Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Langit Pualam
Hantaman gelombang energi hitam itu meluluhlantakkan pelataran depan istana dalam sekejap mata. Puluhan ksatria inkuisisi yang malang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berkedip sebelum tubuh mereka meledak menjadi kabut darah.
Valerius berdiri dengan sangat tenang di tengah pusaran kawah kehancuran yang baru saja ia ciptakan. Hujan badai yang turun dengan deras seolah enggan menyentuh jubah sutra hitamnya yang berkibar liar tertiup angin kematian.
Di kejauhan, Uskup Agung Leoric menahan napasnya dengan dada yang mendadak terasa sesak dan nyeri. Tangan keriputnya mencengkeram erat tongkat emas berlapis permata, menyembunyikan getaran ketakutan yang mulai merayap di balik jubah sucinya.
Leoric bukanlah seorang pria suci yang lahir dari cahaya ilahi seperti yang selalu ia khotbahkan pada umatnya. Ia adalah mantan pencuri jalanan yang berhasil membunuh mentornya sendiri demi merebut kursi kekuasaan tertinggi di Katedral Agung.
Kini, melihat pemuda bermahkota karatan di depannya, Leoric merasa seolah dosa-dosa masa lalunya telah bangkit dari neraka. Mata hitam kelam Valerius menatap lurus ke arahnya, menelanjangi seluruh kebusukan dan keserakahan yang ia sembunyikan selama puluhan tahun.
"Bentuk formasi perisai lapis tiga sekarang juga!" teriak salah seorang kapten ksatria suci dengan suara yang bergetar hebat.
Ratusan ksatria perak segera berlari merapatkan barisan, mengangkat perisai raksasa mereka yang memancarkan pendaran sihir cahaya pelindung. Mereka berusaha membangun dinding harapan di tengah keputusasaan, berharap dewa akan turun tangan menyelamatkan nyawa mereka yang rapuh.
Namun Valerius sama sekali tidak merasa terancam oleh barikade cahaya yang menyilaukan mata tersebut. Ia melangkah maju dengan sangat pelan, menikmati suara kecipak sepatu botnya yang menginjak genangan lumpur bercampur darah segar.
"Kalian terus saja bersembunyi di balik dinding kepalsuan itu seperti tikus-tikus kecil yang ketakutan," ejek Valerius dengan senyum asimetrisnya.
Belati Penyedot Jiwa di tangannya berdengung sangat keras, beresonansi dengan aura kegelapan dari Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya. Artefak terkutuk itu terus mengalirkan energi kematian kuno ke dalam pembuluh darah Valerius secara rakus dan tanpa henti.
Tiba-tiba, dari arah gerbang istana yang hancur, sebuah pemandangan mengerikan sukses menghentikan detak jantung seluruh Pasukan Inkuisisi. Nyonya Karat berdiri di atas reruntuhan pilar batu, menancapkan sebuah tombak panjang yang menembus sebuah kepala manusia kering.
Itu adalah kepala Sir Lancel, komandan ksatria suci yang paling dihormati dan dicintai oleh seluruh pasukan gereja. Wajah Lancel yang telah berubah menjadi tengkorak berlapis kulit kering itu memancarkan sisa-sisa siksaan dan agoni yang tak terbayangkan.
"Komandan Lancel!" jerit para ksatria suci secara serempak, air mata keputusasaan langsung mengalir deras membasahi pipi mereka yang kotor.
Moral dan iman yang sedari tadi mereka pertahankan dengan susah payah akhirnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu. Pemimpin spiritual yang selalu mengajarkan mereka tentang kemenangan cahaya kini terpampang menyedihkan sebagai piala kemenangan sang raja iblis.
Uskup Agung Leoric menggertakkan giginya dengan sangat keras hingga gusi tuanya mengeluarkan sedikit darah segar. Ia tahu bahwa jika kepanikan ini dibiarkan merajalela, puluhan ribu pasukannya akan lari kocar-kacir meninggalkan dirinya sendirian di sini.
"Jangan goyah oleh tipu daya iblis itu, anak-anakku yang terkasih!" raung Leoric menggunakan sihir pengeras suara yang bergema di langit.
Ia mengangkat tongkat emasnya tinggi-tinggi, memanggil pilar cahaya raksasa yang menembus awan badai hitam di atas ibu kota. "Dewa Keadilan sedang melihat pengorbanan kalian, dan ia akan membakar jiwa tiran itu dengan api penyucian abadi!"
Pilar cahaya itu melesat turun dengan kecepatan kilat, menghantam tanah tepat di depan barisan perisai para ksatria. Sihir suci tingkat tinggi itu membentuk seekor naga cahaya raksasa yang meraung memekakkan telinga ke arah Valerius.
Naga cahaya itu membawa panas yang luar biasa mematikan, sanggup melelehkan zirah baja terkuat hanya dalam hitungan detik. Ia menerjang maju untuk menelan tubuh Valerius bulat-bulat, membawa harapan terakhir dari seluruh sisa pasukan gereja.
Valerius menatap datangnya naga cahaya itu tanpa berkedip sedikit pun, ekspresi wajahnya masih sedingin bongkahan es di musim dingin. Di dunia asalnya, ia telah menghancurkan bom penghancur massal hanya dengan sebuah kode perintah dari balik meja komando.
"Sihir murahan yang dibungkus dengan cahaya mencolok tidak akan pernah bisa menutupi kelemahan penggunanya," gumam Valerius pelan.
Ia mengayunkan Belati Penyedot Jiwa miliknya dalam satu tebasan horizontal yang terlihat sangat sederhana dan tidak bertenaga. Namun, bilah obsidian itu merobek ruang hampa di depannya, menciptakan celah dimensi gelap yang menyerap seluruh cahaya di sekitarnya.
Saat naga suci itu menabrak celah dimensi buatan Valerius, tidak ada ledakan besar atau suara benturan yang memekakkan telinga. Sihir pamungkas dari sang Uskup Agung itu justru tersedot masuk ke dalam kegelapan layaknya air yang tumpah ke padang pasir.
Leoric terbelalak lebar, tongkat emasnya hampir terlepas dari genggaman tangannya yang kini basah oleh keringat dingin. Sihir 'Murka Dewa' yang membutuhkan separuh dari kapasitas Mana miliknya telah dilenyapkan begitu saja tanpa sisa.
"B-Bagaimana mungkin seorang manusia fana bisa menelan kehendak dewa?!" teriak Leoric dengan suara yang melengking panik. Keputusasaan yang selalu ia sembunyikan di balik jubah emasnya kini merobek keluar menelanjangi kepengecutan aslinya.
Layar merah sistem holografik kembali menyala terang di dalam pandangan mata batin Valerius, memberikan notifikasi yang memabukkan.
[Penyerapan Sihir Suci Berhasil. Atribut Mana Host meningkat secara permanen.]
[Kondisi Mental Target Utama (Uskup Agung Leoric) mengalami guncangan hebat. Terus berikan tekanan psikologis.]
Valerius kembali melangkah maju, kini ia mengabaikan para ksatria rendahan dan berjalan lurus menuju kereta emas sang Uskup Agung. Setiap langkah sepatu botnya diiringi oleh aura kematian yang semakin menebal, membuat para ksatria suci otomatis mundur teratur.
Beberapa ksatria yang terlalu takut dan lambat mundur langsung ditebas oleh Valerius tanpa perlu ia melihat ke arah mereka. Gerakan pedang dan belatinya mengalir dengan keanggunan seorang penari, memisahkan kepala dari badan dengan presisi yang sangat mengerikan.
Darah muncrat seperti air mancur kecil setiap kali Valerius mengayunkan tangannya, mewarnai jalan pualam itu menjadi merah pekat. Ia sama sekali tidak merasakan kelelahan, karena setiap nyawa yang ia renggut langsung diubah menjadi energi segar oleh belati iblisnya.
"Lindungi kereta Yang Mulia! Jangan biarkan monster itu mendekat!" teriak komandan pasukan berkuda yang tersisa.
Puluhan ksatria berkuda menerjang maju dari arah samping, mencoba menusuk Valerius menggunakan tombak panjang mereka secara serempak. Namun Valerius hanya perlu menghentakkan kakinya ke tanah, melepaskan gelombang kejut sihir gravitasi dari Mahkota Tiran Berdarah.
Kuda-kuda perang yang gagah itu seketika berlutut karena tekanan tak kasatmata yang menghancurkan tulang kaki mereka. Para penunggangnya terlempar ke depan, menghantam lantai pualam dengan keras hingga zirah mereka penyok menembus dada.
Valerius melangkah santai melewati tumpukan ksatria yang mengerang kesakitan di atas genangan lumpur darah tersebut. Ia tidak membunuh mereka semua seketika, membiarkan mereka hidup sedikit lebih lama untuk menyaksikan kejatuhan tuhan palsu mereka.
Kini, tidak ada lagi halangan yang berdiri di antara Valerius dan kereta emas raksasa milik Uskup Agung Leoric. Delapan ekor kuda bersayap putih yang menarik kereta itu meringkik ketakutan, sayap mereka meronta-ronta ingin segera terbang menjauh.
Leoric mundur hingga punggungnya menabrak sandaran kursi emasnya, tubuh tuanya menggigil tak terkendali di bawah guyuran hujan badai. Ia memeluk tongkat sihirnya erat-erat seolah benda mati itu bisa menyelamatkannya dari malaikat maut yang telah berdiri di depannya.
"K-Kau menginginkan harta? Aku memiliki seluruh akses ke perbendaharaan gereja di benua ini!" tawar Leoric dengan suara putus asa.
Pria tua yang tadi berteriak tentang api keadilan kini berubah menjadi pedagang murahan yang mencoba membeli nyawanya sendiri. Ia menatap Valerius dengan mata yang memelas, air hujan menyamarkan air mata ketakutan yang mengalir di kerutan wajahnya.
"Aku bisa meresmikan takhtamu sebagai raja yang sah di mata agama, Valerius! Kita bisa berbagi kekuasaan dunia ini bersama-sama!" bujuknya lagi dengan napas tersengal-sengal.
Valerius menatap Leoric dengan pandangan yang sangat kosong, lalu ia tertawa pelan dengan nada yang luar biasa merendahkan. Tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang bagi harga diri sang pemimpin agama tertinggi di benua ini.
"Kekuasaan yang dibagi dengan seekor lalat busuk sepertimu adalah sebuah penghinaan bagi kemegahan neraka yang kubawa," jawab Valerius dingin.
Ia melompat naik ke atas kereta emas itu dengan sangat ringan, mengabaikan kuda-kuda bersayap yang langsung panik meronta liar. Valerius menendang lutut Leoric dengan keras, memaksa pria tua yang sangat dihormati jutaan umat itu jatuh berlutut di depannya.
Tulang lutut Leoric retak berbunyi nyaring, membuatnya menjerit kesakitan dan menjatuhkan tongkat sihir emasnya ke lantai kereta. Mahkotanya yang bertahtakan berlian ikut terjatuh menggelinding, berhenti tepat di ujung sepatu bot hitam Valerius yang kotor.
"Lihatlah ke bawah sana, Leoric," perintah Valerius seraya menjambak rambut putih sang Uskup Agung dan memaksanya menatap ke arah medan perang. "Lihatlah sisa-sisa domba bodohmu yang kini meratap ketakutan melihat gembala mereka tunduk memohon belas kasihan."
Ribuan ksatria suci yang masih hidup memang telah menghentikan pertarungan mereka, menjatuhkan senjata dengan wajah yang benar-benar hancur lebur. Mereka menyaksikan tuhan yang mereka bela mati-matian kini berlutut menangis di bawah kaki sang pangeran tiran.
Keputusasaan massal yang sangat luar biasa menyelimuti seluruh area pelataran Istana Draken, membekukan udara lebih dingin dari es. Pemandangan ini adalah pukulan psikologis terberat yang secara permanen menghancurkan dogma agama Gereja Cahaya di Aethelgard.
"K-Kenapa kau melakukan semua ini?" isak Leoric merana, wajahnya penuh darah dari bibirnya yang tak sengaja tergigit karena panik. "Kami tidak pernah memiliki dendam padamu di masa lalu, mengapa kau membawa kiamat ini ke ambang pintu kami?"
"Karena kalian berdiri tepat di tempat singgasana berdarahku akan dibangun," bisik Valerius dengan nada kejam di telinga pendeta itu.
Ia mengangkat Belati Penyedot Jiwa perlahan, memastikan puluhan ribu pasang mata di bawah sana bisa melihat eksekusi ini dengan jelas. Bilah obsidian itu berkilat tajam di bawah sambaran petir menyilaukan yang kembali membelah langit kelabu ibu kota.
Tanpa ragu sedikit pun, Valerius menusukkan belati iblis itu menembus tepat di tengah dada Uskup Agung Leoric. Ia tidak mengincar jantungnya langsung, melainkan membiarkan Kutukan Agoni menyiksa jiwa kotor pria tua itu secara perlahan.
Leoric melolong dengan suara yang sangat mengerikan, bola matanya hampir keluar dari rongganya menahan rasa sakit yang absolut. Esensi jiwanya yang dipenuhi oleh keserakahan dan kebohongan perlahan disedot paksa masuk ke dalam bilah senjata Valerius.
"Inilah wujud asli dari keadilan yang selalu kau khotbahkan itu, Leoric," desis Valerius memutar belatinya lebih dalam.
Tubuh Uskup Agung itu menua dengan sangat cepat, dagingnya menyusut dan kulitnya mengering menempel pada tulang belulangnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, pemimpin spiritual tertinggi di benua itu telah berubah menjadi mayat mumi yang sangat mengerikan.
Valerius mencabut belatinya dengan kasar, menendang mayat kering Leoric hingga jatuh terjerembap dari atas kereta emas ke tanah berlumpur. Mayat tuhan palsu itu hancur berserakan saat menghantam pelataran pualam, menjadi sampah hina di mata seluruh mantan pengikutnya.
Keheningan yang luar biasa mencekam turun menyelimuti seluruh medan perang, hanya suara rintik hujan yang terdengar jatuh membasahi darah. Ribuan ksatria suci jatuh berlutut secara serempak, bukan untuk berdoa, melainkan karena mental mereka telah sepenuhnya runtuh tak bersisa.
Layar sistem holografik meledak dengan cahaya merah yang menyilaukan, menandakan penyelesaian misi terbesar yang pernah Valerius terima.
[Misi Utama Arc 3: 'Menghancurkan Dewa Palsu' Selesai dengan Sempurna.]
[Poin Dosa: +10.000. Otoritas Tertinggi Gereja Cahaya berhasil diruntuhkan sepenuhnya.]
[Peringatan: Level Keputusasaan Dunia telah meningkat. Sistem Penyulut Kiamat memasuki fase Evolusi Menengah.]
Valerius berdiri tegak di atas kereta emas yang kini telah menjadi panggung kemenangannya yang absolut dan tak tertandingi. Ia membiarkan hujan membersihkan sisa darah dari wajahnya, menatap ke arah lautan manusia yang telah kehilangan arah tujuan hidup.
Hari ini, ia tidak hanya memenangkan sebuah pertempuran militer berdarah melawan pasukan terkuat di ibu kota kerajaan Aethelgard. Ia telah membunuh tuhan di hati jutaan manusia, dan menggantikannya dengan ketakutan abadi terhadap sosok Valerius van Draken.
Singgasana berdarahnya kini telah memiliki pijakan yang tak tergoyahkan, dibangun di atas puing-puing keadilan fana yang membusuk. Perang Suci yang Ternoda ini telah mendekati akhir yang sangat tragis, menyisakan dunia yang bersiap menyambut malam tanpa akhir.