NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Lampu di ruang kerja masih menyala, memantulkan bayangan tubuhnya yang duduk kaku di balik meja besar. Di depannya terbentang map-map bisnis, laporan keuangan, dan satu lembar kertas kosong—yang justru paling membebani pikirannya.

Permintaan Anggun masih menggema di kepalanya.

Cucu.

Penerus.

Waktu mama tidak panjang.

Haikal mengusap wajahnya perlahan. Ia tidak bodoh. Ia tahu apa yang ibunya minta—dan ia juga tahu satu kenyataan pahit: ia tidak akan pernah bisa memenuhi itu bersama Sagita.

Namun ada satu nama yang terus muncul, menolak pergi.

Laura.

Perempuan yang tidak pernah ia rencanakan hadir dalam hidupnya.

Perempuan yang justru membuat semua kepastian lama runtuh satu per satu.

Haikal menarik napas panjang, lalu menekan tombol interkom kecil di mejanya.

“Laura,” suaranya terdengar lebih tenang dari isi dadanya, “tolong ke ruang kerja. Sekarang.”

Laura datang tidak lama kemudian.

Ia mengenakan pakaian sederhana tidak berusaha terlihat istimewa, karena Sagita saat ini ada dirumah itu dan justru itulah yang membuat Haikal semakin sulit mengendalikan pikirannya. Wajah Laura yang sensual, sikapnya yang menggoda, tatapan yang teduh.

“Pak Haikal memanggil saya?” tanyanya sopan.

Haikal berdiri. Ia tidak duduk. Ia merasa jika duduk, ia akan kehilangan kendali.

“Duduk,” katanya singkat, menunjuk kursi di depannya.

Laura duduk. Tegak. Tenang. Tatapannya lurus, tapi tidak menantang.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Laura akhirnya berbicara lebih dulu.

“Ada yang ingin Bapak sampaikan?”

Haikal mengangguk pelan. Ia berjalan ke jendela, menatap gelap di luar sana.

“Laura,” katanya akhirnya, “aku akan bicara jujur. Dan setelah ini, kamu bebas menolak.”

Laura mengangkat alis tipis. “Baik.”

Haikal berbalik. Tatapannya tajam, serius tidak ada sisa keraguan.

“Mama saya menginginkan cucu.”

Laura diam. Ia sudah menduga.

“Dan beliau,” lanjut Haikal, “secara terang-terangan memintaku mencari perempuan lain jika Gita tak kunjung hamil.”

Hening.

Laura tidak menyela. Ia hanya menunggu. Menunggu kalimat apa yang akan ia dengar selanjutnya. Padahal tadi pagi ia juga mendengarnya dengan jelas.

“Perempuan itu,” suara Haikal merendah, “adalah kamu.”

Laura terdiam cukup lama. Padahal dalam hati nya girang tak terbendung. Tapi ia berusaha bersikap sok jual mahal.

Bukan karena terkejut, melainkan karena ia ingin memastikan tidak salah dengar.

“Maaf,” katanya pelan, “Bapak mengatakan… apa?” ucap Laura berpura-pura tidak paham.

Haikal berjalan kembali ke meja, mengambil satu map tipis berwarna hitam, lalu meletakkannya di hadapan Laura.

“Aku ingin menikah denganmu,” katanya datar, “secara siri.”

Laura menatap map itu, lalu kembali ke wajah Haikal. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah—bukan marah, bukan senang, melainkan waspada.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Kontrak,” jawab Haikal jujur. “Pernikahan kontrak.”

Laura menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya terlipat di dada. Nada suaranya dingin.

“Bapak ingin saya menjadi rahim sewaan?”

Kalimat itu menusuk.

Haikal menutup mata sesaat. “Aku tidak akan menyebutnya begitu.”

“Tapi esensinya sama,” balas Laura cepat. “Saya diminta melahirkan anak, lalu pergi.”

Haikal menghela napas berat. “Aku tidak akan mengusirmu.”

Laura tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Pak Haikal,” katanya tenang tapi tajam, “kalau Bapak ingin perempuan yang mengejar uang, banyak di luar sana. Kenapa saya?”

Haikal menatapnya lurus. Tidak menghindar.

“Karena aku menginginkanmu. Hanya kamu yang bisa membuatku menjadi laki-laki seutuhnya.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka berat, jujur, dan berbahaya.

Haikal membuka map itu. Di dalamnya ada dokumen rapi.

“Kontrak ini berlaku,” katanya pelan, “sampai kamu melahirkan anakku.”

Laura menelan ludah.

“Setelah anak itu lahir,” lanjut Haikal, “pernikahan siri ini berakhir.”

“Dan saya?” tanya Laura.

“Kamu akan menerima sepuluh miliar rupiah.”

Hening panjang.

Laura tertawa kecil. Bukan karena lucu melainkan ironis. Ia berfikir jika Haikal sudah masuk dalam jeratan nya tapi ternyata...

“Sepuluh miliar,” ulangnya.

“Harga yang cukup mahal untuk satu kehidupan.”

“Kamu tidak diwajibkan mencintaiku,” tambah Haikal cepat. “Dan aku tidak akan mengganggu hidupmu setelahnya.”

Laura menatapnya lama. Sangat lama.

“Bapak tahu,” katanya akhirnya, “banyak perempuan yang akan langsung menyetujui ini.”

“Aku tahu.”

“Dan Bapak tahu juga,” lanjut Laura, “bahwa saya sebenarnya ingin lebih dari ini.”

Haikal terdiam.

Laura berdiri. Ia berjalan pelan mengitari ruangan, lalu berhenti di depan jendela—posisi yang tadi ditempati Haikal.

“Kalau saya menerima,” katanya pelan, “saya tidak ingin menjadi bayangan. Saya ingin dihormati.”

Haikal mengangguk. “Aku akan menjagamu.”

Laura tersenyum tipis lagi.

Menjaga, batinnya. Atau mengendalikan?

Laura kembali duduk. Wajahnya kini tenang, bahkan terlihat pasrah.

“Saya terima,” katanya.

Haikal mengangkat wajahnya cepat. “Kamu yakin?”

Laura mengangguk. “Saya butuh jaminan hidup. Dan kontrak ini… masuk akal.”

Haikal merasa lega—lega yang aneh, bercampur rasa bersalah.

Namun di balik mata Laura yang tenang, ada api yang tidak terlihat oleh Haikal.

"Sepuluh miliar? bukan itu tujuanku."

Ia menatap Haikal dalam-dalam.

"Kalau kau mengira aku hanya akan menjadi istri kontrak, pikirnya, kau sangat meremehkanku."

Dalam hatinya, Laura berjanji,  "selama kontrak ini berjalan, aku akan membuatmu jatuh cinta.

Bukan karena tubuh.

Tapi karena kau tidak akan bisa hidup tanpaku Mas Haikal."

Dan ketika hari itu tiba, ketika Haikal memilihnya bukan karena kontrak, bukan karena cucu, melainkan karena ia ingin

Laura Andira tidak akan lagi menjadi pembantu.

Kata-kata itu diucapkan sangat pelan, nyaris seperti angin yang sengaja ditiupkan tepat ke titik terlemah Haikal.

“Bagaimana kalau kita cicil dulu bikin cucu untuk mama, Mas…” ucap Laura sembari mendekat dan memainkan jarinya di dada bidang Haikal.

Bukan nadanya yang keras.

Bukan kalimatnya yang panjang. Melainkan keberaniannya. Haikal menegang seketika.

Ia tidak bergerak, tidak bersuara. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan setengah. Ia merasa seperti seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang bukan karena didorong, tapi karena diberi alasan untuk melompat.

“Laura,” ucapnya akhirnya, suara rendah dan tertahan, “kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Ini dirumah dan Gita ada di kamar nya.”

Laura justru tersenyum.

Bukan senyum malu-malu.

Bukan senyum meminta izin.

Melainkan senyum seorang perempuan yang tahu betul efek kata-katanya.

“Justru karena aku sadar, Mas,” jawabnya tenang. “Kalau tidak sadar, aku tidak akan seberani ini.”

Ia tidak mendekat lebih jauh. Menyentuh titik sensitif Haikal dengan perlahan. Ia tidak melakukan apa pun yang bisa disebut berlebihan. Laura hanya berdiri di sana, sedikit memiringkan kepala, tatapannya lurus dan penuh keyakinan.

Dan itulah yang paling berbahaya. Haikal mengusap tengkuknya, mencoba mengatur napas.

“Kamu tidak takut?”

“Takut?” Laura mengulang pelan, lalu terkekeh kecil. “Mas, hidup aku sejak lama tidak memberikan aku kesempatan untuk takut.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!