NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Putra ke dua keluarga De Arther

Malam itu suasana mansion keluarga de Arther terasa lebih sunyi dari biasanya.

Para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan tanpa berani banyak bicara. Ruangan itu luas dan gelap, dipenuhi rak buku serta aroma rokok yang samar.

Di balik meja besar, seorang pria paruh baya duduk sambil membaca beberapa dokumen.

"Putra kedua sudah datang."

Leon melangkah tenang hingga berhenti di depan kursi paling ujung.

Di sana duduk seorang pria paruh baya dengan aura menekan yang sangat kuat.

Arthur Knight de Arther. Pemimpin keluarga de Arther, Ayah Leon. "Akhirnya kau datang," ucap Arthur dingin.

Arthur menutup map di tangannya pelan.

"Kau terlambat lima menit."

"Ada tugas sekolah."

Arthur tersenyum tipis, tetapi tidak hangat.

"Sekolah lagi."

Leon diam.

Ayahnya berdiri lalu berjalan mendekat dengan aura menekan yang selalu membuat ruangan terasa sesak. "Kau tahu kenapa aku memanggilmu?"

Leon menggeleng kecil. Leon duduk tanpa ekspresi.

"Ada masalah apa?"

Arthur mengambil sebuah foto dari meja lalu melemparkannya ke depan Leon. Foto sebuah gudang penuh senjata dan beberapa pria bersimbah darah.

"Keluarga Moretti mulai bergerak lagi."

Tatapan Leon langsung berubah dingin.

"Mereka menyerang wilayah pelabuhan kita tadi sore."

"Apa hubungannya denganku?"

Arthur menatap putra keduanya tajam.

"Kau akan mulai ikut menangani urusan keluarga."

Leon terdiam beberapa detik. "Tapi aku masih sekolah."

"Kau tetap putra keluarga de Arther." Nada suara Arthur berubah lebih berat. "Kakakmu terlalu gegabah. Dan kau lebih pintar dibanding dirinya."

Leon mengepalkan tangan pelan. Ia sudah tahu hari ini akan datang. Hari di mana dirinya benar-benar ditarik masuk ke dunia gelap keluarganya.

"Aku tidak mau dan aku tidak tertarik."

Suasana ruangan langsung hening. Tatapan Arthur berubah dingin. "Ini bukan pilihan."

Leon membalas tatapan ayahnya tanpa rasa takut.

"Aku tidak ingin hidup seperti Ayah."

Kalimat itu membuat udara terasa membeku. Beberapa penjaga di luar ruangan bahkan langsung menundukkan kepala.

Arthur mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan Leon. "Kau pikir kau bisa lari dari nama de Arther?"

Leon diam.

Arthur melanjutkan dengan suara rendah dan menekan. "Sejak lahir, hidupmu sudah menjadi milik keluarga ini."

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Leon merasa sesak. Ia lelah hidup di bawah bayangan nama keluarganya sendiri. Lelah terus diperlakukan seperti alat.

Dan lebih dari itu, ia mulai takut dunia gelap keluarganya akan menghancurkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa tenang.

Arthur memperhatikan perubahan kecil di wajah putranya. "Kau berubah akhir-akhir ini."

Leon langsung kembali memasang ekspresi datar. "Aku tetap sama."

"Tidak." Tatapan Arthur menyipit tipis.

"Seorang de Arther tidak boleh memiliki kelemahan." Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Dan Leon tahu persis maksudnya. Ayahnya mulai menyadari keberadaan seseorang di sekolah yang memengaruhi dirinya.

Leon akhirnya mundur satu langkah. "Aku mau kembali ke kamar."

Arthur tidak menghentikannya. Namun sebelum Leon keluar ruangan, suara dingin ayahnya kembali terdengar. "Jangan sampai seseorang membuatmu melupakan siapa dirimu sebenarnya."

Langkah Leon berhenti sesaat. Tetapi ia tetap pergi tanpa menoleh lagi.

...----------------...

Keesokan paginya.

Leon datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Suasana kelas masih sepi.

Dan di dekat jendela Rachael sudah duduk sambil membaca buku.

Cahaya matahari pagi jatuh lembut di wajahnya, tenang dan hangat. Sangat berbeda dari dunia Leon.

Rachael menyadari kedatangan Leon lalu tersenyum kecil. "Pagi, Kenapa datang lebih awal?"

Leon menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursinya. "...Pagi, tidak ada alasan." Untuk pertama kalinya suara Leon terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.

Hari itu berjalan lebih tenang dari biasanya.

Setelah beberapa hari menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai murid pindahan, Rachael mulai terbiasa dengan suasana sekolah.

Meski begitu, satu hal tetap tidak berubah: semua orang masih menjaga jarak dari Leon.

Bahkan saat jam istirahat, bangku belakang dekat jendela tempat duduk Leon selalu terasa seperti dunia terpisah dari seluruh kelas.

Sorenya belum pulang. Leon berjalan sendirian menuju roof top sekolah untuk menghindari keramaian.

Namun baru saja membuka pintu roof top—

sebuah suara membuat langkahnya berhenti.

"Jadi ini tempat favoritmu?"

Leon menoleh.

Rachael berdiri di sana sambil membawa dua minuman kaleng. "Aku lihat kamu sering ke sini."

Leon sedikit menghela napas. "Kamu mengikuti aku?"

"Nggak sengaja. Lewat tadi melihat mu ke sini" Rachael berjalan mendekat lalu menyerahkan salah satu minuman.

Leon menatap kaleng itu beberapa detik sebelum menerimanya. "Terima kasih."

"Sama-sama. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak mencoba mencari perhatian mu." Rachael tersenyum kecil.

Hening beberapa saat.

Angin sore bertiup pelan di roof top yang sepi.

Rachael menatap langit mendung di atas kota.

"Kamu sebenarnya nggak seseram yang orang-orang bilang."

Leon tertawa kecil samar. Itu mungkin pertama kalinya ada yang membuat Leon tertawa. "Mereka punya alasan buat takut."

Rachael memperhatikan tawa kecil dan samar Leon.

"Karena apa? Karena keluargamu?" tanya Rachael pelan dan hati-hati.

Tatapan Leon langsung berubah tenang namun lebih dingin.

Rachael segera sadar kalau dirinya mungkin terlalu jauh bertanya. "Maaf kalau perkataan ku menyinggung mu, tapi kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa."

Leon memandang kota di depan mereka cukup lama sebelum akhirnya bicara pelan.

"Dunia keluargaku... nggak cocok buat orang biasa."

Nada suaranya terdengar berbeda, lebih berat. Seolah ada sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian.

Rachael memperhatikannya diam-diam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lelah dari seorang Leon Knight de Arther.

"Kamu membenci keluarga mu?" tanya Rachael hati-hati.

Leon tersenyum tipis tanpa humor.

"Aku bahkan nggak pernah diberi pilihan."

Kalimat itu membuat dada Rachael terasa sesak aneh.

Karena di balik semua rumor menyeramkan tentang Leon—ternyata laki-laki itu hanyalah seseorang yang terjebak di hidupnya sendiri.

Tiba-tiba suara pintu roof top terbuka kasar.

"Tuan muda!"

Seorang laki-laki berpakaian hitam berdiri di sana sambil sedikit membungkuk. Itu bukan murid sekolah.

Tatapan Rachael langsung bingung.

Pria itu terlihat seperti pengawal.

"Tuan Muda, ada masalah," ucap pria itu serius.

Ekspresi Leon langsung berubah dingin dalam sekejap.

"Kenapa kamu ke sini?" tanya Leon rendah.

"Bos besar menyuruh saya menjemput Anda sekarang."

Leon menyipitkan mata. "Aku masih sekolah, tidak bisa. Sampaikan padanya aku tidak bisa."

"Tapi ini mendesak."

Suasana roof top mendadak terasa berat.

Leon mengepalkan kaleng minumannya pelan sebelum akhirnya berdiri. Tatapannya sempat beralih ke Rachael.

Dan untuk pertama kalinya, ada kekhawatiran kecil di mata dingin itu.

"...Pulanglah lebih awal hari ini."

Rachael sedikit bingung. "Memangnya kenapa?"

Leon tidak langsung menjawab.Namun sebelum pergi, ia berkata pelan, "Dan jangan terlalu dekat denganku."

Kalimat itu membuat Rachael membeku.

Leon berjalan pergi bersama pria tadi tanpa memberi penjelasan lagi.

Meninggalkan Rachael sendirian di rooftop dengan jantung yang berdetak aneh.

Karena meskipun Leon berkata untuk menjauh—

entah kenapa ia justru semakin ingin mengenal laki-laki itu lebih dalam.

Langit sore matahari senja, saat Leon meninggalkan roof top bersama pria berpakaian hitam itu.

Rachael masih berdiri diam di tempatnya.

Angin berembus pelan, memainkan ujung rambutnya, tetapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suasana di sekeliling roof top yang sunyi.

“Dan jangan terlalu dekat denganku.” Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Nada suara Leon tadi berbeda. Bukan dingin seperti biasanya. Melainkan terdengar seperti... peringatan atau mungkin ketakutan.

Rachael menunduk pelan melihat minuman kaleng yang tadi diberikan pada Leon masih berada di atas pagar roof top, belum sempat diminum sepenuhnya.

Padahal mereka baru saling mengenal beberapa hari. Namun semakin lama bersama Leon, semakin ia sadar bahwa laki-laki itu menyimpan terlalu banyak hal sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, Rachael mulai penasaran tentang dunia yang dijalani dan selalu disembunyikan Leon.

......................

Sementara itu.

Mobil hitam keluarga de Arther melaju cepat menembus jalanan kota. Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi.

Leon duduk di kursi belakang sambil menatap jendela dengan tatapan tajam.

Pria berpakaian hitam di kursi depan terlihat beberapa kali meliriknya lewat kaca tengah.

"Tuan muda..."

Leon tidak mengalihkan pandangan. "Bicaralah."

"Terjadi penyerangan di salah satu tempat penyimpanan keluarga."

Tatapan Leon sedikit berubah. "Moretti?"

"Ya, Tuan muda."

Leon menghela napas pelan.

Masalah lagi. Tidak pernah selesai.

Sudah sejak kecil ia hidup di tengah dunia penuh darah, ancaman, dan kekuasaan seperti ini.

Dan semakin dewasa—semakin ayahnya ingin menyeretnya lebih dalam.

Padahal Leon tidak pernah menginginkan semua itu.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung tua di kawasan pelabuhan.

Beberapa pria berpakaian hitam berjaga di sekitar area dengan wajah tegang.

Begitu Leon turun dari mobil, mereka langsung menundukkan kepala.

"Tuan muda."

Leon berjalan masuk tanpa menjawab.

Bau asap dan besi langsung memenuhi indra penciumannya.

Di dalam gudang, beberapa peti kayu berserakan di lantai. Bekas tembakan terlihat di dinding, sementara darah masih menetes tipis di sudut ruangan.

Seorang pria terlihat terluka di lengannya.

Leon menatap semuanya tanpa ekspresi. "Apa yang terjadi?"

Salah satu bawahan segera mendekat. "Kelompok Moretti menyerang sekitar satu jam lalu."

"Berapa orang?"

"Lima."

"Dan kalian kalah hanya karena lima orang?" Nada suara Leon tenang.

Namun justru itu yang membuat semua orang menunduk gugup.

"Tuan muda, mereka membawa senjata dan bom—"

"Itu alasan?"

Pria itu langsung diam.

Leon menatap bekas peluru di dinding sebelum akhirnya berbicara lagi. "Mereka sengaja menguji pertahanan kita."

"Tuan Besar juga mengatakan hal yang sama."

Leon memasukkan tangan ke saku celana.

Tatapannya dingin. "Kirim orang untuk memindahkan semua barang malam ini."

"Baik."

"Dan cari tahu siapa yang membocorkan lokasi gudang."

Suasana mendadak hening. Karena semua orang tahu apa artinya. Ada pengkhianat di dalam keluarga de Arther.

Leon memejamkan mata sebentar.

Ia lelah.

Sangat lelah.

Dulu saat kecil, ia sempat berpikir hidupnya akan berubah saat dewasa. Namun kenyataannya—

dirinya justru semakin terjebak.

"Tuan muda."

Leon membuka mata perlahan. "Apa lagi?"

Pria itu terlihat ragu sebelum berkata pelan, "Bos besar meminta Anda datang ke mansion setelah ini."

Leon langsung tahu. Ayahnya pasti sengaja memanggilnya untuk melihat semua ini. Agar ia terbiasa dan menerima takdirnya sebagai putra keluarga de Arther.

Leon terkekeh kecil tanpa humor.

Takdir?

Lucu sekali.

Takdir ku akan berbeda. Akan ku buktikan.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!