Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Surat Edaran Satgas
"Tadi, apa yang kalian bicarakan?" bahas Arkala. Tangan dan matanya tetap fokus dengan kemudi dan jalan.
"Dia... mengetahui kalau pernikahan kita adalah pernikahan yang didasari sebuah kesepakatan," jawab Pala terdengar khawatir.
Kala tersentak, mobilnya mengejut kemudian berjalan pelan. "Dari mana dia tahu kalau pernikahan kita hanyalah kesepakatan?" Kala balik bertanya. Hatinya dilanda was-was, dia memiliki rasa khawatir yang sama seperti Pala.
Kalau Erlaga mengetahui bahwa pernikahan mereka bukan didasari cinta, melainkan kesepakatan untuk membalas sakit hati terhadap Erlaga, bisa saja Erlaga melakukan tindakan yang ekspresif, yakni mengejar kembali dan merebut Syapala dari tangan Kala.
"Tapi, tidak semudah itu. Pernikahan ini sudah kuat dan tidak akan mudah bercerai berai begitu saja," batin Kala masih optimis.
"Saya nggak tahu," jawab Pala kemudian.
"Lalu, apa yang kamu katakan tadi pada adikku?" telisik Kala penasaran.
"Saya katakan kalau pernikahan kita terjadi karena cinta pada pandangan pertama, tapi dia tidak percaya," jawab Pala seperti yang dia katakan tadi di hadapan Laga.
"Sungguh?"
"Iya," jawabnya pendek.
"Kalau begitu, itu artinya kita harus benar-benar memulai sandiwara kita saat di depan dia."
"Maksud Abang?"
"Nanti, Adik akan tahu apa yang abang maksud."
"Kamu tidak sepenuhnya salah, Dik. Karena pernikahan kita benar adanya cinta pada pandangan pertama. Tapi, akulah yang cinta pada pandangan pertama terhadapmu," akunya di dalam hati.
Tidak terasa, mobil Kala sudah tiba di depan PT. Harmonia Citra Abadi. Perusahaan jasa konseling terbesar di seluruh wilayah Indonesia. Semua tentu tahu, perusahaan ini sudah terkenal di mana-mana bahkan mancanegara.
"Nanti, pulangnya abang jemput," ujar Kala ketika tangan Syapala baru saja memegang pegangan pintu mobil.
Syapala tidak menjawab, ia segera membuka pintu dan menuruninya.
"Tidak cium tangan dulu." Kala menjulurkan tangan kanannya ke arah Pala yang mulai menutup pintu mobil. Sejenak Pala mematung, menatap Kala yang mengulurkan tangan tanpa ia sambut.
"Assalamualaikum," ucapnya dan berlalu, sementara tangan Arkala masih menggantung di tengah-tengah jendela mobil.
"Waalaikumsalam."
Arkala memejamkan mata sejenak, lalu menatap kepergian Syapala sampai tubuh perempuan tinggi sedang semampai itu hilang di balik tembok perusahaan.
"Hahhhhh." Kala menghela napas dalam. Dia merasa sesak dengan sikap Syapala barusan. Tapi, bukan saatnya Kala menyerah, karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Perang baru saja dimulai. Masa iya aku harus menyerah diawal. Aku harus tetap konsisten dengan sikap dan langkah yang akan aku ambil. Tidak mudah bagiku menaklukan si Nona Suci yang masih patah hati, katakanlah begitu," gumamnya menghibur diri.
Mobil Kala kembali berjalan, menjauh dari depan perusahaan PT. Harmonia Citra Abadi.
"Aku harus memulai rencana ini. Agar Laga tidak mencurigai kalau pernikahan ini hanyalah didasari kesepakatan. Gawat kalau dia tahu, bahwa Pala menerima pernikahan ini atas tawaranku," gumamnya.
Mobil Arkala tiba di parkiran kantor Yonif 999. Di lapangan, pagi ini sudah berbaris para prajurit organik yang akan dikirimkan ke wilayah konflik.
Arkala teringat dengan sang adik, yang pastinya akan bernasib sama seperti prajurit yang saat ini sedang berbaris di lapangan untuk menerima perintah atasan.
"Erlaga adikku, sebetulnya kita adalah saudara yang selalu saling dukung. Disaat aku jauh, aku atau kamu selalu berusaha menghubungi dan memberi kabar. Kabar pertama yang selalu kamu sampaikan adalah tentang Mama dan Papa. Kita sebetulnya dua saudara yang solid dan saling mengasihi."
"Tapi...semua berubah ketika kamu adalah sebuah alasan yang membuat seorang perempuan muda merasa sakit hati dan terkhianati. Aku tidak benci dirimu, tapi aku benci dengan sikap dan perlakuanmu terhadap Syapala. Maafkan abangmu," bisiknya dilema, lalu ia segera bergegas menuju ruangannya.
***
Di tempat yang berbeda, markas Zeni sudah diramaikan oleh para prajurit yang sudah jauh hari dipersiapkan berbagai latihan berperang maupun operasi militer dan kemanusiaan di wilayah konflik.
Surat perintah sudah siap diedarkan, meskipun keberangkatan akan dilaksanakan sebulan kemudian. Para prajurit yang tengah berbaris rapi di lapangan, bersiap menerima pengumuman surat edaran dan mendengar nama-nama siapa saja yang disebutkan sebagai personil yang akan diberangkatkan dalam bagian operasi militer kali ini.
Wajah-wajah tegang dan was-was terpasang di sana. Walau demikian, sebagai prajurit harus tetap siap ditugaskan di mana saja. Meskipun Satgas kali ini sangat beresiko, akan tetapi tuntutan negara, menjadi tanggung jawab yang harus para prajurit emban.
NKRI harga mati. Rela meninggalkan keluarga dan orang-orang yang dikasihi jauh ke medan laga.
Dan akhirnya nama-nama prajurit yang akan diberangkatkan ke wilayah konflik di NKRI mulai diperdengarkan. Salah satunya nama milik Erlaga.
"Letnan satu Erlaga Patikelana, sebagai Danki lapangan. Anda siap menerima tugas."
Suara Komandan satuan menggema menyebutkan nama dan jabatannya di medan laga.
"Siap."
Erlaga membalas, dengan sikap siap. Bibirnya mengatakan siap, namun hatinya lain lagi. Rasa sedih muncul. Bukan sedih karena harus berpisah dengan dokter Prita, akan tetapi ia sedih berpisah dengan kedua orang tua, dan luka yang telah ia torehkan terhadap Syapala.
"Hahhhhh."
Helaan napas itu terdengar sangat berat. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya di balik wajah tegas dan kaku. Karena sebagai Komandan kompi, dia dituntut harus tegas dan tidak memperlihatkan kesedihan, meskipun keadaan hati sedang rusak sekalipun.
"Selamat bertugas Letnan."
Salah satu rekan memberi ucapan selamat atas tugas yang akan diemban Erlaga kali ini. Erlaga tersenyum menerima ucapan selamat sang rekan. Ucapan selamat itu baginya bagaikan duri yang bersembunyi di balik rimbunan daun kering. Apabila terinjak oleh kaki telanjang, maka akan terasa sakit.
Erlaga tersenyum kecut, dia tahu Satgas kali ini berat. Wilayah konflik kali ini sudah memakan banyak korban, baik warga sipil maupun prajurit yang gugur, akibat kontak senjata dengan gerombolan KKB.
"Siap tidak siap harus siap. NKRI harga mati." Begitu kira-kira yel-yel yang kini melekat dalam jiwa Erlaga.
"Bang Kala juga bisa, kenapa aku enggak? Tapi...saat ini lain cerita. Aku, meninggalkan luka untuk Syapala. Dan dia menerima pernikahan itu hanya untuk membalaskan sakit hati atas perbuatanku. Hahhhhh...."
Erlaga mendesah, dadanya kian sesak jika teringat di depan tugas sedang menanti. Sementara di sini, dia meninggalkan hatinya yang belum selesai. Erlaga yakin, Syapala juga masih merasakan hal yang sama. Cinta antara mereka masih belum selesai, tapi kini dia harus pergi ke medan tugas.
"Komandao...."
Seruan Komandan satuan menggema, menyadarkan Erlaga yang sejak tadi larut dalam lamunan.
Dia berdiri dengan sikap siap, lalu berlari menuju senjatanya masing-masing untuk berlatih kembali.
Nantikan kisah selanjutnya.
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor
pangkat ,jabatan sekolah pekerjaan blum tentu mencermin kan semua juga baik
thooor meski laga ngeselin,penghianat,bodoh jangan sampe laga gugur disaat satgas papua thooor,kasih juga lah laga jodoh thoor biar dirasakan si dokter prita sakit hati