NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:859
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran

Rasyid tertawa kecil mendengar itu lalu menatap istrinya penuh hangat. “Kamu juga, kan?” tanyanya balik.

Ami terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Capek,” jawabnya jujur sambil tersenyum tipis. “Kadang aku sampai lupa kapan terakhir kita benar-benar istirahat.”

Rasyid berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam menikmati suasana malam yang tenang, sesuatu yang jarang mereka rasakan sejak awal masa jabatan.

“Aku sering takut sebenarnya,” kata Ami lirih tiba-tiba. “Takut kalau semua tekanan itu bikin Abang berubah… atau bikin kita menyerah.”

Rasyid menoleh pelan. Tatapannya langsung melembut. Ia kemudian menggenggam tangan istrinya erat. “Kalau bukan karena kamu,” katanya pelan, “mungkin aku udah jatuh dari dulu.”

Ami tersenyum kecil mendengar itu.

Rasyid lalu memandang kembali peta daerah di meja kerjanya. “Dulu aku pikir jadi pemimpin itu soal membangun daerah,” ucapnya perlahan. “Ternyata lebih dari itu… ini soal menjaga harapan orang-orang yang percaya sama kita.”

Ami menyandarkan kepalanya pelan di bahu Rasyid. “Dan sejauh ini,” katanya lembut, “Abang sudah melakukannya dengan baik.”

Malam itu akhirnya mereka benar-benar tidur lebih awal. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada rapat darurat, ancaman politik, atau tekanan besar yang mengganggu pikiran mereka. Hanya dua orang yang sama-sama lelah, tetapi perlahan mulai melihat bahwa perjuangan panjang mereka benar-benar membawa perubahan nyata bagi banyak kehidupan.

***

Namun ketenangan malam itu ternyata hanya berlangsung sebentar. Menjelang dini hari, telepon pribadi Rasyid tiba-tiba berdering keras di meja samping tempat tidur.

Rasyid yang masih setengah tertidur langsung terbangun. Instingnya sebagai pemimpin membuat dadanya mendadak tidak tenang. Ia segera meraih ponsel itu sementara Ami ikut bangun dengan wajah khawatir.

“Pak…” suara di ujung telepon terdengar panik. “Gudang pengolahan hasil pertanian di Desa Bukit Sari kebakaran.”

Rasyid langsung duduk tegak. “Apa ada korban?” tanyanya cepat.

“Belum diketahui pasti, Pak. Tapi api besar sekali.”

Seketika rasa kantuknya hilang total. Beberapa menit kemudian, Rasyid dan Ami sudah bersiap berangkat bersama tim pengamanan menuju lokasi. Di perjalanan, suasana mobil terasa sunyi dan tegang.

Ketika mereka tiba, api masih menyala di sebagian bangunan gudang pengolahan bawang dan cabai yang baru beberapa bulan berjalan. Warga berlarian membantu pemadam seadanya, sementara para ibu yang selama ini bekerja di tempat itu tampak menangis melihat hasil usaha mereka terbakar di depan mata.

Rasyid langsung turun tanpa ragu, membantu mengatur evakuasi dan memastikan warga menjauh dari titik api yang berbahaya. Ami juga segera mendekati para perempuan desa yang panik, berusaha menenangkan mereka satu per satu.

Menjelang subuh, api akhirnya berhasil dipadamkan. Bangunan utama hangus sebagian besar. Beberapa mesin pengolahan rusak berat.

Seorang pemuda desa mendekati Rasyid dengan wajah penuh emosi. “Pak… ini nggak mungkin kebakaran biasa,” katanya lirih namun tegas. “Sebelum kejadian ada orang asing muter-muter di sekitar sini.”

Ucapan itu membuat suasana mendadak berubah lebih berat. Beberapa warga mulai saling berbisik. Mereka semua tahu, sejak program-program pemberdayaan masyarakat berkembang, semakin banyak pihak yang merasa terganggu.

Rasyid memandang puing-puing bangunan yang masih mengeluarkan asap tipis. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya mengeras. Ia sadar ini mungkin bukan sekadar musibah biasa, melainkan pesan.

Ami berdiri di sampingnya sambil menggenggam lengannya pelan. “Abang…”

Namun Rasyid justru melangkah maju mendekati warga yang mulai terlihat putus asa.

“Dengar saya,” katanya tegas meski suaranya serak karena asap dan lelah. “Kalau ada orang yang sengaja melakukan ini supaya kita takut dan berhenti…” Ia berhenti sejenak sambil menatap bangunan yang terbakar. “Maka mereka salah besar.”

Warga mulai memperhatikannya dalam diam.

“Kita bangun lagi tempat ini,” lanjut Rasyid mantap. “Lebih kuat dari sebelumnya.”

Seorang ibu menangis sambil berkata lirih, “Tapi modal kami habis, Pak…”

Rasyid menoleh dan menjawab tanpa ragu, “Pemerintah akan bantu. Dan saya sendiri akan pastikan usaha kalian tidak berhenti cuma karena satu kebakaran.”

Fajar mulai muncul perlahan di balik perbukitan saat warga mendengar ucapan itu. Dan di tengah sisa-sisa bangunan yang hangus, mereka kembali melihat sesuatu yang membuat mereka bertahan selama ini: seorang pemimpin yang tidak pergi ketika keadaan mulai sulit.

Pagi itu, meski belum sempat beristirahat sama sekali, Rasyid tetap bertahan di lokasi kebakaran sampai matahari benar-benar naik. Ia ikut memeriksa kerusakan, berbicara dengan warga satu per satu, dan memastikan bantuan darurat segera dikirim. Sementara Ami membantu menenangkan ibu-ibu pekerja yang masih syok karena tempat usaha yang selama ini mereka bangun bersama habis dalam semalam.

Berita kebakaran itu dengan cepat menyebar ke seluruh daerah. Banyak masyarakat marah dan curiga bahwa kejadian itu bukan kecelakaan biasa. Di media sosial mulai muncul dukungan besar untuk Rasyid dan program-program pemberdayaan masyarakat yang selama ini dijalankan. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula peringatan dari beberapa pihak agar Rasyid berhati-hati karena konflik kepentingan di daerah mulai bergerak ke arah yang lebih berbahaya.

Siang harinya, Kapolres datang langsung menemui Rasyid di lokasi. “Kami akan selidiki serius,” katanya sambil melihat sisa bangunan yang menghitam. “Ada beberapa hal yang memang mencurigakan.”

Rasyid mengangguk pelan. “Saya nggak mau masyarakat terus hidup dalam ketakutan,” jawabnya tegas. “Kalau ini memang sengaja dilakukan, pelakunya harus ditemukan.”

Namun di balik ketegasannya, Ami tahu suaminya mulai memikul tekanan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar perang opini atau ancaman ekonomi. Kini keselamatan dan ketenangan masyarakat mulai ikut dipermainkan.

Menjelang sore, ketika sebagian warga mulai pulang, seorang ibu tua yang sejak tadi diam mendekati Rasyid dengan langkah pelan. Tangannya kasar dan masih berbau asap.

“Pak Bupati,” katanya lirih, “kami nggak takut mulai lagi.”

Rasyid langsung menoleh.

“Dulu hidup kami memang sudah susah,” lanjut perempuan itu sambil tersenyum tipis. “Kalau sekarang harus jatuh sekali lagi demi masa depan anak-anak kami, kami sanggup.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Rasyid terasa sesak. Ia sadar, masyarakat ternyata sudah berubah jauh dibanding dulu. Mereka tidak lagi mudah menyerah hanya karena ditekan atau ditakut-takuti.

Malamnya, sebelum meninggalkan lokasi, Rasyid berdiri memandangi bangunan yang tinggal puing-puing itu bersama Ami.

“Aku gagal menjaga mereka,” katanya lirih penuh rasa bersalah.

Ami langsung menggeleng pelan. “Bukan,” jawabnya lembut namun tegas. “Justru karena Abang memperjuangkan mereka, sekarang mereka berani bangkit lagi meski jatuh.”

Rasyid terdiam.

Dan di tengah bau asap yang masih tersisa di udara malam, ia mulai memahami satu hal penting, keberhasilan terbesar seorang pemimpin bukan ketika masyarakat tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan ketika masyarakat tidak lagi kehilangan keberanian untuk bangkit setelah dihancurkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!