Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Fadhlan berjalan kembali menuju rumah dengan didampingi Abi dan Kakek, diikuti rombongan keluarga di belakangnya. Langkah kakinya yang biasa tegap, kini terasa sedikit goyah karena debaran jantung yang menggila.
Begitu kakinya melangkah melewati ambang pintu rumah, dada Fadhlan bergetar hebat. Di ujung ruangan, di atas kursi pelaminan indoor bernuansa white-lilac yang dipenuhi bunga-bunga segar, Syifa sedang duduk menantinya. Gadis itu menunduk dalam, tangannya yang terbalut sarung tangan brokat saling meremas di atas pangkuan. Jantung Syifa berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di telinga.
Syifa berdiri perlahan, menyambut langkah kaki Fadhlan yang kian mendekat hingga akhirnya pria itu berhenti tepat satu langkah di hadapannya. Dalam jarak sedekat ini, keduanya melafalkan sholawat di dalam hati, memohon agar Allah menenangkan gemuruh di dada mereka.
"Ayo Nduk, kamu sudah boleh memandang wajah suamimu. Nak Fadhlan, kamu juga sudah boleh memandang wajah istrimu," tutur Ummi Salwa dengan suara lembut yang memecah keheningan.
Perlahan, Syifa mengangkat wajahnya. Di saat yang sama, Fadhlan menunduk, netra mereka bersua. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, saling menatap dalam waktu yang lama tanpa ada batasan lagi. Fadhlan terpaku menatap mata bening Syifa, sementara Syifa terpesona oleh binar keteduhan yang terpancar dari mata suaminya.
Dengan sedikit gemetar, Syifa meraih ronce melati dan mengalungkannya ke leher Fadhlan sebagai tanda bakti pertamanya. Tanpa perlu diarahkan oleh pemandu adat, Fadhlan maju selangkah. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, meletakkan telapak tangannya dengan lembut di atas puncak kepala Syifa yang berbalut hijab dan mahkota kecil.
Fadhlan memejamkan mata sejenak, lalu melafalkan do'a dengan suara yang bergetar penuh penghayatan. Abi Musthofa yang menyaksikan hal itu tersenyum dengan rasa bangga yang membubung tinggi, menantunya yang kini telah menjadi orang sukses dan terpandang, ternyata tidak sedikit pun melupakan ilmu agama yang ia timba di pondok pesantren dulu.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Mendengar do'a suaminya, air mata Syifa kembali menetes pelan. Suasana di ruang tamu itu mendadak penuh haru biru saat semua orang menggemakan kata, "Aamiin..."
Fadhlan menurunkan tangannya, lalu menunduk sedikit untuk mengecup dahi Syifa dengan lembut dan lama. Sentuhan bibir Fadhlan di dahinya membuat seluruh tubuh Syifa mendadak kaku seperti tersengat aliran listrik.
Kini tiba saatnya Syifa untuk menyalami tangan suaminya. Namun, rasa gugup yang luar biasa membuat Syifa mendadak ragu dan menarik ulur tangannya. Melihat keponakannya yang kaku, Tante Silvi gemas dan hendak turun tangan untuk menyatukan tangan mereka.
"Sebentar, Tante..." cicit Syifa pelan, sedikit mengibaskan tangannya ke udara.
"Ayo toh, Syif... udah boleh pegangan itu, udah halal!" goda Tante Dini dari barisan belakang, memicu tawa kecil dari keluarga.
Melihat wajah Syifa yang memerah sempurna karena panik dan gugup, rasa gemas di dada Fadhlan tak terbendung lagi. Pria itu berinisiatif lebih dulu, ia meraih jemari Syifa, lalu menggenggamnya dengan erat dan hangat dalam kepalan tangannya.
'Ya Allah... begini ya rasanya bersentuhan dengan seorang pria yang statusnya sudah menjadi pasangan halal,' lirih Syifa dalam hati, merasakan kehangatan tangan Fadhlan menjalar hingga ke hatinya yang paling dalam.
Syifa menunduk, lalu mencium punggung tangan Fadhlan dengan takzim. Melihat kepatuhan dan ketulusan istrinya, pertahanan emosi Fadhlan runtuh.
Air mata pria dingin itu menetes. Secara refleks, Fadhlan menarik tubuh ramping Syifa ke dalam pelukan hangatnya, mendekapnya erat di depan semua orang, lalu kembali mendaratkan ciuman dalam di keningnya.
"Pak Fadhlan!" bisik Syifa kaget, tertahan di dada bidang suaminya.
"Terima kasih..." bisik Fadhlan sangat pelan di dekat telinga Syifa, suara yang sarat akan rasa lega dan kebahagiaan yang teramat sangat.
Sorak-sorai dan godaan dari para sahabat dan keluarga seketika pecah, merusak suasana syahdu namun menggantinya dengan keceriaan yang meriah.
"Eh, Pak Dosen main peluk Syifa aja nih! Uluh-uluh, so sweet banget!" seru Jihan kegirangan sambil bertepuk tangan.
"Ciyee, Kak Syifa... pengantin baru!" ledek Tasya ikut-ikutan, membuat Syifa semakin ingin menyembunyikan wajahnya di dada Fadhlan.
"Duhai senangnya pengantin baru..." goda Paman Andi bersenandung.
Alwi menyenggol lengan Aidan sambil berteriak jahil, "Gas lah, Fad, nanti malam! Jangan kasih kendor!"
"Sabar nunggu nanti malam ya, Bang Fadhlan!" timpal Haikal tak kalah antusias, membuat telinga Fadhlan ikut memerah karena godaan teman-temannya.
...----------------...
Siang harinya, acara berlanjut ke area halaman rumah. Fadhlan dan Syifa kini telah duduk di kursi pelaminan bertema outdoor yang asri sesuai kesepakatan keluarga, setelah sebelumnya menghabiskan waktu di pelaminan indoor impian Syifa.
Suasana begitu meriah dengan sesi foto bersama bergantian. Tante Sarah dan Nafisah memberikan selamat, begitu pula orang tua Adiba dan orang tua Jihan serta tamu undangan yang kebanyakan teman/kenalan dari Ummi Salwa, Abi Musthofa, dan Kakek Ali yang mengular ingin mengabadikan momen bersama pengantin baru.
Setelah berdiri berjam-jam menyalami tamu dengan high heels yang cukup tinggi, kaki Syifa mulai terasa kebas dan nyeri. Ia sesekali menggeser tumpuan berat badannya dengan raut wajah menahan sakit. Fadhlan, dengan kejelian seorang dosen yang biasa mengamati mahasiswanya, langsung menangkap gelagat tidak nyaman sang istri.
Pria itu menoleh. "Kalau kakinya sakit, duduk saja," ujar Fadhlan, nadanya datar namun tersirat perhatian yang pekat.
"Engga... engga sakit kok," jawab Syifa berbohong, memaksakan senyum.
Tanpa diduga, Fadhlan langsung membungkukkan badannya di depan kursi pelaminan. "Sini, saya bantu lepaskan sepatunya."
"Eh! Enggak usah, Pak! Eh... Mas! Iya, iya, saya duduk!" seru Syifa panik, cepat-cepat menahan lengan kekar Fadhlan agar pria itu tidak berlutut di lantai demi melepaskan sepatunya di depan umum.
Fadhlan kembali menegakkan tubuhnya, menatap Syifa datar. "Hm. Kamu sudah makan belum?"
Syifa menggelengkan kepalanya pelan, perutnya terlalu tegang sejak pagi untuk menerima makanan.
"Saya ambilkan makanan dulu untukmu, hm?" tawar Fadhlan lembut.
"Jangan, Pak... nanti saja, enggak enak sama tamu," tolak Syifa merasa sungkan.
Melihat ada perbincangan di pelaminan, seorang kru dari Wedding Organizer (WO) dengan sigap berjalan mendekat. "Ada yang dibutuhkan Pak, Bu? Biar saya ambilkan makanan atau minumannya?"
"Tidak usah. Terima kasih, saya bisa sendiri," jawab Fadhlan dengan nada datarnya yang khas, membuat kru WO itu mengangguk sopan lalu mundur.
Tanpa memedulikan gengsinya sebagai seorang Fadlan Ganendra, ia berdiri dari pelaminan. Lalu berjalan sendiri menuju pondokan katering, mengambil satu piring makanan dan segelas air putih untuk istrinya.
Kembali ke pelaminan, Fadhlan tidak hanya meletakkan piring itu, melainkan duduk menyamping menghadap Syifa. Ia menyendok sedikit nasi dan lauk, lalu mengarahkannya ke depan bibir Syifa.
"Buka mulutnya," titah Fadhlan lembut namun tidak menerima penolakan.
Syifa tertegun, matanya mengerjap panik melihat pemandangan di depannya, apalagi puluhan pasang mata tamu undangan kini tengah menatap mereka sambil tersenyum-senyum heboh. Dengan pipi yang merona malu, Syifa akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari suaminya. Fadhlan dengan telaten menyuapinya sesendok demi sesendok, memastikan istrinya tidak kelaparan di hari bahagia mereka.
Di bawah tenda tamu, Nafisah yang duduk bersama ibunya tak henti-hentinya tersenyum melihat kemesraan itu.
"Abang Fadhlan kelihatan sayang banget ya, Mah, sama Syifa," ujar Nafisah menyenggol lengan Tante Sarah, ikut meleleh melihat sisi hangat kakak sepupunya yang biasanya sekaku es balok.
Tante Sarah mengulas senyum penuh keharuan, matanya berbinar menatap pelaminan. "Iya, Nak. Dulu mereka memang sudah sering main bersama. Ke mana-mana selalu berdua, Fadhlan itu pelindungnya Syifa sejak kecil."
Nafisah menyandarkan kepalanya di bahu ibunya sambil mendesah kagum. "Masyaa Allah ya mah, kisah cintanya mereka. Semoga nanti aku juga dapet jodoh yang baik, bertanggung jawab, dan penyayang seperti Bang Fadhlan ya, Mah."
Tante Sarah mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut. "Aamiin ya Rabbal'alamiin... Insyaa Allah, Nak."
...****************...