NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Lembayung senja mulai memudar saat Fathan dan Humairah tiba di depan pintu rumah utama.

Suasana pesantren masih riuh dengan suara santri yang bersiap menuju masjid untuk salat Maghrib.

"Assalamualaikum," ucap Fathan dengan nada datar saat melangkah masuk ke ruang tengah.

"Waalaikumussalam," jawab Nyai Latifah yang rupanya sudah menunggu di sofa ruang tamu dengan tumpukan daftar belanjaan di tangannya.

Humairah masuk mengekor di belakang suaminya, tetap dengan menundukkan pandangan.

Cadar hitamnya masih melekat erat, menyembunyikan wajah lelahnya setelah seharian menghadapi tekanan di kelas dan hukuman hafalan para santriwati.

Baru saja Humairah akan melangkah menuju kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum Maghrib, suara tajam Nyai Latifah menghentikannya.

"Humairah, mau ke mana kamu? Enak sekali mau langsung istirahat," cetus Nyai Latifah tanpa menoleh.

"Malam ini akan ada pertemuan keluarga besar dan pengurus yayasan. Saya mau kamu buatkan pastel. Ingat, jangan beli kulit jadi. Buat sendiri adonannya supaya renyah, isinya juga harus padat."

Humairah menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar.

Ia melirik jam dinding; waktu Maghrib hanya tinggal beberapa menit lagi.

Membuat pastel dari nol untuk acara keluarga besar bukanlah pekerjaan singkat.

"Tapi Umi, ini sudah hampir Maghrib. Apakah boleh saya kerjakan setelah shalat?" tanya Humairah dengan suara lembut yang bergetar.

"Tidak ada alasan! Kalau kamu mulainya nanti, kapan selasainya? Kamu mau tamu-tamu kita kelaparan? Dan satu lagi, itu ada kepala ayam yang akan aku buang ke sampah. Tapi, sayang rasanya. Jadi buat kamu saja," sahut Nyai Latifah ketus.

Humairah terdiam, matanya beralih menatap punggung Fathan yang berdiri hanya satu meter darinya.

Ia berharap suaminya akan bicara, setidaknya mengatakan bahwa Humairah perlu istirahat karena baru saja pulang mengajar atau yang lainnya. Namun, Fathan justru terus melangkah masuk ke dalam kamar seolah tidak mendengar percakapan itu. Dan seperti biasa, Fathan tidak melarang ataupun melindunginya.

Ia membiarkan istrinya menjadi sasaran perintah ibunya tanpa sedikit pun niat untuk menengahi.

Baginya, kepatuhan Humairah kepada orang tuanya adalah hal yang mutlak, tak peduli meski itu menguras tenaga dan batin wanita itu.

"Baik, Umi. Humairah buatkan sekarang," jawab Humairah lirih.

Ia meletakkan tas kitabnya di kursi kayu, lalu berjalan menuju dapur dengan langkah gontai.

Di dalam kamar, Fathan melepas sorbannya dan duduk di tepi tempat tidur, mendengarkan suara denting peralatan dapur yang mulai beradu.

Ada rasa tak nyaman yang menyelinap di hatinya, namun ia segera menepisnya dengan membayangkan bahwa semua ini adalah bagian dari "konsekuensi" yang harus Humairah tanggung karena telah masuk ke dalam keluarganya.

Di dapur yang mulai remang, Humairah mulai menguleni tepung yang sudah disiapkan.

Air matanya kembali jatuh, membasahi kain cadarnya yang belum sempat ia lepas.

Ia tidak lelah memasak, ia hanya lelah karena merasa tidak memiliki tempat untuk bersandar di rumah yang seharusnya menjadi surganya.

Perut Humairah berbunyi, sebuah keroncongan lirih yang hanya terdengar oleh telinganya sendiri.

Sejak pagi, lambungnya hanya terisi beberapa teguk air putih dan sedikit nasi goreng yang sempat ia telan dalam ketegangan tadi pagi.

Aroma gurih dari pastel yang baru saja diangkatnya dari penggorengan benar-benar menguji pertahanannya.

Warna pastel itu kuning keemasan sempurna, dengan pinggiran yang dipilin rapi—hasil kerja keras tangannya yang kini memerah karena panas minyak dan lelah menguleni adonan.

Humairah menatap piring saji yang penuh dengan pastel hangat itu.

Tangannya gemetar saat hendak mengambil satu buah saja untuk mengganjal perutnya yang mulai terasa perih melilit.

Baru saja jarinya menyentuh permukaan kulit pastel yang renyah, sebuah tepukan kasar mendarat di punggung tangannya.

"Ehh! Jangan kamu ambil!" bentak Nyai Latifah dengan suara melengking Nyai Latifah menggelegar di dapur.

Beliau muncul dengan wajah sinis, merebut piring berisi pastel itu dari jangkauan Humairah.

"Lancang sekali kamu. Ini makanan untuk tamu-tamu terhormat, untuk pengurus yayasan, bukan untuk tukang masak sepertimu!"

Nyai Latifah mendengus, matanya menatap Humairah seolah wanita bercadar itu adalah kotoran yang menempel di lantai marmernya.

"Maaf, Umi. Humairah hanya merasa sedikit pusing karena belum makan," lirih Humairah sambil menunduk.

Nyai Latifah tertawa hambar, lalu meraih sebuah piring plastik kecil yang tergeletak di pojok bak cuci piring.

Di atas piring itu, terdapat tiga potong kepala ayam yang kulitnya sudah pucat dan beberapa bongkah tulang leher yang hampir tidak berdaging—sisa potongan yang tadi ia sebut akan dibuang.

"Ini makanan kamu," ucap Nyai Latifah sambil menyodorkan piring plastik itu dengan kasar.

"Kamu tidak pantas makan daging ayam di keluarga ini. Bagian daging itu untuk anakku dan tamu-tamu. Kamu cukup makan sisa yang tidak dimakan orang saja."

Humairah terpaku menatap piring plastik itu. Tenggorokannya terasa tersumbat. Hinaan ini lebih perih daripada rasa lapar yang menyiksa perutnya.

"Lekas makan di sini! Jangan di ruang makan," bentak Nyai Latifah lagi.

"Aku tidak mau meja makan itu jadi kotor karena kamu duduk di sana. Makan di dekat bak cuci piring saja, setelah itu segera cuci semua peralatan kotor ini!"

Setelah meletakkan piring 'sampah' itu di meja dapur yang basah, Nyai Latifah berlalu pergi sambil membawa nampan berisi pastel hangat, meninggalkan Humairah dalam kesunyian dapur yang menyesakkan.

Humairah berdiri mematung. Ia menoleh ke arah pintu dapur yang menuju ruang tengah.

Di sana, ia bisa melihat siluet Fathan yang baru saja keluar dari kamar, sudah berganti pakaian bersih dan wangi. Fathan sempat melirik ke arah dapur, melihat istrinya berdiri di depan piring berisi tulang-tulang ayam.

Fathan melihat semuanya. Ia melihat piring plastik itu, ia melihat posisi Humairah yang diusir dari meja makan. Namun, pria itu hanya memperbaiki letak jam tangannya, lalu memalingkan wajah dan berjalan menuju ruang tamu untuk menyambut para pengurus yayasan.

Lagi-lagi, tidak ada suara pembelaan. Tidak ada teguran untuk ibunya. Fathan seolah membiarkan Humairah diperlakukan seperti pelayan kasta terendah.

Dengan tangan gemetar, Humairah meraih sepotong kepala ayam dingin itu.

Ia duduk di sebuah kursi kayu kecil di sudut dapur, membelakangi kemewahan rumah yang tidak pernah menganggapnya ada.

Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, air matanya jatuh membasahi tulang ayam yang sedang ia pegang.

Setiap gigitan terasa pahit, bukan karena rasanya, tapi karena harga dirinya yang baru saja hancur berkeping-keping.

Di ruang tengah, suara tawa para tamu dan pujian atas "pastel yang sangat enak" terdengar riuh, kontras dengan isak tangis tertahan seorang istri yang kelaparan di balik dinding dapur.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!