NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Malam Pertama

Malam itu punya cara sendiri untuk membuat Naura merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.

Setelah resepsi yang panjang dan melelahkan, di mana ia harus tersenyum hingga rahangnya kram dan dijabat tangan oleh ratusan orang yang bahkan tidak ia kenal. Naura akhirnya dibawa ke sebuah mobil yang mengantarnya menuju tempat yang akan menjadi rumahnya selamanya.

Rumah dinas Gus Azzam.

Terletak di dalam kompleks Pesantren Al-Farizi, rumah itu adalah bangunan bergaya Jawa modern dengan dinding putih bersih, pintu kayu jati berukir, dan taman kecil di depan yang dipenuhi tanaman hijau. Rumah yang elegan, tenang, dan sangat... Azzam.

Naura melangkah masuk melalui pintu depan dengan langkah yang hati-hati. Azzam berjalan di belakangnya, membawa koper kecil berisi barang-barang Naura seolah itu tidak lebih berat dari buku harian.

Pintu tertutup di belakang mereka.

Dunia luar terputus. Tidak ada lagi tamu, tidak ada lagi kamera, tidak ada lagi senyum palsu. Hanya ada Naura, Azzam, dan keheningan yang begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau.

Naura berdiri di tengah ruang tamu, merasa seperti puing-puing kapal yang terdampar di pantai asing. Pashmina sutranya sudah dilepas, rambutnya yang disanggul kini terurai longgar di pundaknya. Riasan wajahnya sudah setengah hilang, memperlihatkan wajah aslinya yang pucat dan lelah.

Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Selama ini, ia selalu punya rencana. Punya argumen. Punya dinding pertahanan. Tapi malam ini, di rumah ini, semua senjatanya terasa sia-sia.

Azzam meletakkan koper di samping sofa, lalu berdiri juga, beberapa langkah darinya. Ia telah melepas beskapnya, kini hanya mengenakan kemeja koko putih sederhana dan celana hitam. Sorbannya juga dilepas, membiarkan rambut lebatnya terlihat.

Mereka saling menatap.

Keheningan itu merayap, semakin lama semakin sesak, hingga Naura merasa ia akan meledak jika tidak ada yang berbicara.

"Rumahmu... bagus," ucap Naura akhirnya, suaranya terdengar seperti katak yang sedang tersedak. "Bagus?! Itu yang basa-basi yang bisa lo katakan, Naura?!" Batinnya

Azzam mengangguk pelan, sudut bibirnya tertarik sedikit. "Terima kasih. Kamu mungkin lelah. Mau saya tunjukkan kamarmu?"

"Kamarmu." Kata itu menggema di kepala Naura. Satu kamar. Satu tempat tidur. Satu...

"Iya," jawab Naura cepat, berusaha menghentikan imajinasinya yang berlari liar ke arah yang sangat tidak suci.

Azzam berjalan mendahului, menaiki tangga. Naura mengikutinya, merasa setiap langkahnya semakin berat. Mereka melewati lorong sempit dengan dinding yang dihiasi kaligrafi Arab dan foto-foto masjid, lalu berhenti di depan pintu di ujung lorong.

Azzam membukakan pintu itu, lalu menyingkir.

"Ini kamar utama. Kamu bisa istirahat di sini."

Naura melangkah masuk, dan napasnya tertahan. Kamar itu luas, dengan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Didingnya putih bersih, lantainya kayu jati, dan di tengahnya di tengahnya ada satu tempat tidur king size dengan seprai putih bersih dan bantal-bantal yang tertata rapi. Di meja nakas, terlihat terrarium sukulennterrarium yang sama dengan yang ada di kamar lamanya, yang entah bagaimana sudah dipindahkan ke sini.

Tapi yang membuat napas Naura tertahan bukanlah terrarium itu. Di sudut kamar, ada rak kecil yang sudah terisi separuh oleh kitab-kitab Azzam. Di gantungan pintu, tergantung jubah hitam milik Azzam.

Ini kamar Azzam. Dan sekarang, juga kamar Naura.

"Azzam," Naura menoleh, wajahnya merah padam. "Kita... kita akan tidur di kamar yang sama?"

Azzam menatapnya, lalu membuang napas pelan. Ia melangkah masuk, berdiri di ambang pintu, menjaga jarak agar Naura tidak merasa terintimidasi.

"Naura, dengarkan saya," suara Azzam tenang, tegas, namun sangat lembut. "Kita sudah menikah secara sah. Tapi saya tidak akan pernah menyentuhmu sebelum kamu siap."

Naura menatapnya tak percaya. "Apa?"

"Saya bilang, saya tidak akan menyentuhmu sebelum kamu siap," ulang Azzam, matanya menatap lurus ke mata Naura tanpa berkedip. "Pernikahan ini mungkin dimulai dari wasiat, tapi bagiku, kamu bukan sekadar kewajiban. Kamu adalah manusia dengan perasaan, dan saya menghargai itu. Jika kamu butuh waktu, saya akan menunggu."

Naura terkesima. Ia tidak menyangka pria ini akan mengatakan hal seperti itu di malam pertama mereka. Di kebanyakan novel romance yang ia baca dan ia sudah membaca banyak malam pertama selalu penuh ketegangan atau selayaknya malam pertama. Tapi Azzam... Azzam malah memberinya waktu.

"Lalu... lalu l-o.. Eh-hh.. kamu bakal tidur di mana?" Gelagapan entah arus pakai lo/gue, atau aku/kamu. tanya Naura pelan.

"Di ruang kerjaku. Ada sofa yang cukup nyaman," jawab Azzam sederhana, seolah itu bukan masalah besar. "Atau jika kamu tidak nyaman sendirian, saya bisa tidur di lantai—"

"Tidakk... Tidak... Tidak!" Naura memotong terlalu cepat, 'Bagaimna jika ada orang pesantren yang tahu kalau Gus mereka tidur di lantai bisa berabe'. Ia batuk pelan, mencoba menutupi kepanikannya. "Maksudku... tidak perlu. Sofa ruang kerja pasti lebih nyaman. Kamu juga manusia biasa, butuh istirahat."

Azzam menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baik. Jika kamu butuh apapun malam ini, ruang kerjaku di ujung lorong sebelah kiri. Pintu tidak dikunci."

Ia berbalik, hendak keluar, tapi kemudian terhenti. Ia menoleh kembali ke arah Naura, dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya sedikit ragu.

"Naura," panggilnya pelan.

"Iya?"

"Selamat datang di rumah." Jeda sejenak. Matanya memikat. "Selamat datang di rumah kita."

Lalu ia pergi, menutup pintu perlahan di belakangnya, meninggalkan Naura sendirian di kamar yang kini terasa terlalu besar dan terlalu sepi.

Naura duduk di tepi tempat tidur, menatap seprai putih yang halus di bawahnya. Tangannya merabai kain itu, merasakan kelembutan yang asing.

"Selamat datang di rumah kita." Kata-kata Azzam bergema di kepalanya. Kita. Bukan aku. Bukan kamu. Tapi kita. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menghela napas panjang. "Astaga, Naura. Suami lo seorang Gus. Seorang Gus yang lembut, tampan, romantis diam-diam, dan... tidur di sofa demi lo."

Ia meraih ponselnya yang diletakkan di meja nakas, membuka pesan dari Cipa.

Cipa: NAURA! MALAM PERTAMA! GUE NGGAK BISA TIDUR! TELL ME EVERYTHING!

Cipa: Dia ganteng banget kan pakai beskap?! Gue liat fotonya di timeline. GILA SIH, BISA-BISANYA ADA LAKI-LAKI SEGITU SEMPURNANYA DI DUNIA INI?!

Cipa: LO NGAPAIN SEKARANG?! LO SUDAH... GUE YAKIN LO TAHU LAH YA MAKSUD GUE?! 😏😏😏

Naura mengetik balasan dengan pipi yang merona.

Naura: NGGAK! Belum! Azzam tidur di ruang kerjanya!

Tiga detik belum berlalu, ponselnya sudah bergeta hebat.

Cipa: APAAAA?! DIA NINGGALIN LO SENDIRIAN DI KAMAR PENGANTIN?!

Naura: Bukan ninggalin. Azzam bilang dia nggak akan nyentuh aku sebelum aku siap.

Hening selama sepuluh detik. Lalu balasan datang seperti letusan gunung berapi.

Cipa: NAURA ALEESHA MAHENDRA. LO BARU SAJA MENIKAH PRIA YANG... 1) NEMUIN LO DI HUJAN, 2) BELA LO DEPAN PAPA LO, 3) BIKIN TERRARIUM, 4) NGASIH LO JUBAH HUJAN, 5) PANGGIL LO MATAHARI, 6) TIDUR DI SOFA DEMI HORMATIN LO?

Cipa: GUE RESMI NYATAKAN GUS AZZAM AL-FARIZI ADALAH PRIA TERBAIK YG PERNAH TUHAN KASIH KE LO DI DUNIA. LO HARUS JATUH CINTA SAMA DIA. HARUS!!!

Naura tertawa pelan, melihat cipa ngetik capital semua seolah dia lagi ngoceh, ia melempar ponselnya ke bantal. merasa sedikit lebih lega. Sedikit.

Ia berdiri, membuka koper kecilnya, dan mengeluarkan baju tidur kaus oblong oversized dan celana pendek katun, pakaian yang biasa ia kenakan. Tapi tangannya terhenti di udara.

Ia menoleh ke arah pintu. Di luar sana, di ujung lorong, ada seorang pria yang sedang tidur di sofa karena menghormatinya. Jika tiba-tiba Azzam butuh sesuatu di kamar ini, atau jika Naura sendiri yang butuh keluar untuk ke kamar mandi, ia tidak ingin terlihat... tidak sopan.

Naura menggigit bibirnya, lalu memasukkan kembali kaus oblongnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang lain. sebuah nightgown panjang berlengan panjang berwarna krem, yang dibeli ibunya "just in case". Ia tidak pernah membayangkan akan memakainya.

Ia berganti pakaian, memandangi dirinya di cermin. Nightgown itu sopan, menutupi auratnya, dan... terasa asing. Tapi tidak seasing perasaan di dadanya.

Naura mematikan lampu utama, hanya meninggalkan lampu tidur yang temaram. Ia merayap ke atas tempat tidur, menarik selimut hingga ke dagu, dan memejamkan mata.

Tapi mata tidak bisa berbohong. Ia tidak bisa tidur.

Aroma bantal ini... aroma Azzam. Kayu cendana, attar, dan sesuatu yang sangat maskulin yang membuat perut Naura berputar aneh. Ini bantal pria itu. Ranjang pria itu dan ia terbaring di sini, terbungkus kehangatan yang bukan miliknya.

Seketika, ruangan terasa terlalu sunyi. Naura tidak terbiasa dengan kesunyian. Di rumah orang tuanya, selalu ada suara televisi dari ruang tengah, obrolan pembantu, atau musik yang ia putar dari speaker. Tapi di sini, yang terdengar hanya jangkrik dan detak jantungnya sendiri.

Ia membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit yang gelap. Pikirannya melayang ke Azzam, di ruang kerjanya, tidur di sofa yang mungkin terlalu pendek untuk tubuhnya yang tinggi.

"Apa dia nggak kedinginan? Apa sofa itu nyaman? Kenapa dia begitu baik padaku?"

Naura menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu. Ia menarik selimut lebih tinggi, memejamkan mata dengan paksa, dan mencoba tidur. Lama sekali kemudian, baru akhirnya kelelahan menang. Naura terlelap dalam pelukan aroma cendana dan kehangatan yang bukan miliknya.

.

.

.

Di ruang kerja yang gelap, Azzam terbaring di sofa kulit yang memang terlalu pendek untuk kakinya. Kakinya yang panjang menjuntai di ujung sofa, satu lutut ditekuk mencari posisi yang nyaman. Ia meletakkan satu tangan di belakang kepalanya, menatap langit-langit yang tak terlihat dalam gelap.

Ia tidak bisa tidur.

Bukan karena sofa tidak nyaman. Bukan karena kakinya terjepit. Tapi karena di ujung lorong, di balik pintu yang tertutup, ada seorang gadis... istrinya tertidur di tempat tidurnya. Gadis yang memberikan sepatunya pada pengemis sepuluh tahun lalu. Gadis yang menatapnya dengan mata menantang dan bibir yang tersenyum mengejek. Gadis yang ia peluk di tengah hujan, yang tangannya dingin tapi hatinya hangat.

Istrinya.

Azzam menelan ludah, merasakan debaran di dadanya yang tidak mau mereda. Ia menutup matanya, berusaha memfokuskan pikiran pada ayat-ayat Al-Qur'an, pada doa-doa yang biasa ia baca sebelum tidur.

Tapi pikirannya terus kembali padanya. Pada wajahnya yang menangis saat akad. Pada tangannya yang dingin saat ia mengusapnya. Pada pashmina putih yang menutupi rambutnya, membuatnya terlihat seperti malaikat yang turun dari langit.

Azzam membuka matanya, menarik napas kasar, dan duduk. Ia meraih tasbih di meja samping, memutar butiran-butiran kayu itu dengan jari-jarinya, berusaha menenangkan hati yang bergolak.

"Ya Allah," bisiknya dalam gelap, suaranya serak. "Berikan aku kesabaran. Berikan aku kekuatan untuk tidak... untuk tidak terburu-buru. Dia titipan-Mu. Dan aku akan menjaganya dengan segenap hatiku."

Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu kembali berbaring, memaksa tubuhnya relaks.

Di luar jendela ruang kerja, bulan sabit bersinar terang, menerangi taman pesantren yang tenang. Dan di bawah cahaya yang sama, dua orang yang diikat oleh wasiat dan takdir, terjaga dalam keheningan masing-masing.

Satu menatap langit-langit kamar yang asing, terbungkus aroma yang membuatnya bingung.

Satu menatap langit-langit ruang kerja, memejamkan mata sambil memutar tasbih, berjuang menahan perasaan yang semakin dalam.

Malam pertama mereka tidak diisi oleh sentuhan atau kata-kata manis. Malam pertama mereka diisi oleh kesabaran, penghormatan, dan perasaan yang sama-sama mereka coba sembunyikan.

Tapi benih itu terus tumbuh. Di bawah selimut, di balik tasbih, di dalam doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam.

Benih itu tumbuh, dan tak ada yang bisa menghentikannya.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!