NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Surat yang Tak Pernah Terkirim

Seminggu usai kunjungan ke rumah sakit tua, Rara menemukan hal mengejutkan ketika merapikan lemari kamarnya. Di balik tumpukan buku lama milik ibunya, ada kotak kayu kecil tersembunyi.

"Apa ini?" gumam Rara pada dirinya sendiri sambil membuka kotak itu dengan hati-hati.

Di dalamnya, ia melihat kumpulan surat yang belum pernah dibacanya. Semua surat itu ditulis oleh ibunya setelah ayahnya meninggal dan ternyata ditujukan kepadanya. Namun, untuk alasan yang tidak diketahui, surat-surat itu tak pernah disampaikan padanya.

Rara, tangannya gemetar, mengambil surat paling atas dan membacanya perlahan.

"Putriku tercinta," demikian ibunya memulai dengan tulisan yang rapi. "Hari ini ulang tahunmu yang ke-12 tanpa ayah. Aku mengerti kemarahan mu karena kepergiannya, dan aku pun tak bisa menyalahkan mu..." Rara melanjutkan membaca surat-surat itu—setiap kalimat dipenuhi rasa kasih dan penyesalan.

Ibunya mengungkapkan kerinduannya menjelaskan semua kepada Rara, namun selalu diliputi ketakutan akan reaksinya. Dia juga bercerita tentang persahabatan erat ayah Rara dengan dr. Reza, serta bagaimana keduanya menjadi dokter terbaik di rumah sakit tersebut.

"...Dan satu hal yang harus kamu tahu," tulis ibunya dalam surat terakhirnya, tepat sebelum beliau meninggal.

"Ayahmu tidak pernah menyalahkan dr. Reza atas kecelakaan itu. Dia menganggapnya sebagai musibah. Bahkan, dia merasa sangat sedih saat mendengar berita kematian dr. Reza..." Rara menutup surat itu sambil menangis.

Selama ini, dia memendam kebencian yang salah—baik kepada dr. Reza maupun Arkan—padahal ayahnya sendiri tidak pernah menyimpan dendam.

Rara berbisik pelan sambil memeluk surat-surat itu erat-erat, "Mama... kenapa kamu tidak memberitahuku?"

Tanpa ragu, Rara meraih telepon dan menghubungi Arkan.

"Rara?" suara Arkan terdengar cemas di ujung sana. "Kenapa?"

"Aku menemukan sesuatu," ucap Rara dengan suara bergetar. "Kamu bisa datang sekarang?"

Dua puluh menit kemudian, Arkan sudah tiba di depan pintu rumah Rara, wajahnya penuh kecemasan.

Begitu dia masuk, Arkan langsung bertanya, "Apa yang kamu temukan?"

Rara mengambil kotak kayu kecil tersebut. "Ini kumpulan surat dari ibuku. Selama ini dia menulis surat-surat itu untukku, tetapi tidak pernah memberikannya."

"Mengapa begitu?" tanya Arkan.

"Dia merasa takut," jawab Rara sambil membuka kotak itu perlahan. "Ada cerita mengenai ayahku dan ayahmu yang ingin dia sampaikan, tetapi dia khawatir aku akan marah."

"Ada apa di dalamnya?" tanya Arkan penasaran.

Rara membuka salah satu surat. "Banyak," jawabnya. "Intinya, ayahku tidak menyalahkan ayahmu atas kecelakaan itu. Dia tahu itu hanya musibah."

Arkan terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Ibuku juga bilang begitu."

"Dan ibuku bilang," Rara melanjutkan sambil menahan air mata, "ayahku sangat berduka saat mengetahui ayahmu meninggal."

"Jadi selama ini..." Arkan mulai berpikir. "Kita berdua menyimpan kebencian yang tidak seharusnya ada,"

Rara menambahkan. "Sementara orang tua kita tak pernah saling menyalahkan."

"Ironis sekali," Arkan tersenyum tipis. "Tapi sekarang kita sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Ya," Rara mengangguk tegas. "Tak ada lagi alasan buat saling menyalahkan."

Arkan setuju dan mendekati Rara. "Benar, ini saatnya mulai bab baru."

Rara menatap penuh tanya. "Bab baru?"

Arkan tersenyum lembut—belakangan, senyum itu sering muncul. "Tanpa dendam, tanpa bayang-bayang masa lalu."

"Aku suka gimana kedengarannya," Rara membalas dengan senyum.

Arkan mengangguk. "Aku juga," katanya, kemudian menghela napas dalam. "Ada satu hal yang perlu aku sampaikan."

"Apa itu?" tanya Rara, jantungnya berdegup kencang.

Suara Arkan rendah saat ia mulai bicara, "Sepertinya aku mulai suka sama kamu, lebih dari sekadar teman."

Rara merasa terkejut saat mendengar pengakuan itu. "Kamu serius?" tanyanya.

Arkan mengangguk, wajahnya memerah, "Serius." Dia melanjutkan, "Tapi aku paham kalau kamu perlu waktu—"

Rara langsung menyela, "Aku juga suka kamu," katanya cepat. "Sebenarnya sudah sejak lama."

"Serius?" Arkan tampak bimbang. "Tapi kamu selalu terlihat sebal padaku."

Rara menjawab dengan jujur, "Karena aku tidak ingin menyukaimu." Namun, hatinya berkata lain.

"Hati memang susah diatur," Arkan tersenyum lega. Dia merasa senang karena kali ini hatinya benar. Rara pun ikut tersenyum padanya. Keduanya kemudian berpelukan erat, mengakhiri masa lalu dan membuka babak baru penuh harapan.

Saat tubuh mereka bersatu dalam pelukan hangat—Arkan memeluk erat punggung Rara dengan tangan kokohnya.

Rara menyembunyikan wajahnya di dada Arkan. Mereka berdua merasakan sesuatu yang mendalam: rasa sembuh, penerimaan, dan maaf.

Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai muncul—menerangi wajah-wajah yang basah oleh air mata dan senyum. Ini bukanlah akhir, melainkan awal—sebuah permulaan dari perjalanan baru mereka sebagai pasangan yang telah melewati ujian dan keluar lebih kuat bersama.

Saat akhirnya mereka melepaskan pelukan dan saling menatap—mata mereka masih berkilau dengan air mata tapi bibir tersenyum—mereka sadar: siap memulai kisah baru mereka sendiri. Tidak ada lagi beban masa lalu, tidak ada bayang dendam, hanya cinta yang tumbuh dari sisa-sisa kebencian sebelumnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!