga Sanjaya, ini adalah "pakaian perang" yang paling nekat, yang pernah ia pakai.
Semua ini ia lakukan hanya demi Johan. Sosok pria ideal yang bekerja sebagai pelatih Badminton di salah satu komunitas, dan ia pernah terang-terangan berkata bahwa dirinya muak dengan gaya hidup sosialita yang penuh dengan kepalsuan.
Pertemuan pertama mereka di depan sebuah mini Market yakni masih di sekitar GOR Soekarno-Hatta, membuat keduanya memiliki kesan tersendiri dan tentunya seolah tak bisa melupakan momen itu.
Hanum dengan sengaja telah memarkirkan mobil mewahnya jauh dari lokasi GOR dan ia menaiki ojek online menuju sebuah mini market dekat GOR tersebut. Hanum pun tahu jika Johan selalu singgah di sana setelah latihan pagi. Karena Hanum beberapa hari yang lalu selalu memantau Johan dari kejauhan.
Sambil memegang botol air mineral yang cukup terasa dingin di tangannya, Hanum berdiri di depan pintu kaca yang terbuka secara otomatis. Sosok tinggi tegap dengan tas olahraga tergantung di bahu dan sedang melangkah menuju keluar mini market. Dan pria Itu adalah Johan.
Kemudian Johan berhenti sejenak, ia sedikit terkejut karena melihat sosok yang cukup menarik perhatiannya itu.
"Eh? Hanum, ya? Yang waktu itu ketemu di kasir, kan?"
Hanum pun tersenyum canggung, ia berusaha mengatur napasnya karena gugup.
"Haiii..... Johan, iya, enggak nyangka ya bisa ketemu kamu lagi di sini. Kamu habis dari GOR, ya?"
Johan pun menjawab dengan bibir tersenyum tipis, hidungnya sampai kembang kempis.
"Iya, biasalah jadwal rutin pagi, kamu sendiri? Tinggal di sekitar sini ya? Penampilan kamu hari ini agak berbeda dari pertama kali kita ketemu tempo hari."
Mendengar hal itu, Hanum menjadi sedikit gugup, lalu ia buru-buru merapikan rambutnya yang sengaja diikat seperti ekor kuda.
"Oh, ini? Iya, aku memang lebih suka berpenampilan begini kalau enggak lagi kerja, Aku cuma karyawan biasa kok di kantor daerah sini, dan lebih nyaman pakai kaos daripada baju formal."
Johan tersenyum tulus, ada binar kekaguman di kedua bola matanya.
"Jujur, kalau aku justru lebih suka melihat kamu yang seperti ini. Kelihatan sangat nyata dan apa adanya. Kemarin aku sempat berpikir kalau kamu itu tipe-tipe cewek high quality dan sosialita yang takut terkena debu kota Jakarta."
Mendengar hal itu Hanum malah tertawa kecil, namun sedikit merasa bersalah tapi juga lega.
"Debu Jakarta sudah menjadi sahabat sehari-hari ku, Johan. Aku bukan putri raja yang kamu bayangkan, kok."
"Baguslah kalau begitu, Karena sejujurnya, aku paling malas berurusan sama orang-orang yang merasa dunia ini adalah milik mereka cuma karena uang dan kekuasaan.
Tapi kamu, Num....!" Johan menghentikan ucapannya sejenak, lalu ia tersenyum tipis dan melanjutkan kembali." Dari awal aku lihat kamu di kasir mini market ini, kamu sangat berbeda, kamu itu terlihat sopan sama petugasnya, dan cara kamu memilih barang pun cukup sederhana."
Hanum pun di dalam hati mulai berbisik.
'Andai kamu tahu, Johan....., aku mengagumimu sejak pertama kalinya bertemu dengan mu.
"Mungkin itu cuma perasaan kamu saja, oh iya, kamu mau ke mana setelah ini?"
"Mau cari bubur ayam yang mangkal di depan sana, mau bareng? Anggap saja sebagai perayaan, karena kita enggak sengaja bertemu lagi. Tapi ya itu, makannya di pinggir jalan, enggak apa-apa, kan?"
Kedua bola matanya Hanum malah berbinar, sudut bibirnya tertarik ke belakang, senyum lebar pun terukir.
"Sangat tidak apa-apa, justru Aku malah lagi pengen banget makan bubur ayam ditambah sambal yang pedas"
Johan tersenyum lebar saat mendengar Hanum suka makanan pedas, sama seperti dirinya yang merupakan seorang pecinta kuliner pedas.
Dan akhirnya, sambil berjalan berdampingan menuju gerobak penjual bubur ayam, Hanum merasakan debaran jantungnya yang jauh lebih mewah daripada pesta gala dinner manapun yang pernah ia hadiri. Dan di bawah langit kota Jakarta yang mulai terang, ia tersadar bahwa identitas "Hanum si wanita Sederhana" adalah kunci untuk membuka pintu hati Johan yang selama ini tertutup rapat bagi wanita dari kelas sosialnya.
Bagi Johan, Hanum adalah sosok wanita yang indah dan juga anggun. Dan bagi Hanum, Johan adalah kejujuran yang tidak bisa ia beli dengan harta kekayaan keluarga Sanjaya Group. Penyamaran ini memang nekat, tapi demi cintanya, Hanum siap dan rela menjadi siapa saja.
*
*
Cahaya yang temaram dari lampu gantung di dalam ruang makan telah memantul pada lapisan cream cokelat kue tart yang masih utuh. Di atasnya sebuah lilin angka 15 berdiri dengan tegak, kaku, dan juga dingin, seolah mengejek penantian seseorang yang sia-sia.
Hanum duduk terpaku dan termenung. Setetes air matanya telah jatuh, membasahi punggung tangannya yang mulai menampakkan garis-garis halus di usianya yang sudah tidak muda lagi. Lima belas tahun Hanum telah menukar kemegahan nama Sanjaya demi kesederhanaan bersama Johan. Namun, dua tahun terakhir ini, mahligai yang ia bangun dengan peluh, pengorbanan dan penyamaran itu terasa seperti rumah kaca yang kini telah retak.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, dimana aroma aspal basah di dekat GOR Senayan, saat Johan memujinya karena tampil sederhana. Kenangan itu adalah satu-satunya obat bius yang mampu meredam betapa perih hatinya saat ini.
Aliya dan Adiba, adalah putri kembar Hanum dan Johan yang mewarisi kecantikan lembut Hanum, keduanya berdiri di ambang pintu ruang makan. Hati mereka hancur melihat sosok ibu yang biasanya kuat dan tegar, namun kini tampak begitu rapuh.
Kemudian Aliya melangkah mendekat dan merangkul pundak bundanya yang terasa lemas. "Bunda, sebaiknya Bunda istirahat. Percuma, Bun.... Ayah tidak akan pulang!"
Suara Aliya bergetar antara kesedihan dan amarah yang terpendam terhadap ayahnya.
Lalu Adiba duduk di kursi sebelah Hanum, sambil menggenggam tangannya.
"Iya Bun, aku khawatir Bunda sakit, ini sudah hampir lewat tengah malam loh."
Hanum perlahan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Lalu Ia menoleh, menatap kedua putri kesayangannya dengan senyum yang dipaksakan, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Bunda baik-baik saja kok. Kalian tidak perlu khawatir. Sebaiknya Aliya dan Adiba tidur gih, nanti Bunda menyusul. Bunda cuma mau menunggu sebentar lagi, siapa tahu bunyi klakson mobil nya Ayah terdengar."
"Tapi Bun...." Aliya tak meneruskan kalimatnya saat Hanum mengelus pipinya dengan lembut.
"Ssstttt.... Bunda cuma sebentar lagi. Pergilah tidur, besok kalian masuk pagi, kan?"
Dengan berat hati, kedua remaja itu beranjak dari tempat duduknya. Di balik punggung ibunya, Aliya dan Adiba saling bertukar pandangan, dengan tatapan yang penuh kebencian pada sosok ayah yang kini terasa seperti orang asing yang tak lagi memiliki hati.
Saat suasana sunyi kembali menguasai. sebuah bayangan bergerak dari balik kain gorden pembatas ruang tengah. Bu Anita, sang ibu mertua Hanum, duduk di kursi roda, kecelakaan dua puluh tahun yang lalu, telah membuat kedua kakinya lumpuh. di sana dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya. Ia memperhatikan menantunya yang malang itu dengan kepuasan yang dingin.
Bu Anitta berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Menangislah sepuas mu, Hanum. Percuma saja, bahwa suamimu itu tidak akan pulang malam ini. Dia sudah berada di tempat yang seharusnya, jauh dari wanita yang membosankan seperti dirimu."
Dimata Bu Anita, Hanum tetaplah wanita sederhana yang tidak pernah sepadan dengan ambisinya untuk Johan, tanpa pernah ia tahu bahwa wanita yang telah di remehkan itu sebenarnya adalah pemilik takhta Sanjaya yang sesungguhnya.
Hanum kembali menatap lilin yang kini telah padam. Di dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya.
Sampai kapan obat dari kenangan masa lalu itu bisa terus menyembuhkan lukanya, jika yang memberikan luka untuknya adalah orang yang sama?
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔