NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Yang Mengawasi

Langkah kaki mereka menjadi lebih cepat saat melewati jalan sempit yang sekarang benar-benar gelap. Hanya sinar dari senter ponsel Adrian yang menerangi kegelapan malam, kadang-kadang memantul pada batang bambu yang bergetar karena angin. Suara kantong belanjaan yang dibawa Bagas mengganggu keheningan yang mulai menganggu.

"Apakah kamu merasa bahwa Teh Imah barusan sepertinya menyembunyikan sesuatu? Ketika aku bertanya tentang gerbang itu, ekspresinya langsung berubah. Dia nggak sebersahabat saat pertama datang ". Tanya Bagas dengan nada lembut, matanya waspada mengawasi depan.

"Iya, aku setuju dengan Bagas. Apalagi saat dia bilang jangan lihat-lihat ke gerbang lagi. Itu justru bikin kita semakin berpikir negatif. Dan tentang sesajen yang kamu lihat di dapur tadi, Yan apakah kamu yakin itu hanya barang lama? ". Dinda cepat mengangguk, tangannya menggenggam erat tali tasnya.

"Dengar ya, warga desa punya cara unik untuk mempertahankan wilayah mereka. Mungkin gerbang itu dianggap sebagai area keras, karena dianggap kotor atau sumber penyakit, jadi mereka memberikan tanda kain kuning supaya penduduk gak sembarangan masuk. Tentang sesajen, itu bagian dari kepercayaan lokal. Kita di sini bukan untuk menyelidiki hal-hal gaib.". Adrian menghela napas dalam, berusaha menjaga suara tetap tenang dan rasional.

"Logika terus kamu, Yan. Masalahnya, rumah kolonial yang kita tempati juga aneh. Apa kamu gak lihat saat kita melewati gerbang itu lagi? Baunya makin nyengat, padahal anginnya gak kencang. Rasanya seperti bau bangkai yang dipadu dengan melati. Sangat menjijikkan,". Sahut Bagas dengan nada kesal.

"Tunggu. Apakah kalian dengar? Seperti ada suara langkah kaki di belakang kita, tetapi ritmenya berbeda.," Dinda tiba-tiba terhenti, membuat Adrian dan Bagas ikut berhenti dengan cepat.

Ketiga dari mereka diam sejenak. Hanya suara jangkrik dan desisan daun bambu yang terdengar. Adrian mengarahkan sinarnya ke jalan yang baru saja mereka lewati, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

"Gak ada apa-apa, Din. Itu cuma suara sandal kita sendiri yang memantul ke dinding tebing. Ayo, sampai tiba di rumah, segera nyalakan lampu, kunci pintu, dan kita masak. Jangan ada yang berpikir aneh.". Katanya, meskipun dia sendiri mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Mereka melanjutkan berjalan, kali ini hampir berlari. Bayangan besar rumah kolonial yang gelap mulai terlihat di ujung jalan, berdiri dengan angkuh seolah mengawasi kedatangan mereka kembali.

Saat kaki mereka menginjak teras rumah, suara adzan Maghrib mulai bergema dari jauh, memecah keheningan desa. Suara tersebut terasa seperti pelindung bagi mereka. Tanpa banyak bicara, Adrian segera mengambil alih. "Ayo, langsung berwudu. Kita sholat berjamaah di ruang tengah supaya lebih tenang. "

Mereka membentangkan sajadah di atas lantai tegel yang sudah mereka bersihkan. Adrian berdiri di depan sebagai imam, Bagas di belakangnya, dan Dinda di barisan paling belakang. Suasana seharusnya khusyuk, tetapi saat Adrian mengucapkan takbir pertama, suasana ruangan tiba-tiba menjadi sangat berat.

Di tengah kesunyian rakaat pertama, suara lembut mulai muncul. Ini bukan suara angin, tetapi tawa ringan seorang wanita. Suara tersebut sangat halus, seakan berasal dari balik tembok tebal atau mungkin dari lantai dua yang tak terisi. “Hihihi. . . ” Suara itu muncul dan menghilang di antara pembacaan ayat kursi yang dinyanyikan oleh Adrian.

Bagas sempat merasa goyah, bahunya terasa tegang, namun dia terus melakukan gerakan sholat. Adrian pun meneruskan pembacaan ayat-ayat suci dengan suara yang sedikit dikeraskan, seakan tengah bersaing dengan tawa yang semakin lama semakin jelas terdengar di telinga mereka.

Ketika memasuki rakaat akhir, dalam posisi tahiyat akhir, Dinda merasakan sesuatu yang membuat jantungnya hampir terhenti. Dia merasakan angin dingin yang berhembus di punggungnya, dan seolah-olah barisan di sampingnya kini tidak lagi kosong. Dia mendengar suara gesekan kain mukena, suara yang sangat jelas dan napas lembut yang selaras dengan irama napasnya. Dinda yakin bahwa ada sosok lain yang juga duduk bersimpuh di sampingnya, mengikuti sholat mereka.

Keringat dingin mengalir di dahi Dinda. Tangannya bergetar di atas paha. Dia sangat ingin berteriak, tetapi tenggorokannya terasa tercekik.

“Assalamu’alaikum warahmatullah. ” Adrian menoleh ke kanan, kemudian ke kiri.

Dinda terdiam. Dengan sisa keberaniannya, dia perlahan-lahan mengalihkan pandangannya ke samping, tempat di mana ia merasakan kehadiran tersebut. Kepalanya bergerak sangat pelan, jantungnya berdetak cepat hingga terdengar di telinga.

Namun, tidak ada siapapun.

Hanya dinding kosong yang dingin dan bayangan tirai yang bergerak perlahan tertiup angin dari celah jendela. Sosok wanita berpakaian putih yang ia bayangkan tidak ada di sana.

“Din? Kamu baik-baik saja? ”. Tanya Adrian sambil berbalik, menyadari wajah Dinda yang tampak sangat pucat.

“Nggak. . . nggak apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja karena capek. ”. Dinda hanya menggeleng pelan, napasnya terengah-engah. Ia segera melipat sajadahnya tanpa berani menatap sudut-sudut gelap ruangan.

“Aku juga mendengar, Yan. Suara tawa itu bukan suara musang.”. Bagas mengusap wajahnya dengan kasar.

Sudah, yang terpenting kita sudah sholat. Sekarang kita nyalakan semua lampu yang tadi kita beli. Jangan biarkan ada sudut gelap di rumah ini. ”. Adrian terdiam sejenak, memandang pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!