NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Orang Lain yang Ikut Pusing

Hari-hari berikutnya berubah canggung.

Bukan canggung biasa, melainkan dingin, kosong, dan terasa salah.

Rachael benar-benar menepati ucapannya. Ia mulai menjaga jarak dari Leon sepenuhnya. Di kelas, ia tidak lagi duduk menunggu Leon datang.

Saat pelajaran kosong, ia lebih sering bersama Selina atau membaca buku sambil memakai earphone.

Bahkan saat tanpa sengaja bertemu pandang dengan Leon—Rachael langsung memalingkan wajah lebih dulu.

Dan anehnya, hal itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Karena sekarang Leon merasa benar-benar tidak bisa menjangkaunya lagi.

Pagi itu suasana kelas cukup ribut karena beberapa murid sedang membahas tugas kelompok.

Leon duduk di bangkunya sambil membuka buku, tetapi sejak tadi tidak benar-benar membaca.

Tatapannya beberapa kali tanpa sadar mengarah ke depan kelas ke arah Rachael.

Gadis itu sedang berbicara dengan Selina sambil tertawa kecil, tenang. Seolah semua yang terjadi di antara mereka tidak memengaruhinya sama sekali.

Namun Leon tahu itu bohong, karena ia pernah melihat sendiri bagaimana Rachael terlihat overwhelmed saat emosinya terlalu penuh. Dan sekarang gadis itu justru terlihat terlalu tenang.

Axel yang duduk di samping Leon akhirnya menghela napas panjang. “Gua ikut capek lihat kalian.”

Leon tidak menoleh. “Nggak ada yang terjadi.”

Axel langsung tertawa kecil. “Ya jelas. Karena kalian malah pura-pura nggak saling kenal sekarang.”

Leon diam. Axel melirik ke arah Rachael sebentar lalu kembali bicara, “Lu sadar nggak sih?”

“Apa?”

“Dia biasanya selalu nyariin lu.”

Leon sedikit menegang.

Dan Axel melanjutkan dengan santai, “Sekarang dia bahkan nggak mau lihat muka lu.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Leon kira. Karena itu benar membuat Leon mulai membenci sekolah.

Sekarang tempat yang dulu terasa sedikit tenang justru berubah jadi tempat paling melelahkan.

Jam istirahat.

Rachael berdiri di depan vending machine sambil memilih minuman. Earphone masih terpasang di telinganya.

Cara paling mudah untuk menghindari percakapan atau orang tertentu.

Saat kaleng minumannya jatuh keluar, seseorang tiba-tiba mengambilkannya lebih dulu.

Leon.

Rachael langsung terdiam sesaat, namun ekspresinya cepat kembali datar. “Thanks.” Hanya satu kata pendek dan formal.

Membuat dada Leon terasa semakin sesak. Leon menyerahkan minuman itu tanpa bicara.

Rachael langsung mengambilnya lalu berjalan pergi begitu saja. Tanpa menunggu, tanpa senyum kecil seperti biasanya.

Axel yang melihat kejadian itu dari jauh langsung memukul dahinya sendiri. “Wah makin parah.”

Leon memasukkan tangan ke saku sambil menatap punggung Rachael yang menjauh. “Gua udah bilang dia bakal lebih aman kalau jauh dari gua.”

Axel berjalan mendekat. “Tapi lu sendiri kelihatan kayak orang mau mati.”

Leon langsung menatap malas. “Berlebihan.”

“Enggak.” Axel menunjuk wajah Leon. “Muka lu literally kayak belum tidur seminggu.”

Leon menghela napas kecil.

Axel akhirnya mulai benar-benar merasa kasihan.

Karena selama kenal Leon, ia belum pernah melihat sepupunya sesepi ini.

...----------------...

Sore harinya.

Latihan basket kembali diadakan.

Suasana makin terasa aneh karena Leon dan Rachael sama-sama saling menghindar.

Biasanya mereka bermain dengan sinkron tanpa banyak bicara. Sekarang tidak.

Rachael selalu mengoper ke orang lain. Leon juga sengaja menjaga jarak. Namun justru itu yang membuat permainan mereka kacau.

“Timeout!” Pelatih meniup peluit keras.

“Kalian kenapa sih hari ini?!” Semua langsung diam.

Pelatih memijat pelipis frustrasi. “Leon sama Rachael biasanya paling nyambung. Sekarang malah kayak musuhan.”

Beberapa murid langsung saling melirik canggung.

Sementara Rachael buru-buru minum untuk menghindari tatapan siapa pun.

Axel yang duduk di bangku cadangan akhirnya menghela napas berat. “Udah. Gua turun tangan.”

Leon langsung mengernyit. “Jangan ikut campur.”

“Terlambat.”Senyum Axel muncul perlahan. Dan itu biasanya pertanda buruk.

Sepuluh menit kemudian.

Pelatih kembali membagi tim latihan.

Entah kenapa, Leon dan Rachael kembali berada di tim yang sama.

Lebih parahnya lagi, Axel sengaja berdiri di dekat pelatih sambil memberi ide pembagian posisi.

“Rachael point guard aja, Coach!”

“Leon shooting guard!”

Leon langsung sadar. “Axel.” Namun Axel pura-pura tidak dengar.

Latihan dimulai lagi.

Rachael jelas berusaha menghindari Leon.

Tetapi Axel terus sengaja mengoper bola ke arah mereka berdua. “Rachael!” Operan.

Rachael refleks menangkap bola lalu langsung melihat posisi teman-temannya.

Leon kosong di sisi kanan. Biasanya, ia akan langsung mengoper ke Leon tanpa berpikir.

Namun sekarang Rachael justru menahan bola sepersekian detik terlalu lama.

“Oper!” teriak Axel.

Rachael menggertak kan gigi pelan sebelum akhirnya tetap mengoper ke Leon.

Leon menangkap bola itu mulus. Tatapan mereka bertemu sesaat untuk sepersekian detik, semuanya terasa seperti dulu lagi.

Leon bergerak maju lalu mengoper balik cepat. Refleks tubuh Rachael langsung bergerak mengikuti.

Shoot.

Masuk.

Suasana lapangan langsung ramai.

“NAH GITU DONG!” teriak Axel keras sambil tertawa.

Rachael langsung memalingkan wajah cepat setelah bola masuk.

Sementara Leon berdiri diam beberapa detik memperhatikan gadis itu. Meskipun mereka sedang saling menjauh, tubuh mereka masih terlalu terbiasa saling memahami satu sama lain.

Suara peluit panjang dari pelatih menggema di seluruh lapangan basket.

“Latihan selesai!”

Beberapa murid langsung menjatuhkan tubuh mereka ke bangku pinggir lapangan sambil mengeluh kelelahan. Suara tawa, botol minum yang dibuka, dan pantulan bola yang masih sesekali terdengar membuat suasana gedung olahraga tetap ramai.

Namun di tengah keramaian itu, Leon hanya memperhatikan satu orang.

Rachael.

Gadis itu berdiri dekat garis tiga poin sambil mengatur napas pelan setelah shoot terakhirnya masuk sempurna beberapa menit lalu. Rambutnya sedikit berantakan karena latihan, beberapa helai menempel di pipinya yang memerah karena lelah.

Anehnya Leon merasa itu lebih indah daripada apa pun yang pernah ia lihat.

Rachael membuka tutup botol minumnya lalu meneguk air beberapa kali tanpa melihat ke arah Leon sedikit pun.

Padahal tadi untuk sepersekian detik saat mereka saling mengoper bola, semuanya terasa seperti dulu lagi.

Refleks tubuh mereka masih terlalu terbiasa satu sama lain. Rachael tahu kapan Leon bergerak.

Sinkronisasi itu muncul begitu saja tanpa dipikirkan.

Justru itu yang membuat dada Leon terasa semakin sesak, karena sejauh apa pun mereka mencoba menjaga jarak... kenyataannya Leon masih terlalu memperhatikan Rachael.

Axel yang sejak tadi duduk di bangku cadangan memperhatikan Leon diam-diam akhirnya menyeringai kecil. Ia berdiri lalu berjalan mendekati sepupunya itu. “Gua baru sadar sesuatu.”

Leon tetap menatap ke arah lapangan. “Apa?”

Axel menahan tawa. “Muka lu kelihatan hidup lagi habis dia masukin bola tadi.”

Leon langsung melirik tajam. “Berisik.”

“Wah.” Axel tertawa kecil. “Sensitif banget.”

Leon mengambil handuk kecil dari tasnya lalu mengusap tengkuk pelan.

Namun Axel belum selesai. “Tapi serius,” katanya sambil melirik Rachael yang sedang berbicara dengan Selena, “kalian tuh aneh.”

Leon diam saja tidak menjawabnya.

“Kelihatan jelas masih peduli satu sama lain, tapi malah pura-pura asing.”

Tatapan Leon kembali jatuh pada Rachael. Gadis itu tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakan Selina.

Langit sudah mulai gelap saat latihan selesai sepenuhnya.

Lampu-lampu halaman sekolah menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang masih sedikit basah karena hujan siang tadi.

Rachael berjalan keluar gedung olahraga sambil memasukkan earphone ke telinganya.

Musik pelan langsung memenuhi kepalanya, membantu meredam suara-suara di sekitar.

Hari ini melelahkan, bukan karena latihan basket, tetapi karena Leon.

Karena semakin Rachael mencoba mengabaikan laki-laki itu—semakin sering pikirannya kembali ke arah Leon. Itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

Saat sedang berjalan menuju gerbang sekolah, seseorang tiba-tiba menyamai langkahnya dari samping.

Axel. “Halo, manusia paling keras kepala satu sekolah.”

Rachael langsung menghela napas kecil tanpa melepas earphone sepenuhnya. “Kamu juga mulai ganggu aku sekarang?”

Axel tertawa santai. “Enggak. Gua cuma kasihan lihat dua orang yang jelas-jelas saling mikirin tapi malah bikin suasana kayak drama putus cinta.”

Rachael langsung melirik datar. “Kamu terlalu banyak ngomong.”

“Emang keturunan.”

Rachael mendengus kecil pelan.

Membuat Axel diam-diam tersenyum lega. Karena setidaknya gadis itu masih merespons.

Mereka berjalan melewati koridor luar sekolah yang mulai sepi. Angin malam bertiup pelan membuat rambut Rachael sedikit bergerak.

Axel meliriknya sebentar sebelum berkata lebih pelan, “Lu masih marah sama Leon?”

Rachael tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan sambil menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.

“Aku cuma capek.” Nada suaranya terdengar lebih lelah daripada marah sekarang. “Dia selalu mutusin semuanya sendiri.”

Axel memasukkan tangan ke saku hoodie-nya.

“Yup. Itu emang penyakitnya.”

Rachael mengernyit kecil. “Dari kecil?”

“Dari lahir kayaknya.”

Rachael hampir tertawa kecil mendengarnya, tetapi ia cepat menahan ekspresinya.

Axel memperhatikan itu diam-diam. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya berubah lebih serius. “Kalau Leon mulai peduli sama seseorang...” katanya pelan, “dia bakal panik sendiri.”

Langkah Rachael sedikit melambat.

Axel melanjutkan, “Karena di dunia dia, makin dekat seseorang...” ia menatap lurus ke depan, “makin besar kemungkinan orang itu terluka.”

Rachael langsung teringat malam di gang sempit itu.

Mobil hitam.

Tatapan pria Moretti.

Ancaman mereka. Dan Leon yang berdiri di depannya tanpa ragu sedikit pun.

Dadanya langsung terasa tidak nyaman lagi.

Axel menghela napas kecil. “Dia takut banget sesuatu terjadi sama lu.”

“Terus kenapa harus nyakitin orang duluan?” tanya Rachael lirih.

Axel tersenyum miris. “Karena menurut dia itu cara paling aman.”

Rachael menunduk kecil, pikirannya mulai kacau lagi. Ia marah pada Leon. Tetapi di saat yang sama, ia juga mulai mengerti alasan di balik semua sikap Leon. Dan itu justru membuat semuanya semakin rumit.

“Aku benci orang yang nggak jujur soal perasaannya,” gumam Rachael pelan.

Axel tertawa kecil. “Kalau gitu kalian cocok.”

Rachael langsung melirik tajam. “Maksudnya?”

“Lu juga sama.”

Rachael langsung memalingkan wajah cepat.

Axel hanya tersenyum kecil melihat reaksinya. Karena meskipun Rachael terus menyangkal—semua orang bisa melihat satu hal dengan jelas. Gadis itu juga tidak benar-benar bisa menjauh dari Leon.

Di sisi lain halaman sekolah, Leon berdiri sendirian dekat tangga gedung olahraga.

Lampu halaman memantulkan bayangan samar di wajahnya yang sejak tadi terlihat dingin.

Tatapannya terus mengikuti dua sosok di kejauhan.

Rachael dan Axel. Mereka sedang mengobrol sambil berjalan pelan menuju gerbang sekolah.

Entah kenapa pemandangan sederhana itu membuat sesuatu di dada Leon terasa terganggu.

Axel berhasil membuat Rachael tertawa kecil lagi.

Sementara dirinya?

Sekarang bahkan sulit membuat gadis itu menatapnya lebih dari dua detik.

Leon mengusap wajahnya kasar pelan. Frustrasi.

Ia membenci perasaan ini. Perasaan sesak saat melihat Rachael bersama orang lain.

Perasaan ingin mendekat tetapi sadar dirinya tidak boleh terlalu dekat. Dan yang paling parah—

Leon mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih bodoh dari semua masalah mafia yang sedang mengejarnya.

Ia cemburu.

Leon Knight de Arther sama sekali tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan itu.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!