NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sup Rusa

Sup daging rusa itu kental, berwarna cokelat pekat, dan mengepulkan aroma thyme serta bawang putih panggang yang memenuhi udara di ruang makan pribadi Sayap Timur.

Di luar, angin malam kembali bernyanyi dengan nada melengking, menabrak kaca jendela yang kini hangat berkat sistem pemanas yang baru diperbaiki.

Kontras antara badai di luar dan ketenangan di dalam ruangan terasa begitu tajam, seolah mereka sedang makan malam di dalam perut seekor naga yang sedang tidur nyenyak.

Elara duduk di sisi kanan meja panjang itu. Punggungnya tegak, namun tidak kaku seperti hari-hari pertama kedatangannya.

Gaun biru tua yang ia kenakan menyerap cahaya lilin, memberikan ilusi kelembutan pada kulitnya yang pucat. Di hadapannya, Kaelen makan dengan ritme yang stabil dan sunyi.

Tidak ada percakapan.

Namun, ini bukan keheningan kosong yang biasa mengisi ruang di antara mereka. Keheningan ini memiliki bobot, sebuah tekstur. Ini adalah keheningan observasi.

Elara menyendok supnya perlahan. Ia merasakan kaldu panas itu menghangatkan tenggorokannya, rasa gurih daging rusa yang dimasak perlahan selama berjam-jam meleleh di lidahnya.

Martha benar-benar memasak dengan serius malam ini. Mungkin karena ia tahu "gencatan senjata" sedang terjadi, atau mungkin karena pasokan kayu bakar baru di dapur membuat suasana hati si juru masak membaik.

Kaelen meletakkan sendoknya. Denting perak beradu dengan porselen terdengar jelas. Tring.

Elara mendongak, sendoknya terhenti di tengah jalan menuju mulut.

Kaelen tidak sedang melihat makanannya. Ia sedang melihat Elara. Mata abu-abunya yang tajam menelusuri wajah istrinya, seolah sedang membaca peta strategi perang yang rumit.

"Kau mengganti menu," kata Kaelen. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Suaranya rendah, berat, memecah keheningan seperti batu yang jatuh ke danau tenang.

"Hanya sedikit," jawab Elara hati-hati. Ia meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. "Aku meminta Martha menambahkan lebih banyak sayuran akar. Kentang dan wortel lebih tahan lama di perut daripada hanya daging dan roti. Prajuritmu butuh karbohidrat untuk menahan dingin."

Kaelen menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang besar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, postur yang defensif namun santai. "Dan kau pikir kau lebih tahu tentang nutrisi prajurit daripada Jenderalnya?"

"Aku tahu tentang berhemat," Elara mengoreksi, matanya menatap lurus ke mata Kaelen tanpa rasa takut. "Daging rusa mahal dan sulit didapat saat badai. Sayuran akar murah. Dengan mencampurnya, stok daging di gudang pendingin bisa bertahan dua minggu lebih lama."

Sudut bibir Kaelen berkedut. Bukan senyum, tapi tanda geli yang samar. "Pragmatis. Ayahmu pasti akan menangis jika tahu putrinya menghitung harga wortel."

"Ayahku tidak relevan di meja ini," balas Elara tajam.

Kaelen terdiam sejenak. Ia menatap Elara dengan intensitas baru. Ada rasa hormat yang enggan di sana. Ia mengambil gelas anggurnya—bukan anggur mahal, melainkan ale gelap buatan lokal—dan menyesapnya.

"Supnya enak," gumam Kaelen, lalu kembali makan.

Dua kata. Hanya dua kata sederhana. Tapi bagi Elara, itu terasa seperti medali kemenangan yang disematkan di dada. Ia menahan senyum yang ingin merekah di bibirnya, kembali menyendok supnya sendiri.

Mereka menghabiskan sisa makan malam itu dalam diam lagi, tapi kali ini, udaranya terasa lebih ringan. Tidak ada lagi rasa takut bahwa Kaelen akan meledak atau pergi tiba-tiba.

Setelah makan malam selesai, Kaelen berdiri. Ia tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat kursi Elara sejenak, bayangannya menutupi tubuh istrinya.

"Jangan pergi ke Sayap Selatan lagi," ucap Kaelen tiba-tiba.

Jantung Elara berhenti berdetak sesaat. Ia mendongak, menatap wajah suaminya yang kembali datar dan tertutup. Apakah Kaelen tahu? Apakah Silas melapor?

"Kenapa?" tanya Elara, berusaha terdengar polos.

"Bangunannya tua. Atapnya rapuh," jawab Kaelen, matanya tidak berkedip. "Satu guncangan angin kencang, dan kaca-kaca itu akan jatuh memenggal lehermu. Aku tidak mau repot mengurus pemakaman istri yang ceroboh."

Itu alasan teknis. Alasan logis. Kaelen menyembunyikan trauma masa lalunya di balik alasan keselamatan bangunan. Dia tidak melarang Elara karena kenangan Lyra; dia melarangnya karena "bahaya". Itu adalah cara Kaelen melindungi dirinya sendiri tanpa harus mengakui kerentanan.

"Aku akan berhati-hati," kata Elara pelan.

"Tidak," Kaelen membungkuk sedikit, suaranya menjadi perintah mutlak. "Kau tidak akan berhati-hati. Kau tidak akan ke sana. Titik."

Tanpa menunggu bantahan, Kaelen berbalik dan berjalan keluar ruangan, langkah kakinya bergema tegas di koridor batu.

Elara menatap punggungnya yang menjauh. Larangan itu keras. Tapi Elara mendengar apa yang tidak diucapkan. Kaelen takut. Bukan takut Elara mati, tapi takut Elara menyentuh luka lamanya yang bernanah di sana.

"Maafkan aku, Kaelen," bisik Elara pada lilin yang mulai meleleh. "Tapi aku adalah istri yang sangat buruk dalam mematuhi perintah."

Keesokan paginya, sebelum matahari sempat mewarnai langit dengan rona ungu, Elara sudah bangun.

Kastil masih tidur. Para pelayan bahkan belum mulai menyalakan perapian di dapur. Ini adalah jam hantu, waktu di mana Blackiron benar-benar milik kesunyian.

Elara mengenakan pakaian kerjanya yang paling tebal: celana berkuda yang ia temukan di lemari lama (tindakan yang skandal bagi wanita bangsawan, tapi sangat praktis), sepatu bot kulit, dan jubah wol hitam yang membaur dengan bayangan. Ia menyelinap keluar dari Kamar Biru, langkahnya seringan kucing, menghindari papan lantai yang berderit yang sudah ia hapal posisinya.

Tujuannya satu: Sayap Selatan.

Larangan Kaelen semalam justru memperkuat tekadnya. Jika Kaelen begitu protektif terhadap reruntuhan itu, berarti kunci penyembuhannya memang ada di sana.

Elara membawa tas kanvas berisi peralatan yang ia kumpulkan diam-diam: sekop kecil yang sudah ia bersihkan karatnya, gunting tanaman, dan buku botani tebal berjudul Flora Pegunungan Vhaloria.

Perjalanan ke Sayap Selatan terasa mencekam dalam keremangan subuh. Patung-patung di koridor tampak mengawasinya dengan mata batu yang buta. Angin berbisik melalui celah-celah dinding. Namun Elara tidak berhenti.

Ia sampai di pintu besi berkarat itu. Ia sudah meminyaki engselnya kemarin sore dengan sisa lemak daging dari dapur saat tidak ada yang melihat. Kali ini, saat ia mendorong pintu itu, tidak ada jeritan logam. Pintu terbuka dalam diam.

Elara masuk ke dalam kuburan kaca itu.

Dinginnya pagi langsung menusuk tulang, lebih tajam dari kemarin. Uap napasnya membeku di udara. Tapi Elara tidak peduli. Ia berjalan menuju air mancur kering di tengah ruangan, tempat mawar hitam itu berdiri kaku dalam kematian semunya.

Ia berlutut di atas salju. Lututnya langsung basah dan dingin meski berlapis kain tebal, tapi ia mengabaikannya.

Elara membuka bukunya, meletakkannya di bagian yang kering di bangku batu. Ia membaca instruksi tentang Restorasi Mawar Beku.

'Langkah pertama: Pangkas semua yang mati. Jangan ragu. Kehidupan tidak bisa tumbuh di atas bangkai.'

Elara mengambil gunting tanamannya. Tangannya gemetar sedikit karena dingin dan gugup. Klik.

Suara gunting memotong ranting kering terdengar nyaring di keheningan kubah. Potongan kayu mati jatuh ke atas salju.

Elara mulai bekerja. Ia memangkas dahan-dahan hitam yang rapuh, membuang bagian-bagian yang sudah busuk dan berjamur. Ia bekerja dengan hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang sedang mengoperasi pasien kritis. Ia harus membedakan mana kayu yang benar-benar mati, dan mana yang masih menyimpan sedikit getah kehidupan di dalamnya.

Satu jam berlalu. Jari-jari Elara mulai mati rasa. Hidungnya merah. Tapi tumpukan ranting mati di sampingnya semakin tinggi.

Dan di sana, setelah lapisan luar yang mengerikan itu dibuang, struktur tanaman mawar itu mulai terlihat. Masih kecil, masih rapuh, tapi bersih. Tunas hijau kecil di pangkal batang yang ia lihat kemarin kini mendapatkan akses langsung ke cahaya matahari yang mulai terbit.

"Bernapaslah," bisik Elara pada tanaman itu. Ia menimbun pangkal batangnya dengan campuran tanah humus dan serbuk gergaji yang ia bawa dalam kantong saku, menciptakan selimut hangat untuk akar-akarnya. "Kau harus hidup. Kau adalah satu-satunya saksi bahwa dia pernah mencintai seseorang."

Tiba-tiba, suara terompet tanduk terdengar dari kejauhan.

Tuuuuut!

Itu bukan terompet latihan militer. Itu terompet gerbang utama. Nada panjang dan tunggal—tanda kedatangan tamu resmi.

Elara tersentak. Ia melihat ke arah jendela kaca yang pecah. Di kejauhan, di jalan setapak yang membelah hutan pinus menuju gerbang kastil, terlihat iring-iringan kecil. Bukan pasukan perang.

Ada kereta kuda hitam dengan lambang emas yang berkilauan ditimpa matahari pagi.

Bendera Kekaisaran.

Elara buru-buru membereskan peralatannya. Ia menyembunyikan tas kanvasnya di balik semak rhododendron yang rimbun dan mati di sudut ruangan. Ia mengibas-ngibaskan debu dan salju dari jubahnya, merapikan rambutnya yang keluar dari tudung.

Ia harus kembali ke kamarnya sebelum ada yang menyadari ia menghilang. Tamu dari Kekaisaran tidak pernah membawa kabar baik.

1
jamanku
😍👍
jamanku
ceritanya sangat menarik dan baru
Sofia
😍
Sofia
😍😍😍
Sofia
😍
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
terus berjuang lady, cerita yang sangat bagua
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!