"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam Terakhir
Lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi, namun rasanya seperti bergerak dalam gerak lambat. Angka digital di atas pintu lift terus berganti, memantulkan cahaya merah yang samar di wajahku. 25... 30... 35. Ting!
Pintu besi berdenting pelan, terbuka dan menampakkan sebuah koridor eksklusif dengan karpet tebal beludru berwarna merah marun. Hanya ada satu ruangan di lantai teratas ini—restoran privat yang telah dipesan seluruhnya oleh Ardiantoro. Di ujung koridor, dua orang pria berbadan kekar dengan setelan jas hitam berjaga di depan pintu kaca ganda. Mereka melirikku tajam, lalu salah satu dari mereka membukakan pintu dengan anggukan kaku.
Aku melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, dikelilingi oleh dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar panjang telah ditata dengan lilin-lilin aromaterapi dan hidangan mewah.
Di ujung meja, Paman Ardi duduk dengan tenang sambil menyesap anggur merah dari gelas kristalnya. Ketika melihatku masuk berjalan dengan kedua kakiku sendiri, gerakan tangannya sempat terhenti sepersekian detik. Matanya menyipit, namun dalam sekejap, topeng keramahan itu kembali terpasang sempurna di wajah tuanya.
"Larasati! Mukjizat sekali, Sayang," Ardi bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya dengan senyuman lebar. "Paman dengar dari sopir kalau kakimu sudah bisa berjalan. Sungguh, almarhum Ayahmu pasti sangat bahagia melihat ini dari atas sana."
Aku memaksakan sebuah senyuman rapuh, berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berseberangan dengannya. "Iya, Paman. Mungkin karena efek obat dari dokter palsu kiriman Dimas sudah sepenuhnya hilang dari tubuhku."
Ardi tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat palsu di telingaku. "Iblis kecil itu memang harus membusuk di penjara. Berani-beraninya dia meracuni keponakan kesayanganku. Sudah, jangan bahas pria brengsek itu lagi. Malam ini, kita rayakan keselamatanmu dan... masa depan baru untukmu."
Seorang pelayan datang menuangkan air putih ke gelas milikku, lalu mundur dengan sangat sopan. Aku melirik ke arah vas bunga lili di tengah meja. Di sela-sela kelopaknya, ada titik hitam kecil yang hampir tak terlihat—kamera tersembunyi yang dipasang oleh Zaidan. Aku tahu, di suatu tempat di gedung ini, Zaidan dan Pak Surya sedang merekam setiap helai napas kami.
"Paman benar. Malam ini adalah tentang masa depan," ucapku sambil meletakkan tas jinjing kecilku di atas meja. Aku merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna perak, lalu meletakkannya tepat di atas meja marmer.
Mata Ardi seketika terkunci pada benda kecil itu. Kilat keserakahan yang sangat pekat melintas di kornea matanya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, tampak tidak sabar untuk meraihnya.
"Apakah itu... benda peninggalan Ayahmu?" tanya Ardi, suaranya agak bergetar.
"Iya, Paman. Di dalam sini ada semua data audit forensik digital milik perusahaan lama Ayah," aku menatap Ardi dalam-dalam, mencondongkan tubuhku maju. "Tapi sebelum Laras menyerahkannya pada Paman, Laras mau tanya satu hal. Tolong jawab dengan jujur, karena Laras hanya punya Paman sebagai orang tua sekarang."
Ardi menarik napas panjang, bersandar pada kursinya dan memasang wajah bijaksana. "Tanyalah, Sayang. Paman akan menjawab apa pun."
"Apakah benar... Paman yang menjodohkanku dengan Dimas hanya agar benda ini bisa jatuh ke tangan Paman? Dan apakah benar... Paman yang membuat Ibu depresi hingga meninggal dunia karena fitnah keuangan itu?"
Pertanyaan yang kuajukan dengan nada tenang namun menusuk itu membuat suasana di ruangan seketika membeku. Lilin-lizin di meja seolah meredup. Senyuman di wajah Ardi perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang dingin dan datar. Ia meletakkan gelas anggurnya dengan hentikan agak keras hingga cairannya beriak.
"Larasati... kau rupanya sudah tahu terlalu banyak. Siapa yang membisikkan dongeng menjijikkan itu ke telingamu? Pak Surya?" Ardi terkekeh, suara tawanya kini terdengar parau dan menyeramkan. "Atau bocah IT sialan bernama Zaidan itu?"
Jantungku berdesir saat dia menyebut nama Zaidan. Dia tahu tentang Zaidan.
"Itu bukan dongeng, Paman. Ayah menulis semuanya di buku harian pribadinya," jawabku tegas, menolak untuk terlihat takut. "Paman mengancam Ayah, kan? Paman ingin merampas rumah sejarah kami untuk proyek bisnis Paman!"
Ardi menghela napas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti melihat anak kecil yang sedang merajuk. Ia mengulurkan tangannya, mengambil flashdisk perak di atas meja tanpa ada penolakan dariku.
"Ayahmu itu terlalu idealis, Laras. Dia mempertahankan rumah tua bangka itu hanya karena alasan sentimental! Padahal tanah di bawahnya bernilai ratusan miliar! Bisnis tidak mengenal air mata, Larasati," Ardi menatap flashdisk di genggamannya dengan senyum kemenangan. "Soal ibumu... itu hanya kecelakaan bisnis. Dia terlalu lemah untuk menghadapi kerasnya dunia korporasi. Aku hanya menyingkirkan kerikil yang menghalangi jalanku."
"Jadi Paman mengakui semuanya?" suaraku bergetar, kali ini karena amarah yang mendidih. "Paman menghancurkan keluargaku!"
"Lalu kenapa kalau aku mengakuinya?" Ardi menatapku dengan pandangan meremehkan. "Kau pikir kau bisa apa, Laras? Kau hanya seorang gadis sebatang kara yang menulis cerita khayalan di kamarmu. Dimas dan Maya memang bodoh karena membiarkanmu lolos, tapi aku tidak sebodoh mereka."
Ardi berdiri, merapikan jas safarinya yang mewah. "Benda ini... akan kuhancurkan malam ini juga. Dan kau... kau akan menandatangani surat penjualan rumah itu secara sukarela, atau kau akan menyusul kedua orang tuamu dengan cara yang sangat rapi, tanpa ada polisi yang bisa mengendusnya."
Dua pengawal berbadan besar di depan pintu langsung melangkah masuk, mengunci ruangan dari dalam. Mereka berdiri di belakang kursiku, siap bergerak jika aku mencoba melarikan diri.
Aku menatap Paman Ardi, lalu perlahan, sebuah senyuman dingin terukir di bibirku. Senyuman yang membuat Ardi mengernyitkan keningnya bingung.
"Paman Ardi... Paman bilang bisnis tidak mengenal air mata," ucapku sambil menyandarkan tubuhku dengan santai di kursi. "Paman juga bilang Paman tidak sebodoh Dimas. Tapi sayangnya, dalam bab cerita yang kutulis malam ini, Paman adalah karakter yang paling malang."
"Apa maksudmu?!" bentak Ardi, mulai merasa ada yang tidak beres.
Aku mengetuk vas bunga lili di tengah meja dengan ujung jariku. "Terima kasih atas semua pengakuannya, Paman. Rekaman suara dan video pengakuan Paman tentang pencucian uang, pemerasan, dan keterlibatan Paman atas kematian Ibu... baru saja disiarkan secara langsung dan dikirim ke server Kejaksaan Agung serta lima media berita nasional terbesar."
Wajah Ardi seketika berubah pucat pasi. "Kau... kau menjebakku?!"
Ia segera memeriksa flashdisk perak di tangannya, mencolokkannya ke laptop yang ada di meja sudut ruangan. Saat layarnya menyala, bukan data audit yang muncul, melainkan sebuah teks besar berwarna merah dengan logo peringatan siber.
[PROPERTI SIBER ZAIDAN: AKUN ANDA TELAH DIKUNCI DAN SELURUH DATA REKENING DI LUAR NEGERI ANDA SEDANG DIKOSONGKAN]
"Sialan! Kurang ajar kau, Larasati!" Ardi berteriak histeris, menyabet gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di lantai. "Pengawal! Ambil ponselnya! Lenyapkan wanita ini sekarang juga!"
Dua pengawal itu merangsek maju ke arahku. Namun, sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh jilbabku, pintu kaca ganda restoran privat itu dihantam terbuka dari luar dengan benturan yang sangat keras.
BRAK!
"Jangan bergerak! Kepolisian RI dan Tim Satgas Kejaksaan! Angkat tangan!"
Belasan petugas bersenjata lengkap merangsek masuk, mengacungkan laras senjata mereka ke arah dua pengawal Ardi yang langsung mati kutu dan mengangkat tangan mereka tinggi-tight. Di belakang para petugas, Pak Surya masuk dengan wajah puas, diikuti oleh sesosok pria berkemeja hitam yang sangat kukenali. Zaidan.
Zaidan melangkah masuk dengan tenang, matanya langsung tertuju padaku untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku mengangguk pelan padanya, memberikan isyarat bahwa misiku telah selesai dengan sempurna.
"Ardiantoro," Pak Surya maju sambil menunjukkan sebuah surat penangkapan resmi bersetempel garuda. "Anda ditahan atas dugaan konspirasi pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen negara, dan pencucian uang korporasi. Seluruh aset dan rekening Anda di dalam maupun luar negeri telah dibekukan malam ini juga."
Ardi menatap surat itu dengan tubuh yang bergetar hebat. Lututnya lemas, membuat pria paruh baya yang tadinya merasa seperti penguasa kota itu ambruk berlutut di atas karpet marun yang mewah. Topeng malaikatnya telah hancur total, menyisakan wajah seorang kriminal yang menyedihkan.
Saat petugas mulai memasangkan borgol di tangannya dan menyeretnya keluar, Ardi sempat menoleh ke arahku dengan tatapan penuh dendam yang membara. "Kau tidak akan pernah tenang, Larasati! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayahmu!"
Pintu lift tertutup, membawa Ardi menuju kehancurannya sendiri.
Aku menghela napas panjang, membiarkan seluruh ketegangan di tubuhku menguap bersama angin malam yang berembus dari celah ventilasi. Aku berdiri, menatap kota yang luas dari dinding kaca. Pengkhianatan Dimas, kekejaman Maya, dan kelicikan Ardi... satu per satu bab gelap di hidupku mulai tertutup.
Zaidan berjalan mendekat, berdiri di sampingku sambil menatap pemandangan kota yang sama. "Kau melakukannya dengan sangat luar biasa, Laras. Kau adalah aktris sekaligus penulis yang paling berani yang pernah kutemui."
Aku menoleh menatapnya, ada rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak di hatiku mengingat kata-kata terakhir Ardi tadi. "Zai... apa maksud perkataan Paman Ardi tadi? Tentang Ayah?"
Zaidan terdiam sejenak, sorot matanya kembali berubah menjadi misterius dan penuh rahasia. "Ada satu bab lagi yang sengaja belum kubuka untukmu, Laras. Tentang kecelakaan tiga tahun lalu... itu bukan kecelakaan biasa. Dan orang di balik itu... jauh lebih besar dari sekadar Ardiantoro."
Aku tertegun. Jadi, ini benar-benar belum berakhir?