NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 19.

Malam itu, istana tidak benar-benar tenang.

Meski aula utama sudah kosong dan para menteri kembali ke paviliun masing-masing, suasana tegang masih terasa. Karena semua orang melihatnya tadi, Ratu Evelyn berdiri di tengah aula dan menyelamatkan harga diri kerajaan.

Sementara Pangeran William, gagal mempermalukan Raja Alexander.

Kabar itu menyebar cepat.

Di ruang para pelayan, mereka mulai berbisik.

Di paviliun selir, mereka mulai membandingkan. Bahkan beberapa bangsawan, diam-diam mulai mengubah sikap. Karena kini semakin jelas, Ratu bukan lagi wanita lemah yang menunggu mati. Ratu Evelyn... mulai berdiri sejajar dengan raja.

Di paviliun Ibu Suri Helena, sebuah vas mahal pecah menghantam lantai.

BRAK!

“Bodoh!”

Ibu suri Helena berdiri dengan wajah dingin, amarahnya jauh lebih mengerikan karena tidak meledak-ledak.

Pangeran William duduk diam di depannya, rahangnya mengeras.

“Siapa yang menyangka wanita itu bisa bahasa Valeria?” katanya rendah.

Helena menyipitkan mata. “Aku tidak peduli soal itu! Aku peduli karena Alexander mulai mempercayainya.”

Hening.

William tahu itu benar, dan itu masalah besar. Alexander selama ini selalu menjaga jarak dari siapa pun, termasuk bangsawan pendukungnya sendiri. Namun sejak Evelyn berubah, Alexander mulai membuka celah. Dan seorang raja yang mulai mempercayai orang lain… akan menjadi jauh lebih sulit dijatuhkan.

“Kalau begini terus,” Helena berkata dingin, “Keluarga Lancaster akan semakin kuat mendukung Alexander.”

William menatap luar jendela. “Kita belum kalah.”

“Ancaman harus dihancurkan sebelum tumbuh terlalu besar.” Tatapan Helena menggelap.

Di sisi lain istana...

Evelyn berdiri di dalam Ruang Ajaib, cahaya putih menerangi wajahnya yang tenang. Namun pikirannya bekerja cepat. Di depannya, layar transparan menampilkan peta kerajaan. Titik-titik merah mulai bermunculan di beberapa wilayah.

Pergerakan bangsawan utara.

Jalur perdagangan rahasia.

Dan aliran uang mencurigakan.

Evelyn menyentuh salah satu titik, informasi langsung terbuka. “Keluarga pendukung William…“

Ia mulai memahami sesuatu, William tidak bergerak terburu-buru karena ia sudah menyiapkan semuanya sejak lama.

Dukungan bangsawan.

Koneksi militer.

Jaringan perdagangan.

Bahkan Sophia, hanya salah satu bidaknya.

Evelyn berjalan menuju rak lain, lalu mengambil buku tebal tentang strategi perang modern. Kalau William ingin memainkan permainan kerajaan lama, maka ia akan melawannya dengan sesuatu yang bahkan belum pernah dibayangkan dunia ini.

Tatapannya jatuh pada meja besar di sudut ruangan, di sana terdapat beberapa benda logam kecil.

Bom asap.

Pemicu api.

Dan rancangan senjata jarak jauh.

Kasim Bernard sudah mulai membuat prototipe pertama secara diam-diam. Belum sempurna, namun cukup membuat Evelyn tersenyum tipis.

“Pelan-pelan…” Jarinya menyentuh salah satu rancangan. “…kerajaan ini akan berubah.”

Sementara itu, Raja Alexander berjalan memasuki paviliun ratu tanpa pengawal. Dan itu, sudah menjadi kebiasaan sekarang.

Begitu masuk, ia langsung melihat Evelyn duduk sambil membaca dokumen.

“Masih belum tidur?”

Evelyn mengangkat kepala. “Yang Mulia juga belum.”

Alexander duduk di depannya, lalu matanya jatuh pada beberapa gambar aneh di meja.

“Ini lagi?”

Evelyn tidak menyembunyikannya kali ini, ia justru mendorong salah satu kertas ke arah Alexander. “Lihat...”

Alexander mengambilnya, alisnya langsung sedikit terangkat. “Senjata?”

“Versi yang lebih kecil.”

Alexander membaca cepat, semakin lama tatapannya semakin serius. “Kalau benda ini benar-benar bisa meledak…”

“Pasukan berkuda bisa dihancurkan lebih cepat,” lanjut Evelyn tenang.

Hening.

Alexander perlahan meletakkan dokumen itu, ia menatap Evelyn cukup lama. “Apa kau benar-benar datang dari dunia yang menakutkan?”

Evelyn tersenyum kecil. “Duniaku... jauh lebih kejam dibanding istana ini.”

Raja Alexander sebenarnya sudah mulai menduga bahwa Evelyn bukanlah ratu yang asli. Terlebih setelah percakapan mereka semalam, saat Evelyn tanpa sadar membahas tentang dunia modern... dunia tempat asalnya. Dan entah kenapa, Alexander mempercayainya.

Dan itu bukan bohong, Evelyn pernah hidup di dunia modern yang penuh persaingan. Pengkhianatan dan permainan kekuasaan. Karena itu, politik istana justru terasa familiar baginya.

Sebenarnya… siapa Evelyn di dunia modern? Dan seperti apa kehidupan yang ia jalani sebelum berada di sini? ~ Batin Alexander penasaran.

Alexander menyandarkan tubuh sambil memperhatikan wanita itu. “Kau tahu?”

“Hm?”

“Kalau benda-benda ini jatuh ke tangan William…”

“Aku tahu.” Tatapan Evelyn berubah dingin. “Itu sebabnya... aku tidak akan membiarkannya menang.”

Hening beberapa detik.

Alexander lalu tertawa kecil. “Aku mulai merasa... kau lebih ambisius dariku.”

Evelyn menatap pria itu dalam-dalam. “Kalau aku lemah, aku sudah mati sejak hari pertama aku datang kesini.”

Jawaban itu membuat Alexander diam, karena Evelyn benar. Sejak bangun dari racun, Evelyn terus bertarung sendirian. Dan sekarang, wanita itu bahkan mulai ikut memikul kerajaan.

Alexander berdiri perlahan dari duduknya, lalu berjalan mendekati Evelyn. Dengan lembut, pria itu menarik tangan wanita tersebut agar berdiri.

“Kau terlalu lama duduk, tubuhmu pasti pegal.”

Evelyn nyaris memprotes, namun Alexander sudah lebih dulu menuntunnya duduk di kursi dekat jendela. Kemudian raja berdiri di belakang wanita itu dan mulai memijat pelan pundak Evelyn, seolah tindakan itu perlahan menjadi kebiasaan di antara mereka.

“Yang Mulia…”

“Anggap saja hadiah, karena sudah menyelamatkan harga diriku tadi.” Ucap Alexander lembut.

Evelyn menghela nafas kecil. “Padahal Yang Mulia sebenarnya sudah tahu penerjemah itu bermasalah.”

Alexander tersenyum samar. “Aku memang sudah curiga.”

“Lalu kenapa diam?”

“Karena aku ingin melihat... siapa yang akan bergerak memihak padaku.” Jari Alexander berhenti sesaat di pundak Evelyn, ia sedikit membungkuk mendekat. “Dan ternyata... ratuku jauh lebih hebat dari yang kuduga.”

Jantung Evelyn berdetak sedikit lebih cepat, ia memalingkan wajah sedikit.

“Yang Mulia terlalu suka menggoda.”

Alexander tertawa pelan di dekat telinganya. “Aku bersumpah, aku hanya melakukannya padamu.”

Hening.

Dan anehnya, kalimat sederhana itu justru membuat suasana semakin hangat.

Di luar, angin malam berhembus pelan. Namun di dalam kamar, dua orang itu semakin dekat tanpa sadar. Bukan hanya sebagai sekutu, bukan juga sebagai raja dan ratu. Namun dua penguasa… yang perlahan mulai membangun kerajaan mereka bersama.

...*****...

Pagi itu, paviliun ratu lebih ramai dari biasanya. Sebab kedatangan keluarga bangsawan Hawthorne... keluarga Selir Clara.

Nama besar bangsawan Hawthorne terkenal dalam militer kerajaan, keluarga yang mengendalikan sebagian besar pasukan wilayah timur. Dan terkenal sangat menjaga kehormatan. Begitu berita kedatangan mereka menyebar, beberapa menteri langsung mulai gelisah.

Karena semua orang tahu, selama ini keluarga Hawthorne menjaga jarak dari politik istana. Namun hari ini, mereka datang secara khusus ke paviliun ratu.

Evelyn duduk tenang di kursinya saat tiga orang memasuki ruangan.

Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas berada di depan.

Jenderal Theodore Hawthorne, Ayah Clara. Di belakangnya, dua pria muda berseragam militer mengikuti dalam diam... Kakak laki-laki Clara.

Begitu sampai di depan Evelyn, Jenderal Theodore langsung berlutut.

Semua pelayan langsung terkejut, karena seorang jenderal besar kerajaan jarang sekali merendahkan diri seperti itu.

“Jenderal?” Evelyn sedikit mengangkat alis.

Namun Theodore tetap menunduk. “Keluarga Hawthorne datang untuk membayar utang nyawa.”

Tatapan Evelyn sedikit berubah, namun tetap tenang. “Bangunlah dulu.”

Theodore akhirnya berdiri perlahan, namun sorot matanya masih penuh keseriusan.

“Clara sudah menceritakan semuanya.” Tangannya mengepal pelan. “Kalau Yang Mulia tidak menyelamatkannya waktu itu... putriku mungkin sudah menjadi mayat.”

Ruangan langsung sunyi.

Karena semua orang tahu, apa yang terjadi saat percobaan pembunuhan terhadap Selir Clara beberapa waktu lalu. Dan sejak saat itu, Clara benar-benar berdiri di pihak Evelyn. Hari ini, yang datang bukan hanya Clara. Melainkan... seluruh keluarganya.

“Aku hanya melakukan apa yang benar,” jawab Evelyn tenang.

Theodore menggeleng, tatapannya mengeras. “Di istana ini… orang yang melakukan hal benar justru paling langka.”

Kalimat itu terasa berat, karena benar. Selama bertahun-tahun, istana penuh permainan licik. Pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan. Namun Evelyn berbeda, Ia menyelamatkan Clara meski saat itu belum ada keuntungan jelas. Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan banyak orang.

Padahal Evelyn memang sudah menghitung semuanya sejak awal, keluarga Hawthorne terlalu berharga untuk dilepaskan. Dan sekarang, perhitungannya berhasil.

Theodore menarik pedangnya perlahan, lalu berlutut satu kaki. “Aku, Theodore Hawthorne…”

Dua putranya ikut menunduk.

“Bersumpah atas nama keluarga Hawthorne.”

Tatapan mereka lurus pada Evelyn.

“Kami akan melindungi Yang Mulia Ratu bahkan dengan nyawa kami!”

Hening.

Para pelayan menahan nafas, karena sumpah itu bukan hal kecil. Itu berarti keluarga Hawthorne resmi memihak ratu, dan itu akan mengguncang istana.

Evelyn menatap mereka beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu…”

Wanita itu berdiri perlahan, aura anggunnya langsung memenuhi ruangan. “Jangan mati sembarangan.”

Jawaban itu membuat Theodore tertawa kecil, suasana sedikit mencair.

Di balik itu semua orang sadar, kekuatan Ratu Evelyn semakin besar.

Siang harinya, kabar itu sudah menyebar ke seluruh istana.

“Jenderal Hawthorne bersumpah pada ratu!”

“Keluarga militer memihak ratu!”

Di aula para menteri, suasana mulai tidak tenang. Karena dukungan Evelyn sekarang terlalu besar untuk diabaikan.

Mereka adalah...

Keluarga Lancaster, keluarga bangsawan tertinggi.

Lord Vincent dan sebagian besar menteri reformasi.

Serikat pedagang.

Rakyat.

Dan sekarang... keluarga militer Hawthorne.

Perlahan, posisi Evelyn mulai berubah. Ia tidak lagi hanya seorang ratu, namun pusat kekuatan baru di kerajaan.

Di paviliun Sophia...

Suasana jauh lebih buruk.

CRASH!

Vas mahal kembali pecah.

Sophia berdiri dengan napas berat. “Kenapa semua orang mulai berpihak padanya?!”

Pelayan di sekelilingnya gemetar, tidak ada yang berani menjawab. Karena jawabannya jelas, Evelyn memberi mereka sesuatu.

Harapan.

Keuntungan.

Dan perlindungan.

Sementara Sophia, hanya memberi ketakutan. Namun yang paling membuat Sophia tidak tenang bukan soal dukungan politik, melainkan Raja Alexander. Karena sekarang, pria itu bahkan tidak berusaha menyembunyikan kedekatannya dengan Evelyn. Dan itu membuat seluruh istana mulai sadar, Raja benar-benar berada di pihak ratu.

Malam harinya, Alexander datang lagi ke paviliun ratu. Begitu masuk, ia langsung melihat tumpukan surat di meja Evelyn.

“Sepertinya ratuku semakin sibuk.”

Evelyn tidak mengangkat kepala. “Dukungan datang lebih cepat dari perkiraan.”

Alexander berjalan mendekat lalu mengambil salah satu surat.

“Keluarga Hawthorne.” Ia tersenyum samar. “Kau sengaja menyelamatkan Clara demi ini sejak awal?”

Evelyn akhirnya menatap raja, dia tidak menyangkal. “Militer selalu penting.”

Alexander tertawa kecil. “Kau benar-benar menghitung semuanya.”

“Aku tidak suka bergerak tanpa hasil.”

Tatapan Alexander perlahan berubah dalam, dan sekali lagi ia merasa kagum. Evelyn tidak hanya cerdas, wanita itu tahu bagaimana membangun kekuasaan sedikit demi sedikit.

Dari rakyat.

Pedagang.

Bangsawan.

Sampai militer.

Semuanya mulai berkumpul di belakangnya.

Alexander berdiri tepat di depan Evelyn sekarang, ia sedikit membungkuk. “Kalau begini terus, orang-orang akan mulai takut padamu.”

Evelyn tersenyum kecil, namun sorot matanya tajam. “Itu lebih baik... daripada diremehkan.”

Sunyi sesaat.

Lalu Alexander mengangkat tangan dan menyentuh dagunya pelan. “Dan bagaimana denganku?”

Tatapan mereka bertemu.

“Apa Yang Mulia takut padaku?”

Alexander tersenyum, senyuman rendah seorang predator. “Tidak.”

Jemarinya perlahan bergeser di rahang Evelyn. “Aku justru semakin menyukaimu.”

Jantung Evelyn berdetak sedikit lebih cepat, namun sebelum suasana berubah terlalu jauh... Kasim Bernard tiba-tiba masuk terburu-buru.

“Yang Mulia!”

Alexander langsung menoleh tajam, wajahnya tampak kesal karena merasa terganggu.

Kasim Bernard menelan ludah melihat wajah kesal sang raja, ia tau sudah menganggu tapi tetap melanjutkan. “Ada laporan dari utara.”

Tatapan Evelyn langsung berubah serius.

“Apa?”

Kasim Bernard menarik napas pelan. “Pasukan pribadi Pangeran William mulai bergerak diam-diam.”

Sunyi.

Kini, bau perang mulai terasa jelas di dalam istana.

*

*

*

Maaf ya, gak bisa up kemarin 🙏🏻

Soalnya ada gangguan sistem di NT, jadi dua b a b yang sudah di-upload belum lolos review 🥲

1
Tiara Bella
waduh pinter bngt author ceritanya saling menyambung ya
Wanita Tangguh🧩🌠: Kurang tau kak, mungkin beberapa ada yg gk lanjut baca 🤭 pas beberapa bab gak sesuai ekspektasi mereka, jd gk lanjut baca. Gpp, nulis ini aku santai aja kak bt selingan karya Leya😁
total 3 replies
Surianto Tiwoel
wah,, pasti ibu suri yg bunuh,, ibunya Alexander
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
Rita
tuh 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!