"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bendera Perang yang Basah
Derap langkah Jacob bergema di lorong paviliun medis istana yang kini dipenuhi kepulan asap tebal. Natali bergerak secepat bayangan di sampingnya, memotong setiap rintangan mekanis yang mencoba menghalangi jalan mereka. Mereka berdua berpacu dengan waktu yang terus berdetak di bawah permukaan lantai marmer tempat Pangeran George terbaring.
Natali menendang pintu kamar hingga hancur, namun semuanya sudah terlambat untuk dihentikan secara manual.
"Sistem, berikan analisis struktur bangunan sekarang juga!" perintah Jacob dengan suara yang bergetar hebat.
[Analisa Panca Indra: Struktur pondasi telah mencapai titik jenuh akibat reaksi kimia dari zat pemicu. Suara ledakan gas bawah tanah tidak dapat dibatalkan. Pengguna disarankan untuk segera mundur lima meter karena risiko deplesi oksigen.]
{Aku tidak akan mundur sebelum membawa kakakku keluar dari neraka ini!}
Suara ledakan dahsyat akhirnya pecah, menghancurkan pondasi tepat di bawah ranjang George. Jacob melompat menerjang api, menggunakan mode auto pilot untuk meminimalkan kerusakan pada saraf ototnya sendiri saat ia menarik tubuh kakaknya keluar dari pusaran api. Tubuh George yang sudah lumpuh kini dipenuhi cidera bakar yang sangat parah serta luka dalam akibat tekanan udara ledakan.
Api mulai melahap tirai dan kayu-kayu penyangga kamar saat Jacob membaringkan George di area yang lebih aman di ujung koridor.
George membuka matanya dengan susah payah, menatap adiknya dengan pandangan yang perlahan mulai meredup akibat pendarahan internal yang hebat. Ia mencoba meraih kerah zirah Jacob dengan jemari yang gemetar karena rasa sakit yang sudah melampaui ambang batas manusia.
"Jacob, jangan biarkan pengkhianatan ini... menghancurkan masa depan Helios," bisik George dengan sisa tenaga terakhirnya.
Jacob memegang tangan kakaknya, merasakan denyut nadi yang semakin melemah setiap detiknya.
{Sistem, lakukan prosedur medis darurat! Berikan aku cara untuk menutup pendarahannya!}
[Analisa Selesai: Gagal jantung terdeteksi akibat trauma benda tumpul pada organ vital. Kerusakan organ dalam akibat tekanan udara ledakan telah mencapai tahap terminal. Subjek George telah kehilangan fungsi vital sepenuhnya.]
Tangisan Jacob pecah di tengah reruntuhan paviliun saat tubuh George akhirnya mendingin dalam dekapannya. Kematian pangeran mahkota itu seolah merobek harapan terakhir bagi kedamaian di tanah Helios.
||||||||||||||
Tiga hari kemudian, suasana di benteng perbatasan yang baru direbut oleh pasukan Helios terlihat sangat mencekam. Rakyat dari kota-kota terdekat dan ribuan prajurit berkumpul di lapangan tengah benteng dengan amarah yang mendidih. Di tengah lapangan, Barnaby dan para pengikutnya diikat di tiang kayu dengan kondisi tubuh yang mengenaskan setelah melewati interogasi militer yang sangat keras.
Barnaby menatap kerumunan dengan wajah penuh ketakutan, menyadari bahwa hari ini adalah akhir dari pengabdian gelapnya.
Ferdinand berdiri di balkon utama benteng dengan jubah hitam yang melambangkan duka nasional yang sangat mendalam bagi seluruh rakyat. Di sampingnya, Jacob berdiri dengan wajah datar, namun matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat dan tak terkendali.
"Rakyat Helios! Hari ini kita kehilangan matahari kita karena pengkhianatan tikus-tikus yang ada di hadapan kalian!" teriak Ferdinand dengan suara yang menggelegar ke seluruh lapangan.
Rakyat mulai berteriak histeris, menuntut darah sebagai bayaran atas hilangnya pangeran kebanggaan mereka.
"Hujani mereka dengan batu! Biarkan setiap napas mereka keluar dengan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan putraku!" perintah Ferdinand sambil memberikan isyarat kepada rakyat di bawah.
Jacob melangkah maju dan memberikan instruksi tambahan kepada para penjaga benteng agar tidak ada yang memberikan kematian instan.
"Jangan hentikan lemparan ini sampai semua tubuh pengkhianat ini menyatu dengan tanah benteng kita!" tegas Jacob dengan nada bicara yang sangat dingin.
Satu demi satu batu mulai melayang dari tangan rakyat yang murka, menghantam tubuh Barnaby dan para pengikutnya tanpa ampun. Suara rintihan para pengkhianat segera tenggelam oleh suara hantaman batu dan sorak-sorai kemarahan prajurit yang merasa dikhianati. Dalam hitungan jam, lapangan benteng itu dipenuhi darah yang mengalir di sela-sela bebatuan yang menumpuk tinggi hingga menutupi jasad mereka.
Setelah eksekusi brutal itu berakhir, Jacob memutar tubuhnya menghadap Jendral Veldora yang sedang berdiri siaga di belakangnya.
Veldora menunggu perintah selanjutnya dengan tangan yang sudah menggenggam erat gagang kapak raksasanya dengan sangat kuat.
"Kirimkan surat perang besar-besaran ke kerajaan Scolar sekarang juga! Katakan pada Raja Cerick bahwa aku akan memenggal kepalanya di depan gerbang ibu kotanya sendiri!" perintah Jacob dengan wibawa yang membuat semua jendral tertunduk.
"Siapkan seluruh divisi Black Knight untuk melakukan serangan kilat! Kita akan berangkat ke jantung wilayah musuh dalam waktu kurang dari enam jam!" tambah Jacob sambil menatap ke arah peta Scolar yang sudah dipenuhi coretan strategi.
Prajurit segera bergerak dengan cepat untuk menyiapkan logistik dan perlengkapan perang, mengubah suasana benteng menjadi markas komando yang sangat sibuk. Jacob mendekati Natali yang sejak tadi berdiri diam di balik bayangan pilar balkon tersebut untuk memastikan tidak ada yang menguping.
Jacob mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu yang sangat rahasia tepat ke telinga wanita itu mengenai pergerakannya nanti.
{Rencana ini akan menjadi kunci kehancuran mereka secara total tanpa mereka sadari.}
Natali mengangguk dengan tatapan mata yang berkilat tajam sebelum ia melompat turun dari balkon dan menghilang di tengah kegelapan hutan.
||||||||||||||
Berita tentang jatuhnya benteng perbatasan dan eksekusi tragis para agen rahasia akhirnya sampai ke aula utama istana Kerajaan Scolar. Seorang kurir dengan pakaian compang-camping bersimpuh di depan tahta, menyerahkan gulungan surat yang disegel dengan lambang singa emas Helios yang telah ternoda darah asli.
Raja Cerick Scolar membaca isi surat tantangan tersebut dengan wajah yang perlahan-lahan dipenuhi oleh seringai kejam namun penuh waspada.
"Pangeran Jacob yang selama ini dianggap lemah ternyata berani menantangku secara terbuka di hadapan dunia?" tanya Cerick sambil meremas surat tersebut hingga hancur berkeping-keping.
Para jendral Scolar yang berdiri di sisi ruangan mulai bergumam rendah, mereka mulai menyadari bahwa musuh mereka kali ini memiliki taktik yang berbeda.
"Segera kumpulkan seluruh Legiun Besi di gerbang utama sekarang juga! Jika mereka ingin perang, kita akan berikan mereka genangan darah yang jauh lebih besar dari sebelumnya!" perintah Cerick dengan nada yang menggelegar.
Prajurit Scolar di seluruh kota mulai mengasah pedang mereka, sementara menara-menara pengawas menyalakan api peringatan yang menyala merah di sepanjang garis perbatasan. Ketegangan mencapai titik didih saat kedua kerajaan kini telah bersiap sepenuhnya untuk saling menghancurkan satu sama lain dalam badai perang yang sesungguhnya.