Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kawan Atau Lawan?
“Maaf, apa boleh saya pinjam ponsel genggamnya sebentar? Ponsel saya kehabisan batrei dan saya harus mengabari istri saya kalau saya sudah naik kereta.”
“Eh, iya. Tentu saja boleh. Tunggu sebentar,” jawab Christaly tergagap. Dia masih belum siap dengan kejutan itu. “Ini silakan,” ujarnya lagi setelah dia mengeluarkan ponsel genggam dari saku jaket yang dikenakannya.
“Terima kasih. Saya pinjam sebentar, nanti saya kembalikan setelah selesai menelepon istri saya.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi pria itu lalu kembali ke kursi tempat duduknya sambil membawa ponsel Christaly bersamanya. Melihat apa yang dilakukan Christaly, sontak Sean pun langsung menegurnya.
“Kamu ini bodoh atau bagaimana, sih?! Kenapa kamu pinjamkan ponsel genggamu ke pria itu? Bagaimana kalau dia menyadap ponsel genggamu?” tegur Sean dengan yang bicara langsung di telinga Christaly agar si pria yang meminjam ponselnya tidak mendengar.
“Dengar, nanti kalau dia udah balikin ponsel genggamu, pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus mengatur pengaturannya ke pengaturan pabrik. Ngerti, nggak?”
Kata-kata Sean itu menyadarkan Christaly kalau dia sudah melakukan kesalahan karena ceroboh. “Aku mengerti. Aku akan mengatur ponsel genggamku ke pengaturan pabrik nanti kalau udah di balikin,” jawab Christaly setengah berbisik. “Tapi, kayaknya pria itu beneran telepon istrinya deh.”
“Astaga, otak udang! Bukan soal dia benar-benar telepon istrinya atau nggak, yang jadi masalah adalah kita sama sekali nggak tahu apa maksud dia sebenarnya pinjam ponsel genggam kamu,” sergah Sean marah dengan kenaifan Christaly. “Udah, deh. Mendingan kamu nurut saja sama aku, ikuti apa yang aku perintahkan ke kamu. Nggak usah banyak protes.”
“Iya, iya. Aku ngerti, kok. Nggak usah melotot gitu, dong. Jelek tahu!” sahut Christaly balas mengejek Sean.
Dia lalu berinisiatif menajamkan telinganya agar dia bisa mendengar percakapan pria itu dan tahu apa yang sedang dibicarakannya. Karena saat itu kondisi gerbong kereta memang penuh oleh penumpang dan mereka cukup berisik mengobrol.
“Kamu lagi ngapain, sih? Kepalamu sakit, atau kamu mual mabuk perjalanan?” tanya Sean yang sekarang agak sedikit cemas karena Christaly tiba-tiba memijit pelipisnya dan diam.
Chirstaly yang terlalu fokus mencoba mencuri dengar percakapan pria di seberang kursinya sampai tidak memedulikan Sean. Sambil terus pura-pura memijit pelipisnya yang sebelah kanan, Christaly diam seribu bahasa.
Berkat kegigihan Christaly itu, akhirnya dia bisa mendengar beberapa patah kata yang cukup membuatnya yakin kalau memang yang ditelepon oleh pria itu adalah istrinya. Yang jadi masalah sekarang adalah dia dan Sean masih belum tahu pasti apa sebenarnya tujuan pria itu mengikuti mereka, apakah untuk mengawasi dan memastikan keselamatan serta privasi dari tuan tempatnya bekerja, atau ada maksud yang lainnya lagi.
Belum lagi, soal dia yang meminjam ponsel genggam Christaly dengan dalih ingin menelepon istrinya sebab dia kehabisan baterai. Memang, Christaly mendengar pria itu memanggil orang yang berada di ujung sambungan dengan panggilan, “Istriku Sayang.”
Akan tetapi, Christaly seketika menjadi skeptis sendiiri saat dia ingat apa yang dikatakan Sean kalau mungkin pria itu ingin menyadap ponsel genggamnya. Terlebih lagi, Christaly baru sadar kalau dia sama sekali tidak mendengar suara di ujung sambungan. Yang artinya, bisa saja kalau pria itu berbohong.
Dia berpura-pura sedang menelepon istrinya, padahal. Entah siapa yang dia telepon. Menyadari itu semua, Christaly langsung pucat. Sebab itu artinya ada kemungkinan yang sangat besar sekali kalau pria itu sebenarnya tidak berada di pihak mereka, atau yang lebih buruk lagi dia juga tidak berada di pihak klien mereka, alias seorang pengkhianat.
“Ini, saya kembalikan ponselnya. Omong-omong terima kasih banyak, ya, sudah meminjamkan saya ponsel buat menelepon istri saya.”
Christaly tersentak kaget dari lamunan setengah sadarnya dan dia baru menyadari kalau pria itu sudah berada di samping tempat duduknya sambil menyodorkan ponsel genggam Christaly.
Refleks, dia yang merasa kikuk spontan langsung menggaruk rambutnya lalu tersenyum kaku sambil mengangguk sekilas tanpa berkata apa-apa. Dan di luar dugaan, pria itu lalu mengulurkan tangan untuk mengenalkan diri.
“Perkenalkan, saya Agus. Siapa namamu?” tanyanya tanpa basa basi sedikit pun.
“Eh, iya. Aku ... maksudnya saya, saya Christaly. Panggil saja Christaly,” jawab Christaly terbata. Kemudian, “Oh, iya. Perkenalkan, ini bos saya. Namanya Sean.”
Sean mengangguk dan tersenyum ramah ke arah pria bernama Agus itu. Lalu dia mengulurkan tangan untuk berjabat sambil berkata, “Saya Sean. Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Agus.”
“Panggil saja saya Pak Agus,” sahut pria itu yang entah kenapa tiba-tiba saja nada bicaranya melunak. “Saya yakin kalian berdua sudah mengenali siapa saya yang sebenarnya dan sedang bertanya-tanya apa sih sesungguhnya yang sedang terjadi. Benar begitu, kan?” seulas senyum hangat tersungging di sudut mulutnya.
Christaly menelan ludah, belum sempat dia membuka mulut untuk menyahut, Sean sudah terlebih dahulu menyelanya.
“Baiklah, karena Anda sudah tahu apa yang sedang kami pertanyakan, jadi, saya rasa Anda tentu tidak keberatan untuk menjelaskannya pada kami berdua. Terutama kepada saya agar saya bisa membuktikan kalau Anda tidak hanya sekadar omong kosong,” kata Sean yang langsung pada intinya.
Pak Agus berdehem. “Sebenarnya saya sangat ingin menjelaskan semuanya kepada kalian secara lengkap. Sayangnya, saya tidak bisa melakukan hal itu di tempat umum dan damai seperti ini,” kata Pak Agus sambil dia mengedarkan pandangan mengamati sekeliling.
“Kita tidak pernah tahu, kan, penumpang yang berada di dalam gerbong ini. Siapa yang tahu kalau ternyata ada salah satu dari mereka yang ternyata musuh kita.”
“Apa maksud Anda?” sergah Sean cepat-cepat. Dia juga tidak mengalihkan tatapannya yang waspada ke pria yang berdiri di samping Christaly itu. “Tolong jelaskan sedikit saja agar kami bisa mengerti.”
Pak Agus menghela napas dengan kecewa. “Saya minta maaf, tapi saya benar-benar tidak mengatakannya sekarang. Tidak untuk sekarang. Nanti saja kalau kita sudah sampai di Malang. Kita cari tempat yang aman untuk mengobrol. Saya akan jelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Saya janji.”
“Sedikit saja. Saya mohon,” sahut Sean tetap memaksa. “Kalau Anda takut ada yang mendengar apa yang akan Anda katakan, Anda bisa membisikkannya ke Christaly atau langsung ke telinga saya. Bagaimana?”
“Tapi ....”
“Saya jamin semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang mendengar ataupun sadar,” potong Sean cepat-cepat. Kemudian dengan nada yang lebih tegas dan penuh keyakinan Sean menambahkan, “Kalau Anda tetap keras kepala tidak mau memberitahu kami sedikit informasi, maka, saya anggap Anda adalah pecundang dan merupakan bagian dari musuh kami juga yang harus kami waspadai. Bagaimana, Pak Agus? Apa keputusan Anda?”
“Saya ....”
“Anda memilih untuk menjadi teman dan rekan kami atau memilih untuk menjadi musuh kami? Jawab saya, Pak Agus. Cepat putuskan mana yang akan Anda pilih.”