NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Guntur yang Bungkam dan Kepungan Bangkitnya Mayat Kuno

Lima bulan.

Waktu yang cukup bagi luka untuk sembuh, cukup bagi memori untuk memudar sedikit di tepinya, dan cukup bagi seseorang yang tidak pernah benar-benar bisa berdiam diri untuk menemukan cara-cara baru menjadi tidak berdiam diri meski secara teknis tidak ada yang perlu dilakukan.

Yu Fan duduk di ambang jendela kamarnya pada pagi yang seperti semua pagi lain dalam lima bulan terakhir ini—dengan satu kaki menekuk ke dalam dan satu kaki tergantung di luar, menatap hamparan kabut tipis yang masih belum memutuskan apakah akan pergi atau tinggal. Di bawahnya, lapangan latihan sudah mulai mengandung gerakan-gerakan awal dari murid-murid yang jadwalnya paling awal. Di kejauhan, suara gong yang sangat tipis menandai jam pertama.

Di dalam dadanya—denyutan yang sudah sangat familiar sebagai bagian dari ritme tubuhnya, namun yang pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya tanpa ia bisa mengidentifikasi apa yang berbeda.

Kemudian—kepakan sayap.

Bukan satu kepakan. Ritme kepakan yang sangat teratur, bukan kepakan burung yang terbang biasa melainkan kepakan seseorang yang sudah sangat terlatih untuk mempertahankan ketinggian dan arah dengan pengeluaran energi yang paling minimum. Dari timur—dari arah yang, jika ditarik garis lurus dari akademi ini, mengarah ke wilayah yang sangat jauh di seberang lautan.

Seekor merpati spiritual dengan bulu biru laut yang mengandung kilau yang bukan dari cahaya matahari melainkan dari energi spiritual yang sudah sangat lama menjadi bagian dari struktur bulunya mendarat di bingkai jendela dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah tahu persis ke mana ia menuju dan yang sudah lelah dari perjalanan namun yang tidak akan berhenti sebelum sampai.

Di punggungnya—bungkusan kain sutra biru tua yang ikatannya dalam simpul yang sangat spesifik. Dan surat. Kertas perkamen yang aromanya sudah tercium bahkan sebelum Yu Fan menyentuhnya.

Ia melepaskan bungkusan itu dari punggung burung—mengusap kepala kecil berbulu biru itu sebentar, cara yang sangat natural bukan karena ia terbiasa memelihara burung melainkan karena ada sesuatu di dalam cara burung itu berdiri yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat jauh dan yang membutuhkan pengakuan singkat atas itu sebelum melanjutkan ke hal berikutnya.

Saat kain sutra terbuka—aroma yang langsung mengisi seluruh kamar dengan cara yang tidak proporsional dengan ukuran sumbernya. Madu gurun yang sangat khas dari wilayah barat yang panas dan luas, susu domba yang telah difermentasi dengan cara tertentu yang menghasilkan rasa yang sangat berbeda dari susu domba biasa, dan rempah-rempah yang namanya tidak ada di dalam pengetahuan kuliner wilayah ini.

Kue-kue yang seharusnya sudah lama tidak bisa disebut segar setelah perjalanan sepanjang itu—namun permukaan masing-masingnya berkilau dengan cara kue yang baru saja selesai dibuat. Di pinggiran kotak kayu yang mengandung kue-kue itu, sangat tipis, sangat hampir tidak terasa, sisa-sisa energi dari formasi pelestarian yang sudah sangat lama kehabisan kapasitasnya namun yang terbukti cukup untuk mempertahankan kondisi isinya sampai ke tangan yang dituju.

Gadis itu menghabiskan Qi-nya hanya untuk ini.

Yu Fan membuka surat itu.

Tulisan di atas perkamen wangi itu rapi dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah berlatih keras untuk membuat tulisannya rapi—bukan tulisan yang alami rapi melainkan tulisan yang dirapikan dengan usaha yang terlihat dari cara beberapa huruf sedikit terlalu konsisten untuk menjadi konsisten secara spontan.

Ia membacanya dalam keheningan kamarnya.

Kalimat demi kalimat—tentang bulan purnama di atas langit Saint-Aurelius yang terlihat lebih besar dari yang pernah ia lihat sebelumnya, tentang pelatihan yang berat namun yang terus ia jalani karena ada alasan yang lebih penting dari rasa lelah untuk melakukannya, tentang Alaric yang sudah kembali berlatih dan yang sesekali menyebut nama Yu Fan dalam cara yang membuat Yan Er tidak sepenuhnya senang namun yang juga tidak sepenuhnya tidak senang.

Dan di baris terakhir—ancaman yang sangat tulus tentang ular-ular yang akan datang jika ada gadis di akademi yang berani menggoda terlalu serius.

Yu Fan melipat surat itu dengan sangat hati-hati—dengan cara yang berbeda dari cara ia biasanya melipat sesuatu—dan menyimpannya di dalam cincin dimensinya di tempat yang terpisah dari hal-hal lain.

Yan Er.

Gadis yang malam di panggung pasar itu berdiri dengan mata yang sudah sangat lelah dari terlalu banyak hal yang terlalu lama. Yang di arena kemarin—lima bulan yang lalu dalam hitungan waktu namun yang terasa lebih lama dari itu dalam hitungan hal yang sudah berubah sejak itu—berdiri dengan wujud penuh dari warisan yang tidak pernah diajarkan kepadanya dan yang tidak pernah ia minta namun yang ada di dalamnya dan yang memilih untuk keluar pada saat yang ia paling butuhkan.

Dan boneka jerami di tangan Chen Yang—

Maaf, Yan Er. Tapi aku pikir itu tempat yang paling tepat untuknya sekarang.

Dari kotak kue yang masih terbuka, Yu Fan mengambil satu—bentuk bulan purnama dengan isi yang, saat gigitan pertama, terasa seperti seseorang yang sudah sangat mempertimbangkan rasa apa yang akan paling tepat untuk seseorang yang belum pernah mereka beri tahu makanan favoritnya namun yang memilih berdasarkan penilaian yang tidak membutuhkan informasi itu.

Sangat manis.

Terlalu manis untuk pagi hari yang baru saja dimulai.

Namun tepat untuk pagi ini.

Yuexin ditemukan duduk di undakan tangga aula utama dengan cara yang sangat khas—bukan duduk dengan santai melainkan duduk dengan kesal, yang merupakan kondisi yang berbeda secara postur meski dari jauh mungkin terlihat sama. Pedang roh di tangannya dipegang dengan cara seseorang yang tidak sedang berlatih melainkan yang memegang sesuatu karena tidak tahu harus meletakkannya di mana tanpa merasa seperti menyerah.

Wajahnya cemberut dengan intensitas yang tidak bisa dikategorikan sebagai ekspresi biasa—ini adalah cemberut yang sudah dibangun selama beberapa waktu dan yang sudah mencapai tingkat kematangannya.

Yu Fan berjalan mendekati dengan langkah yang sengaja terdengar agar tidak mengejutkan.

"Kau sedang kenapa?" Suaranya sangat datar. "Pagi-pagi begini wajahmu sudah ditekuk seperti jemuran basah."

Yuexin mendongak dengan cara yang sudah sangat menunjukkan bahwa ia sudah melihat Yu Fan dari sudut matanya sejak beberapa detik yang lalu dan yang sudah menunggu kesempatan untuk menumpahkan sesuatu kepada seseorang yang relevan.

Ia berdiri—satu hentakan kaki ke lantai batu yang bergema cukup keras. "Kau ini dari mana saja, hah?!" Pedangnya diangkat ke depan wajah Yu Fan dalam cara yang bukan mengancam melainkan yang mempresentasikan bukti. "Pedang rohku rusak! Lihat ini—retakan di dekat hulu! Bilah yang berkarat di bagian tengah! Setelah misi terakhir kemarin, strukturnya benar-benar tidak bisa dipakai lagi!"

Yu Fan mengambil pedang itu dari tangannya—dengan cara yang tidak meminta izin karena sudah jelas diizinkan—dan memeriksanya. Tangannya bergerak sepanjang bilah dengan sangat sistematis, membiarkan Qi tipis mengalir ke dalam logam untuk memetakan kondisi internal strukturnya.

Retakan di hulu cukup dalam. Bukan dari pukulan eksternal—dari tekanan internal yang terlalu besar yang mendorong keluar dari dalam. Cara seseorang yang sudah terlalu sering memaksakan energi melebihi kapasitas yang bisa ditampung oleh logam ini.

"Ini karena kau terlalu memaksakan aliran energi saat menebas binatang buas tempo hari," ucapnya. "Struktur logamnya tidak kuat menahan tekanan batinmu yang sudah naik tingkat. Pedang ini sudah tidak cocok untuk kultivasi yang ada sekarang."

Yuexin merebut pedangnya kembali dengan cara yang mengandung lebih dari sekadar kesal tentang pedang—mengandung sesuatu tentang diingatkan bahwa ada sesuatu yang sudah berubah dalam dirinya yang membuat hal-hal lama tidak lagi cukup. "Makanya! Aku mau pedang baru yang bisa mengikuti kultivasi ku! Kau harus menemaniku ke kota sekarang, Yu Fan! Sekarang!"

Tanpa menunggu jawaban—cara Yuexin meminta yang sudah sangat terlatih selama dua tahun menjadi sangat efisien dalam tidak memberikan ruang untuk penolakan—tangannya sudah memegang ujung jubah hitam Yu Fan dan sudah berjalan.

Kota perbatasan pada jam pertama pasar sudah sangat berbeda dari kota yang sama pada malam hari—lebih hidup, lebih berantakan, lebih mengandung kepadatan aktivitas dari semua arah sekaligus yang membuat menavigasinya membutuhkan cara bergerak yang sudah sangat terlatih untuk menemukan jalur di antara arus yang tidak konsisten.

Yuexin memimpin dengan langkah yang sudah memiliki agenda yang sangat jelas—ke toko senjata pertama di distrik barat, yang terkenal memiliki koleksi terlengkap.

Dari toko pertama ke toko kedua ke toko ketiga—Yu Fan berjalan di sampingnya, mendengarkan variasi dari penolakan yang berulang. Terlalu berat. Bilahnya tidak proporsional. Warnanya tidak tepat untuk jubah kuning-merah. Satu yang di toko kedua hampir berhasil namun gagal di langkah terakhir karena rasa pegangan yang tidak sesuai.

Cara Yuexin memilih senjata mengandung logika yang tidak sepenuhnya bisa dinilai dari luar sebagai logika—namun yang, dari pengamatan dua tahun, Yu Fan sudah bisa identifikasi sebagai sistem evaluasi yang sangat personal dan yang, jika dipahami, cukup konsisten. Ia tidak mencari senjata dengan spesifikasi teknis terbaik. Ia mencari senjata yang tepat—sesuatu yang bukan dari daftar kriteria melainkan dari respons yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan namun yang sangat nyata saat terjadi.

Toko keempat. Di distrik pusat, dengan etalase kaca spiritual yang lebih tebal dari toko-toko lain dan yang menunjukkan pemilik yang sudah sangat lama di bisnis ini dan yang sudah sangat yakin dengan apa yang dijualnya.

Dan di sudut terdalam toko itu—

Yuexin melihatnya dua detik sebelum Yu Fan sempat memperhatikan ke arah mana matanya bergerak. Cara tubuhnya langsung berubah arah—sangat kecil, sangat otomatis—sudah cukup sebagai sinyal.

Ia berjalan mendekati pedang yang tergantung di dinding beludru di sudut itu dengan cara seseorang yang sudah memutuskan sebelum sampai.

Bilah ramping yang memancarkan warna merah menyala dengan gradasi emas di tepinya—bukan karena cat atau lapisan permukaan melainkan dari struktur logam itu sendiri yang mengandung komposisi yang menghasilkan warna itu secara natural. Hulu yang diukir membentuk sayap phoenix mini, sangat detail, dengan rumbai emas di ujungnya yang bergerak sangat pelan meski tidak ada angin di dalam toko ini—bergerak karena ada energi yang mengalir dari dalam pedang ke rumbai itu.

Dari jarak dua meter, Yu Fan membiarkan Qi tipis mengalir ke arah pedang itu.

Inti meteorit benua selatan. Komposisi yang sangat jarang—menghasilkan konduktivitas energi api yang sangat tinggi sekaligus ketahanan struktural yang luar biasa. Resonansi dengan elemen api yang sangat murni. Dan kemudian sesuatu yang tidak ada di deskripsi teknis mana pun namun yang sangat nyata saat dirasakan secara langsung—cara pedang itu sudah mengandung potensi untuk beresonansi dengan elemen api seseorang yang memilikinya, bukan hanya menghantarkan energi api dari luar melainkan memperkuat sumber api yang sudah ada di dalam.

Untuk Yuexin yang basis kultivasinya sudah sangat terhubung dengan elemen api dari Sekte Pedang Ilahi—ini adalah pedang yang sangat tepat.

Pedagang yang mendekati mereka—pria berusia paruh baya dengan pakaian mewah yang cara pemilihan ornamennya sudah menunjukkan seseorang yang sudah sangat lama berinteraksi dengan pelanggan kelas atas dan yang sudah mengembangkan kemampuan untuk mengkategorikan pelanggan secara cepat berdasarkan penampilan—menatap Yuexin dari atas ke bawah dengan cara yang sangat tidak tersamar dalam ketidakpercayaannya.

Jubah kuning-merah yang mewah namun yang tidak mengandung lambang atau penanda identitas yang jelas. Gadis muda. Tidak ada tanda-tanda kultivator senior.

"Nona muda, matamu memang jeli," ucapnya dengan nada yang mengandung sesuatu yang tidak bisa disebut ramah karena tidak cukup untuk itu namun yang tidak cukup terang untuk disebut kasar. "Tapi pedang itu bukan untuk sembarang orang. Itu Pedang Roh Api Phoenix—logamnya dari inti meteorit benua selatan. Harganya jauh melampaui apa yang biasanya—"

Yuexin memalingkan matanya dari pedang ke pedagang.

Dan cara ia membalik pandangannya itu—dari sesuatu yang ia inginkan ke seseorang yang sedang menghalang-halanginya mendapatkan itu—mengandung perubahan yang sangat cepat dalam kualitasnya.

Sret.

Dari cincin dimensinya, tiga batang emas murni muncul di atas konter dengan cara yang membuat suara logam berat bertemu permukaan kayu yang sangat keras menggema di seluruh ruangan. Di permukaan masing-masing batang itu—cap segel kerajaan yang terukir dengan cara yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun yang tidak memiliki akses ke studio resmi kerajaan.

"Apakah ini sudah cukup untuk membayar pedang ini beserta seluruh harga dirimu yang sombong itu?" Suara Yuexin sangat tenang—jauh lebih tenang dari cara ia biasanya bicara, yang membuat kata-katanya terasa jauh lebih berat dari saat ia mengatakan hal yang sama dengan berteriak.

Pedagang itu menatap segel-segel itu. Mukanya berubah melalui beberapa tahapan dalam waktu yang sangat singkat—terkejut, tidak percaya, kemudian sesuatu yang lebih dalam dari tidak percaya yang sudah menjadi pemahaman yang sangat tidak nyaman tentang di mana ia berdiri dalam percakapan ini.

Membungkuk. Sangat dalam. Dengan cara seseorang yang sudah sangat yakin bahwa opsi lain tidak tersedia.

Di sampingnya, Yu Fan menggelengkan kepalanya sangat sedikit—gerakan yang tidak terlihat oleh pedagang yang sudah sepenuhnya fokus pada Yuexin dan pada batang-batang emas di konter. Gerakan yang hanya untuk dirinya sendiri, cara mengakui sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Sifat manjanya memang tidak pernah berubah. Dan mungkin memang seharusnya tidak.

Perjalanan kembali melalui pasar mengandung energi yang sangat berbeda dari perjalanan pergi. Yuexin yang memegang kotak pedang baru di tangannya berjalan dengan cara yang jauh berbeda dari cara ia berjalan masuk—lebih ringan, lebih banyak mengandung kepuasan yang tidak membutuhkan kata-kata untuk diekspresikan namun yang ada dalam setiap langkah.

Ia membeli manisan tusuk dari pedagang pinggir jalan dalam jumlah yang lebih banyak dari yang bisa dimakan oleh satu orang—namun yang, saat Yu Fan menerima satu yang diberikan kepadanya tanpa diminta, terasa seperti sesuatu yang sudah sangat tepat untuk sore yang mulai condong ke barat ini.

"Aku benci misi yang membuatku harus bertarung di medan berlumpur," ucap Yuexin sambil mengunyah manisan tusuknya. Tidak ada hubungannya dengan apapun yang baru saja terjadi di toko—cara Yuexin memulai percakapan yang memang tidak perlu ada hubungannya dengan apapun sebelumnya. "Tahu tidak, kemarin aku harus melindungi murid junior yang ketakutan setengah mati karena monster baru saja keluar dari tanah. Murid junior. Tingkat 2. Berteriak minta tolong."

"Dan kau melindungi mereka."

"Tentu saja!" Yuexin memukul lengannya dengan cara yang tidak cukup keras untuk menyakiti namun cukup untuk menyampaikan pesan. "Bukan karena aku mau. Karena tidak ada yang lain yang bisa melakukannya! Kalau aku membiarkan mereka, mereka mati, dan kemudian ada investigasi, dan kemudian ada laporan, dan kemudian ada pertanyaan kenapa aku tidak melindungi murid junior yang ada di dalam misi yang sama denganku—"

"Kau melindungi mereka karena kau tidak bisa membiarkan seseorang terluka jika kau bisa mencegahnya," ucap Yu Fan.

Yuexin berhenti mengunyah manisan tusuknya selama satu detik. Kemudian melanjutkan mengunyah dengan cara yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. "Itu bukan poinnya."

"Itu poinnya."

"Aku bilang itu bukan—sudahlah!" Ia menghentakkan kakinya sambil terus berjalan. "Kau selalu melakukan itu. Mengatakan hal yang benar dengan cara yang membuatku tidak bisa membantahnya."

Yu Fan tidak menjawab.

Di sampingnya, Yuexin berjalan dengan cara yang mengandung sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai kesal karena mengandung terlalu banyak hal lain di dalamnya untuk bisa hanya kesal.

Saat gerbang asrama wanita sudah terlihat di kejauhan, Yuexin memperlambat langkahnya sedikit—tidak berhenti, hanya melambat dengan cara yang menunjukkan seseorang yang belum siap untuk sampai.

"Yu Fan," ucapnya.

"Apa."

"Terima kasih untuk hari ini."

"Aku tidak melakukan banyak hal hari ini."

"Kau ada." Sangat pelan. Diucapkan ke arah depan bukan ke arah Yu Fan. "Itu cukup."

Di gerbang asrama wanita, ia berbalik dan melambai—senyuman lebar yang sangat khas, yang mengandung terlalu banyak hal di dalamnya untuk bisa hanya senyuman. Kemudian masuk.

Yu Fan berdiri sebentar setelah suara pintu menutup.

Itu cukup.

Ia berbalik. Berjalan ke arah asramanya sendiri.

Burung roh pembawa pesan internal akademi mendarat di pundaknya saat ia baru melewati taman spiritual—dengan cara yang sangat tiba-tiba, tanpa kepakan yang mendahului dari jarak yang terdengar, cara burung yang sudah ada sangat dekat dan yang mendarat bukan karena terbang mendekati melainkan karena sudah menunggu di posisi yang tepat untuk kontak pertama.

Dari paruhnya—proyeksi suara spiritual yang masuk langsung ke indra pendengarannya tanpa melalui udara.

Suara Dekan. Sangat berat. Mengandung sesuatu yang tidak ada dalam cara Dekan biasanya berbicara bahkan dalam konteks yang paling serius.

"Yu Fan, segera datang ke ruang utama dekan di menara pusat sekarang juga. Ada misi darurat yang sangat penting."

Tanpa jeda, tanpa pertimbangan yang perlu waktu—kakinya sudah mendorong ke tanah dan tubuhnya sudah di udara dalam satu gerakan yang sangat efisien.

Pintu kayu ek ruangan Dekan terbuka sebelum ia sempat mendorongnya—cara yang sudah ia kenali dari beberapa kunjungan sebelumnya sebagai cara pintu itu merespons identitas tertentu yang sudah diprogram ke dalam formasinya.

Di dalam—Dekan di belakang mejanya dengan cara yang berbeda dari cara biasanya. Bukan dengan tenang yang biasanya ada di sana meski situasinya serius. Dengan sesuatu yang lebih berat dari itu, sesuatu yang menunjukkan seseorang yang sudah membawa beban tertentu selama beberapa waktu dan yang baru sekarang memperlihatkan beratnya.

Dan di sisi meja—

Jubah putih. Sangat putih, dengan cara yang berbeda dari putih Xueru sehari-hari karena ini bukan jubah latihan atau jubah asrama melainkan jubah seremonial Sekte Teratai Putih yang penuh dengan ornamen yang sangat detail dan yang hanya dikenakan dalam konteks resmi tertentu. Di keningnya—tanda tiga kelopak bunga teratai yang selama ini tidak pernah terlihat di wajahnya di lingkungan akademi, tersembunyi di bawah makeup yang sangat tipis.

Mahkota teratai perak yang lebih besar dan lebih rumit dari yang biasanya ia kenakan.

Dan cara ia berdiri—sangat berbeda dari cara ia berdiri di perpustakaan atau di koridor atau di arena. Ini adalah cara seseorang yang berdiri dalam kapasitas resmi, tidak sebagai murid akademi melainkan sebagai perwakilan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari akademi.

Mata biru pucat itu menatap Yu Fan dari arah yang tidak berubah saat pintu terbuka—sudah menghadap ke arah pintu dari sebelum pintu terbuka.

Mereka bertatapan dalam keheningan selama dua detik.

Keheningan yang mengandung banyak hal dari bulan-bulan terakhir—dari taman di lembah, dari perpustakaan malam, dari puisi yang dibisikkan sebelum terbang pergi. Semua itu ada di dalam dua detik keheningan yang tidak membutuhkan kata-kata untuk menampungnya namun yang sangat terasa ada.

"Ehem." Dekan. Cara yang sama dengan saat Chen Yang ada di ruangan ini. "Selamat kau sudah di sini, Yu Fan. Aku akan langsung ke intinya."

Penjelasan singkat. Karavan pos luar yang sudah seminggu tidak sampai. Murid-murid pengawal yang kehilangan kontak—semua jimat komunikasi mereka hancur atau terputus. Bahan-bahan pill kuno yang tidak tergantikan.

"Aku menunjuk kalian berdua sebagai tim investigasi," ucap Dekan. Matanya menatap mereka bergantian—dengan cara seseorang yang sudah sangat lama menjadi pengamat manusia dan yang sedang mengamati sesuatu yang lebih dari sekadar kesiapan untuk misi. "Selidiki apa yang terjadi. Bawa kembali barang-barang tersebut jika memungkinkan. Kalian berangkat sekarang."

"Murid menerima tugas," ucap mereka bersamaan.

Dalam nada yang hampir identik—sesuatu yang keduanya perhatikan dalam sepersekian detik dan yang keduanya tidak komentari.

Di balkon menara, angin malam sudah bertiup dari arah timur—dingin dengan cara angin malam selalu lebih dingin dari yang biasanya orang siapkan diri untuk hadapi. Yu Fan menghentakkan kaki dan melesat ke udara dalam garis yang sangat efisien, jubah hitamnya membelah kegelapan.

Di sampingnya—atau lebih tepatnya, di posisi paralel yang satu dari keduanya menjaga jarak tertentu dari yang lain—Lin Xueru sudah di udara di atas platform teratai yang berpendar sangat tipis dalam warna putih yang hampir tidak terlihat di bawah cahaya bintang.

Dua garis. Satu hitam. Satu putih.

Bergerak ke timur tanpa kata-kata.

Empat jam terbang di malam yang semakin gelap—tidak ada percakapan, tidak ada yang perlu disampaikan yang lebih penting dari mempertahankan kecepatan dan arah—membawa mereka ke titik koordinat yang sudah Dekan berikan.

Fajar awal yang sangat tipis mulai menyingsing di sudut langit timur—masih sangat merah, belum cukup untuk menerangi apapun dengan nyata, hanya cukup untuk memberikan warna kepada langit yang tadinya hitam total.

Mereka mendarat bersamaan di jalan setapak berbatu yang membelah bukit-bukit gundul. Tanah di sini berbeda dari tanah yang biasanya—lebih padat, lebih dingin dari yang seharusnya untuk suhu udara yang ada, dan mengandung sesuatu di dalam strukturnya yang membuat langkah kaki terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Sisa-sisa energi di udara.

Yu Fan menyebarkan Qi-nya sangat tipis ke seluruh radius sekitarnya—cara yang sudah sangat terlatih dari empat bulan di hutan dan dua tahun sebelumnya. Pemetaan yang berlangsung dalam beberapa detik memberikan gambaran yang jauh lebih jelas dari yang bisa diperoleh dari penglihatan biasa di kondisi cahaya yang masih sangat minimal ini.

"Aura di sekitar sini sangat kacau," ucapnya. "Ada fluktuasi dari beberapa hari lalu yang masih belum sepenuhnya terdisosiasi."

"Benar." Xueru sudah bergerak maju—cara bergeraknya sudah berbeda dari cara bergeraknya di akademi, lebih siaga, lebih ekonomis, kurang ornamen dari gerakan yang biasanya sangat memperhatikan estetika. "Polanya menunjukkan pertempuran besar. Bukan satu atau dua—skala ratusan atau lebih."

Di balik tebing batu—pemandangan yang, meski sudah diantisipasi oleh data yang mereka kumpulkan dalam pemetaan energi awal, tetap mengandung dampak visual yang berbeda dari ekspektasi.

Gerobak karavan yang sudah dalam kondisi yang tidak bisa disebut rusak—lebih tepat disebut dihancurkan, dengan cara yang menunjukkan kekuatan yang tidak terbatas oleh pertimbangan tentang apa yang perlu dilestarikan. Kayu-kayunya terbelah dalam sudut yang tidak bisa dihasilkan oleh senjata biasa. Kotak-kotak penyimpanan yang tersegel dengan formasi tingkat menengah sudah tidak ada strukturnya—bukan dibobol melainkan dihancurkan dari luar ke dalam dengan cara yang tidak membutuhkan waktu lama.

Dan di sekitar semua itu—

Yu Fan berlutut di samping satu mayat. Murid inti Master Tingkat 3—dari cara zirahnya tersusun dan dari segel identitasnya yang masih terpasang meski kondisi tubuhnya sudah tidak bisa menopang segel itu dengan fungsi yang benar.

Luka di dadanya—pola yang sangat spesifik. Melingkar dengan degradasi energi di tepi sayatan yang berwarna hitam keunguan, berbeda dari luka yang dihasilkan oleh energi negatif standar.

Xueru berdiri di samping mayat yang berbeda—posisi yang jauh dari Yu Fan namun yang sudah menganalisis hal yang sama. Cara ia berlutut untuk memeriksa berbeda dari cara Yu Fan berlutut—lebih formal, lebih terstruktur, dengan cara yang menunjukkan seseorang yang pernah diajari cara memeriksa luka secara sangat sistematis. Kerutan di dahinya sangat kecil namun sangat nyata.

"Yu Fan," ucapnya. Nada yang berbeda dari cara ia biasanya menyebut namanya—lebih mendesak, lebih mengandung sesuatu yang harus disampaikan segera.

Ia berdiri dan mendekati.

"Luka ini," ucap Xueru—dengan cara yang sangat langsung, tanpa preamble yang tidak diperlukan. "Aku sudah pernah melihat polanya. Bukan dalam kehidupan ini—dalam arsip yang sangat lama." Matanya tidak meninggalkan luka yang ada di depannya. "Ini adalah teknik serangan khas Sekte Tengkorak."

Nama itu mendarat di dalam kesadaran Yu Fan dengan cara yang langsung mengaktifkan memori yang sangat spesifik—lembah tersembunyi, aula dengan jasad-jasad dalam tabung, pertarungan dengan pemimpin yang menggunakan teknik penyerapan jiwa. "Tidak mungkin," ucapnya—bukan karena menolak informasi melainkan karena logika yang langsung bekerja. "Kita sudah memastikan—"

"Kita memastikan yang di lembah sunyi itu hancur. Tidak memastikan bahwa semua cabang hancur." Xueru mengangkat matanya dari luka ke Yu Fan. "Sekte seperti ini tidak beroperasi dari satu lokasi."

Kebenaran yang sangat tidak nyaman dalam penyampaian yang sangat efisien.

Kemudian—suara.

KRETEK. KRETEK.

Dari balik bukit-bukit gundul di sekeliling mereka—suara yang tidak bisa disebut suara biasa karena mengandung komponen yang tidak ada dalam suara langkah kaki manusia normal. Lebih berat. Lebih banyak. Dan dari beberapa arah sekaligus dalam cara yang menunjukkan bahwa ini bukan kedatangan yang terjadi secara kebetulan dari banyak arah sekaligus.

Mereka sudah di sini sebelum kita sampai. Dan mereka menunggu kita.

Dari celah-celah batu tebing, dari balik kabut pagi yang masih tipis di permukaan tanah, dari lekukan-lekukan di bukit yang pada pandangan pertama tidak terlihat mengandung apa pun—sosok-sosok mulai muncul.

Jubah hitam yang bukan jubah kultivator standar—lebih tipis, lebih bergerak, dengan cara jubah yang dirancang untuk tidak menghambat gerakan bahkan dalam kondisi pertarungan yang sangat intens. Topeng tulang tengkorak yang berbeda-beda warnanya—putih untuk yang paling rendah tingkatannya, merah untuk yang lebih tinggi—menunjukkan hierarki dalam cara yang tidak membutuhkan penjelasan kepada yang memahami simbolnya.

Satu. Dua. Lima. Dua puluh. Seratus.

Tidak berhenti.

Terus keluar dari tempat persembunyian sampai angka yang tidak bisa lagi dihitung secara cepat mengisi seluruh bukit dan tebing di sekeliling jalur sempit ini.

Di barisan paling depan—enam orang dalam jubah merah yang posturnya sudah berbeda dari semua yang ada di sekitar mereka. Aura yang memancar dari keenam orang itu tidak di sembunyikan—justru dilepaskan sepenuhnya, dipertontonkan sebagai pernyataan.

Master Tingkat 4 Tahap Puncak. Enam orang.

Yu Fan berdiri di antara gerobak yang hancur dan satu lautan manusia yang mengepung dari semua arah. Di sebelah kanannya, Xueru sudah memegang gagang Pedang Teratai Putihnya—belum dicabut, namun posisi tangannya sudah berbeda dari cara berdirinya dua menit yang lalu.

Salah satu dari enam tetua berjubah merah melangkah maju. Bertubuh tinggi dengan cara yang terlihat terlalu tinggi untuk proporsi badannya yang lain—cara tubuh yang sudah dimodifikasi oleh kultivasi yang tidak standar selama waktu yang sangat lama. Suara tawanya keluar dari balik topeng tengkorak merahnya dengan cara yang tidak mengandung kehangatan dari jenis humor apapun.

"Dua kelinci kecil dari Akademi Langit Biru akhirnya masuk ke dalam perangkap!" Suaranya bergema dengan cara yang sudah dilatih untuk bergema, memaksimalkan efek intimidasi dari lapisan batu bukit di sekelilingnya. "Kalian mengira sekte kami sudah punah?! Kalian bahkan tidak tahu seberapa besar yang kalian tidak ketahui!"

Yu Fan menatap ke depan. Kemudian ke kiri. Ke kanan. Ke belakang. Menghitung—bukan jumlah yang tepat karena tidak mungkin dari posisi ini, namun estimasi yang cukup untuk membuat keputusan yang tepat. Setidaknya empat ratus. Mungkin lebih.

Namun yang tidak sesuai adalah cara mereka berdiri—terlalu terstruktur untuk massa yang dimaksudkan untuk menyerang. Formasi yang lebih menekankan penutupan jalur keluar daripada serangan massal.

Mereka tidak bertujuan membunuh kami dengan cepat. Mereka bertujuan menahan kami di sini.

Pikiran itu masuk dengan cara yang tidak seperti analisis—lebih seperti sesuatu yang sudah ada dan yang baru saja menemukan cara untuk dirumuskan.

Menahan kami di sini. Agar kami tidak bisa kembali ke mana?

"Hanya dengan empat ratus tikus tanah dan enam master tingkat bawah," ucap Yu Fan—dengan nada yang sangat datar, yang membuat kata-katanya tidak terdengar seperti provokasi melainkan seperti evaluasi yang sangat lugas. "Kalian mengira bisa menahan kami di sini?"

"Kekeke!" Tawa yang lebih keras dari sebelumnya. "Siapa bilang kami hanya berjumlah empat ratus?"

BOOM. BOOM. BOOM.

Tanah di sekitar tebing berguncang—cara yang berbeda dari gempa natural, cara yang mengandung ritme yang sangat terstruktur dari sesuatu yang masif bergerak di bawah permukaan dan yang keluar ke atas secara terkoordinasi.

Dari balik bukit yang lebih jauh—lebih banyak lagi.

Dalam hitungan menit, jumlah yang ada sudah melampaui seribu.

Pertarungan pecah dengan cara yang tidak menunggu kata-kata lebih lanjut dari siapa pun.

Xueru menarik Pedang Teratai Putih dari sarungnya dalam satu gerakan tunggal yang sangat bersih. Di saat yang sama, tangan kirinya membentuk segel yang sangat cepat—bukan untuk membangun formasi yang membutuhkan waktu melainkan untuk mengaktifkan yang sudah ada di dalam aliran Qi-nya sebagai bagian dari cara dasar ia bertempur.

Teknik Teratai Putih : Jaring Kelopak Tajam.

Dari bilah pedangnya, energi putih memancar ke luar bukan dalam satu arah melainkan ke segala penjuru dalam radius lima meter—ribuan kelopak energi yang masing-masing setipis kertas namun yang tepinya sudah terasah ke tingkat yang tidak membutuhkan kekuatan besar untuk menembus zirah kultivator kelas menengah. Dalam satu gerakan, seluruh gelombang pertama yang menerobos jarak dekat terpotong—bukan satu per satu melainkan secara massal dalam satu sapuan yang menjangkau semua sudut.

Kemudian Teknik Teratai Putih : Langkah Bayangan Bulan—cara bergerak yang menggunakan perubahan arah mendadak dalam interval yang sangat singkat sebagai basis kecepatan, memanfaatkan cara prediksi manusia tentang gerakan selalu sedikit tertinggal dari gerakan itu sendiri. Dalam sepuluh detik pertama, ia sudah berpindah posisi dua belas kali dan setiap perpindahan meninggalkan jejak tebasan yang sudah mengenai target.

Di sisi yang lain, Yu Fan bergerak dengan cara yang sudah sangat terlatih dari dua tahun terakhir namun yang malam ini mengandung dimensi yang berbeda dari latihan atau pertarungan yang diarahkan ke satu lawan. Ini adalah massa—cara menghadapi massa yang fundamental berbeda dari cara menghadapi individu bahkan jika individu itu lebih kuat.

Teknik Pedang Yin : Arus Bawah Memotong Akar.

Bukan menarget tubuh—menarget tanah di bawah kaki barisan terdepan. Energi Yin yang sangat tipis namun sangat terkonsentrasi mengalir dari Pedang Yin ke dalam tanah di sepanjang garis yang ia pilih, meresap ke bawah permukaan dan kemudian naik kembali ke atas di titik-titik yang merupakan persimpangan meridian bumi di wilayah ini—titik-titik yang, jika diganggu dengan cara yang tepat, menciptakan ketidakstabilan di seluruh tanah di atasnya. Bukan merobohkan—mengacaukan. Memaksa ratusan orang untuk menyesuaikan keseimbangan mereka pada saat yang sama.

Dalam ketidakseimbangan itu, celah.

Dari celah itu—Teknik Tangan Asura : Sapuan Tiga Arah—tiga titik berturut-turut, masing-masing menguras energi dari satu jalur meridian yang berbeda dari lawan yang disentuh, tidak membunuh namun sangat efektif dalam melumpuhkan kemampuan kultivasi seseorang selama interval yang cukup panjang untuk membuat mereka menjadi tidak relevan dalam pertarungan ini.

Namun enam tetua berjubah merah tidak bergerak.

Mereka mengatur strategi dari luar jangkauan—mengarahkan gelombang-gelombang serangan yang tidak pernah habis karena jumlah yang ada di belakang selalu menggantikan yang jatuh di depan. Formasi yang tidak menarget kemenangan segera melainkan yang menarget kelelahan.

Perangkap waktu. Yu Fan memotong lengan satu anggota sekte yang mencoba memegang bajunya—bukan fatal, hanya cukup untuk menghentikan gerakan—sambil pikirannya bekerja dengan kecepatan yang berbeda dari kecepatan pertarungannya. Mereka mengorbankan ratusan nyawa ini untuk menghabiskan waktu. Waktu milik siapa yang sedang mereka habiskan?

Jawabannya datang dengan cara yang tidak menyenangkan.

Waktu yang dibutuhkan oleh sesuatu yang sedang terjadi di tempat lain.

"Xueru!" ia memanggil tanpa menoleh—cara yang sudah terlatih dari pertarungan-pertarungan sebelumnya, menyampaikan keperluan tanpa kehilangan fokus pada ancaman langsung.

"Aku tahu." Suaranya dari arah yang sedikit berbeda dari posisi terakhir ia melihat Xueru—ia sudah berpindah lagi. "Taktik penundaan. Mereka tidak mencoba mengalahkan kita."

"Ada yang sedang terjadi di akademi."

Detik di mana pernyataan itu bergantung di antara mereka—dalam pertarungan yang tidak berhenti, yang tidak memberikan ruang untuk berhenti sepenuhnya—mengandung kesimpulan yang sama dari dua orang yang sampai ke sana melalui cara yang berbeda.

Xueru melancarkan Teknik Teratai Putih : Penjara Cahaya Sementara—sebuah lingkaran energi putih yang menutup area di sekitarnya dalam radius tiga meter, cukup untuk membeli dua atau tiga detik tanpa tekanan langsung. Bukan untuk bertahan—untuk berpikir.

"Jika kita terbang—mereka akan menyerang dari bawah dan dari samping sebelum kita bisa mencapai ketinggian yang aman," ucapnya dengan cara yang sangat terstruktur—terlalu terstruktur untuk kondisi yang ada di sekitar mereka, sesuatu yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terlatih dalam mempertahankan kemampuan berpikir terstruktur bahkan saat segalanya kacau. "Kita butuh celah yang cukup besar."

Yu Fan melihat ke arah enam tetua berjubah merah yang masih mengatur dari luar.

Jika enam kepala hilang, tubuh tidak akan tahu ke mana harus bergerak.

"Aku akan membuat jalur," ucapnya. "Kau terbang kembali ke akademi."

"Aku tidak—"

"Satu dari kita harus kembali ke akademi sekarang." Nada yang tidak mendebat. "Dan aku yang akan membuat jalurnya."

Keheningan selama sepersekian detik—bukan karena Xueru tidak setuju melainkan karena ada sesuatu yang lebih dari ketidaksetujuan yang bekerja di balik keheningan itu.

"Lima menit," ucapnya akhirnya. "Kalau kau tidak menyusul dalam lima menit setelah aku terbang—aku kembali."

"Jangan."

"Lima menit, Yu Fan."

Tidak ada waktu untuk melanjutkan diskusi.

Yu Fan sudah bergerak.

Enam tetua berjubah merah—yang selama pertarungan ini berdiri di posisi yang memberikan pandangan terbaik ke seluruh arena pertempuran dan yang mengatur dengan cara yang sangat efisien—merasakan perubahan sebelum melihatnya.

Aura yang tiba-tiba berubah kualitasnya dari satu titik di tengah lautan pertarungan itu. Tidak meningkat secara kuantitatif—berubah secara kualitatif, dengan cara yang sudah sangat familiar bagi dua orang di antara enam itu yang ada di gua itu dan yang melihat kepala pemimpin mereka yang dulu dihancurkan oleh sesuatu yang bukan dari sistem kultivasi yang mereka kenal.

Teknik Tangan Asura : Dorongan Satu Tangan.

Bukan ke arah musuh yang terdekat—ke tanah di bawah Yu Fan. Energi merah tua yang sangat terkonsentrasi mengalir ke bawah dari telapak tangannya, menembus lapisan tanah sampai ke lapisan batu di bawahnya, dan kemudian meledak ke atas—tidak dari titik di mana ia berdiri melainkan dari titik-titik di sekeliling enam tetua itu, memanfaatkan struktur batu bawah tanah sebagai konduktor.

Tanah di sekitar keenam tetua berjubah merah terangkat—tidak setinggi bangunan, hanya cukup. Cukup untuk mengacaukan footing mereka pada saat yang bersamaan. Cukup untuk menghasilkan jeda yang sangat singkat dalam koordinasi yang mereka pertahankan.

Dalam jeda itu—

Yu Fan melesat ke atas bukan dalam garis vertikal melainkan dalam diagonal yang memanfaatkan arah angin dan yang membawa tubuhnya melewati titik terpadat dari kepungan dalam cara yang memanfaatkan momen kekacauan yang baru ia ciptakan.

Di bawahnya, enam tetua berjubah merah bereaksi—terlambat satu setengah detik dari yang seharusnya karena footing yang baru saja terganggu membutuhkan waktu untuk dipulihkan bahkan oleh seseorang di Tingkat 4 Puncak.

Satu setengah detik cukup.

Di sampingnya—garis putih yang bergerak paralel, kemudian membelok ke arah yang berbeda. Platform teratai Xueru sudah di udara, sudah bergerak ke barat—ke arah akademi—dengan kecepatan yang menunjukkan seseorang yang tidak membuang satu detik pun dari waktu yang sudah diberikan.

Tiga gelombang serangan dari bawah mengejar mereka di udara—proyektil energi hitam dari sekitar dua ratus orang yang melancarkan serangan terbaiknya sekaligus. Yu Fan memotong jalurnya ke arah yang menginterpose dirinya di antara serangan-serangan itu dan Xueru—bukan semua bisa ia blokir, namun cukup untuk membuka jalur yang lebih bersih.

Yang mengenai bahunya—dua. Yang mengenai lengannya—satu. Tidak fatal. Tidak cukup dalam untuk mengancam organ vital bahkan tanpa pertahanan Qi yang ia pertahankan di lapisan luar tubuhnya.

Ia melihat siluet putih Xueru semakin jauh ke barat.

Kemudian berbalik.

Di saat yang sama—sangat jauh ke arah barat dari jalur sempit di bukit-bukit gundul itu—langit di atas Akademi Langit Biru berubah.

Yuexin sedang di lapangan pelatihan selatan, membiasakan diri dengan cara Pedang Roh Api Phoenix merespons aliran Qi-nya—cara yang berbeda dari pedang lamanya, lebih responsif, lebih langsung, membutuhkan penyesuaian yang membutuhkan sedikit waktu namun yang sudah sangat jelas akan sangat sepadan—saat langit di atasnya berubah.

Bukan gradual. Bukan bertahap. Perubahan yang sangat tiba-tiba dan sangat total—langit biru yang tadi normal menjadi hitam dalam cara yang tidak melibatkan awan karena awan bergerak terlalu lambat untuk menghasilkan ini. Sesuatu yang langsung ada di sana, seperti seseorang mematikan cahaya.

Yuexin berhenti bergerak.

Di sekelilingnya, murid-murid lain yang tadi berlatih juga berhenti. Kemudian, satu per satu, mulai berlutut—bukan karena memilih melainkan karena ada tekanan yang bekerja pada seluruh energi spiritual di dalam tubuh mereka dan yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun di bawah tingkat tertentu.

Yuexin bertahan berdiri—tangan pada gagang Pedang Roh Api Phoenix-nya, lutut yang menekuk sedikit dari tekanan namun yang menolak untuk sepenuhnya menyerah. Dari dalam dadanya, Api Sekte Pedang Ilahi yang sudah sangat mengakar mendorong balik terhadap tekanan yang datang dari atas.

Di langit—tiga sosok.

Melayang di dalam pusaran awan hitam yang terus berputar di atas akademi, tubuh mereka memproyeksikan tekanan yang berbeda dari tekanan apapun yang Yuexin pernah rasakan sebelumnya—termasuk dari Alaric, termasuk dari Dekan, termasuk dari siapa pun.

Ini bukan tekanan kultivasi yang besar. Ini adalah tekanan yang berbeda kategorinya dari semua yang ada dalam pemahaman kultivasinya—seperti seseorang yang terbiasa merasakan tekanan dari api besar kemudian merasakan tekanan dari bintang.

Pria paruh baya di tengah membuka mulutnya.

Dan suaranya mengisi seluruh akademi—setiap sudut, setiap ruangan, bahkan tempat yang seharusnya terlindungi oleh formasi peredam suara—dengan cara yang menunjukkan bahwa formasi-formasi itu sudah tidak relevan.

"Penduduk Akademi Langit Biru... hari ini, kehancuran kalian telah tiba."

Di pelataran menara pusat, Dekan dan Wakil Dekan berdiri di depan yang lain—Mo Han, Fa Hai, Xiao Feng, Mei Er, Han Fei yang sudah cukup pulih untuk berdiri meski tidak sepenuhnya untuk bertarung penuh—dengan mata yang menatap ke atas.

Yuexin berlari ke posisi itu dari lapangan selatan—sampai di sana dengan napas yang terkontrol meski matanya sudah mengandung sesuatu yang tidak pernah ada di sana sebelumnya.

Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih kompleks dari itu—kesadaran sangat tiba-tiba bahwa ada hal-hal yang melampaui apa yang bisa dihadapi dengan kekuatan yang dimiliki, dan kesadaran ini sangat berbeda dari ketakutan meski menghasilkan reaksi fisik yang mungkin dari luar terlihat mirip.

"Dekan," ucapnya—sangat pelan untuk Yuexin—"siapa mereka?"

Wakil Dekan menjawab sebelum Dekan sempat—bukan karena memotong melainkan karena Wakil Dekan sudah berbicara sebelum pertanyaan sepenuhnya selesai diucapkan, cara seseorang yang sudah mengenali apa yang dilihatnya dan yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menyatakannya. Tangannya gemetar dengan cara yang Yuexin tidak pernah melihat tangan Wakil Dekan gemetar sebelumnya.

"Itu... itu adalah tiga Leluhur Pendiri Sekte Tengkorak. Mereka seharusnya sudah tidak ada. Mereka binasa sepuluh ribu tahun yang lalu dari Guntur Penghakiman Surga. Ini tidak mungkin—"

"Mereka bukan makhluk hidup," ucap Dekan—suaranya jauh lebih tenang dari yang seharusnya mungkin untuk situasinya, cara seseorang yang sudah sangat lama menghadapi hal-hal yang tidak seharusnya ada dan yang sudah mengembangkan cara untuk memproses itu. "Mereka jasad. Dibangkitkan dari makam kuno. Seseorang yang sangat berkepentingan menghancurkan akademi ini sudah mempersiapkan ini dengan sangat lama."

Tekanan dari tiga sosok di atas langit terus meningkat—Yuexin merasakan ini di dalam tulang-tulangnya, bukan hanya di permukaan. Di sekitarnya, murid-murid yang sudah berlutut semakin menekan wajahnya ke tanah. Han Fei yang mencengkeram hulu pedangnya sampai darah keluar dari telapak tangannya tetap berdiri namun dengan cara yang menunjukkan seseorang yang mempertahankan berdiri dengan biaya yang sangat nyata.

Tiga sosok di atas langit tertawa—kering, hampa, dengan cara yang mengingatkan bahwa yang ada di sana bukan makhluk hidup yang memiliki alasan pribadi untuk tertawa.

Pria bermata hitam total berbicara—dan suaranya mengandung sesuatu yang tidak ada dalam suara makhluk hidup, sesuatu yang lebih seperti suara yang dihasilkan oleh mekanisme yang sangat lama daripada suara yang dihasilkan oleh organ yang bernapas.

"Akademi kalian akan menjadi kuburan massal terbesar di dataran ini."

Dari ketiga sosok di atas, tekanan terakhir dilepaskan—bukan sebagai serangan yang ditargetkan melainkan sebagai kondisi yang menyeluruh, yang mengubah seluruh area akademi menjadi lingkungan yang sangat tidak ramah untuk makhluk hidup di bawah tingkat tertentu.

Lebih banyak murid yang jatuh di lapangan-lapangan.

Dan di menara pusat, di antara semua orang yang masih berdiri—Dekan menatap langit dengan cara seseorang yang sedang mencari sesuatu di sana dan yang belum menemukan apa yang dicari.

Di mana Yu Fan?

Pertanyaan yang tidak diucapkan. Yang hanya ada dalam cara matanya mencari ke arah yang berbeda-beda bahkan saat ancaman yang sangat nyata ada langsung di atasnya.

Di mana Yu Fan dan Xueru?

Dan jawabannya—yang ia sudah ketahui karena ia yang mengirim mereka—adalah jawaban yang paling tidak menyenangkan dari semua jawaban yang mungkin pada momen ini.

Jauh di timur. Di perangkap yang sudah didesain untuk menahan mereka di sana.

Di atas akademi, tiga sosok yang seharusnya sudah tidak ada selama sepuluh ribu tahun menunggu dengan cara yang tidak membutuhkan terburu-buru karena tidak ada yang namanya terburu-buru untuk sesuatu yang sudah sangat lama menunggu untuk ini.

Dan di lapangan yang sudah dipenuhi oleh murid-murid yang berlutut, satu siluet masih berdiri.

Jubah kuning-merah. Pedang Roh Api Phoenix yang ujungnya sudah berpendar dengan warna merah yang jauh lebih intens dari saat ia memegangnya di toko tadi—beresonansi dengan kondisi krisis, cara pedang yang kompatibel dengan penggunanya merespons emosi dan kondisi internal yang sudah mencapai tingkat tertentu.

Jin Yuexin.

Lutut yang tidak menyentuh tanah.

Dengan cara yang tidak membutuhkan keputusan sadar untuk dipertahankan karena ada sesuatu yang lebih dalam dari keputusan sadar yang menolak untuk membiarkan itu terjadi—menolak untuk berlutut di depan apapun yang ada di atas sana, bahkan jika seluruh beban langit sedang mencoba memaksanya.

Yu Fan.

Namanya ada di dalam pikirannya bukan sebagai harapan melainkan sebagai fakta—fakta bahwa ia ada di suatu tempat di timur dan bahwa sesuatu sudah menangkap ini dan sudah dalam perjalanan ke sini bahkan jika belum ada yang melihat tanda-tandanya.

Kau pasti sudah tahu. Kau selalu tahu sebelum yang lain tahu.

Cepat.

Di langit di atas akademi, awan hitam yang berputar semakin pekat—menelan sisa-sisa cahaya matahari pagi yang baru saja mulai ada, mengubah pagi yang seharusnya menjadi malam yang tidak wajar.

Dan di dalam cincin dimensi Yuexin yang ada di jarinya—sebuah kotak kayu dengan Pedang Roh Api Phoenix yang baru saja ia terima, sudah dikeluarkan dan sudah di tangannya sejak ia tiba di pelataran ini.

Berapa lama aku bisa bertahan?

Pertanyaan yang sangat praktis. Jawabannya—tidak tahu. Namun pertanyaan itu bukan tentang apakah ia bisa menang. Hanya tentang berapa lama ia bisa mempertahankan kondisi ini sampai ada perubahan.

Cukup lama.

Harus cukup lama.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!