Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Aku ingin bertemu dengannya, Bagas," ucap sosok tua itu, suaranya parau namun penuh penekanan.
"Tidak akan, Ayah. Tidak sedetik pun," jawab Ki Bagaskara tegas, kakinya sedikit melebar, memasang kuda-kuda batin yang kokoh.
"Bagas, dengarkan aku. Purnama Kliwon tinggal empat minggu lagi. Aku sangat memerlukannya," desis makhluk itu, sementara kelabang di tubuhnya bergerak-gerak liar.
"Itu urusanmu, bukan urusanku."
"Hmmh..." Makhluk itu mendengus, mengeluarkan hawa busuk yang membuat tanaman di sekitarnya layu seketika. "Andai saja aku tidak memikirkan jiwa Gandraka yang bisa terguncang, sudah kuhabisi kau dari dulu. Anak itu milikku. Dia adalah pewarisku yang sah. Serahkan dia!"
"Tidak!"
"BAGAS!!!"
Suara itu menggelegar, lebih keras dari guntur. Angin mendadak berputar hebat, menghempas pepohonan hingga melengkung tajam. Bumi di bawah kaki mereka berguncang hebat, retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan tanah. Ratusan kelabang di tubuh makhluk itu menggeliat liar, menjulurkan sungut dan taringnya seakan siap menghujani Ki Bagaskara dengan bisa yang mematikan.
Di dalam rumah, Gandraka tersentak bangun. Matanya langsung menyala terang di dalam kegelapan kamar. Napasnya memburu, merasakan getaran energi yang sangat ia kenal sekaligus ia takuti.
"Dia datang, Ibu," bisik Gandraka tajam. Tangannya meraba lantai, mencari tumpuan untuk berdiri.
"Jangan keluar!" seru Nyai Lodra yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang hebat.
"Tapi, Ayah sedang..."
"Ibu bilang jangan keluar!" potong Nyai Lodra dengan nada yang tak pernah Gandraka dengar sebelumnya—sebuah perintah mutlak yang penuh dengan ketakutan sekaligus perlindungan.
Gandraka yang hendak bangkit pun akhirnya terdiam. Ia duduk kembali di tepi tempat tidurnya, mengepalkan tangan kuat-kuat. Di luar, ia bisa mendengar suara angin yang menderu dan aura kegelapan yang sedang beradu dengan keteguhan hati ayahnya.
Gandraka tidak membantah lagi. Sedetik kemudian, ia melipat kakinya, duduk bersila dengan tegak, lalu memejamkan mata rapat-rapat.
"Apa yang kau lakukan, Gandraka?" tanya Nyai Lodra cemas, melihat perubahan sikap anaknya yang begitu mendadak.
"Aku terpaksa melakukannya, Bu. Ayah dalam bahaya," jawab Gandraka tanpa membuka mata. Suaranya terdengar berat, bergema dengan wibawa yang asing.
Dalam keadaan terpejam, jari telunjuk kanan Gandraka terangkat ke udara. Bibirnya mulai bergerak cepat, melafalkan mantra-mantra kuno yang seolah ditarik paksa dari kedalaman ingatannya. Tiba-tiba, di ujung jari itu tercipta sebuah pendaran cahaya terang berbentuk lingkaran. Dengan gerakan yang presisi, Gandraka seolah mengukir udara di tengah lingkaran tersebut hingga muncul lambang Chakra Segi Enam yang bersinar kebiruan.
Lingkaran sinar itu mulai berputar. Awalnya pelan, namun makin lama makin cepat hingga menimbulkan dengungan rendah yang menggetarkan seisi rumah. Kekuatan itu memancar keluar, menekan balik energi gelap yang dilepaskan oleh makhluk tinggi di halaman.
Sementara itu di luar, keadaan berubah drastis. Makhluk tua itu tersentak saat merasakan tekanan luar biasa yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Angin puyuh yang tadi menderu mendadak reda, seolah dipaksa diam oleh tangan tak kasat mata. Retakan-retakan di tanah mulai merapat kembali.
Ratusan kelabang di tubuh makhluk itu mulai gelisah; mereka menggeliat ketakutan dan sebagian jatuh ke tanah, melata menjauh untuk menyelamatkan diri dari aura suci yang memancar dari dalam rumah.
Bukannya marah, makhluk itu justru menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang hitam.
"Gandraka... hahaha! Hebat... hebat sekali!" ucap makhluk itu dengan tawa parau yang mengerikan. Matanya yang cekung berkilat penuh gairah saat merasakan kekuatan cucunya yang begitu murni sekaligus mematikan.
Ki Bagaskara hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa anaknya telah melangkah jauh lebih dalam ke dalam ilmu yang seharusnya masih tersimpan rapat di balik sampul kitab itu.
"Anakmu nekat, Bagas," ucap makhluk itu sambil menahan debaran kekuatannya yang beradu dengan aura Gandraka. "Setelah ini dia butuh penyembuhan. Tentu kau bisa mengobatinya, bukan? Dan satu lagi... aku tidak suka ada pesaing. Hanya aku yang berhak membunuhmu."
"Jangan ganggu penyidik itu," sahut Ki Bagaskara datar, merujuk pada urusan Jayantaka yang masih mengintai keluarga mereka.
"Itu urusanku," balas sosok itu singkat, suaranya terdengar seperti bisikan angin di antara dahan mati.
Tanpa basa-basi lagi, makhluk setinggi pohon itu membalikkan tubuhnya yang dipenuhi kelabang. Ia melangkah perlahan menuju kegelapan Hutan Wengker yang seolah membuka jalan menyambut kehadirannya. Ki Bagaskara tetap bergeming di tempatnya, matanya tajam mengawasi punggung sosok tua itu hingga benar-benar hilang ditelan kabut.
Ada sesuatu yang ganjil pada setiap jejak kakinya. Di setiap lubang bekas pijakan makhluk itu, tumbuh sekuntum bunga anggrek hitam kecil yang mekar sesaat, mengeluarkan aroma wangi yang memabukkan sekaligus beracun, sebelum akhirnya layu dan lenyap seiring dengan hilangnya sang kakek ke dalam rimba.
Ki Bagaskara menghela napas panjang. Ia segera berbalik dan berlari menuju kamar Gandraka, menyadari harga yang harus dibayar anaknya setelah memaksakan kekuatan sebesar itu.
Di dalam kamar, tepat setelah kekuatan sang kakek berhasil ditekan, lingkaran cahaya di ujung telunjuk Gandraka meredup lalu padam seketika. Keheningan yang menyakitkan menyergap ruangan itu.
Tiba-tiba, tubuh Gandraka tersentak hebat. Cairan merah kental mulai mengalir deras dari kedua lubang hidungnya, disusul lelehan darah yang merembes keluar dari lubang telinganya. Dalam hitungan detik, wajah bocah itu berubah pucat pasi, sedingin mayat, dengan gurat-gurat kelelahan yang luar biasa dalam.
"Heghhh..." Gandraka mendesah parau, napasnya seolah terputus di tenggorokan sebelum tubuhnya limbung ke depan.
"GANDRAKA...!!"
Nyai Lodra menjerit histeris. Ia langsung beringsut maju, menangkap tubuh mungil anaknya sebelum menghantam lantai. Dengan tangan gemetar, ia mendekap kepala Gandraka ke dadanya, mencoba menghapus noda merah yang terus mengotori wajah pucat sang putra. Rasa hangat darah itu terasa begitu kontras dengan suhu tubuh Gandraka yang kian menurun, membuat jantung Nyai Lodra berdegup kencang oleh ketakutan yang mencekam.