Bagaimana jika kita di jodohkan dan ternyata kita sudah menyukai laki-laki itu dari pandangan pertama? tentu rasanya seperti semesta memberikan restu pada kita.
Clara seorang gadis cantik, manja, periang dan humble akan di jodohkan dengan seorang laki-laki bernama bastian, laki-laki yang arogan dan sombong, meski dia sangat tampan, Clara sudah menyukai Bastian dari awal dia melihatnya, namun sikap bastian justru sebaliknya pada Clara, Clara di anggap orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Cinta Clara?apakah Bastian akan mencintai Clara ?
yuk terus baca karyaku ya.....
jika ada kesalahan dalam penulisan tolong beri kritik dan sarannya
jangan lupa dukung karyaku dengan memberikan, like,comment,dan vote ya
terima kasih
Happy reading
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
sayang kalian semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 18 Lasagna
Setelah menerima telepon dari Bastian, aku melompat kegirangan, jariku dengan cepat menelusuri di halaman google "Resep Lasagna" , karena belum pernah membuat itu sebelumnya.
Aku menyiapkan beberapa bahan yang tertulis di sebuah aplikasi resep yang aku lihat.
Pertama-tama aku mulai dengan kulit Lasagna, Daging, keju mozarella, oregano, minyak , dan bahan lainnya. Tak lupa aku memakai apron biru kesayangan, apron ini sebenarnya milik papah, setelah papah meninggal apron ini selalu ku pakai ketika memasak sesuatu yang spesial, aku merasa ada semangat serta aura positif yang di keluarkan dari apron ini.
Jari jemariku mulai mengolah semua bahan, mengikuti step by step langkah yang aku baca, yah aku mengerjakan semuanya dengan hati, dan senyum yang tak terlepas dari bibirku, tak pernah aku sesemangat ini sebelumnya.
Ku susun secara berturut-turut: lasagna, saus daging, saus putih, terus ulangi langkah tersebut hingga semua bahan ikut tercampur, setelah itu aku mulai memasukan lasagna ke dalam microwave dengan suhu 170° selama 20-30 menit.
TING!!!! bunyi microwave menandakan lasagna yang ku panggang sudah matang, kulirik jam di dinding sudah menunjukan pukul 19.45 itu tandanya 15 menit lagi Bastian akan pulang, aku segera menata dua piring di meja makan, sendok garpu, dan gelas kaca berisi air mineral, aku berfikir kita akan malam berdua. ya...! berdua aku dan Bastian, semoga saja mood nya sedang baik, sehingga semua yang sudah kusiapkan tidak sia-sia.
Aku meraih celana panjang, dan sweeter biru, mulai memoles tipis wajah dengan make up, dan membiarkan rambut tergerai. Sekali lagi aku melirik ke arah jam di dinding, tiba-tiba jantungku berdetak, tangan mulai bergetar, dan aku merasakan hawa dingin di kaki, kutarik napas panjang berusaha mengisi paru-paru dengan oksigen di sekitar, aku mulai menenangkan diri.
Aku tak mengerti mengapa aku merasakan serangan panik saat memprediksi jika Bastian sebentar lagi akan pulang.
Aku duduk di meja makan sambil terus melirik kearah jarum jam 15 menit sudah berlalu, tapi Bastian belum juga pulang, ku ketukan jari di meja dengan rasa gelisah, 20 menit berlalu, belum ada tanda-tanda Bastian akan pulang.
Kali ini aku menunggu di sofa, sambil menonton tayangan komedi namun tetap tidak bisa mengunci perhatianku.
Dengan menggertakan gigi, kuraih ponsel yang terletak di meja. Aku mulai menggerakan jari di layar ponsel mencari nama Bastian, tapi keraguan mulai bermain di dada, aku sempat berfikir sampai akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada Bastian.
Bas, dimana? kok belum pulang? katanya kamu akan sampai jam 8 malam, Lasagnanya sudah dingin, apa kamu masih lama? jika " ya" aku akan memasukkannya ke kulkas! (terkirim)
Lima menit berlalu, namun belum ada respon dari Bastain
Cling....(notifikasi pesan masuk)
Bastian
Aku masih sibuk, belum bisa pulang! sudah tidak usah mengirimiku pesan! suara notif pesanmu sangat mengganggu, simpan saja lasagna di kulkas atau tidak makan saja sendiri aku sudah makan malam bersama Ayunda.
Gigiku bergemelutuk menahan amarah setelah membaca pesan Bastian, dia selalu bersikap seenaknya, tanpa memikirkan perasaanku, dengan susah payah aku menyiapkan semuanya, bahkan aku sudah membayangkan bisa makan malam berdua.
Radar di kepalaku langsung bekerja, mengirim pesan pada Bastian memang bukan ide baik, aku menyesal melakukan semuanya untuk dia. Kuseret tubuhku yang penuh dengan kekecewaan ke sebuah kamar yang cukup nyaman untukku berbaring dengan air mata yang mulai tergenang. Ku benankan wajah di tangan mulai menangis tersedu-sedu merasakan setiap tusukan-tusukan sembilu di dada.
Clara kamu terlalu bodoh membiarkan Bastian menari-nari di otak mu,harusnya kamu sadar apa yang kamu bayangkan itu tidak mungkin terjadi, sadar Clara, hanya ada Ayunda di hati Bastian. pikiranku mulai menasehati hati yang kecewa, dan aku hanya bisa menangis hingga mataku mulai terlelap.
POV Bastian
"Kamu bilang kamu tidak mengenalnya? lalu bagaimana dia terus menghubungimu?" tanyaku saat melihat 5 panggilan tak terjawab di ponsel Ayunda
"Aku tak tahu Bastian, aku tak pernah memberikan nomer ponsel ini pada orang yang tak aku kenal!" jawabnya berusaha meyakinkanku.
Ini bukan kali pertama aku melihat nomer itu menghubungi Ayunda, dua hari yang lalu aku sempat menerima telepon dengan nomer yang sama, tapi dengan cepat ia matikan, sekarang dia menghubungi Ayunda lagi, dan Ayunda tetap menyangkal jika ia mengenalnya.
"Tapi ini nomer yang sama yang waktu itu menghubungimu Ayunda!" Emosi ku mulai memuncak, aku tidak pernah begitu kasar padanya, dia terlihat cemas dan takut melihat perubahan raut wajahku.
"Percaya padaku Bas, aku tak pernah merespon panggilan dari nomer itu!" Dia tetap berusaha mengelak, tapi aku merasakan gelagat aneh dari sikapnya.
"Ya sudahlah aku lelah membahas nomer itu lagi, lebih baik kamu blokir saja, aku tak ingin melihatanya menghubungimu lagi!" Aku memang tak pernah bisa berdebat dengan Ayunda, rasa sayangku selalu bisa mentelolir semua yang dia lakukannya.
"Iya sayang, maafkan aku jangan marah ya!" dia tersenyum sambil menggelayut manja di tubuhku yang sedang duduk pada sebuah karpet yang ada di kamar kos Ayunda. Setelah membeli ponsel untuk Ayunda, aku lanjut mengantarnya pulang, dan kami sedang berbincang-bincang manja saat nomer ponsel itu menghubungi Ayunda.
"Ya sudah aku harus pulang, sudah malam..., kamu istirahat ya..!" Ku lirik jam di tangan sudah menunjukan pukul 8 malam, teringat janjiku pada Clara.
"Sayang..aku masih mau sama kamu! " Tangan Ayunda terus mencengkram lenganku dan tak ingin melepaskan.
"Hmm tapi aku harus pulang! besok aku harus ke kantor sayang...."
"Ayolah sayang....! please....." mohonya, wajahnya mulai memelas, lagi-lagi aku tak bisa menolaknya
"Baiklah, aku temani sampai kamu tidur ya.. !"
"Makasi sayang...!" Aku mengelus rambut Ayunda yang berbaring di pangkuanku.
"Sayang...kapan kita menghabiskan waktu di apartemenmu?" tanyanya manja.
"Gak bisa yank, aku dan Clara sudah membuat janji untuk mematuhi syarat yang kami buat " jawabku berharap dia mengerti.
"Kapan kamu akan meng-akhiri pernikahan bodoh itu?"
"Entahlah, aku tak mengerti rencana papi sebenarnya, yang jelas...saat ini aku masih harus berada satu atap dengan wanita menyebalkan itu"
Cling (notif pesan masuk)
kuraih ponselku yang berada dalam saku, ternyata dari Clara, dia menungguku rupanya.
"Siapa sayang?" tanya Ayunda, dan segera merebut ponsel dari tanganku.
"Kamu menyuruhnya membuat lasagna?" tanyanya setelah membaca pesan dari Clara.
"Ya..!" jawabku sambil mengangguk
"Bukannya tadi kamu sudah mencoba lasagna, saat kita makan di mall?" tanya Ayunda. Sebelum pulang memang kita mampir untuk makan malam, tapi lasagna yang ku makan tak sesuai dengan lidahku, kemarin aku mencoba macaroni schotel buatan Clara, dan rasanya sangat enak, jadi aku berfikir lasagna buatannya mungkin juga enak
"Yah, aku hanya ingin mengerjainya saja, dia pasti akan repot membuatkan lasagna untukku" Aku mencoba mencari alasan.
"Aku yang balas ya!" pintanya, aku sedikit ragu, dengan balasan yang akan Ayunda kirim, tapi yasudahlah, perduli apa aku sama dia!
Ayunda mulai mengetik di ponselku, setelah itu dia mengirimkan pesannya pada Clara.
"Okk..sudah, pokoknya malam ini kamu disini" rengeknya manja.
"Tidak mungkin sayang, apa kata orang jika aku terlalu lama disini!"
"Makanya kamu cepetan kasih aku apartemen!" rengeknya, lagi-lagi dia membahas apartemen!
"Yah tunggulah, aku gak mungkin meminta uang pada papi dengan jumlah yang besar" jawabku
"Baiklah..aku akan bersabar lebih lama lagi" jawabnya dengan raut wajah kecewa.
"yasudah aku pulang ya...!"
"Tidak...! tunggu sampai aku tidur!" tegasnya manja
"Ok ok..!
Akupun dengan terpaksa berada di kosan Ayunda sampai ia tertidur.
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam saat mata Ayunda terlelap, dengan perlahan ku pindahkan Ayunda ke atas kasur, memastikan dia benar-benar pulas, dan setelah itu aku bergegas pulang.
peran utama nya bego banget